Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 150 Berkunjung ke Makam


__ADS_3

Adinda yang berada disudut ruangan menatap pigura yang berjejer disana. Ada lima pigura yang menempel sempurna di dinding, pertama foto Tuan dan Nyonya Adhitama. Kedua foto Tuan dan Nyonya Adhitama serta Dimas, ketiga Keluarga Adhitama beserta Andre juga Septian. Keempat Foto Dimas seorang diri lalu yang kelima foto Dimas beserta kedua adiknya.


Kini mata Adinda tertuju pada pigura keempat, dimana disana hanya ada foto Dimas seorang diri. Wajah lelaki itu terlihat tampan, bola mata yang biru juga tajam, hidung yang mancung, bibir yang kemerahan, rahang yang kokoh. Dengan tinggi badan yang proposional perpaduan Asia-Eropa dengan tubuh bidangnya yang atletis. Nampak gagah juga penuh kewibawaan, semua itu begitu mirip dengan sang Ayah. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan hal sama.


Pandangan mata Adinda tak berkedip sedikitpun saat menatap foto Dimas. Perlahan tangan kanannya terangkat ia arahkan didadanya. Jantungnya masih berdetak meski hanya melihat foto lelaki itu, perlahan ia meremas dadanya. Terasa begitu sakit namun tidak berdarah, tangan kiri yang digenggam oleh Amel perlahan begitu erat.


Amel : "Adinda? Loe baik-baik saja kan ya? Ingat Din, loe harus tenang jaga kesehatan. Oke, loe harus tenang Adinda." Ucapnya seperti berbisik. Perlahan tangan Adinda mulai mengendur, Amel yakin Adinda mulai sedikit tenang meski belum sepenuhnya.


Adinda : "Aku masih belum bisa menerima kepergian lelaki itu Amel." Ucapnya lirih disertai tetesan air mata yang mulai keluar.


.


.


.


Beberapa hari setelah acara Pengajian itu, tepatnya pada hari Minggu pagi ini Andre mengajak Septian juga Pastu untuk berkunjung ke makam karena beberapa hari lagi akan masuk bulan suci Ramadhan.


Hal ini memang sudah menjadi budaya di Indonesia, mereka akan mengunjungi makam sanak saudara pada saat menjelang bulan puasa atau menjelang bulan Syawal (Idul Fitri).


Septian : "Ayo kita berangkat, gue sudah siap!" Ajaknya penuh semangat. Pastu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Septian yang seperti bocah, sedangkan Andre hanya menatapnya datar.


Andre : "Berjanjilah setelah sampai disana jangan membuat hal konyol, apapun." Ucapnya memberi peringatan.


Septian : "Memang hal konyol seperti apa yang gue lakuin?" Tanyanya sinis.


Andre : "Apa kau lupa terakhir kita kesana, kau bahkan merengek meminta dia untuk hidup kembali dan meminta dia untuk membelikanmu mainan Metroboth X?" Septian mendelik mendengar hal itu.


#Pasti tahu kan Metroboth X itu apa? Yang suka nonton serial UI pasti tahu banget.


Pastu : "Benarkah itu, Septian?" Septian menggeleng cepat.


Septian : "Tidak Om, mana mungkin aku minta dibelikan itu. Apalagi meminta dia bangkit hanya untuk pergi ke Luar Negeri dan membeli hal semacam itu." Jawabnya mengelak.


Andre : "Dasar bontot, tetap saja bocah." Gerutunya.


Perdebatan mereka bahkan belum berakhir dan berlanjut hingga ketiganya memasuki mobil. Bahkan selama perjalanan menuju Makam Keluarga Adhitama kedua pemuda itu masih belum berhenti hingga membuat Pastu menggelengkan kepalanya.


Mereka sudah dewasa, tapi tetap bertingkah seperti bocah. Hingga Pastu harus menghentikan perdebatan keduanya karena sudah memasuki pelataran Makam.


Pastu : "Hentikan perdebatan kalian ini, ingat umur. Kalian bukan lagi bocah." Septian mengerucutkan bibirnya. "Eeh itu bibirnya jangan seperti itu, minta dikuncir?"


Septian : "Om! Jangan dong, ini bibir Septi satu-satunya. Nanti Oma marah kalau bibir ku melenceng."


Disaat Pastu sedang menggoda Septian, Mata Andre menangkap seseorang yang baru keluar dari area pemakaman.


Bukankah ini Makam keluarga? Kenapa ada orang lain yang masuk kesini, hanya orang tertentu yang bisa memasuki Pemakaman ini.

__ADS_1


Mata Andre tidak berkedip sedikitpun, ia menatap tajam orang itu hingga orang tersebut memasuki Mobil mewahnya dan keluar dari pelataran makam.


Pastu : "Are you oke, Son?" Hening, Andre seakan tidak mendengar pertanyaan Pastu. Matanya masih fokus pada jalanan dimana Mobil itu sudah hilang.


PUK!!


Pastu menepuk bahu Andre, hal itu sukses membuat Andre tersadar.


Andre : "Kita langsung keluar saja Om, sepertinya ada yang harus aku cek lagi setelah ini." Ucapnya dan langsung membuka pintu Mobil.


