
Dimas : "Tidak perlu, saya hanya butuh istirahat sebentar. Jam berapa kita meeting?"
Andre : "Jam 13:20 meeting dimulai. Apa kau serius tidak perlu memanggil dokter Farhan? Kita bisa menunda meeting hari ini."
Dimas : "Tidak perlu Andre, apa kau lupa? Saya tidak ingin mendengar pertanyaan yang sama." Ucapnya dingin. "Kita langsung kerumah saja."
Andre memgangguk dan langsung melajukan mobilnya. Sesekali ia melihat Dimas melalui kaca mobilnya, Dimas terlihat sedikit pucat karena memang akhir-akhir ini dia sangat kurang istirahat, dia hanya sibuk dengan masalah Perusahaan.
Setelah mengarungi waktu selama 20 menit, akhirnta Andre sampai. Andre melihat dari balik kaca, Dimas tampak memejamkan matanya namun dengan dahi berkerut seperti menahan rasa sakit.
Andre : "Bang... kita sudah sampai." Dimas langsung mengerjapkan matanya melihat sekitar. "Apa ku bantu masuk kedalam?"
Dimas : "Tidak perlu, saya bisa sendiri. Katakan pada Bi Arum saya ingin istirahat, dan yaa saya tidak ingin diganggu tapi jika ada yang ingin diperlukan bangunkan saja." Andre langsung mengangguk. Dimas langsung masuk kedalam rumah, dan melangkah menuju kamarnya yang berada dilantai dua.
Andre masuk dan langsung menemui Bi Arum...
Andre : "Bi, Assalamu'alaikum..." Sedangkan Bi Arum yang dipanggil langsung mendekat.
Bi Arum : "Loh Mas Andre pulang kemari, apa Mas Dimas juga sudah pulang? Kenapa tidak bilang, Bibi kan bisa siapkan makanan dulu."
Andre : "Tidak perlu Bi, Andre pulang kesini karena nanti rencana pergi ke Singapore. Dimas sudah masuk kekamar, oh iya Bi Dimas istirahat jangan diganggu dulu ya."
Bi Arum : "Apa Mas Dimas sedang sakit?"
Andre : "Dimas hanya kurang istirahat saja Bi, semoga nanti sudah lebih baik." Bi Arum mengangguk.
Kemudian Andre masuk kedalam kamarnya, sedangkan Bi Arum kembali kedapur.
. . .
Kembali ke Universitas yaaa.....
Setelah kepergian Andre juga Dimas, semua kembali normal namun berbeda dengan Adinda. Karena selepas kepergian Dimas, Adinda tampak murung. Yayak yang mengerti hal itu langsung paham.
Tepat pukul 11:30, semua kegiatan selesai. Setelah acara ditutup dengan kegembiraan, semua anggota berhambur keluar, ada yang langsung ada pula yang masih menetap seperti Adinda juga sahabatnya Amel.
Adinda masih menunggu sang adik karena masih ada urusan dengan Indra, begitu juga dengan Alvin, Nauval juga Azriel. Karena dari siswa SMP hanya mereka yang menonjol dalam setiap kegiatan itu. Sedangkan Amel hanya menemani sahabatnya, sekaligus menunggu Azriel karena sang Mama berpesan agar ia pulang bersama sepupunya itu.
Saat mereka sedang asik dengan pembicaraan, MBA tiba-tiba menghampiri keduanya dengan senyum sumringah tak memudar seakan baru saja menang lotre.
MBA : "Ehemm! Sedang nunggu siapa kalian? Padahal ini sudah siang, sebentar lagi dzuhur loh."
Amel : "Eeh ada kagan! Wah senengnya disamperin sama kagan, iya kan Din." Sambil menyenggol bahu Adinda, namun Adinda tak bergeming dari ponselnya. "Hei Adinda Amaralia Setiawan!" Adinda tersentak. "Loe lihatin apa sih? Tumben banget lihatin tuh HP kaya nungguin balasan dari cowok aja."
