Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 106 Puncak 1


__ADS_3

Septian : "Ma, Pah hari ini Septian datang kesini, lagi. Setelah sekian lama Septian tidak berani datang karena takut Dimas trauma, tapi sekarang dia sendiri yang merekomendasikan unuk menggunakan Vila ini. Saat ini dia masih sibuk dengan Perusahaan, sungguh Septian rindu dengan suasana kita yang dulu. Semoga Dimas tidak trauma setelah datang kemari." Gumamnya dalam hati.


"Apa kau sedang mengingat mereka?" Tanya seseorang yang tidak jauh darinya. Septian yang mendengar itu langsung menatap kesumber suara, dengan mata yang berkaca-kaca ia langsung berhambur memeluk orang itu dengan erat.


Untung saja, anggota yang masih ada diluar sudah tidak banyak hanya tinggal Yayak, Indra, Amar, Ilham juga Angel dan tak lupa juga sang Pembina yang tak lain adalah Septa Mauriya.


Septian memeluk orang itu dengan erat seakan ia tidak ingin jauh dari orang tersebut. Dan jika ia melepaskan pelukan itu ia takut orang itu akan pergi lagi dengan waktu yang lama.


"Kau sangat merindukan mereka?" Septian langsung mengangguk dengan cepat. "Sama, aku juga merindukan mereka." Ucapnya pelan, mendengar hal itu Septian semakin erat memeluk orang itu. Orang itu langsung mengusap punggung Septian yang mulai terasa bergetar.


Septian : "Apakah dia akan kembali trauma setelah tiba disini?" Tanyanya ditengah-tengah isakannya yang entah sejak kapan ia menangis.


"Aku tidak tahu, tapi semoga saja itu tidak terjadi lagi. Kau dan Andre harus menjaga dia agar tidak kembali trauma, tetaplah berada disampingnya apapun yang terjadi." Septian hanya mengangguk.


Septian : "Apa Om Pastu akan pergi lagi setelah acara disini?" Tanyanya sedikit mengurai jarak dan menatap wajah Pastu.


Pastu : "Aku belum tahu, jika semua Perusahaan cabang sudah stabil aku akan stay disini untuk beberapa waktu." Jawabnya.


Septian : "Ehmm berapa lama? Apakah sampai satu tahun?" Ucapnya dengan mata berbinar, sedangkan Pastu hanya mengangkat sebelah alisnya.


Pastu : "Apakah kau berharap aku akan selama itu berada disini? Bahkan kamu yang sudah mengetahui sifat dia saja masih sering kabur apalagi dengan sifatku yang dibawahnya, bisa-bisa kau tidak akan pernah di Rumah." Ucapnya terkekeh mengingat Shekar yang terkadang melapor mengenai sikap Septian.


Septian : "Apakah Shekar yang mengatakannya padamu?" Tanyanya sedikit merajuk.


Pastu : "Untuk apa dia mengadu padaku? Sedangkan kami selama ini beda Negara, dan aku sering berkeliling. Dasar bontot, sudah lepaskan pelukanmu ini. Ingat jangan terlalu sering membuatnya marah."


Septian : "Aku hanya ingin dia ada waktu denganku dan juga Andre meski sebenarnya waktunya habis dengan si duplikat itu, tapi aku rindu masa kita dulu." Ucapnya pelan kemudian melepas pelukannya.


Pastu yang mendengar itu langsung menghela nafasnya dengan pelan.


Pastu : "Cobalah untuk mengerti kondisinya saat ini, semua yang dia lakukan untuk kebaikan kita semuanya. Om tahu kamu pasti merasa kesepian dan karena itu kamu sering kabur, tapi bukan berarti dia melupakan tugas dan kewajibannya padamu maupun pada Andre. Percayalah semua pasti akan baik-baik saja." Ucapnya sambil menepuk bahu Septian.


Septian hanya diam, ia menatap taman yang masih ada permainan keluarga disana. Meski hanya ayunan tapi semua itu banyak kenangan.

__ADS_1


Septian : "Apakah sekarang mereka sudah bahagia?" Gumamnya pelan yang masih bisa didengar oleh Pastu.


Pastu yang hendak masuk Vila menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Septian. Dilihatnya anak angkat Kakaknya itu, lelaki yang tampan malah tak kalah tampan dengan Dimas sedang melihat sesuatu didepannya yang tak jauh dari dirinya. Kedua mata Pastu mengikuti kearah mana mata Septian melihat, persis disudut halaman yang luas itu ada taman keluarga yang terdapat sebuah ayunan disana.


Pastu masih ingat permainan itu dibuat oleh Almarhumah Ivanka agar Dimas bisa bermain dengan puas ketika sedang berkunjung disini. Ditambah dengan dua adik angkat Dimas yang semakin membuat Kakaknya itu bahagia karena merasa tidak sia-sia permainan itu dibuat buktinya anak-anaknya sangat senang dengan permainan itu.


Pastu : "Percayalah mereka saat ini tengah bahagia karena melihat ketiga putranya selalu bersama dalam suka maupun duka, serta selalu saling menjaga." Ucap Pastu yang membuat Septian tersentak dan sadar dari lamunan masa lalunya.


Septian : "Semoga saja mereka benar-benar bahagia disana." Gumamnya pelan, lalu Pastu mengangguk.


