Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 153 Sebenarnya Siapa?


__ADS_3

Bruk!!!


Azriel : "Kak Dindaa!!" Teriaknya ketika melihat Adinda terjatuh karena mengejar lelaki yang menurutnya misterius itu. "Kakak baik-baik saja kan? Apakah ada yang parah? Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang."


Adinda : "Di.dia... Lelaki itu Kak Dimas." Ucapnya dengan suara tercekat menahan tangis. "Ziel, itu Kak Dimas. Kamu harus mengejar dia, panggil taxi atau apapun untuk mengejar dia. Hikss, hikss..." Azriel melihat lelaki itu sudah melaju dengan Mobil mewahnya. Ia bahkan tidak menghiraukan Adinda. "Azriel, kejar dia. A.aku mohon kejar dia. Azriel!!" Teriaknya dengan air mata yang sudah menggenang.


Azriel : "Kak Dinda. Kakak harus tenang, aku akan mencari tahu siapa lelaki itu. Sekarang kita obati dulu luka Kakak, apa kita ke Rumah Sakit saja?" Adinda hanya menggelengkan kepala. "Baiklah, kita obati disini saja. Ayo kita kesana." Menunjuk bangku yang ada di tempat parkir.


"Kakak disini dulu, aku akan ke Apotek sebentar." Tidak ada jawaban, Azriel langsung mencari Apotek terdekat. "Gue harus cari tahu siapa lelaki itu. Untung saja gue hafal itu plat Mobil. Tapi, siapa dia? Kenapa dia langsung pergi setelah kami melihatnya?" Ucap Azriel dalam hati.


Beberapa hari setelah kejadian itu...


Firman : "Bagaimana, apa kamu sudah tahu siapa lelaki yang dikejar oleh Adinda beberapa hari lalu, A.zriel?"


Ya saat ini Firman sedang bersama Azriel, tepatnya keduanya sedang berada di Restauran karena Maghrib akan datang dan waktu berbuka hampir tiba. Bukan di Adi Resto, karena jika berada disana pasti para sahabatnya akan tahu.


Azriel masih terdiam dengan sesekali menyesap minuman yang ada di depannya lalu menghela nafas secara perlahan.


Azriel : "Gue bahkan enggak tahu Bang, tapi dari gestur badan lelaki itu, tingginya, langkah tegapnya. Haah, semuanya itu benar-benar mirip dengan Bang Dimas."


Kini giliran Firman yang terdiam.


"Tapi jika memang lelaki itu benar Raja Es Kampus, apa Arul akan menerima kehadiran dia? Lalu, Abang kan punya orang kepercayaan, kenapa tidak mengirimkan mereka saja untuk menyelidiki semua ini, kenapa harus gue?"


Firman : "Soal Arse gue enggak tahu, lebih tepatnya tidak yakin. Dan soal orang kepercayaan gue, enggak mungkin gue ngirim mereka, karena jika itu gue lakuin, orang yang pertama tahu bukan Bokap gue, tapi Andre."


Deg.


Mendengar nama itu, Azriel langsung menelan salivanya dengan susah. Bagaimana tidak, orang kedua yang dingin seperti kutub selain Dimas Surya Adhitama adalah kedua adik lelakinya yang tak lain Andre Anggara Adhitama dan Septian Hardi Adhitama. Dua lelaki yang sangat datar, dingin dan mengerikan jika menyangkut soal Kakaknya.


"Kalian, sedang apa disini?"


Suara tegas, nan horor menyapa telinga kedua lelaki beda generasi itu.

__ADS_1


Bahkan kini Azriel benar-benar susah menelan salivanya . Bisa ditebak suara siapa yang mereka terima saat ini. Septian, ia datang untuk memeriksa Keuangan di Adi Resto, namun saat akan melangkah menuju Restauran ia melihat Firman dan Azriel sedang duduk berdua di sebuah Restauran bertema anak, karena Resto itu memang di khususkan untuk para orangtua yang masih memiliki anak balita, meski terbuka juga untuk Umum.


Kedua lelaki itu menghela nafas lega, pasalnya yang mereka lihat saat ini hanyalah Septian. Namun, Dewi Fortuna sepertinya sedang tidak berpihak pada mereka karena tidak jauh dari Septian ada sesosok Pria dingin yang tidak lain adalah Andre.


Firman : "Ka.kau bersama lelaki dingin itu?" Tunjuknya melalui ujung mata. Septian Mengangguk.


Septian : "Memangnya kenapa, kalau gue ajak dia? Biasanya juga begitu, dan kenapa juga suara loe jadi gugup sih Tuan Muda Wijaya?" Tanyanya menyeringai.


