Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 50


__ADS_3

"Itu suara Bang Dimas." Seketika Amel, Vania dan Adinda yang berada disana langsung menoleh kesumber suara. Orang itu tak lain adalah Adit.


Amel : "Serius loe? Itu beneran suaranya Kak Dimas Dit?" Adit mengangguk. "Kyaaaaaa! Gue harus deketin tuh orang. Booo.leh kan Din?" Menatap Adinda, sedangkan yang ditatap hanya diam tampak melamun. "Adinda.. Hey Din.. Adinda Amaralia setiawan?!" Panggilnya dengan suara sedikit tinggi. Adinda dan yang lain terkejut. "Oopss!" Amel langsung nyengir."


Restu : "Ameeeelll! Are you stupid? Loe kira ini di hutan apa? Ini masih waktu subuh masih di pelataran Masjid jangan teriak-teriak, kasihan Adinda kaget tuh." Sedangkan Adinda masih mengelus dadanya untuk menenangkan telinganya itu.


Vania : "Loe ya Mel, kebiasaan punya mulut enggak direm dulu." Amel hanya nyengir.


Adinda : "Memeeeeell kamu kebiasaan deh ya, jangan teriak-teriak ini bukan hutan."


Amel : "Lagian loe gue panggil malah ngelamun, ngelamunin siapa sih loe?" Tanya Amel penuh selidik. "Ngelamunin Kagan atau Kak Dimas?"


"Siapa Kagan?" Tanya Restu dan Vania penasaran.


Amel : "Kagan itu Kakak Ganteng, dia itu Kak Akbar." Jelasnya pada kedua temannya itu. Sedangkan Restu dan Vania hanya ber-Oh saja.


Adinda : "Sudah lebih baik sekarang kita kembali dan persiapkan tenaga untuk hari ini."


Amel : "Uuuh iya Adinda ku sayaaaang." Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Amel.


Sementara di Masjid, Indra, Yayak, dan yang lainnya masih disana, anggota baru yang lain juga ada termasuk Arul, Alvin, Nauval dan Azriel. Sementara yang lain bercengkerama membahas kegiatan hari ini, berbeda dengan Dimas dan Andre yang masih berkutat dengan berkas dan laptopnya.


Hal itu tak luput dari penglihatan para penghuni Masjid. Indra yang memang menjadi ketua PPA tak berniat memanggil Dimas dan Andre, karena ia tahu bahwa keduanya memang memiliki kesibukan tersendiri. Untuk Indra maupun Yayak asal tidak ada yang mengganggu Dimas itu sudah membuat mereka tenang.


Arya : "Apakah dia tidak lelah sedikitpun? Bahkan semalam gue lihat dia masih setia sama laptopnya."


Raka : "Biarkan saja, yang penting kita enggak ganggu mereka berdua." Begitulah obrolan mereka berdua. Mereka kembali fokus pada Indra yang tengah memberi arahan.


Arul : "Apakah Kak Dimas tidak tidur sama sekali? Dia terlihat sangat lelah." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Indra : "Bagaimana? Apa bisa kita melaksanakan sesuai rencana kita sebelumnya? Karena ini hari terakhir disini."


MBA : "Tidak masalah, semua pasti akan berjalan dengan lancar. Bagaimana dengan yang lain?" Mereka mengangguk. "Arul?" Arul yang diam terkejut dengan suara panggilan itu.


Arul : "Aah iya Kak, Arul dan yang lain setuju saja." Jawabnya.


MBA : "Apa kau sedang tidak enak badan? Kenapa kau diam saja daritadi? Katakan padaky jika merasa tidak enak." Jelasnya dengan lembut. Hal itu tak luput dari mata Yayak dan lainnya melihat perhatian MBA, anggota lain yang mengenal MBA tahu bahwa dia sedang berusaha untuk mendekati gadis SMU itu. Bahkan Dimas juga mendengar dan merasakan bahwa MBA memang memiliki rasa pada gadis kecilnya.


Yayak : "Apa ini caramu demi mendekati Adinda Bar? Dan kau Dim, apa kau juga melihat perhatian MBA pada adik Adinda?" Gumamnya.


Sementara disudut Masjid, Andre berusaha menenangkan Dimas yang terdiam setelah merasakan perhatian MBA pada Arul.


Andre : "Are you oke?" Dimas mengangguk tanda iya. "Mungkin sebaiknya kamu istirahat deh Bang, wajahmu terlihat sedikit pucat." Dimas diam, namun kemudian...


BRUK! Dimas yang sudah merasa tidak kuat langsung menjatuhkan badannya diatas sajadah, hal itu membuat Andre menghela nafas lega sekaligus khawatir. Pasalnya Dimas memang sangat susah istirahat jika sudah berkutat dengan berkas Perusahaan. Dengan kondisi cuaca yang terkadang tak menentu dan istirahat yang kurang membuat Andre sedikit khawatir jika Dimas sakit.