Pastu : "Sekarang masuklah, kamarmu masih sama dengan yang dulu. Kamu bebas tidur dengan siapa saja termasuk kedua jumpling itu." Menunjuk Amar juga Ilham.


Septian mengikuti jari Pastu yang menunjuk kedua sahabatnya.


Septian : "Ogah gue tidur sama mereka berdua." Amar dan Ilham langsung mendelik. "Trauma gue tidur sama mereka, kalau tidur suka ada suara-suara kasat mata."


"Bontooooott!!" Teriak mereka berdua dan langsung mengejar Septian yang sudah lebih dahulu lari dari mereka.


Indra : "Woi! Hati-hati kalian jangan sampai adik-adik kalian yang didalam melihat tingkah kalian yang seperti bocah." Mendengar itu mereka langsung berhenti dan bergaya sok cool seperti sebelumnya.


Pastu : "Indra, kamu ingatkan yang lain untuk tidak memasuki kamar utama maupun kamar Dimas, aku sudah berpesan pada Pak Umar untuk menunjukkan kamar yang akan ditempati jadi tolong kamu ingatkan anak-anak." Indra mengangguk.


Septa : "Ayo kalian juga ikut masuk, karena yang lain sudah berada didalam."


Angel : "Sayaaang, kamu bawain tas aku ke kamar yaa." Pintanya dengan manja. Sedangkan Yayak hanya mengangguk pasrah. "Makasih sayang gue." Setelah mengucapkan itu Angel langsung melenggang masuk Villa.


Septa : "Kenapa kamu sangat betah sekali dengan wanita itu Yak." Ucapnya setelah melihat Angel berlalu.


Pastu : "Apa kau lupa bagaimana dirimu dulu Riya?!" Ucapnya sinis.


Septa : "Itu beda Tu, gue dulu hanya biasa saja enggak seperti anak zaman sekarang." Belanya.


Pastu : "Tetap saja kau bucin dengan istrimu itu." Jawabnya lagi.

__ADS_1


Septa : "Tidak apalah, daripada harus hidup sendiri. Pulang kerja enggak ada yang kasih sambut dengan sayang, makan enggak ada yang masakin, tidur juga enggak ada yang nemenin. Persis banget seperti seseorang yang gue kenal."


Ucapnya seakan tak mau kalah, bahkan matanya sambil melirik sahabatnya namun sedetik kemudian dia melirik kearah lain karena bisa dipastikan Pastu menatapnya dengan tajam.


Pastu : "Riyaaaaaa?!" Teriaknya dan langsung menghampiri sahabatnya yang sudah bergegas masuk ketika dia mulai berteriak.


Septa : "****** gue. Loe sendiri yang bangunin singa sedang tidur, jadi loe harus tanggung jawab Septa." Gerutunya merutuki kebodohannya sendiri.


Raka : "Kenapa wajah Om seperti itu?" Septa langsung terkejut mendengar suara Raka yang tak lain keponakannya sendiri😲😲


Septa : "Ssstt, kau diam saja. Jika nanti Pastu bertanya katakan Om sedang istirahat." Raka hanya mengangguk saja.


Setelah Septa memasuki kamarnya, tak lama Pastu sudah berada didepan Raka dan langsung membuat Raka terkejut.


Pastu : "Dimana Riya?" Raka mengernyit bingung. "Maksud saya Septa."


Raka : "Ooh, Om Septa istirahat Bang baru saja masuk kamar." Jawabnya.


Ketika Pastu akan melangkah, ponselnya yang berada dibalik saku celananya bergetar. Lelaki tampan itu merogoh sakunya dan mengambil benda pintar miliknya. Satu nama yang ia tunggu sejak tadi.


Pastu : "Ya halo?" Ucapnya yang langsung menjauh dari hadapan Raka dan para sahabat Dimas yang memang mulai memasuki Villa.


Septian : "Sedang bicara dengan siapa? Kenapa harus menjauh?" Gumamnya pelan. "Rak, loe tahu Bang Pastu bicara sama siapa?" Raka mengedikan bahunya tanda tidak tahu.


Raka : "Enggak tahu gue mah, orang setelah angkat itu telepon dia langsung menjauh." Jelasnya.


Yayak : "Sudahlah lebih baik kita segera istirahat, sebentar lagi kita akan memulai rapat untuk acara besok." Ajaknya.


Yayak langsung menarik Septian masuk kamar diikuti Indra dibelakangnya. Sedangkan Amar dan Ilham sudah memasuki kamar mereka sejak Pastu berjalan menjauh.


Septian : "Sebenarnya ada apalagi sekarang?" Gumamnya dan langsung duduk disudut ranjang, Yayak yang melihat itu hanya diam meski sebenarnya dia juga penasaran.


Indra : "Kalian istirahatlah, nanti selepas dzuhur kita akan berkumpul di Aula tengah." Septian, Yayak, Ilham dan Amar hanya mengangguk.

__ADS_1


Karena Villa itu memiliki kamar yang luas, jadi setiap kamar dihuni oleh empat orang namun juga ada yang terisi lima sampai enam orang tergantung ranjang yang ada di kamar tersebut. Karena setiap kamar terdapat lima ranjang yang khusus hanya untuk satu orang.


__ADS_2