Firman : "Jangan panggil Gue begitu, Septian!" Jawabnya kesal.


Azriel : "Memang kenapa jika Bang Septian manggil Abang dengan sebutan seperti itu?" Tanyanya heran menatap Firman. Sedangkan Septian hanya bisa tertawa mengingat tingkah mereka dulu hingga julukan itu keluar.


Firman : "Kau. Jangan ikut-ikutan Azriel." Jawabnya mendengus, tanpa mereka sadari jika lelaki dingin itu sudah berada didekat ketiganya.


"Kalian berdua sedang merencanakan sesuatu?" Ketiga lelaki itu langsung menatap kesumber suara. Azriel lah yang tampak gugup diantara mereka, ditambah tatapan tajam Andre yang mengintimidasi.


Septian : "Jangan membuatnya takut lah Ndre, Dia itu kan sebangsanya adiknya Firman." Ucapnya dengan sinis.


Andre : " Kalian berdua temui saya di Kantor lusa." Ucapnya pada Firman dan Azriel.


Dag. Dig. Dug..


Jantung Azriel sudah tidak beraturan, Apakah lelaki ini mengetahuinya?


"Jangan kira saya tidak tahu apa yang kalian lakukan." Setelah mengucapkan itu, Andre langsung berlalu dari Restauran itu, meninggalkan ketiga lelaki tampan disana.


Septian : "Apa yang kalian lakukan dibelakang Gue?" Tanyanya setelah mengalihkan pandangan dari Andre. "Kalian menyembunyikan sesuatu? Tentang Mr. Ditya?"


Firman : "Siapa orang itu?" Bukannya menjawab, lelaki yang sayangnya Pangeran Wijaya itu malah berbalik tanya.


Septian : "Entahlah, Gue enggak bakalan jawab." Jawabnya acuh. "Gue pergi duluan, bye!" Septian langsung melnggang pergi dari sana tanpa menghiraukan wajah kesal dari sang Sahabat.


Azriel : "Ehmm, Bang apa kita satu pemikiran?" Firman langsung menatap Azriel. Hingga akhirnya keduanya sama-sama diam dengan pikiran mereka sendiri.

__ADS_1


.


.


.


Sementara dilain tempat, seorang laki-laki berparas tampan sedang memandang sudut Kota dibalik jendela besar yang ada didalam kamarnya. Lelaki itu sedang mengingat kejadian beberapa hari lalu, yang membuatnya pergi dan meninggalkan seorang gadis yang terjatuh dengan beberapa luka di kakinya, bisa ia pastikan hal itu.


"What are doing, Mr. Ditya?. Kenapa kau selalu saja berdiri disana, apakah tidak ada sudut lain yang menarik selain tempat itu? C'mon Dude, lusa kita akan kembali ke Korea." Ucap lelaki berparas cantik keturunan Negeri Ginseng tersebut.


Ditya : "Kerjakan apa yang harus kau kerjakan, Logan." Jawabnya dingin tanpa menjawab pertanyaan Logan.


Logan : "Hey, aku hanya mengatakan apa yang ingin ku katakan. Jika dia rindu, kenapa tidak datang dan hanya berdiam diri disini." Ucapnya dari dalam hati, karen ia tidak akan seberani orang lain yang dengan percaya dirinya bisa mengalahkan seorang Kim Joon Ditya.


Ditya : "Jangan mengumpatku, Logan jika kau tidak ingin Kekasihmu itu pergi darimu."


Logan : "Kyaaa!! Jangan berani-beraninya kau membawa Siena dalam hal ini. Jika kau tidak ingin, Perusahaan mu menjadi miikku". Lanjutnya dalam hati, yang langsung ditatap tajam oleh Ditya.


Ditya : "Ambil saja jika kau ingin Perusahaanku itu." Setelah mendengar itu, Logan langsung pergi dengan menghentakkan kedua kakinya, jangan lupakan wajahnya yang kesal karena lagi dan lagi Sahabat sekaligus Bossnya itu tahu apa yang ia fikirkan.


Logan : "Saya masih sayang nyawa saya!" Ucapnya sebelum benar-benar pergi.


Sedangkan Ditya hanya tersenyum tipis namun tak terlihat, dan kembali dengan wajah dingin dan datarnya.


.


.


.


Sedangkan saat ini Andre menatap beberapa laporan keuangan dari Adi Resto, namun matanya juga tak lepas dari beberapa laporan email yang dikirim oleh Angga dan juga Arya. Dimana laporan itu benar-benar sama padahal keduanya berbeda Negara dan koneksi mereka pasti berbeda meski saling berhubungan.


"Sebenarnya siapa dia?" Tanyannya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2