Septian yang melihat itu langsung bangun dan berlari tanpa mempedulikan ucapan Indra dan teman-temannya yang memang sedang membahas kegiatan setengah hari itu. Indra dan Yayak yang melihat sedikit khawatir dengan kondisi Dimas, mereka ingin mendekat namun di urungkan karena mereka tahu Dimas tidak suka jika ada yang mengerumuni dia baik itu saat sakit ataupun yang lainnya. Jadi mereka hanya menunggu Septian saja.


Andre : "Bisa enggak kamu tanya satu persatu jangan seperti bebek yang enggak bisa ngerem itu mulut." Septian hanya mengerucutkan bibirnya. "Dimas lelah, semalam sepertinya tidak istirahat sama sekali, ditambah cuaca yang memang tidak menentu membuatnya seperti ini, hari ini ada meeting dengan para petinggi karena ada masalah dengan cabang yang ada di Singapore." Septian yang mendengar langsung terkejut pasalnya Dimas tidak pernah mengeluh sedikitpun.


Septian : "Apa masalahnya besar? Kenapa loe enggak bilang ke gue sih."


Andre : "Menurut gue sih masalah besar, tapi menurut dia hanya masalah kecil. Dia enggak berniat memberitahu karena dia yakin loe pasti akan cerewet seperti sekarang ini."


Septian : "Ada masalah apa?" Ucapnya tanpa mempedulikan anggapan Andre.


Andre : "Ada yang memanipulasi data keuangan bahkan dia membawa kabur uang yang berhasil dia curi. Untungnya Pak William menyadari laporan itu, dan langsung menghubungi Dimas. Saat itu juga Dimas langsung mengusut tuntas semuanya, ia menyewa detektif untuk mencari orang itu dan semalam Pak William memberikan info bahwa dalangnya sudah tertangkap. Maka dari itu setelah meeting siang nanti kami langsung terbang ke Singapore untuk mengatasi semuanya. Loe jaga diri baik-baik, pulanglah ke Rumah selama Dimas dan gue pergi."


Seprian : "Berapa lama loe dan Dimas disana?" Ucapnya namun masih menatap Dimas.

__ADS_1


Andre : "Paling cepat dua hari dan paling lama seminggu. Karena Dimas juga harus ke London untuk tesisnya, Tahun ini dia harus menyelesaikan S2-nya setelah rehat satu tahun karena kepergian Mama dan Papa."


Banyak yang tidak tahu memang, setelah lulus dari Mahakarya, Dimas kuliah di London tepatnya di Oxford Univeraity. Dimas masuk di Fakultas Bisnis Management dan mengambil Jurusan Economics and Management yang dijalaninya hanya sebentar, karena selama disana Dimas berhasil menyelesaikan S1-nya selama 2.5 tahun, di usia yang ke 20. Kemudian ia kembali ke Indonesia dan mengambil S1 di Jurusan IT dan kini ia sudah semester 5, sebentar lagi ia akan segera sidang karena skripsinya hampir selesai.


Dimas memang dari kecil sudah pandai, semua pendidikan ia lalui dengan mudah. Bahkan di usianya yang kini hampir 23 tahun, ia juga melanjutkan S.2 nya masih tetap membahas tentang bisnis hanya Fakultasnya yang berbeda karena di S2-nya ia masuk Fakultas Master Of Bussiness Administration (MBA).


Kuy lanjuuuuutttt. . . 😄😄


Septian : "Yaa dia istirahat saat Mama dan Papa pergi, dia mengurus Perusahaan dengan baik hingga pesat seperti sekarang. Kini ia mengambil S1 di Indonesia dan melanjutkan S2-nya, ditambah dengan Perusahaan juga PPA, dia sangat sibuk tapi dia tetap memperhatikan kita dan tidak mengeluh sedikitpun."


Andre : "Yaa dia selalu menjaga dan melindungi kita, dia Abang dan orangtua untuk kita."


Septian : "Apa kau juga akan ikut ke London?"


Andre : "Gue bakal balik Sep, loe tahu sendiri kan Dimas paling enggak suka jika kita bolos enggak peduli gue ada kerjaan harus tetap masuk kuliah. Ya kecuali jika itu loe, karena loe selalu kabur, absen kosong dan Dimas yang harus ketemu dosen loe itu, loe enggak kasihan sama Dimas? Paling enggak loe coba untuk rajin Sep, karena dia pasti hanya ingin kita berhasil." Septian hanya terkekeh.


Septian : "Gue pasti berhasil Ndre, apalagi ada loe sama Dimas. Hecmm tapi gue rindu Dimas yang dulu Ndre, gue rindu Papa, Mama, Ayah juga Ibu. Gue rindu mereka semua, gue berharap selalu bisa lihat Dimas bahagia, gue sedih jika dia harus selalu trauma seperti waktu itu." Ucapnya menunduk.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Salam hangat dari Author...


__ADS_2