
Amar : "Apa lagi yang ia rencanakan?" Gumamnya pelan, dan hanya Ilham yang mendengar.
Sudah menjadi rahasia umum, jika Agista adalah wanita yang sering gonta ganti pasangan bahkan dalam waktu kurun satu bulan ia sudah berganti sebanyak tujuh kali. Dengan alasan lelaki itu kurang memberi barang mewah dan barang branded maka dari itu ia memutuskan hubungan.
Dengan sikap barusan, baik Yayak, Indra, Ilham, dan Amar akan semakin was was karena mereka takut Dimas akan dijadikan korban selanjutnya. Mereka akan terus memperhatikan Agista, karena meskipun Dimas susah untuk didekati sebagai teman dan sahabat mereka merasa wajib untuk selalu disisi Dimas apapun yang terjadi.
. . .
Dilain tempat. . .
"Bang!" Teriak seseorang yang memanggil Dimas. Dimas dan Andre menoleh.
Dimas : "Ada apa? Uang jajan kurang Sep?" Jawabnya dingin. Ya orang itu adalah Septian.
Septian : "Bukan itu, apa kau akan ke kantor?" Dimas mengangguk. "Ok, gue ikut loe ngantor."
Dimas : "Disini masih ada kegiatan, kamu disini saja. Ingat jangan kabur, dan pulanglah ke rumah." Sebelum masuk ke mobil tangan Dimas tertahan oleh Septian. "Apa?!"
Septian : "Gue pengen iiikuuuuut." Rengek Septian seperti anak kecil, bahkan Dimas sudah lama tidak melihat tingkah itu. "Ayolah gue udah lama enggak ikut loe ke kantor." Masih tetap merengek dengan manja. "Pokoknya gue mau ikuuuuut. Kalau loe ngelarang gue ikut, waktu gue selesai shalat gue aduin loe sama. . ." Kalimatnya terhenti dengan suara Dimas.
Dimas : "Masuklah!" Mendengar hal itu Septian langsung masuk mobil dibangku belakang. "Apa yang kamu lakukan?"
Septian : "Duduklah, apa lagi?" Tanyanya heran.
Dimas : "Duduk depan, siapa yang menyuruhmu duduk dibelakang?"
Septian : "Kenapa? Gue cuma pengen deket sama Abang gue, makanya gue duduk disini."
Dimas : "Duduk depan bersama Andre. Enggak ada tapi-tapian. Kali ini saya tidak ingin kamu bantah." Jawab Dimas sebelum Septian semakin banyak bicara. Akhirnya Septian menurut, dengan kepala menunduk ia pindah didepan tepatnya disebelah Andre. Sedangkan Andre hanya tertawa riang dalam hati karena melihat Septian tampak kesal.
Septian : "Apa loe?! Loe ketawain gue Ndre?" Dengan nada kesal.
__ADS_1
Andre : "Buat apa gue ngetawain bocah manja kaya loe?"
Septian : "Heh! Jangan sok baik di depan gue loe ya, liat aja kalau Abang gue udah enggak marah."
Dimas : "Siapa yang kau sebut marah?" Memicingkan mata kearah Septian.
Septian : "Kyaaaaa! Jangan gunakan mata mu untuk melihat ku seperti itu donk Dim." Sungutnya karena mendapat tatapan tajam dari Dimas. "Gue enggak mau loe natap gue seperti itu." Dengan suara melemah. Namun Dimas hanya menggelengkan kepala.
Dimas : "Jalankan mobilnya Ndre, biarkan dia seperti itu." Andre langsung menyalakan mobil menancap gas keluar dari parkira sementara Septian langsung Dimas tajam.
Septian : "Kaauuuu! Apa bener loe itu Abang gue?! Kenapa loe tega biarin gue diketawain Andre." Dimas hanya diam dan melihat file yang dikirim oleh Om nya.
Andre : "Sudah jangan ganggu dia." Septian langsung mengerucutkan bibirnya.
