Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 75


__ADS_3

Ilham : "Bodo ah bodo amat. Gue pergi aja daripada harus tambah jumpling kaya kalian." Gerutunya kesal dan meninggalkan kedua sahabatnya.


"Huahaha. . ."


Sedangkan Amar dan Septian langsung tertawa lepas melihat wajah kesal dari Ilham. Pasalnya kedua lelaki ini memang senang sekali mengerjai Ilham, karena dari ketiganya Ilham lah yang lebih sensitif.


Yayak : "Itu muka kenapa kusut seperti kain pel begitu?" Ilham langsung menoleh kesumber suara. "Loe sehat kan?" Ilham mendelik, sedangkan Yayak hanya terkekeh.


Ilham : "Loe lihat saja sendiri." Matanya langsung mengarah pada dua orang yang ada dibelakang mereka.


Yayak : "Jika hanya mereka, gue sudah tahu. Asal mereka masih waras maka biarkan saja." Kini Ilham yang terkekeh dengan ucapan Ilham.


Kedua jumpling itu langsubg menatap tajam.


"Kita masih waras!!!" Jawab mereka kompak. Yayak dan Ilham langsung tertawa melihat ekspresi keduanya.


Yayak : "Aah, kapan Dimas balik kesini?" Ilham, Amar dan Septian langsung bersikap normal.


Entah kenapa, meski sikap mereka sungguh aneh ketika bersama tapi setiap mendengar nama itu mereka langsung bersikap normal.


Amar : "Memang kenapa?" Kini Amar yang bertanya.


Yayak : "Gue hanya bertanya, karena gue dengar beberapa minggu lagi dia sidang skripsi." Jelasnya.


Septian : "Loe lihat dimana? Gue belum dapat info dari Andre." Ucapnya tiba-tiba.


Amar : "Iya ih, Andre saja tadi sibuk sendiri dengan bimbingannya."


Yayak : "Sebenarnya gue tadi dapat info dari Asdos pembimbingnya Dimas. Kebetulan tadi enggak sengaja ketemu Ferry ditempat parkir, dia yang kasih info."


Ilham : "Yah bisa saja itu terjadi. Kita bahkan tahu sendiri IQ Dimas hampir mendekati angka 200. Karena Om dan Tante meninggal membuat dia termenung dan menyendiri." Tiba-tiba. . .


"Woy!! Kalian sedang apa sih? Serius banget itu muka." Mereka yang mendengar langsung melihat kesumber suara.


Orang itu tidak lain adalah Firman. Ya Firman Rangga Wijaya kakak sepupu Adinda dan Arul.


Amar : "Wahai Firman Rangga Wijaya yang terhormat, itu mulut apa toak Masjid sih! Kebetulan tuh Masjid dekat rumah gue lagi butuh." Firman hanya terkekeh dengan wajah tanpa dosa.


Firman : "Wajah kalian itu serius banget, seperti sedang menahan sesuatu. Oh iya hari ini kita dipanggil untuk ke Aula."

__ADS_1


Septian : "Untuk apa? Ogah banget gue kesana. Apalagi harus lihat wajah Agista dan dua temannya itu." Septian langsung menunjukkan wajah jengahnya.


Mereka yang memang paham dengan sikap Septian hanya diam. Namun juga sedikit ingat kejadian beberapa waktu lalu saat Agista dan gengnya dengan sengaja mempermalukan Septian juga Andre.


Yayak : "Apa akan ada jadwal lagi untuk diluar?" Yayak langsung mengalihkan pembicaraan karena jika dilanjutkan akan semakin panjang.


Ilham : "Hecmm gue sempat dengar wacana itu, tapi tidak secepat ini." Sambung Ilham menanggapi.


Amar : "Apa itu benar-benar akan dijadwalkan?" Septian masih tetap diam.


Firman : "Yah sepertinya begitu. Gue tadi ketemu MBA, dia bilang rencana jadwal itu sudah ada dimeja Pak Septa. Karena Indra sendiri yang mengusulkan namun baru sekarang akan terealisasi. Lalu ketua pelaksana dikegiatan ini MBA." Semua langsung menatap Firman. "Kenapa kalian lihat gue seperti itu? Sudah, sekarang kita ke Aula saja."


Septian : "Oke, lets g**o!" Septian langsung melangkahkan kakinya mendahului teman-temannya. Sedangkan yang lain hanya berwajah ceng* melihat adik dari Dimas itu.


Yayak : "Dia sehat kan? Atau dia salah minum obat?" Ilham dan teman lain hanya mengedikan kedua bahunya.


Amar : "Dia sendiri yang bilang ogah, sekarang dia juga yang semangat."


Firman : "Sudah sekarang ayo kita kesana saja. Indra dan yang lain pasti sudah berkumpul, Septian biarkan saja asal dia senang." Akhirnya mereka langsung mengikuti langkah Septian yang sudah didepan mereka.


* * *


SMU Mahakarya. . .


