Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 37


__ADS_3

Dimas kembali fokus menatap lurus jalan didepannya. Sesekali ia melirik gadis itu yang tanpa ia sadari Adinda sudah terlelap disana.


"Kenapa kau ceroboh sekali? Tidur dimobil laki-laki dengan wajah seperti ini. Bagaimana jika aku ini orang jahat, kau pasti sudah habis saat itu juga." Gumam Dimas dalam hati melihat Adinda yang terlelap begitu tenang sambil mengusap kepalanya dengan lembut agar tidak mengganggu tidur gadis itu.


Sebelum sampai rumah gadisnya, Dimas mampir terlebih dahulu kesebuah toko kue untuk membeli kue yang akan diberikan pada adik dari gadis cerobohnya dan yang pasti tanpa membangunkan Adinda. Ia hanya berharap semoga Arul menyukai kue itu, karena kue itu adalah kue favorit keluarganya terutama sang Mama.


Setelah membeli yang ia mau, Dimas kembali masuk dalam mobil dan segera mengantar gadis kecilnya untuk pulang karena ia yakin Arul pasti sudah ada di rumah menunggu kapulangan sang Kakak dan jika terlalu lama maka Arul akan semakin curiga.


Setelah beberapa menit menempuh perjalana dari toko kue, akhirnya mereka sampai juga. Namun Dimas hanya bisa berhenti ditepi jalan karena ia tahu Adinda akan khawatir jika Arul mengetahuinya.


Dimas : "Hei sayang bangunlah, kita sudah sampai." Panggilnya dengan lembut agar tidak mengagetkan Adinda. "Ayo bangun kamu harus segera masuk ini sudah semakin sore dan senja akan segera datang."


Adinda : "Ehmm apa sudah sampai?" Tanyanya dengan suara khas bangun tidur. Dimas hanya tersenyum sambil mengangguk. "Aah maaf Adinda ketiduran." Ucapnya setelah sadar sepenuhnya, namun ia hanya mendapat usapan lembut dikepalanya.


Dimas : "Oke, turunlah kamu harus segera masuk dan saya juga harus pulang. Arul pasti sudah nunggu kamu didalam dan dia pasti sudah berdiri didepan kamar kamu saat ini." Ucapnya yang membuat Adinda langsung tersadar, ia langsung merapikan dirinya agar tidak banyak pertanyaan dari adik lelakinya itu.


Adinda : "Baiklah sekarang Adinda akan turun, Kakak hati-hati ya dijalan langsung pulang ingat jangan mampi kemana-mana pokonya harus langsung pulang dan yaa jangan lupa untuk makan." Katanya dengan nada tegas. Dimas hanya menaikan salah satu alisnya.


Dimas : "Kau sudah berani mengaturku? Apa kau seposesif ini juga dengan lelaki lain?" Adinda langsung menggelengkan kepala dengan cepat. "Baiklah segeralah turun, dan ingat satu hal jangan pernah tidur dimobil lelaki lain." Ucapnya memberi peringatan dengan tegas dan jangan lupakan wajah dingin dan datarnya.


Adinda : "Hecmmm mulai deh keluar itu mode dinginnya." Gumamnya pelan namun masih dapat didengar.


Dimas : "Saya dengar!" Ucapnya kembali. Adinda hanya menghela nafas dengan panjang kemudian keluar dari mobil. Belum sempat Adinda turun, tangan Dimas menggenggam pergelangan tangan Adinda "Hei tunggu sebentar."


Adinda : "Ada apa Kak? Apa ada yang terlupakan? Atau Kakak ingin mampir? Tapi bercanda."πŸ˜„πŸ˜„ Dimas hanya tersenyum lalu menyerahkan sebuah kotak yang berisi kue.


Dimas : "Ini ambilah, kamu bilang ingin membelikan kue untuk Arul. Jadi ambil ini karena aku sudah membelinya."


Adinda : "Ini. . . tapi kapan Kakak beli? Kenapa enggak bangunin Dinda dulu?" Tanyanya dengan mengerucutkan bibirnya kedepan.


Dimas : "Hei! Jangan gunakan wajah itu didepanku. Dan jangan tunjukan pada lelaki lain." Adinda hanya tertawa mendapati kekasihnya yang begitu posesif saat ini. "Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"

__ADS_1


Adinda : "Tidak. Hanya saja sudah lama Dinda enggak pernah lihat Kakak seposesif ini. Iya Dinda janji enggak akan berwajah seperti ini didepan yang lain." Dimas mengangguk. "Ohiya. Kenapa enggak bangunin Dinda?"


Dimas : "Saya enggak tega bangunin kamu, apalagi tidurmu sangat nyenyak bahkan seperti diatas kasur saja. Apa sebegitu nyaman kah berada disampingku?" Selidik Dimas, hal itu membuat wajah Adinda bersemu merah bahkan terlihat jelas karena kontras dengan kulitnya yang putih. "Hahaa lihat wajahmu sudah sangat merah." Dimas masih tertawa, Adinda yang melihat pemandangan itu sedikit tertegun pasalnya ia jarang sekali melihat Dimas tertawa bahkan tidak pernah melihatnya seperti itu.


Adinda : "Baiklah kalau gitu Adinda keluar dulu, Kakak ingat ya hati-hati nanti hubungi Adinda jika sudah sampai." Dimas hanya mengangguk tanda setuju, kemudian Adinda segera keluar.


