Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 109 Kedatangan Dimas di Puncak


__ADS_3

Andre : "Leave this company now! Or you won't be able to imagine what will happen if you don't leave immediately." Ucapnya dingin tak lupa seringainya yang sangat jarang ia perlihatkan.


Tubuh kedua wanita itu langsung bergetar ketakutan, bahkan hal itu tak lepas dari mata tajam Andre. Andre langsung mendekat kearah Kim Nisha dan membisikkan sesuatu disana, entah apa yang ia katakan karena setelah itu Andre lansung menyerahkan amplop berwarna coklat pada wanita itu, mereka segera melihat isinya. Keduanya terkejut, wajah yang sebelumnya terdapat make up tebal kini sudah berubah pucat pasi, dengan tubuh yang semakin bergetar mereka langsung pergi begitu mengetahui apa isinya.


*Memang apa isinya sih Ndre?


Andre langsung berputar arah dan kembali menuju lift khusus setelah melihat dua wanita itu hilang dari hadapannya.


Dimas : "Bagaimana, apa sudah kau lakukan?" Tanyanya ketika melihat Andre sudah masuk dan berdiri dihadapannya.


Andre : "Ya, setelah mengatakan itu wajah keduanya langsung berubah pucat dan segera pergi tanpa mengucapkan apapun." Jawabnya.


Dimas : "Baiklah. Semua berkas sudah saya periksa dan saya tandatangani, berikan berkas ini pada Bu Maya karena dia yang mengurus kerjasama dari Luar Negeri. Sisanya berikan pada Angga selama dia masih disini." Andre mengangguk dan langsung melaksanakan perintah dari Bosnya.


Firman : "Apakah semua sudah benar-benar selesai?" Tanyanya dengan cepat.


Shekar : "Untuk saat ini sudah selesai Tuan Muda Wijaya."


Firman : "Saat ini? Apa maksudnya dengan ucapan Anda Tuan Shekar?"


Shekar : "Sebelum saya menjelaskan, Anda pasti sudah paham juga tahu bagaimana dan seperti apa Tuan Lee itu." Ucapnya tegas.


Dimas : "Untuk saat ini, biarkan seperti ini terlebih dahulu. Kau segeralah bersiap untuk perjalanan ke Puncak, karena mereka pasti membutuhkanmu disana."


Firman : "Bukan gue yang mereka butuhkan tapi masakan gue yang mereka mau." Dengusnya kesal. Pasalnya memang begitulah para sahabatnya, ia lebih rindu dengan masakan Firman dibanding Firman itu sendiri.


Shekar : "Baiklah, aku juga akan bersiap karena aku juga akan ikut kesana. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Tuan Pastu."


Dimas : "Jangan melakukan hal yang tidak saya sukai Shekar." Ucapnya dingin dan itu sukses menghentikan gerakkan Shekar yang akan beranjak dari tempat duduknya. "Kau tahu bagaimana diriku jika kau sampai melakukan suatu hal diluar batas." Ancamnya, Shekar masih tetap diam.


Shekar menghela nafas. Dia sangat tahu apa yang Dimas katakan, bahkan ia juga sangat tahu apa akibatnya jika melanggar perintah sahabatnya itu.


Shekar : "Aku tidak akan melakukan hal yang berlebihan sesuai permintaanmu, tapi aku tidak bisa janji jika ada yang bergerak diluar batas." Jawabnya dan langsung melangkah keluar.


Dimas menghela nafas dengan kasar setelah Shekar keluar dari ruang kerjanya. Memang sahabatnya yang satu ini jauh berbeda dari yang lain, disaat yang lain bisa bersikap biasa lain halnya dengan Shekar yang bisa melakukan apapun termasuk mencelakai orang yang mencoleknya meski hanya sedikit.


Firman : "Apakah itu sifat aslinya Dim?" Tanya Firman setelah Shekar tak terlihat.


Dimas yang sejak tadi memejamkan matanya kini terbuka karena pertanyaan sahabat sekaligus rekan kerjanya.

__ADS_1


Dimas : "Yaa itu sifat aslinya bahkan bisa lebih dari itu." Jawabnya dengan datar.


Firman : "Enggak jauh beda dari loe donk Dim." Mendengar hal itu Dimas hanya tersenyum tipis. "Baiklah gue balik dulu untuk siap-siap. Kita kumpul jam brapa?"


Andre : "Jam lima sore saja, saat Maghrib kita diperjalanan." Jawab Andre yang entah sejak kapan ia masuk.


Firman : "Sejak kapan loe masuk? Jangan-jangan loe hantu lagi." Andre lansung menatapnya tajam. "Settdah mata loe minta dicolok kayanya mah."


Dimas : "Hentikan. Lebih baik kau pulang, waktu kita masih 4 jam untuk persiapan semuanya. Saya akan shalat Dzuhur terlebih dahulu." Dimas langsung beranjak setelah mengatakan hal itu.


Firman dan Andre akhirnya berhenti berdebat dan keluar dari ruangan Dimas. Karena mereka juga harus bersiap, Firman memutuskan kembali ke Perusahaan sedangkan Andre pergi keruangannya sendiri. Andre dan Dimas akan pulang setelah Adzan Ashar berkumandang.