Arul yang sangat terpukul dengan ucapan orangtuanya terutama ucapan dari sang Mama. Karena itu ia bertekad untuk membuktikan bahwa ia bisa bahagia disini, meski tidak dipungkiri dia meridukan Wanita yang telah melahirkannya itu. Tetapi karena sikap dan ucapa sang Mama, itu semua merubah rasa rindu yang selama ini sudah menggunung.


Arul : "Ehmm Kak." Panggilnya pada Adinda. Saat ini mereka tengah duduk bersama dan saling berhadapan, tidak ada siapapu diantara mereka termasuk Amel maupu sahabat Arul yang lain. Adinda menoleh pada sang Adik.


Adinda : "Ada apa, hem? Apa kau sedang butuh sesuatu?" Tanyanya dengan lembut.


Arul : "Tidak ada, hanya saja ehmm sampai kapan kita akan berada di rumah Om Rahmad?" Adinda langsung menghela nafas.


Adinda : "Kakak sebenarnya juga tidak tahu akan sampai kapan. Tapi kamu tahu sendiri jika bagaimana reaksi Tante Randa kemarin, padahal kakak sudah bilang sebelumnya, namun Beliau masih tetap kekeuh dan wajahnya langsung berubah." Jelasnya.


Arul : "Memang susah jika harus berhadapan dengan Tante Randa. Bahkan Om Rahmad saja kalah." Ucapnya dengan menghela nafas tapi juga terkekeh mengingat sikap Keluarga Wijaya.


Adinda : "Itu karena Tante Randa itu pemegang sabuk hitam saat masih SMP." Arul nampak terkejut. "Ya itu benar. Apa kau tahu Dek, dulu Tante pernah melawan 3 orang lelaki karena mereka memalak perempuan. Karena geram, Tante langsung saja melawan mereka dan akhirnya mereka kalah. Om Rahmad yang melihat hanya bergidik." Arul langsung tertawa mendengar itu."


Arul : "Apa itu benar? Darimana Kakak tahu cerita itu?" Tanyanya penasaran.

__ADS_1


Adinda : "Itu cerita dari Mama ketika kamu masih dalam kandungan." Jelasnya pada sang Adik.


Arul : "Pantas saja Om Rahmad tidak berani dengan Tante apalagi jika Tante sudah marah, semua langsung diam saja." Mereka langsung tertawa bersama.


TET. . . TET. . . Bel berbunyi.


Tanda waktu istirahat selesai. Kedua Kakak beradik itu langsung beranjak dari bangku taman dan menuju kelas mereka masing-masing.


Amel : "Adinda Amaralia loe dari mana saja sih Din? Gue cariin daritadi enggak ketemu, biasanya juga pergi ke perpustakaan. Lah ini gue kesana loe enggak ada." Ucap Amel ketika melihat Adinda masuk kedalam kelas.


Adinda : "Kamu kenapa semakin bawel sih Memel, hem? Aku dari taman batas, kebetulan tempatnya nyaman dan tidak terlalu ramai jadi sekalian belajar disana bersama Arul." Jelasnya pada Amel. "Apa kau membutuhkan sesuatu?"


Amel : "Sebenarnya enggak ada sih, tapi enggak tahu kenapa hari ini gue pengen banget ketemu sama loe Din." Ucapnya dengan menunjukkan deretan giginya, sedangkan Adinda hanya terkekeh mendengar hal itu. "Oh iya, apa kalian masih tinggal di rumah Om kalian, dan belum pulang ke rumah?" Dinda menggeleng tanda belum. "Hecmm loe yang sabar ya Din, gue yakin loe itu kuat. Tapi gue masih belum percaya dengan cerita loe, loe yang terkenal lembut tapi juga bisa berontak dengan orangtua loe. Bahkan dibentak sebentar saja loe sudah nangis." Amel langsung bertopang dagu seperti sedang memikirkan sesuatu.


Adinda : "Semua bisa saja terjadi Mel. Mungkin karena ada rasa kecewa yang sudah menumpuk sehingga membuatku berani berkata seperti itu. Walau sebenarnya ada rasa tidak nyaman setelah itu karena berbicara tidak sopan dengan orangtua, tapi aku tidak bisa diam karena disini tetap kami berdua yang menjadi korban." Ucapnya langsung menunduk.


Tiba-tiba Amel langsung memeluk Adinda dengan erat.


Amel : "Loe yang sabar ya Din, gue yakin loe juga Arul bisa melewati semua ini. Gue akan selalu disamping loe dan dukung loe. Apapun yang terjadi loe harus kuat, karena gue pengen loe bahagia." Mendengar itu Adinda langsung membalas pelukan Amel dengan erat, hingga akhirnya pelukan itu harus segera dihentika karena kedatangan seorang Guru. Amel langsung mengucapkan kata fighting tanpa suara tak lupa juga ia menangkat tangannya💪


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya😄😄


Tetal jaga kesehatan ya💪


__ADS_2