Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 30


__ADS_3

"Bener bangeeet!! Haha." Jawab Yayak dan Indra dengan kompak, Amel Azriel hanya ikut tertawa, sedangkan Adinda hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Amel dan anggota PPA itu.


Ilham : "Laaaah, ini nih punya temen bukannya dukung malah ikut ngebuli."


Amar : "Ya Allah aku tuh enggak bisa diginiin, kenapa sih aku harus punya temen kaya mereka ini?" Jawab Amar mendongakan kepala keatas layaknya sedang berdo'a.


Septian : "Gue aduin loe ke Abang gue." Lanjut Septian dengan melipatkan kedua tangannya diatas meja.


Yayak : "Mulai deh dramanya." Mendengar hal itu Amar, Ilham juga Septian menatap Yayak dengan tajam. "Kenapa tuh mata? Minta dicolok make sendok?"


"Loe!!!!" Teriak mereka bertiga secara bersamaan, sedangkan Yayak hanya acuh.


Yayak : "Apa loe pada?! Mau gue ketekin? Sini deh gue mah mau-mau aja."


Ilham : "Idiiiiiih ogah gue mah. Kasih aja sono ke Ninik loe yang bawel itu." Amar dan Septian mengangguk setuju.


Yayak : "Ettdah ini anak, liat aja gue bilangin ke dia biar loe pada dapet hukuman." Ancamnya pada trio jumpling itu.


Amar : "Kyaaaaa!! Awas aja loe bilang macem-macem sama tu Ninik-ninik, gue masih trauma sama tuh orang."


Septian : "Kenapa?" Tanyanya penuh selidik.


Amar : "Bontoooot loe tuh lupa apa pura-pura beg*k sih? Lupa loe waktu dia ngerjain kita bertiga di kamar mandi kampus yang terkenal angker dulu?" Septian mencoba mengingatnya.


Ilham : "Naaaah bener tuh, wah parah banget dah tu cewek, untung dia cewek loe Yak kalau bukan udah gue kerjain balik tuh dia." Yayak langsung menatap dengan tajam.


Septian : "Emang kenapa? Waktu itu gue baik baik aja tuh." Seketika ia ingat sesuatu. "Aaaah gue inget! Abis itu loe demam selama seminggu. Hahaa." Ingatan itu membuat yang lain tertawa sedangkan Amar hanya mendengus kesal.

__ADS_1


Indra yang sudah biasa dengan drama mereka hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan ke empat anggota baru itu langsung tertawa kecuali Adinda yang masih sibuk memesankan makanan untuk adiknya. Sesekali ia melihat Arul ketika tertawa dan berbaur dengan sekelompok pemuda yang ada didepannya.


Saat mereka sedang bercanda tawa dan makanan yang mereka pesan sudah tiba, dua orang pemuda menghampiri meja tersebut. Namun seketika dia berdiri mematung karena melihat seseorang yang berada tepat didepan matanya, "Adinda." Gumamnya dalam hati.


"Kyaaaaaa Abaaaaaaang!!!" Teriak ketiga trio jumpling itu ketika melihat Dimas dan Andre sudah berada di depan mereka. Teriakan itu membuat Dimas sadar sedangkan yang lain menutup telinga mereka kecuali Yayak, ia langsung melemparkan hiasan bunga yang ada di meja.


Yayak : "Jumpliiiiiiiiing! Berisik tau nggak, bisa enggak kalian itu biasa aja waktu liat Dimas." Mereka bertiga langsung berdiri memeluk Dimas, seketika yang berada disana terkejut melihat itu tak terkecuali para pengunjung. Sedangkan Andre langsung duduk dan melihat tontonan gratis yang akan segera live didepannya.


Indra : "Hei, kenapa kalian malah memeluk Dimas seperti itu? Kalian enggak malu apa udah pada tua juga masih kaya bocah."


"Kenapa loe jadi sensi?!" Sarkas mereka bertiga.


Indra : "Gue enggak sensi, udah deh pada duduk sana. Kasian tuh Dimas baru nyampe." Mereka langsung menoleh kearah Dimas. Sedangkan yang ditatap masih menunjukan wajah datarnya.


Yayak : "Hei bocah tua sekarang kalian duduk, atau gue paksa keluar lalu gue tendang." Ancam Yayak tiba tiba, sedangkan mereka bertiga semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Dimas.