Pastu dan Septian saling pandang seakan keduanya sedang mencari jawaban. Septian mengangkat bahunya, lalu keluar dari Mobil diikuti Pastu dibelakangnya.


Ketiga lelaki beda usia itu langsung menuju ke Makam yang mereka tuju. Makam ini adalah makam khusus untuk anggota keluarga Adhitama saja. Jadi hanya keluarga Adhitama yang dimakamkan disini.


.


.


Sedangkan dilain tempat, tepatnya didalam sebuah Mobil mewah terdapat tiga makhluk yang bernama manusia dengan jenis yang sama. Ketiganya tengah fokus dengan fikiran mereka masing-masing.


"Sepertinya orang itu melihat kita keluar dari pemakaman. Tatapan matanya sungguh tajam, kalian sungguh sama. Apa kau tidak khawatir?" Tanya orang disebelah kemudi.


"Saya tahu. Jangan terlalu khawatir dengan hal yang belum tentu terjadi." Jawab seseorang yang duduk dibangku penumpang.


"Kenapa kau masih saja dingin seperti itu, bukankah kau sudah berkunjung? Juga, kau sudah melihat mereka bertiga. Apa masih kurang?" Tanya orang itu lagi.


Orang yang ada dibelakang hanya menatapnya datar tanpa ekspresi, lalu kembali menatap layar ponselnya sesekali menatap keluar jendela dan memandangi keramaian Kota.


"Hari ini kita masih kosong, sesuai yang kau minta. Jadwal kita akan dimulai esok pagi di Perusahaan database. Mereka mengatakan ingin melakukan kerjasama." Jawabnya.


"Baiklah, kau bisa langsung kesana. Bersikaplah seperti biasa, jangan terlalu mencolok yang membuat mereka memperhatikan kita." Orang itu mengangguk mengerti.


"Setelah ini, apakah kau ingin kesuatu tempat?" Tanyanya penuh harap.


"Tidak." Jawabnya singkat. "Tapi jika kau ingin keluar, silahkan."


.


Kembali pada tiga lelaki beda usia dan generasi.


Menjelang sore hari, ketiga lelaki itu masih setia duduk bersandar di taman Mansion. Septian sedang bermain dengan Kucing peliharaannya yang baru ia miliki beberapa hari, Pastu sedang fokus pada buku bisnis. Sedangkan Andre, ia fokus dengan layar ponselnya namun sesekali ia juga melamun.


Septian : "Ab.bang?" Andre tak menjawab. "Abaaaaaang?!" Andre menatap tajam. "Apa loe tadi lihat, ketika kita sampai di Makam?"


Pastu : "Ada apa Septian?" Tanya Pastu mengalihkan matanya.


Septian : "Di makam Papa dan Mama ada bunga, sedangkan di Makam Dimas tidak ada. Kita saja baru datang kesana, lalu siapa yang berkunjung?"

__ADS_1


Pastu : "Mungkin saja orang baik, jangan su'udzan dulu Tian." Jawabnya.


Septian : "Bukankah bunga tadi itu, bunga Edelwise? Itu bunga favorit Mama dan Papa. Hanya keluarga kita yang tahu tentang itu, dan juga bunga itu sekarang mulai langka. Aku aja kemarin tidak bisa menemukan bunga itu, kata pemilik toko sudah ada seseorang yang memborong bunga itu." Ucapnya menjelaskan.


"Hanya Dimas yang bisa melakukan ini, tapi itu tidak mungkin. Tapi, kenapa Makam Dimas tidak ada bunga sedikitpun?" Gumamnya pelan yang masih bisa didengar.


Andre sejak tadi diam, namun sejak tadi ia juga mendengarkan perkataan Septian. Ya memang hanya Dimas yang bisa melakukan hal ini, selain langka bunga ini juga lumayan mahal dan hanya Keluarga inti saja yang mengetahui bunga favorit Nyonya Adhitama.


Bunga Edelwise adalah salah satu bunga yang hanya hidup di dataran tinggi pegunungan, bunga ini juga disebut bunga abadi karena memiliki waktu mekar yang lama, hingga 10 tahun lamanya dan bisa hidup diberbagai cuaca.


Nyonya Adhitama begitu menyukai tanaman ini karena bunga ini melambangkan kasih sayang serta cinta yang mendalam. Mama Dimas ini sejak remaja begitu mengagumi bunga ini, ia berharap bunga ini bisa melambangkan kasih sayang yang tulus untuk keluarganya.


Karena kasih sayang itu akan tetap abadi diberbagai kehidupan mendatang.


Pastu : "Andre, apa kamu memikirkan hal yang sama dengan Septian?"


Andre : "Andre akan menyelidikinya, Om tenang saja." Jawabnya tegas. "Siapa lelaki itu?" Gumamnya pelan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ،


لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَر اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ


Alhamdulillah kita sudah sampai di Penghujung Ramadhan, semoga semua pahala kita diterima Allah, Aaamiin...


Enthor Ucapin, Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin..

__ADS_1


Maafin enthor jika punya salah, Selamat hari raya Idul Fitri untuk Kakak semua.


Salam hangat dari enthor.


__ADS_2