
Beberapa hari setelah kejadian itu, semua kembali berjalan dengan normal termasuk kedua kakak beradik itu. Mereka seakan telah melupakan berbagai pikiran tentang kedua orangtuanya, meski sebenarnya dalam hati yang paling dalam mereka merasakan kekecewaan yang tak berujung.
Hari ini tepat hari Minggu dimana Adinda dan Arul memiliki jadwal untuk keluar meski hanya sekedar berjalan-jalan di Mall paling tidak itu bisa membuat mereka sedikit nyaman dan tanpa beban.
Arul : "Kaaak?! Arul udah siap nih, Kakak buruan turun nanti kita telat lagi buat nonton." Teriak Arul dari lantai bawah karena saat ini ia tengah menunggu sang kakak yang masih setia didalam kamarnya.
Adinda : "Iyaaa ini udah siap kok, ayo kita berangkat." Akhirnya mereka telah bersiap dan segera berangkat setelah memasuki mobil.
Di dalam mobil. . .
Arul : "Ohiya, apa Kak memel juga akan ikut kita?" Adinda mengangguk.
Adinda : "Ya dia ikut, sama sepupunya si Azil yang temen satu kelas adek itu."
Arul : "Azriel maksud kakak?" Adinda mengangguk. "Hecmmm tau gitu tadi Arul ajak aja si Alvin sama Nauval."
Adinda : "Lalu kenapa enggak diajak dek? Kan tambah seru." Pandangan Adinda masih lurus ke depan fokus dengan jalan.
Arul : "Kakak kan tau sendiri gimana mereka berdua, Alvin hari ini ada acara keluarga katanya meskipun sebenarnya hanya tidur, hee kalau Nauval biasa cari gebetan dia."
Adinda : "Apakah adik kakak juga sudah punya cewek yang di pandang?"
Arul : "Siapa yang mau deket sama adik Kakak yang dingin ini?" Adinda yang dengar hanya tersenyum tanpa mengalihan pandangannya.
Adinda : "Oke, jangan terlalu dingin sayang dan ingat masih harus rajin belajar untuk ujian." Sambil mengusap kepala adiknya. Sedangkan Arul mengangguk penuh semangat.
Sesaat kemudian akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, sebuah pelataran luas dengan gedung tinggi menjulang yang berada dipusat kota. Kemudian Adinda memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam.
Mereka sudah berada didepan bioskop, berniat menunggu sahabatnya Amel, namun setelah dihubungi Amel dan Azriel belum datang karena masih didera kemacetan. Akhirnga Adinda memutuskan untuk segera masuk terlebih dahulu karena film akan segera dimulai.
Arul : "Apa mereka belum datang juga?" Adinda menggelengkan kepala.
Adinda : "Amel bilang katanya masih macet, lebih baik kita duduk dulu." Arul mengangguk.
__ADS_1
Mereka segera duduk dengan menikmati camilan yang sudah mereka beli sebelumnya. Setelah durasi selama dua puluh menit Amel dan Azriel sampai dan segera memasuki bioskop, ketika sudah didalam Amel celingukan kesana kemari karena dalam keadaan gelap ia segera menghubungi Adinda.
Amel : "Loe dimana sih Din? Enggak kelihatan nih gelel."
Adinda : "Aku sama Arul duduk di bawah sini, kamu dimana?" Adina menghadap kebelakang, lalu melambaikan tangannya dengan ponsel yang masih menyala. Seketika Amel melihat itu lalu menghampiri Adinda dan segera duduk disebelahnya, tak lupa ia mematikan panggilan sebelumnya. "Macet banget ya?"
Amel : "Hehee biasa Din nungguin bocah atu tuuuh, lama bener dan akhirnya dijalan kena macet." Adinda hanya mengangguk.
Mereka menikmati hal itu, setelah film yang mereka tonton selesai mereka segera keluar dari bioskop.
Azriel : "Bisa kita mampir ke Restoran dulu? Laper banget nih perut gue." Amel dan yang lain menoleh kesumber suara, kemudian menangguk.
Amel : "Oke, kita kee Restoran di lantai bawah aja ya disana lebih bagus karena ada taman buatan." Ketiganya setuju, lalu menuju kelantai bawah untuk mengisi perut yang sudah meminta jatah mereka.
