
Mereka masih setia diruangan Dimas dengan berbagai pemikiran dan pekerjaan masing-masing. Dimas fokus dengan berkasnya, Andre fokus dengan beberapa pekerjaan tambahan dari Dimas sedangkan Septian yang notabennya si bontot hanya duduk dengan benda pipihnya. Tiba-tiba ia berteriak membuat Andre melemparkan bantal sofa yang ada didekatnya.
Septian : "Kyaaaaaaaaa! Kenapa jadi gini sih. Kalah lagi donk gue ini. Gue harua cari cara biar menang dan enggak kalah lagi."
BUAK. . . Sebuah bantal mendarat ke kepala Septian hingga membuat si empunya mengaduh dengan kesal.
Septian : "Heeeei!! Apa yang loe lakuin, hah?! Loe cari mati ya Ndre?! Gue kalah lagi nih." Celetuk Septian sedangkan Andre hanya bergidik seolah tidak ada yang terjadi.
Dimas : "Apa kalian masih ingin bertengkar?! Jika iya kalian keluarlah dan jangan disini." Mendengar itu mereka langsung diam, tapi seketika Septian tiba-tiba merengek meminta pulang pada Dimas.
Septian : "Bang! kita pulang yuk. Yoklah kita pulang, katanya loe minta gue balik ke rumah." Ajaknya dengan nada manja.
Dimas : "Saya masih banyak kerjaan, istirahatlah dulu sampai saya selesai." Jawabnya tanpa melihat kearah Septian dan masih fokus pada pekerjaan diatas mejanya. Sedangkan Septian hanya mencebik kesal.
Septian : "Ndre!"
Andre : "Hecmm, apa?" Jawabnya datar.
Septian : "Temenin gue elah, bosen nih gue gabut, enggak ada kerjaan. Bentar lagi juga udah sore. Ayo temenin gue kemana gitu kek. Loe juga kenapa ikut-ikutan Dimas sih, sibuk banget. Ayolaaah, beresin dulu itu kerjaan gue pengen jalan ke kantin laper gue." Andre yang jengah dengan suara si bontot itu langsung meliriknya.
Andre : "Apa loe enggak lihat, gue lagi banyak kerjaan Sep bentar lagi juga selesai." Melanjutkan pekerjaannya.
Septian : "Kyaaaaaa! Kalian kenapa sih! Enggak loe enggak Dimas sama-sama sibuk gini. Gue laper nih." Dimas pun jengah.
Dimas : "Apa kau bisa diam?" Tanya nya datar. "Siapa yang memaksamu untuk ikut ke kantor?"
Septian : "Yah kan gue pengen ikut aja, pengen lihat kantor gimana kan loe dulu sering ajak gue kesini kalau Papa sedang sibuk, dan loe yang jaga gue." Suaranya melemah, namun Dimas masih tak bergeming kemudian dia melirik Andre. Andre yang melihat langsung mengerti, lalu ia berdiri.
Andre : "Ayo gue temenin ke kantin." Septian langsung senang dan berdiri. "Apa tuan muda ingin sesuatu?" Katanya dengan berbicara formal. Dimas hanya menggelengkan kepala.
Septian : "Ayo kita bareng-bareng ke kantin, Dim ayo donk berdiri loe juga pasti lapar kan." Ajaknya, tapi Dimas hanya diam. "Ayolaaaah, kapan sih loe nemenin gue makan gitu, gue juga pengen makan bareng loe kaya dulu." Katanya menunduk. Namun Andre langsung menarik tangan Septian menuju kantin.
Setelah kepergian dua manusia itu, Dimas menghentikan pekerjaannya dan menyandarkan kepala dikursi kebesarannya.
"Maaf Sep, aku belum ada waktu untukmu. Setelah mereka pergi dan kau juga sering kabur aku harus fokus dengan urusan perusahaan. Mengertilah ini ku lakukan demi mereka." Gumamnya dengan wajah tertunduk sendu. Dimas masih diam dalam lamunannya, tiba-tiba benda pipih diatas meja bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk.
TING. . .
"Apa Kak Dimas masih marah?"
"Apa kau baik-baik saja?
Isi pesan itu sama sekali tak ia balas, ia hanya diam dan melihatnya saja. Kemudian kembali fokus pada layar laptopnya dan kembali menyelesaikan file yang sudah ada.
Sementara di kantin kantor. . .
Banyak karyawan wanita melihat dan memperhatikan dua makhluk tampan yang baru masuk ke kantin. Tak henti-hentinya mereka berbuat kehebohan hanya untuk mencari perhatian, bahkan suara mereka membuat kedua lelaki itu tidak tenang hingga suara Septian membuat mereka terdiam.
"Apa kalian tidak bisa diam?! Apa kalian tidak punya pekerjaan?!" Teriaknya begitu dingin, kemudian karyawan yang ada di kantin itu langsung berhambur keluar.
PUK . . . Seseorang memegang bahunya. Septian melihat kebelakang.
Andre : "Tenanglah, kenapa kau menjadi emosi karena mereka?" Andre terkekeh.