Setelah Adinda keluar dan memastikan gadis kecilnya memasuki pelataran rumahnya, Dimas langsung menancap gas untuk segera pulang karena ia sudah ditunggu oleh Yayak yang entah ada apa.


Adinda langsung menuju kamar tapi sebelum itu ia harus menembus tembok besar nan kokoh yang berada didepan kamarnya. Dengan terkejut ia langsung menatap kedua manik mata yang ada didepannya, siapa lagi jika bukan Arul sang adik yang sudah menunggunya sejak 30 menit lalu.


"Apa aku tidak salah? Kenapa yang terjadi saat ini tepat seperti yang ia katakan. Apa dia benar-benar bisa membaca pikiran orang lain?" Gumamnya dalam hati, meski sempat terkejut ia berusaha untuk tetap tenang.


Arul : "Apakah hari ini Kakak punya alasan yang lain?" Selidik Arul melihat manik mata sang kakak.


Adinda : "Eh, apa maksudnya coba? Kakak baru dari toko buku karena sebentar lagi ujian dan Ohiya Kakak tadi bawa kue." Mendengar kata kue mata Arul langsung berbinar, tapi setelah sadar dengan tujuannya ia langsung kembali fokus pada sang Kakak.


Arul : "Oke alasan diterima, masuk akal sih. Laluuu siapa yang mengantar Kakak? Itu seperti mobil. . ." Adinda meneguk salivanya dengan susah. "Itu mobil Kak Dimas." DEG! Mendengar hal itu Adinda langsung terkejut. "Ternyata yang mengantar Kakak itu dia?" Adinda mengangguk dengan pelan.


Arul : "Ingat, Arul enggak ingin ada kebohongan sedikitpun Kak." Adinda mengangguk. Setelah mengatakan itu Arul langsung balik badan dan melesat kebawah menuju dapur lebih tepatnya menuju kesebuah kotak besar dan tinggi berwarna hitam yang biasa disebut lemari es. "Kakaaaaak?! Adek ambil kuenya yaa" Teriaknya setelah tahu dimana kue itu berada. Adinda yang mendengar itu langsung menjawabnya.


Adinda : "Iya kuenya disana, tapi ingat kamu harus cuci tangan terlebih dahulu." Arul hanya menjawab dengan satu kata "Ok"


Adinda segera masuk kamar duduk ditepi ranjang besar miliknya, ia merasa bisa bernafas dengan lega karena untuk kali ini ia berhasil melewati tembok besar itu, tapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Setelah berkutat dengan pikirannya, ia segera mandi dan melaksanakan shalat ashar. Selesai melaksanakan itu ia segera turun menemui sang Adik yang terlihat senang menikmati kue yang ada didepannya bahkan sampai membekas dimulutnya.


Adinda : "Hei apa kue itu begitu nikmat hingga kau tidak berhenti makan? Bahkan semua berceceran dimulut kamu?" Ucapnya sambil mengusap bibir sang Adik untuk menghilangkan sisa kue yang masih tertinggal disudut bibirnya. Namun ia baru menyadari jika kue yang ia bawa dari sebelumnya. "Apa Kak Dimas tidak membeli kue seperti yang kubilang dan membeli kue yang lain? Padahal aku tadi ingin cupcake coklat seperti biasa." Gumamnya dalam hati. Melihat sang Kakak yang melamun, Arul langsung berkata. . .


Arul : "Kenapa Kakak melamun sih?! Apa Kakak tidak suka jika Arul makan sebanyak ini?" Ucapnya dengan mulut yang masih penuh dengan kue yang ia makan.


Adinda : "Bukan begitu sayang, kamu boleh habiskan kue ini tapi jangan langsung semua sisakan untuk nanti dan sisihkan untuk Bi Narti." Ucapnya pada sang Adik dengan tersenyum dan masih mengusap sudut bibir Arul.


Arul : "Ya Arul sudah menyisihkan untuk Bi Narti, dan untuk nanti malam." Ucapnya setelah menegak air minum yang ada didepannya.

__ADS_1


Adinda : "Apa kuenya seenak itu hingga membuatmu merasa senang? Biasanya Adik Kakak ini tidak sesenang ini, hum?"


Arul : "Yaa kue ini sangat lezat!" Jawabnya dengan antusias. "Rasanya yang legit serta lembut saat dimulut benar-benar lezat sekali. Apa Kakak ingin mencobanya?" Akhirnya Arul menyuapi Adinda, Adinda yang merasakan kue itu langsung tersenyum. "Apakah kuenya sangat lezat?" Adinda mengangguk. "Dimana Kakak membeli kue ini? Tidak biasanya Kakak beli kue seperti ini." Tanyanya langsung menoleh pada sang Kakak.


Adinda : "Ehmm, itu sebenarnya. . . Aah Kakak baru coba rasa baru, karena bosan dengan kue yang biasanya, sebenarnya itu teman Kakak yang beli awalnya Kakak tidak mau tapi dia terus memaksa jadi Kakak terima." Arul mengangguk tanpa bertanya lebih jauh lagi. "Maaf jika Kakak harus berbohong." Gumamnya dalam hati dengan sedikit menyesal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sebentar lagi Idul Fitri, untuk kakak semua minal aidzin wal fa idzin yaa mohon maaf lahir dan batin untuk kakak semuaa,,


Alhamdulillah bisa update, semoga dapet THRπŸ˜„πŸ˜„


Jaga kesehatan untuk kakak semua,

__ADS_1


Salam hangat dari Author. . .


__ADS_2