* * *


Tepat pukul 5 sore, Firman dan Shekar sudah ada di Mansion Utama Adhitama. Keduanya tengah menunggu Tuan rumah yang sehak tadi sebenarnya juga menunggu mereka.


Pukul lima lewat sepuluh menit mereka langsung berangkat ke Puncak dengan Andre yang berada diposisi kemudi. Mereka menempuh jarak selama 3 jam lamanya karena mereka juga harus berhenti untuk shalat maupun mengisi tenaga selama perjalanan.


Firman : "Haaah, akhirnya sebentar lagi kita sampai di Villa. Gue enggak sabar pengen ketemu para jumpling." Ucapnya dengan semangat.


Andre : "Apa kau sungguh merindukan mereka? Atau karena kau sudah tidak sabar untuk membuli mereka?" Ucapnya dengan selidik.


Ketika keduanya sibuk berbicara lain halnya dengan Shekar yang sibuk dengan games di ponselnya sedangkan Dimas memejamkan kedua matanya, entah apa yang saat ini sedang ia fikirkan. Dahi yang berkerut, terlihat wajahnya sedikit gelisah.


Ketika sudah memasuki pelataran Villa, Andre melihat kearah Dimas dari kaca mobil diatasnya. Ia segera memarkirkan mobil setelah benar-benar sampai dihalaman. Sekitar pukul 20:15 malam mereka berempat sampai disana, Shekar dan Firman bergegas keluar sedangkan Andre menunggu Dimas membuka kedua matanya.


Firman : "Kalian berdua ayo sudah sampai nih, betah banget sih di mobil." Ucap Firman dengan ketus sedangkan Shekar masih diam disana.


Dimas : "Sudah sampai Ndre?" Tanyanya masih dengan mata terpejam.


Andre : "Sudah baru 5 menit yang lalu kita sampai. Apa Anda memikirkan sesuatu?"


Dimas : "Tidak ada. Ayo kita keluar sekarang." Ajaknya dengan dingin.


Dimas dan Andre keluar, keduanya sudah disambut oleh pelayan Villa yang tak lain adalah Mang Ujang.


Disaat mereka sudah berada di Villa, berbeda dengan keadaan kamar Septian yang sudah berubah bentuk seperti kapal pecah karena perang bantal yang dilakukan olehnya dan Amar serta Ilham.


Septian : "Kyaaaa! Loe ngerusak rambut gue Ilhaaaamm. Awas loe bakal gue balas."

__ADS_1


Septian langsung mengejar Ilham, meski masih didalam kamar itu tidak membuat mereka berhenti karena kamar yang luas membuat mereka lebih leluasa untuk bermain seperti saat ini. Amar yang melihat keduanya hanya tertawa, bukan karena tingkah keduanya melainkan penampilan mereka yang sudah acak-acakan. Rambut yang sudah tidak seperti semula bahkan baju yang mereka kenakan sudah mulai lusuh.


Yayak : "Hentikan tingkah kekanakan kalian, apa kalian tidak ingin keluar? Sejak makan malam sampai sekarang tetap saja seperti itu."


Amar : "Kami sedang mengisi daya karena sebentar lagi kita harus sering patroli." Belanya yang kemudian dianggukki Septian dan Ilham.


Yayak : "Terserah kalian deh, gue mau kedepan soalnya diluar ada Raja Es sama si duplikat. Silahkan kalian nikmati pesta ini."


"Ooh, Oke." Jawab ketiganya dengan kompak. Yayak langsung menepuk keningnya melihat tingkah ketiga jumpling itu.


1 detik. . .


2 detik. . .


3 detik. . .


"Abaaaaaaaang?!" Teriak mereka kencang dan langsung lari keluar kamar dengan penampilan yang acak-acakan, bahkan mereka tidak mempedulikan para teman maupun junior yang melihatnya.


Mang Ujang : "Selamat datang Aden, selamat malam." Dimas hanya mengangguk. "Kamar Aden sudah Mamang siapkan, Aden bisa langsung memakainya."


Dimas : "Terima kasih ya Mang." Ucapnya dengan datar. Namun kemudian. . .


"Abaaaaaang." Teriak mereka lagi, dan langsung bruk! Mereka memeluk seseorang yang dianggap Dimas.


Septian : "Kita kangen sama loe Bang, kenapa baru datang sih!" Ucapnya kesal.


Ilham : "Iyaaa, enggak kasihan loe sama kita bertiga."


Amar : "Kita dihukum sama Angel dkk tuh buat angkat barang berat."


Disaat mereka menumpahkan kekesalan pada orang yang mereka peluk, tiba-tiba suara Pastu menghentikan itu.


Pastu : "Apa yang kalian bertiga lakukan?! Biarkan mereka masuk."


Ilham : "Wahai Bang Pastu, kita bertiga rindu dengan Abang kita ini. Jadi biarkan kami seperti ini sebentar." Amar dan Septian mengangguk setuju.


Dimas : "Baiklah, saya masuk terlebih dahulu. Mang Ujang saya masuk terlebih dulu, Andre tolong kirimkan file melalui e-mail." Ucapnya datar dan melangkah masuk.


Ketiga jumpling itu melihat ke sumber suara, dan ternyata!

__ADS_1


"Loe?!" Teriak mereka hampir bersamaan. Orang itu hanya terdiam dengan wajah datarnya seperti Andre.


__ADS_2