__ADS_1
Septian : "Apa?! Kenapa kau tertawa seperti itu? Aku melakukannya karena gue enggak pengen makan dalam keadaan bising seperti tadi. Huh."
Andre : "Sudah, lanjutkan saja makannu nanti dingin dan tidak enak lagi." Mereka melanjutkan makan.
Septian : "Apakah ada yang beda dari Dimas?" Celetuknya tiba-tiba, hal itu membuat Andre terdiam mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Septian padahal ia juga tidak tahu apa yang terjadi dengan tuannya itu.
Andre : "Memang kenapa? Apa yang kau pikirkan?"
Septian : "Gue ngerasa ada yang beda dari dia, loe liat tadi betapa seriusnya dia sama benda kesayangannya itu? Terkadang gue sedikit muak karena dia selalu fokus sama kerjaan, dia kan juga punya hidup dia juga harus mikirin dirinya sendiri."
Andre : "Hecmm seharusnya loe kasih dia semangat Sep, bukan seperti ini. Gue memang enggak tahu kenapa dan ada apa karena gue enggak 24 jam selalu bersama dia, tapi yang gue tahu saat ini dia sedang mencoba untuk menyelamatkan perusahaan ini. Dia sedang sibuk karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi udah jangan ganggu dia dulu jangan sampai karena masalah ini loe jadi semakin berontak dan kabur lagi."
Septian : "Apa yang harus gue lakuin sekarang? Gue hanya pengen dia sedikit ada waktu buat gue kaya dulu Ndre."
Andre : "Sudah jangan terlalu baper deh loe Sep, seperti yang gue bilang kasih dia semangat dia sayang sama loe Sep, semenjak mereka tiada loe tahu sendiri kan gimana perubahan sikap dia." Septian mengangguk, ia sedih karena mengingat orangtua yang selalu memberinya kasih sayang meski orangtua angkat tapi kasih sayang mereka tulus.
Septian : "Yah sepertinya gue harus berusaha buat enggak bikin dia ngamuk lagi. Hehee." Septian terkekeh mengingat dia yang pernah membuat Dimas marah, karena mobil kesayangannya rusak setelah dipakai oleh Septian.
Andre : "Hecmm kita harus berusaha buat dia kembali seperti dulu." Septian mengangguk paham.
. . .
Sementara diparkiran tepatnya di SMU Mahakarya, seorang gadis sedang memandangi benda pipih miliknya.
to : Kak Dimas
"Apa Kak Dimas masih marah?"
"Apa kau baik-baik saja?
Amel : "Adinda, loe kenapa sih? Dari siang tadi loe cuma diem baek mana liatin handphone terus lagi, kangen sama kagan yaah?!"
Adinda : "Maksud kamu siapa?" Tanya nya heran.
Amel : "Hecmmm itu lho Kak Akbar! Loe lagi mikirin dia kan?" Selidik Amel.
Adinda : "Untuk apa aku mikirin dia sih Mel, bukan dia yang aku pikirin tapi ada hal lain."
Amel : "Siapa yang Adinda pikirin? Gumam Amel dalam hati. "Maksud loe siapa? Bukannya tadi loe tukeran nomor sama kagan, makanya karena itu loe nungguin chat dari dia." Amel terkekeh mencoba mencairkan suasana.
Benar, siang tadi setelah Dimas, Andre, dan Septian pergi. MBA masih memperhatikan gadis itu, siapa lagi jika bukan Adinda. Seorang gadis cantik yang sudah membuatnya tak berkedip sedikitpun. Karena sebuah takdir tak terduga mereka bertuka nomor ponsel.
Flashback On. . .
Kelompok dalam bidang humas sedang tidak ada ketua, itu digunakan oleh MBA untuk menarik hati gadis yang melintas di matanya. Setelah ia memberi tugas pada kelompoknya, ia mendatangi kelompok Dimas.
MBA : "Boleh saya disini? Karena saya lihat ketua kalian sedang keluar ada kerjaan." Mereka memgangguk. "Kenalkan nama saya Muhammad Bayu Akbar, lahir di Jerman tapi besar di Bandung, saya ketua dari bidang kesehatan. Apa diantara kalian ada yang suka tentang kesehatan?" Mereka menunjuk Adinda. "Kamu?" Adinda sedikit mengangguk, hal itu membuat MBA tersenyum. "Apa yang membuatmu suka?"
Adinda : "Karena bisa membantu setiap orang yang ingin hidup sehat, dan membantu meringankan orang ysng tidak mampu untuk berobat."
MBA : "Lalu kenapa kamu tidak masuk dibidang kesehatan tapi di humas?"
Anggun : "Karena kami itu dipilih dan harus menyesuaikan dengan kelompok." Celetuk Anggun yang memang merasakan bahwa lelaki itu sedang mendekati Adinda. Akbar mengangguk.
__ADS_1
MBA : "Boleh tukar nomor? Siapa tahu kan kita bisa saling berbagi informasi tentang kesehatan, karena kamu juga menyukainya." Tanya nya to the point. Mereka kemudian bertukar nomor, karena menurut Adinda tidak ada salahnya untuk perbanyak teman asal positif. "Oke, saya simpan ya nomornya." Adinda mengangguk. "Apa yang buat kalian ingin gabung?"