__ADS_1
MBA : "Memang Adinda belum punya pacar yah? Masa cantik belum punya pacar sih?"
Amel : "Cantik mah boleh saja Kak, tapi urusan pacar dia paling anti. Semua itu harus sesuai dengan Arul dulu."
MBA : "Kenapa harus seperti itu?" Tanya nya penasaran.
Adinda : "Tidak kok Kak. Jangan percaya sama si Amel." MBA langsung mengangguk.
Amel : "Kagan sendiri ngapain masih disini? Lagi nunggu gebetan ya?"
MBA : "Eh, enggak kok. Kebetulan semua anggota belum pulang jadi saling menghargai saja. Tapi tadi sepertinya Andre juga Dimas yang sudah pergi." Mendengar itu Adinda langsung menatap MBA.
Amel : "Loh memang mereka kemana? Kayanya dari pagi mereka enggak kelihatan."
MBA : "Oh, mereka berdua sedang ada urusan biasalah urusan bisnis. Jadi mau tidak mau harus segera pergi." Adinda hanya diam sedangkan Amel hanya ber-Oh saja.
Adinda : "Pantas saja dia tidak terlihat, apa dia baik-baik saja? Kenapa pesan ku belum dibalas bahkan belum terbaca." Gumamnya dalam hati.
Amel : "Loe kenapa sih Din? Ada yang loe pikirin ya daritadi diam terus. Tenang sebentar lagi Arul keluar jadi kita bisa pulang."
MBA : "Oh iya, kalian pulang sama siapa?"
Amel : "Aku sama Azriel Kak, kebetulan bawa mobil juga. Din, loe gimana pulangnya?"
Adinda : "Aku bisa pesan taksi online kok Mel, kebetulan kan kemarin Mobil masih dibengkel."
Amel : "Wow, gue enggak salah dengar kan ini? Seorang Kak MBA anterin juniornya pulang? Gue juga mauuuuuu." Rengeknya sedikit sedih. "Beruntung banget sih loe Din." Lanjutnya sambil senyum tanpa beban. Sedangkan Adinda langsung menatapnya tajam. "Kyaaaaaa!, itu mata jangan macam Kak Dimas kenapa sih Din, serem tahu enggak." MBA hanya terkekeh melihat tingkah Amel.
Adinda : "Maaf Kak, enggak usah nanti malah ngerepotin. Kita semua sama-sama lelah jadi biar Adinda pesan taksi online saja." Tolaknya dengan lembut.
MBA : "Aah, oke deh kalau begitu. Tapi kalau berubah fikiran kasih tahu saja yah, Kakak siap antar kalian pulang kerumah." Ucapnya dengan senyum, meski ada rasa kecewa tapi ia memaklumi keputusan Adinda yang tidak ingin diantar olehnya. Sedangkan Adinda langsung mengangguk. "Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu kedalam. Kalian hati-hati disini." Keduanya mengangguk. MBA langsung melangkah kedalam Aula.
Sekali lagi, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan mereka bertiga. Orang itu tidak lain adalah Yayak.
Yayak yang awalnya ingin mencari udara segar karena penat, ia keluar dari Aula untuk sekedar membuat otaknya tenang. Namun ia langsung disuguhkan oleh pemandangan dari ketiga makhluk Tuhan yang sedang berinteraksi disudut taman.
TAP . . . TAP . . .
Langkah MBA mulai dekat dengan Yayak, sesaat mereka berbicara sebentar.
MBA : "Mau kemana loe Yak? Apa yang didalam sudah selesai?"
Yayak : "Aah ini gue pengen cari udara segar aja, didalam tuh masih belum selesai." MBA mengangguk. "Loe sendiri habis dari mana? Mana senyum-senyum sendiri lagi, deketin cewek ya loe?" Ucapnya bercanda.
