Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 120 Ik Hou Van Je!


__ADS_3

Dimas : "Apa yang ingin kamu dengar dari saya, maupun Adinda?"


Arul : "Semuanya, yaa semua yang sudah terjadi tadi maupun sekarang. Semua yang baru saja Kakak lakukan." Jawab Arul dengan tangan mengepal menahan kemarahan, ada rasa kecewa diwajahnya.


Dimas : "Seperti yang kamu maupun yang mereka lihat. Kami, memiliki hubungan." Jawabnya singkat namun juga tegas.


Arul : "Sejak kapan?"


Dimas : "Beberapa hari setelah kunjungan pertama di Mahakarya."


Arul : "Sudah selama itu?" Arul tersenyum kecut. "Kakak, bohong sama Arul?" Kini kedua mata Arul mengarah pada Adinda. Bahkan suaranya kini begitu dingin, pada kakaknya.


Amel dan Vania yang juga terkejut memilih diam, meski mereka begitu penasaran tapi situasi ini tidak memungkinkan.


Adinda : "Ma.maaf." Ucapnya dan langsung menunduk.


Arul : "Arul tidak ingin jawaban itu, Arul ingin Kakak menjawab semuanya selain itu." Ucapnya menekankan setiap kata.


Dimas : "Kamu bisa bertanya padaku, tidak perlu menekan Adinda seperti itu. Bagaimanapun dia Kakakmu sendiri." Kini tatapan Arul berubah tajam. Namun hal itu tidak berpengaruh pada Dimas yang notabennya memang lelaki dingin dan sudah berpengalaman dalam hal ini.


Arul : "Apa hak Kak Dimas melarang Arul bicara seperti itu?" DEG! Dimas merasa sedikit sesak didalam sana. "Dia, dia Kakak ku sendiri. Kakak yang mengajariku untuk selalu bicara jujur, tidak ada namanya kebohongan. Tapi kenapa? Kenapa melakukan ini ke Arul? Apa salah Arul hingga Kakak tidak jujur selama ini?" Ucapnya dengan suara meninggi.


MBA : "Tenanglah dulu dek, kita harus mendengar penjelasan Kakak kamu. Jangan menuruti ego kamu apalagi emosi, kamu yang bilang jika kamu sayang pada Adinda. Jadi redakan dulu emosi kamu ini, ya."


Dengan dada yang sudah naik turun, Arul berusaha untuk meredakan emosinya meski hal itu susah ia lakukan.


Amel dan Vania yang memang tidak pernah melihat kilatan tajam dari Arul langsung menggenggam tangan Adinda yang memang sudah dingin.


Amel : "Hentikan Rul, apa kamu tidak kasihan sama Dinda."


Arul menulikan kedua telinganya. Ia masih menunjukkan tatapan tajam itu pada Adinda dan Dimas.


Dimas : "Sudah saya katakan, jangan berkata seperti itu padanya. Kamu bisa berbicara pada saya, seluruhnya."


Arul : "Kenapa? Kenapa kalian melakukan hal ini padaku? Kenapa Kakak tidak jujur ke Arul, kenapa Kakak hanya diam saja dan tidak bicara ke Arul? Apa alasan Kakak melakukan hal ini? Arul marah, Arul kecewa sama kalian!" Mendengar suara Arul yang meninggi, Adinda semakin menundukkan kepalanya dan semakin terisak bahkan suara tangisnya memekakan telinga Dimas.

__ADS_1


Sedangkan diluar kamar, Azriel, Alvin, Nauval dan trio jumpling baru saja tiba disana setelah mendengar suara Arul yang meninggi.


Mereka baru mengetahui jika Adinda pingsan dari anggota lain, karena mereka baru saja tiba di Villa setelah dari luar.


Azriel : "Ada apa? Apa yang terjadi Bang?"


Nauval : "Iyaa, kita baru saja sampai terus denger Kak Dinda pingsan langsung kesini."


Alvin : "Apa dia baik-baik saja Bang? Kenapa Arul teriak seperti itu?"


Ilham : "Waah kalian curang, lari duluan kesini ninggalin kita bertiga." Amar dan Septian ikut mengangguk.


Septian : "Ada apa sih, kenapa muka kalian bertiga serius begitu? Ger, Dit kalian juga baru sampai?" Keduanya mengangguk.


Geraldi : "Kita baru balik dari persimpangan Bang, biasa urusan kesehatan."


Azriel tidak menghiraukan mereka, ia langsung menepuk bahu Yayak.


PUK! Yayak menoleh kebelakang.


Yayak : "Jangan banyak tanya, loe lihat saja sendiri didalam."


Azriel langsung melangkah masuk ke kamar, bahkan ia tak menghiraukan larangan Firman. Firman memilih diam, jika memang sudah keterlaluan maka dia akan turun tangan menengahi kedua adiknya itu.


Sementara di dalam kamar. . .


Dimas : "Saya yang meminta dia untuk menerima saya dalam hidupnya." Semua yang ada disana menatap Dimas, termasuk Adinda yang menggelengkan kepalanya meminta untuk tidak meneruskan kata-katanya. "Saya yang terlebih dahulu meyukai kakak kamu, dan saya pula yang meminta dia untuk menyembunyikan hubungan kami karena saya tidak ingin orang lain tahu termasuk kamu."


Arul semakin mengepalkan kedua tangannya. Yayak, Andre juga Firman yang berada diluar tidak menyangka jika lelaki itu akan mengatakan hal diluar dari perkiraan mereka.