Adit : "Karena ingin pengalaman baru saja." Yang lain mengangguk.
MBA : "Kalau kamu? Sama dengan mereka?" Adinda mengangguk. "Sayang dia di humas." Gumamnya pelan. Namun Adit yang notaben nya duduk disebelah Akbar dia mendengar hal itu.
Adinda : "Boleh saya tanya?" Yang lain melihat Adinda. MBA mengangguk. "Apa Kak Akbar, dekat dengan Kak Dimas?"
DEG. . .
MBA : "Kenapa dia menanyakan tentang Dimas?" Gumamnya dalam hati. "Kenapa? Apa kau mengenalnya?"
Adit : "Jelas kami kenal, karena sejak awal dia sudah ikut kesini dan sudah satu bulan kami kenal." Celetuk Adit, MBA mengangguk.
MBA : "Ya saya kenal, karena kami teman satu organisasi dan kami kenal sejak masih jadi mahasiswa baru hingga sekarang." Adinda mengangguk paham.
Obrolan mereka tak lepas dari pandangan Yayak juga setiap orang yang mengenal mereka termasuk Arul, melihat hal itu wajah Arul sedikit berubah dan itu tak lepas dari penglihatan Firman.
Flashback End . . .
Adinda : "Bukan itu Mel, lagipula aku setuju untuk bertukar nomor karena menganggap hal itu wajar saja, dan hitung-hitung perbanyak teman asal positif." Amel mengangguk.
Amel : "Aah, gue lupa tanya. Apa loe nunggu Arul?" Adinda mengangguk. "Hecmm balik sendiri lagi donk gue." Amel menunduk, sedangkan Adinda terkekeh melihat wajah sahabatnya itu.
Adinda : "Biasanya juga kan sendiri, kecuali kalau Arul lagi bareng duo bocah itu."
Amel : "Iya yaah, kenapa Arul enggak bareng aja sama tuh duo jumpling, kan kita bisa berdua jadi kita bisa jalan lagi deh." Tiba-tiba. . .
"Duaaaaaaarrrrr!!" Orang yang mereka bicarakan datang, siapa lagi jika bukan Alvin dan Nauval yang memang jahil terhadap Amel, karena menurut mereka Amel terlihat lucu ketika marah. Sedangkan Arul hanya menutup telinga ketika tahu apa yang akan sahabatnya lakukan.
Amel : "Kyaaaaaaaaaa!! Kalian, kurang ajar ya berani usilin gue, liat apa yang bakal gue lakuin." Amel menjewer telinga mereka.
Alvin: "Awwww. Sakit Kak, enggak kesian apa sama kita berdua."
Nauval : "Iya nih, sakit tauuuk. Lepasin donk Kak, malu nih diliatin sama cewek-cewek nanti kita enggak kece lagi." Amel yang mendengar ocehan mereka langsung melepas tangannya.
Amel : "Makanya jangan usil jadi bocah, dasar bocah jumpling awas aja usilin gue lagi, bakal gue tendang loe berdua." Sambil berkacak pinggang.
"Coba aja kalau bisa" Jawab mereka kompak kemudian berlari menjauh dari Amel sebelum Amel memberi hukuman lagi. "Rul, kita balik dulu." Arul mengangguk.
Amel : "Waah parah ya kalian, liat itu Din kenapa loe bolehin Arul berteman dengan mereka sih?!"
Adinda : "Apa hubungannya sih Mel?"
Arul : "Iya ih Kak Amel, emang kenapa sih? Mereka itu baik, juga setia kawan."
Amel : "Apaan punya kawan rusuh gitu, udah gitu usil banget lagi dasar sih jumpling.
Arul : "Yaaah, sesama jumpling mah jangan gitu donk, harus akur Kak Memeeeel." Arul tertawa dan segera masuk mobil sebelum mendapat jeweran seperti kedua sahabatnya.
Amel : "Adindaaaaaaa! Lihat itu, ituuuu, itu adik kesayangan loe ternyata sama aja jumpling!" Adinda terkekeh melihat Amel yang kesal. Arul yang berada di dalam mobil semakin tertawa lebar melihat wajah kusut Amel. "Huh! Ternyata enggak adik enggak kakak sama aja, sama-sama jumpling. Udah gue mau balik dan loe!." Menunjuk Arul. "Liat apa yang bakal gue lakuin besok." Arul hanya mengangkat kedua bahunya saja tapi masih tetap tertawa, dengan mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf o 3 jari pertanda oke. "Bye Adinda ku sayaaang. Hati-hati sama adik loe itu." Amel langsung menuju mobilnya, dan keluar dari pelataran tempat parkir.
BRAKK!! Adinda masuk ke mobil.
__ADS_1
Adinda : "Ssst, sudah jangan ketawa lagi. Sekarang ayo kita pulang nanti keburu sore." Arul mengangguk tapi tetap tak berhenti untuk tertawa.