Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 17


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, Indra, Amar, Ilham dan Firman sudah berpamitan untuk pulang. Lalu dimana Yayak?? Yayak masih tinggal disana karena ia berencana untuk menginap di Rumah sahabatnya itu.


Dimas : "Sudah setengah 12, enggak pulang loe?"


Yayak : "Loe ngusir gue Dim?"


Dimas : "Alhamdulillah kalau loe sadar."


Yayak : "Haah, loe kenapa sih kerjaan udah selesai kan. Kenapa masih aja dingin sama gue apalagi waktu anak-anak masih disini tadi."


Dimas : "Gue masih banyak kerjaan, lagipula siapa yang suruh kalian kesini pas kerjaan gue lagi banyak?"


Yayak : "Loe!" Sambil menunjuk. "Loe gue habisin sekarang aja gimana Dim?" Sedangkan Dimas hanya tersenyum melihat sahabatnya yang sudah mulai emosi. "Kyaaa! Kenapa loe suka banget bikin gue emosi!" Namun Dimas tetap diam dan berlalu keruang kerja untuk menaruh laptopnya. Yayak langsung mengusik Septian yang tertidur diruang keluarga dengan kakinya. "Heh loe, ngapain loe masih disini tidur sono di kamar jangan disini."


Septian : "Loe itu ganggu gue tau nggak, lagi mimpi indah ni gue barusan."


Yayak : "Mimpi ketemu cewek cantik loe?" Septian tersenyum. "Muka bantal kaya loe mana ada yang mau bontooot! Haha." Ledek Yayak yang melihat wajah bantal Septian.


Septian : "Sialan loe ya, awas aja loe gue aduin ke Angel kalau loe deketin banyak cewek disana."


Yayak : "Sebelum loe lapor ke Nini gue, gue bakalan bilang ke Mara kalau loe itu banyak cewek." Mendengar ancaman itu, Septian langsung membuka matanya lebar dan menatap tajam. Namun sesaat kemudian. . .


Septian : "Jaaangan Yayak, please deh jangan ngomong gitu ke dia, nanti gue enggak diterima lagi sama dia, jadi jomblo akut donk gue. Jangan donk ya ya ya." Rengek Septian pada sahabatnya.


Yayak : "Rasain tu ancaman gue, loe ngancem gue juga bisa ngancem. Haha." Yayak tertawa puas melihat Septian yang sudah merengek seperti bocah yang minta permen. Namun tawa itu berhenti setelah mendengar suara dari lantai dua.


Dimas : "Tidurlah dikamar, ini sudah malam." Septian yang melihat langsung bangun dan lari menuju kamarnya, karena dia tidak ingin melihat mata elang Dimas. "Tidurlah dikamar tamu atau dikamar Septian."


Yayak : "Boleh kita bicara sebentar Dim?" Dimas yang akan melangkah kekamarnya langsung berbalik menatap Yayak.

__ADS_1


Dimas : "Diruang kerja gue aja." Yayak mengangguk.


Dimas langsung memasuki ruang kerjanya kembali diikuti sahabatnya itu. Saat diruang kerja mereka duduk disofa yang tersedia disana.


Yayak : "Oke. Ini laporan soal kegiatan tadi di SMU. Lalu ini daftar anggota baru yang udah dimasukin ke struktur kita."


Dimas : "Kenapa loe laporan sama gue, kenapa enggak sama Indra?" Yayak hanya diam.


Dimas langsung melihat berkas yang dibawa Yayak, ia melihat nama yang tak asing disana dan ternyata nama itu masuk dibidang Humas yang diketuai oleh Dimas sendiri. Adinda Amaralia sebagai anggota. Dimas langsung melihat Yayak, Yayak yang paham dengan pandangan mata itu langsung memberi penjelasan.


Yayak : "Loe pasti mau tanya kan kenapa nama itu satu bidang sama loe? Pertama karena dia pintar, cerdas, hambel, lalu ramah sama setiap orang dan tentu cantik pasti akan banyak yang tertarik jadi anggota baru." Dimas tetap diam tidak merespon. "Lalu yang kedua, kenapa gue masukin kesitu karena. . . loe suka sama dia." DEG. "Tebakan gue bener kan Dim?" Dimas langsung menolehkan kepalanya melihat Yayak. "Tepat sasaran." Yayak tersenyum karena tanpa Dimas menjawab semua sudah jelas terlihat. "Sejak kapan loe suka sama gadis ceroboh loe itu?" Selidik Yayak.


Dimas : "Dari awal, meskipun bukan pada pandangan pertama." Jawab Dimas tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Yayak : "Maksud loe dari hari pertama kita kesana?" Dimas mengangguk. "Apa yang buat loe suka sama dia?"


Dimas : "Manis. Awalnya memang gue kesel karena kecerobohan dia tapi setelah kejadian sore itu entah kenapa hati gue nyaman sama dia."


Dimas : "Sore waktu pulang gue ketemu dia dijalan karena ban mobilnya bocor. Mobil, gue suruh pihak bengkel buat ambil, lalu gue anterin dia ke Toko kue untuk membeli kue pesanan adiknya baru setelah itu gue anterin dia kerumah."


Yayak : "Kalian tukaran nomor?" Dimas menggelengkan kepalanya. "Kenapa? Lalu mobilnya."


Dimas : "Gue dapet nomor dia dari berkas yang loe bawa malam itu, baru siangnya gue hubungi dia buat ketemu dan ambil mobil di bengkel."


Yayak : "Waah enggak nyangka gue, ternyata loe udah deketin itu cewek. Kalian berapa kali ketemu sampai ketahap jadian?"


Dimas : "Setelah kejadian itu, kami tidak saling bertemu namun dua hari setelah itu dia ngucapin makasih ke gue lewat pesan singkat. Ya jalani seperti air mengalir begitu saja. Setelah itu kami beberapa kali ketemu walau hanya untuk jalan berdua harus sembunyi dari Adiknya."


Yayak : "Kenapa harus sembunyi dari Adiknya, apa dia enggak setuju?"

__ADS_1


Dimas : "Adiknya tidak ingin Adinda pacaran karena ia takut perhatiaannya akan berkurang karena setelah orangtua mereka berpisah Adinda mencurahkan kasih sayangnya pada Arul, dia tidak ingin Adiknya merasakan sakit karena perpisahan itu. Hecmm, dan lima hari sebelum kita ketemu malam itu kami memulai komitmen bersama meskipun harus ada syarat."


Flashback On. . .


👨 : "Ketemu dicafe biasa ya."


👩 : "Iya, tapi Dinda bilang dulu sama Arul takutnya dia ikut." Terkirim.


Mereka akhirnya bertemu di Mentari Cafe tempat mereka janjian pertama kali.


Adinda : "Maaf lama Kak." Dimas hanya mengangguk. "Kak Dimas sudah pesan minum?"


Dimas : "Iya, minumlah." Adinda langsung meminumnya. "Apa kau lelah harus selalu sembunyi seperti ini dari Arul?"


Adinda : "Aah, sedikit tapi Adinda nikmati saja karena memang inilah kehidupan Dinda selama ini."


Dimas : "Bagaimana jawaban pertanyaan saya semalam?"


DEG.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Nantikan kelanjutannya...


Salam hangat dari Author.


__ADS_2