Andre : "Bang, apa yang kau katakan?" Ucapnya dingin.


Dimas : "Kamu tidak perlu bertanya pada Adinda lagi, cukup kamu dengarkan ucapan saya saja." Dengan langkah lebar, tiba-tiba. . .


Bugh!!

__ADS_1


Arul : "Apa yang Kakak katakan? Bugh!! Kenapa Kakak menyukai Kak Dinda dan memintanya berbohong padaku?!" Terlihat sudut bibir Dimas sudah sedikit robek karena hantaman Arul.


Adinda : "Tidaaak!! Jangan lakukan itu lagi dek, Kakak yang salah. Jangan, jangan memukul Kak Dimas lagi, hiks hiks. Kakak yang meminta Kak Dimas untuk tidak bicara padamu, Kakak yang meminta dia untuk menyembunyikan hubungan ini, Kakak yang memberikan syarat ini padanya. Semua Kakak yang meminta. Hiks hikss, jangan memukul dia lagi, Kakak mohon." Vania dan Amel memeluknya erat.


Septian : "Apa yang kau lakukaaann?!!!" Teriak Septian yang tidak terima sang Abang dipukul bahkan sampai berdarah. "Apa kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik?! Kau tidak tahu seberapa berharganya dia untukku!!" Teriaknya melangkah masuk ke kamar menabrak Azriel yang ada didepannya.


Andre : "Jangan lakukan hal konyol Sep, hentikan dan keluarlah." Septian menatapnya tajam.


Azriel : "Hentikan Rul, kasihan Kak Dinda melihat kamu seperti ini."


Dimas : "Saya minta, kamu keluar Septian." Pintanya dengan dingin ketika sudah berdiri. "Sekarang kita selesaikan, apa yang kamu inginkan saat ini? Saya akan menurutinya, apapun itu." Adinda menggelengkan kepalanya.


Arul menghela nafas dengan kasar, ia mencoba meredakan emosinya.


Arul : "Aku minta kalian akhiri hubungan kalian sekarang juga." Mintanya dengan suara tegas dengan nafas memburu. Dimas tersenyum mengangguk.


Dimas : "Baiklah jika itu yang kamu inginkan, as you wish."


Dimas berjalan mendekati Adinda, ia menghela nafasnya. Masih terlihat jelas noda darah disudut bibirnya. Dimas merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Adinda. Kedua tangannya membingkai wajah gadis cerobohnya, mengusap airmatanya. Tak akan ada lagi wajah gadis ini disetiap hari-harinya, Adinda mengusap sudut bibir itu dengan lembut, isakan tangisnya terdengar keras ditelinga Dimas.


"Sudah saya katakan, jangan menangisi saya seperti itu. Saya tidak ingin melihat kamu menangis lagi Din. Ik hou van je, percayalah akan hal itu bahkan rasa itu tidak hilang sampai kapanpun karena hanya waktu yang bisa menghilangkannya." Adinda semakin terisak. "Kita sudahi hubungan kita saat ini, maaf belum bisa membahagiakan kamu selama ini tapi percayalah dia akan membahagiakan kamu nanti. Sekali lagi maaf jika hubungan kita harus sampai disini, bukan karena saya tidak ingin memperjuangkan kamu tapi saya tahu Arul sudah memiliki lelaki yang tepat untukmu, lelaki yang bisa menjaga kamu nantinya."


DEG!! Arul langsung tersentak mendengar ucapan Dimas.


"Saya menyayangi kamu dan saya juga menyayangi dia sama seperti rasa sayang saya untuk Andre juga Septian. Apapun yang ia minta, selama saya bisa memberikan pasti akan saya berikan termasuk mengakhiri hubungan ini, karena itulah kewajiban seorang Kakak untuk adiknya. Jaga diri kamu baik-baik karena saya tidak akan lagi ada disisimu, jangan ceroboh lagi bersikaplah tenang menghadapi apapun. Setelah ini kamu harus menjadi wanita yang tangguh dalam segala hal apapun, hem?"


CUP. Dimas mengecup kening Adinda dalam dan penuh sayang. Siapapun yang melihat pasti bisa merasakan ketulusan cinta itu.


"Sekali lagi, jaga diri kamu, terima kasih untuk segala yang sudah kamu berikan untukku termasuk rasa sayang dan cinta yang kamu curahkan. Terimakasih untuk semuanya, Ik hou van je." Bisiknya mengakhiri kalimat. Cup. Dimas lalu beranjak dari sana.


Azriel : "Kak Dimass..." Dimas hanya tersenyum menanggapi panggilan Azriel, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan.


Dimas : "Saya sudah mengakhiri hubungan ini, bahkan sebelum Adinda pingsan saya sudah mengatakannya. Karena saya tahu, kamu tidak akan setuju dengan hubungan kami. Tolong kamu jaga Adinda dengan baik, siapapun lelaki yang akan kamu pilih nanti saya harap itu yang terbaik untuknya. Ehmm Akbar, tolong kamu jaga gadis ceroboh ini, karena dia akan bertingkah ceroboh jika tidak diperhatikan."


MBA yang sejak tadi diam terkesiap mendengar itu. Setelah mengatakan itu, Dimas langsung melangkah keluar dari kamar itu diikuti Andre, juga Septian. Meninggalkan Adinda yang menangis. Sedangkan anggota yang lain hanya terdiam disana.

__ADS_1


"Kyaaaaa!! Abang, a.apa yang terjadi dengan bibirmu?!" Orang itu teriak karena terkejut.


__ADS_2