
🎵
Jangan paksakan kita untuk
S'lalu bersama
Jangan paksakan kita untuk
S'lalu mencinta
Bila kita harus berpisah, sudah.
Biarkan ini semua berakhir, sudah
Cinta memang tak harus milikinya.
Bila kita harus berpisah, sudah.
Biarkan ini semua berakhir, sudah
Cinta memang tak harus milikinya...*
*Nidji-"Sudah"
Adinda terus menangis tanpa suara hingga lagu itu selesai didendangkan. Banyak mata yang melihat hal ini tak terkecuali Arul, MBA serta anggota lain yang mengetahuina.
Amel dan Vania langsung merengkuh Adinda dan membawanya kembali masuk ke Villa. Dimas dan MBA, keduanya merasa sakit melihat tangis itu namun memilih untuk diam.
Sedangkan Arul dan Firman langsung mengikuti ketiga gadis itu ke kamar.
Sesampainya di kamar, Amel dan Vania mendudukkan Adindadi ranjang. Membiarkan Adinda menyandarkan kepalanya dibantal yang sudah ditata sebelumnya.
Dengan wajah pucatnya, ia masih sesenggukkan disana. Amel dan Vania yang sejak tadi berusaha menenangkan hanya bisa gigit jari karena sahabat mereka masih saja menangis.
Seakan merasakan kesedihan Adinda, Amel dan Vania hanya menunduk menyembunyikan mata mereka yang sudah berkaca-kaca.
Wajah Adinda yang semula terlihat segar kini mulai berubah pucat, tubuhnya bergetar menahan laju airmata agar tidak semakin banyak.
Firman : "Apa yang kamu rasakan saat ini Arse?" Tanyanya setelah ia dan Arul berada diambang pintu kamar itu.
__ADS_1
Arul masih diam, fokus matanya masih pada wanita yang begitu ia sayangi sejak kecil. Ingin merengkuh, namun egonya masih mendominasi bahkan hingga sekarang ia masih belum berbicara dengan Kakaknya itu.
Firman melangkah masuk kedalam kamar setelah Vania mengizinkannya, karena bagaimanapun juga kamar itu ditempati oleh Vania juga Amel. Ia berjalan mendekat, membungkuk, merengkuh tubuh kecil adiknya masuk kedalam pelukkannya. Memberikan kehangatan juga kenyamanan setelah kejadian barusan.
Amel : "Apa kami berdua harus keluar dulu Bang?" Firman menggeleng.
Firman : "Tidak perlu, kalian disini saja. Temani dia, karena saya hanya sebentar." Keduanya pun mengangguk. Matanya kembali menghadap Adinda. Mengusap airmata yang masih keluar, mengecup puncak kepalanya juga mengusap halus punggung gadis itu agar tenang. "Sudahlah, jangan menangis lagi Mara. Bagaimanapun juga kalian sudah berakhir, tidak perlu disesali apa yang sudah terjadi karena apa yang terjadi itu sudah menjadi jalan kalian. Maaf karena aku belum bisa membantu, sejak kemarin malam hingga sekarang aku bahkan belum bertemu dengannya, bahkan Yayak dan yang lain pun sama kecuali Andre karena dia selalu bersama dengan Tuannya. Dia masih di dalam kamarnya, berkutat dengan berkasnya bukankah dia lelaki yang tidak baik untukmu? Meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini, tenang saja aku akan memberikan pelajaran untuk lelaki dingin itu." Adinda semakin terisak, sambil menggelengkan kepalanya ia mengusap sudut mata.
Adinda : "Ja.jangan lakukan apapun padanya. Aku mohon, hiks. Se.semua aku yang salah, aku yang memberikan syarat konyol itu padanya dan dengan b***hnya dia menurutiku tanpa membantah. Hiks hiks. Jangan lakukan apapun."
Firman : "Heiii! Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kau tidak tahu IQ Dimas bahkan begitu tinggi, makanya dia bisa memajukan Adhitama hingga ke Benua Biru." Umpatnya kesal. "Baiklah, aku tidak akan melakukan apapun padanya. Sekarang hentikan tangisanmu itu, kau wanita yang cantik banyak lelaki yang akan suka padamu, lupakan saja dia." Candanya, mendengar itu Adinda berubah dingin.
Adinda : "Apa maksud Kak Rangga?" Ia mendongak. Firman, Arul dan kedua sahabatnya terkejut mendengar suara dingin Adinda.
Sejak kapan gadis itu memiliki sifat yang sama dengan Arul? Wanita yang mereka kenal lembut dan hangat, saat ini berubah dingin.
Firman : "Heii, kenapa kamu berubah jadi dingin seperti ini?"
Mendengar itu, Adinda yang semula dingin kini tiba-tiba menunduk. Ia berusaha menahan laju airmatanya, Firman yang sadar akan hal itu langsung mengusap punggung Adiknya sayang.
Vania : "Din, sudah donk loe jangan nangis lagi. Gue sama yang lain enggak mau lihat loe seperti ini."