__ADS_1
MBA : "Hahaa enggak lah, tapi boleh juga itu ide loe buat deketin cewek. Kebetulan ada yang buat hati gue bergetar. Entah kenapa ketika baru melihat dia seperti melihat sesuatu hal yang sangat indah Yak, entah kenapa gue merasa seperti itu. Ya mungkin gue jatuh cinta sama dia." Perkataan itu membuat Yayak langsung menatap temannya itu.
Yayak : "Loe itu tampan, jadi pasti bisa dapatin wanita yang loe mau, dan siapapun pasti juga mau sama loe Bar."
MBA : "Haha, bisa aja loe Yak. Tapi entah kenapa wajah gadis itu selalu ada difikirian gue. Wajahnya, senyumnya, sifatnya yang lembut, dia yang ceria. Baru ini gue ketemu sama wanita seperti dia. Tapi gue enggak tahu bagaimana perasaan dia terhadap gue Yak, dia itu susah ditebak karena sikapnya itu pada siapapun sama, maksudnya sama siapapun dia bersikap dengan hangat, dan tidak pilih-pilih."
Yayak : "Aah, begitu? Apa hal itu buat loe penasaran sama kepribadiannya itu?" Dengan cepat MBA langsung mengangguk mantap. "Siapa gadis yang beruntung itu?" Ucapnya mencoba bersikap biasa saja.
MBA : "Ehmm dia masih SMU sih Yak, dia punya seorang adik laki-laki yang masih SMP, meski adiknya itu sedikit cuek sih. Gadis itu, Adinda Amaralia. Entah kenapa gue bisa jatuh hati dengan gadis itu." Yayak hanya menganggukkan kepalanya. "Oh iya, gue masuk dulu deh ya, loe enggak masuk?"
Yayak : "Ehmm nanti gue mah, baru juga keluar belum sempat dapat udara segar. Kalau gitu gue ke taman dulu deh ya." Yayak langsung melangkah. "J**adi tebakan gue benar, Akbar jatuh hati sama Adinda. Apa Dimas juga merasakan hal itu? Bagaimana jika. . . Aaahh kenapa hubungan loe rumit sekali sih Dim." Gerutunya dengan wajah tampak frustasi. MBA yang melihat sikap Yayak hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju Aula. Sedangkan Yayak langsung menuju ke taman, namun sebelum itu ia menghampiri Adinda terlebih dahulu, karena ada hal yang akan ia sampaikan padanya.
Sesampainya disana. . .
Amel : "Eeh ada Bang Yayak?" Sapanya pada Yayak. "Oh iya Bang, masih lama enggak sih didalam?" Ucap Amel ketika melihat Yayak sudah dekat dengan keduanya. Adinda langsung menoleh dan menunduk pada Yayak tanda hormat pada yang lebih tua.
Yayak : "Kalian masih menunggu yang didalam untuk keluar? Ehmm mungkin sebentar lagi, kalian nunggu Arul sama Azriel?" Keduanya mengangguk. "Hecmm oke, oh iya Dek Din bisa bicara sebentar?"
Amel : "Cieee sih Abang mainnya dibelakang. Awas nanti ketahun Mba Angel loh. Hihii"
Yayak : "Gue cuma ingin bicara sebentar terkait ide dia pagi tadi, jangan mikir yang aneh-aneh loe ya. Apalagi sampai ngadu sama Angel."
Amel : "Ettdah tahu aja gue mikir kesitu Bang." Ucap Amel terkekeh. "Yaudah buruan gih nanti keburu Arul keluar, bisa berabe kalau Arul lihat Adinda berdua sama cowok." Yayak yang mendengar hanya terkekeh, sedangkan Adinda mengangguk dan langsung mengikuti langkah Yayak kearah taman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf baru bisa up ya kak, karena kemarin Author lagi enggak enak badan..
__ADS_1
Maaf juga jika belum sesuai dengan harapan, semoha besok bisa kembali update.
Salam hangat dari Author untuk kakak semua, selalu jaga kesehatan.