Ilham : "Loe enggak kesian apa sama kita Bang, dari tadi kita bertiga jadi bahan guyon sama Yayak terus tuh bocah Mahakarya."


Amar : "Iya, belain kita kek Dim loe kan Abang kita bertiga." Rengek Amar, Dimas masih tetap diam dengan wajah datarnya.


Septian : "Kyaaaaaa! Kenapa itu muka masih datar aja sih, dibela napa Dim." Septian mencebik kesal namun tetap merengek.


Berbagai macam rengekan mereka keluarkan untuk membuat Dimas membela mereka, karena selama ini mereka merasa tidak pernah di bela jika didepan Yayak. Namun apalah daya, Dimas masih tetap diam tanpa bergeser sedikitpun sejak ia masuk.


Dimas : "Bolehkah saya duduk?" Ucapnya tiba tiba namun masih tetap datar berwajah dingin. Seketika mereka segera merenggangkan dan melepaskan pelukan itu karena yang mereka tahu jika Dimas sudah bicara formal maka itu tidak bisa dibantah.


Dimas langsung duduk disebelah Andre dan tepat berhadapan dengan Adinda, tanpa mempedulikan ketiga jumpling itu. Yayak dan Indra yang melihat drama itu langsung tertawa puas ditambah dengan suara tawa dari Amel juga Azriel.

__ADS_1


Amel : "Udah deh tuh muka jangan ditekuk gitu, enggak malu apa sama yang muda ini. Hahaa" Amel masih tetap tertawa diikuti yang lainnya. Adinda yang melihat hanya tersenyum dengan terus menikmati makanannya.


Dimas yang notaben nya ada didepan Adinda, ia hanya diam saja dengan wajah datarnya itu sesekali melirik gadis yang tepat berada didepannya, namun seketika ia menoleh ketika adiknya itu semakin merengek.


Septian : "Abaaaaaaang! Ayolah buang jauh itu muka datar loe, apalagi waktu kita lagi kumpul gini. Belain kita kek, ini malah diem aja mana datar pula tuh muka." Septian mencebik kesal melihat sikap Dimas yang biasa saja namun beda dengan si empunya, ia malah menatap Septian tajam dan Septian langsung menghela nafas dengan kasar.


Andre : "Udah tuh muka biasa aja donk Sep, inget nanti pulang kerumah." Celetuk Andre, dan seketika Yayak langsung menoyor kepala Septian.


Yayak : "Tuuh dengerin nanti pulang kerumah. Jangan kabur terus." Septian langsung mendelik. "Udah pesen makanan dulu Ndre, sekalian tuh Raja es." Andre mengangguk. Namun kemudian langkahnya terhenti mendengar suara Dimas.


Dimas : "Tidak perlu, saya tidak ingin makan." Katanya yang membuat Andre langsung menoleh. "Jangan melihatku seperti itu, kamu cukup pesan makanan yang kamu inginkan."


Yayak : "Kenapa? Loe tetap harus jaga kesehatan Dim, udah deh geser dulu itu kerjaan loe." Yang lain ikut mengangguk.


Dimas : "Saya masih banyak kerjaan." Jawabnya kemudian meminta Andre memesan makanan. Sedangkan Dimas kembali berkutat dengan beberapa file yang ada dilaptop juga di ponselnya.


Hal itu membuat Adinda sedikit khawatir, pasalnya yang ia tahu Dimas tidak bisa telat makan walau sedetik pun tapi saat ini ia benar benar melupakan waktu makannya dan fokus pada pekerjaannya. Dimas menatap datar gadis yang ada didepannya, hal itu tak lepas dari penglihatan Yayak.


Drrrtt... Drrrtt... Ponsel Dimas bergetar.


Gadis Ceroboh


"Apa Kakak tidak ingin makan?"


Melihat siapa sang pengirim pesan itu membuat Dimas mengernyitkan matanya, kemudian menatap Adinda. Namun seketika ia kembali fokus dengan laptop miliknya, melihat itu Adinda langsung menghela nafas dengan panjang dan sedikit menunduk.


Arul seketika sadar dengan wajah sendu Adinda ketika ia tak sengaja menoleh padanya. Kemudian ia segera memegang bahu sang kakak seakan bertanya ada apa, Adinda langsung menjawab dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2