Firman : "Baiklah, aku tinggal dulu. Kalian bertiga segeralah istirahat karena esok hari terakhir disini, dan karena esok terakhir aku harap kalian bisa kembali seperti semula." Firman langsung melangkah keluar, ia menepuk pundak Arul sebelum akhirnya menghilang. Sedangkan Arul, ia langsung kembali pada kedua sahabatnya di camp Keamanan.
Firman berjalan tak tahu arah, namun setelah ia melihat Yayak ia langsung melangkahkan kakinya pada lelaki yang saat ini sedang sok romantis dengan Nininya.
Firman : "Waaah, digombalin apa loe sampai berwajah merah seperti itu Ngel?" Yayak, Angel, Indra dan Shinta mendongak.
Angel berwajah sinis tanpa menjawab pertanyaan Firman.
Indra : "Darimana loe? Kamar Adinda?" Firman mengangguk.
Angel : "Aaah, iya gue baru ingat. Memang Abang gue itu beneran pacaran sama Dinda?" Tanyanya dengan wajah penasaran.
"Enggak usah gosipp!" Jawab Indra, Firman dan Shinta bersamaan. Angel langsung mengerucutkan bibirnya, sedangkan Yayak hanya terkekeh melihat itu.
Shinta : "Bagaimana keadaan gadis itu sekarang? Apa sudah lebih baik?" Firman menghela nafas kasar.
Firman : "Enggak tahu juga gue Shin, gue hanya bisa kasih suport aja, entah kenapa mereka yang bertengkar gue juga yang repot. Mana Mama amanahin Mara sama Arse ke gue selama disini. Lah kalau seperti ini hasilnya, bisa-bisa ditebas leher gue kalau Mama tahu. Berasa jadi anak tiri gue kalau mereka di rumah."
__ADS_1
Indra : "Memang benar kalian itu saudara sepupu?" Firman mengangguk.
Angel : "Sejak kapan loe punya sepupu? Sayang, kamu tahu?" Yayak menggeleng.
Firman : "Sejak dulu gue punya sepupu Angel, hanya kami tinggal terpisah setelah Papa pindah ke luar kota. Baru ketemu beberapa bulan ini." Jelasnya. "Nyokap Amara itu adik Bokap gue." Lanjutnya lagi.
Yayak : "Gue belum lihat Dimas sejak kemarin, kalian sudah melihat dia?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Keempat orang dihadapannya menggeleng lemah. "Lalu Andre, apa dia tidak bersuara sedikitpun?"
Shinta : "Gue tanya ke Andre, tapi dia hanya diam saja dan menjawab baik."
Indra : "Sebaik apapun keadaan Dimas, pasti hatinya ikut terguncang. Gue sebenarnya terkejut tahu mereka memiliki hubungan, apalagi sudah selama itu. Jelas Dimas adalah lelaki dingin yang tidak kenal makhluk bernama wanita bisa luluh dengan gadis SMU itu."
Angel : "Kita tidak tahu dan tidak bisa memilih akan menjadi apa juga seperti apa Ndra, termasuk Dimas." Ucapnya sok bijak.
Firman : "Gue dengar dari Shekar, Dimas sekarang masih sibuk dengan berkas Yoosung dan ia belum keluar dari kamar."
Yayak : "Lalu luka disudut bibirnya?" Firman mengedikkan bahunya tanda tidak tahu, namun juga menjawab.
Firman : "Luka itu sudah diobati, itupun atas paksaan kedua adiknya yang keras."
Shinta : "Andre sama Septian maksud loe?"
Firman : "Tentu saja, siapa lagi yang keras diantara kita jika bukan dua orang itu."
Angel : "Apa kau tidak sadar diri, kau sendiri juga keras kepala. Makanya si PJ fikir-fikir buat terima loe." Firman langsung mendelik, sedangkan yang lain langsung tertawa.
Firman : "Ternyata gue salah datang kesini, karena ujung-ujungnya gue tetap jadi obat nyamuk bakar." Gerutunya kesal dan langsung beranjak pergi meninggalkan sahabatnya.
Kedua mata Firman melihat pemandangan malam yang mulai berkurang penghuninya karena hampir tengah malam, bisa dipastikan ia tengah berjalan santai. Disaat itu pula ia dihadang oleh Arul, bahkan hal itu hampir membuat Firman terjatuh.
Firman : "Ck! Kau mengagetkan ku Arse. Apa kau tidak bisa memanggil tanpa harus mencekal bahu kokohku ini, hem?!" Ucapnya sombong.
Arul : "Bisa kita bicara Kak?" Tanyanya berwajah datar. Ia berjalan ke taman diikuti Firman dibelakangnya.
Firman : "Ada apalagi?" Tanyanya to the poin tanpa basa basi. "Jangan bicarakan tentang hubungan mereka berdua Arse." Arul mengernyitkan dahinya. "Jangan berwajah seperti itu didepanku."
Arul hanya diam, bahkan Firman yang sejak tafi menggerutu tidak jelas juga ikut terdiam menunggu kata-kata yang siap keluar dari mulut bocah dingin itu. Entah kali ini apa yang ingin dia bicarakan.
Arul : "Apa aku salah ingin mereka berpisah?" Ucapnya tiba-tiba memecah keheningan malam. Firman mengernyit bingung.
__ADS_1
Firman : "Huh sok bingung loe Fir." Ucapnya dalam hati.