. . .
Disisi lain segerombolan pemuda memasuki sebuah Restoran disebuah Mall terbesar dipusat kota, mereka tak lain adalah Yayak, Indra, Amar, Ilham juga Septian sedangkan Dimas dan Andre datang belakangan karena harus menyelesaikan beberapa file yang sudah ditunggu untuk dikirim ke perusahaan yang berada di Singapura yang dipegang oleh adik dari mamanya.
Ilham : "Iya gue juga udah lama banget enggak kesini. Kalau bukan karena Dimas yang rekomendasiin nih tempat enggak bakalan gue dateng kesini."
Septian : "Heleeeh bilang aja pengen makan gratis kan?" Septian tertawa mengejek.
Amar : "Waaaaaah tau aja loe! Hahaa." Mereka yang mendengar langsung tertawa.
Yayak : "Mentang-mentang Resto punya Dimas, jadi loe pengen gratisan terus?"
Ilham : "Yaah bisa dibilang gitu lah. Hahaa. Yang penting kebersamaan kita saja."
Indra : "Kita juga bisa membantu dia untuk mengawasi Restoran ini karena kesibukan dia entah sampai kapan."
Kemudian mereka memesan makanan favorit mereka masing-masing. Sambil menunggu pesanan datang dan kedatangan Dimas juga Andre mereka bercanda ria hingga mereka mendengar suara gadis yang mereka kenal saat berasa di SMU Mahakarya siapa lagi jika bukan Amel, gadis yang sedikit bar bar saat berada di depan lelaki maupun bersama keluarganya.
Ilham : "Kalian lihat siapa yang baru saja memasuki Resto?" Mereka hanya menggeleng namun mengikuti kemana arah mata Ilham.
__ADS_1
"Mereka!" Celetuk Septian dan Amar bersamaan.
Amar : "Wah mereka kelihatan beda banget, dan gadis itu bergandengan dengan siapa dia?"
Septian : "Siapa maksud loe? Amel?" Amar menggeleng.
Yayak : "Adinda maksud loe Mar?" Amar mengangguk.
Indra : "Iya mereka terlihat berbeda jika diluar, terlihat dewasa. Cowok yang digandeng itu adiknya." Amar menoleh.
Amar : "Loe yakin itu adeknya?" Indra mengangguk. "Waah gue kira itu cowoknya, ternyata adeknya."
Ilham : "Wooooy sini!!" Teriak Ilham sambil melambaikan tangannya kearah Amel. Sedangkan Amel yang melihat itu terlihat senang dan berjalan kemeja tersebut yang diikuti ketiga pengikutnya. "Gabung sama kita aja, meja lain udah penuh soalnya."
Amel : "Yang bener kak?" Ilham mengangguk diikuti Amar. "Waaaah! Senengnya, oke deh kita ikut gabung sama kalian. Ayo kita duduk sini aja, Ziel loe duduk sebelahan sama sih Arul gue sama Adinda disini."
Azriel : "Kok gitu sih, gue pengen disitu bisa lihat taman lah kalau gue disini positip yang gue liat loe!"
Amel : "Udah ah, loe nurut sama gue aja dan jangan bantah, enggak malu apa sama yang lebih tua."
"Maksud loe!!" Tanya Ilham, Amar dan Septian kompak.
Amel : "Oopss, keceplosan deh gue. Sory deh, tapi kalian kan emang lebih tua dari kita berempat."
Amar : "Waaah nih bocah, udah dikasih tempat duduk yang nyaman malah bikin ulah." Amel hanya tersenyum kikuk.
Ilham : "Loe itu dibuka ngapa tuh mata, kita ini masih muda masih ganteng tau."
Septian : "Iya ih nih cewek, loe belum tau aja kita yang sebenernya." Amar dan Ilham mengangguk.
Amel : "Hecmmm dari kalian berlima ini yah, gue yakin yang sering jadi biang rusuh itu loe bertiga." Menunjuk Amar, Ilham juga Septian.
"Bener bangeeet!! Haha." Jawab Yayak dan Indra dengan kompak, Amel Azriel hanya ikut tertawa, sedangkan Adinda hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Amel dan anggota PPA itu.
__ADS_1