Andre semakin melajukan mobil itu keluar jauh dari pelataran sekolah menuju jalan XXX kemana lagi jika bukan ke Aditama Company. Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam mobil itu tiba disebuah perusahaan dengan pelataran yang luas. Sebuah Perusahaan besar dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
Kemudian mereka memasuki gedung tersebut, kedatangan mereka langsung menjadi pusat perhatian dan banyak karyawan yang menggosipkan kedatangan pemimpin mereka. Banyak yang bertanya kenapa dan ada apa, pasalnya Dimas jarang datang ke kantor dijam tersebut karena ia hanya akan datang jika ada rapat dewan direksi maupun pertemuan penting.
Karyawan 1 : "Apakah itu beneran Pak Dimas?"
Karyawan 3 : "Lihat deh, gantengnya enggak pernah luntur, apalagi itu adiknya mukanya imut, aku syuka!"
Karyawan 2 : "Jangan ngimpi deh, nanti kalau Yulia denger bisa berabe kita."
Karyawan 1 : "Bener pokoknya kita hatus hati-hati sama iti nenek lampir." Kedua temannya ikut mengangguk.
Kemudian datanglah seorang wanita berpakaian sexy ber-nametage Yulia berstatus janda beranak satu ia bercerai karena sang suami tidak bisa memenuhi kebutuhannya untuk membeli barang mewah. Orang yang mereka bicarakan akhirnya datang dan langsung menegur ketiga karyawan tadi itulah Yulia.
Yulia : "Kalian disini digaji besar untuk bekerja bukan untuk jelalatan kemana-mana matanya! Ingat jangan melihat Pak Dimas dengan seperti itu, karena dia cuma cocok dengan saya jadi kalian jangan banyak berharap!"
Ketiganya menunduk, melihat hal itu Yulia dengan gaya centilnya ia berjalan melenggak lenggokan tubuhnya menuju keruang pimpinan untuk mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Bos nya iti. Namun dia tidak tahu jika Septian ikut bersama Dimas.
__ADS_1
"Apa yang kalian lihat?" Tanpa mereka sadari suara bariton terdengar di telinga mereka. Melihat hal itu, mereka langsung menunduk.
Karyawan 2 : "I.itu Bu Yulia. . .
"Yulia si staff HRD yang centil itu?" Mereka mangangguk kompak. "Untuk apa dia keruangan Dimas?" Gumamnya. "Hecmm liat aja gue kerjain karena loe berani ngusik Abang gue." Ya orang itu adalah Septian, ia belum ikut keruang Dimas karena ketika turun dari mobil ia sedikit bercanda terlebih dahulu dengan staff yang ada diparkiran. Kemudian ia segera menuju kelantai 26 karena kantor Dimas ada dilantai itu.
TING. .
Terdengar suara lift terbuka, sampailah Septian dilantai 26, ketika ia keluar Septian melihat Yulia berada dimeja sekretaris dengan dengan pura-pura mengobrol namun kedua tangannya masih sibuk membenahi pakaian dan dandanan nya karena ia sedang mencoba untuk masuk kedalam ruangan Dimas. ia pun mengetuk pintu itu dan masuk. . .
TOK . . . TOK. . . TOK. . .
"Masuk!" Terdengar suara teriakan dari dalam. Yulia segera masuk. "Ada apa?" Tanyanya dengan suara dingin.
Yulia : "Maaf Pak, ini saya mengantarkan berkas untuk ditanda tangani segera oleh Bapak, jadi saya memutuskan untuk langsung menemui Bapak." Kata Yulia dengan suara yang dibuat secentil mungkin, bahkan Andre yang mendengar langsung menatapnya tajam namun tak dihiraukan oleh Yulia meskipun sebenarnya ia juga sedikit takut dengan Andre.
Dimas : "Apa kau lupa, saya paling tidak suka jika ada karyawan saya masuk kesini dengan alasan berkas. Jika ada berkas yang harus ditanda tangani berikan pada Bu Maya sekretaris saya, biar dia yang membawa kemari." Jawabnya dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin, hal itu membuat Yulia menciut bahkan ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar karena melihat tatapan membunuh dari Dimas. "Apa kau sudah paham?!" Tanya Dimas kembali.
Belum sempat Yulia menjawab, pintu terbuka dan masuklah Septian dengan membawa sebotol air minum. Ketika ia hendak melangkah ia berpura-pura terpeleset sehingga botol yang dibawa sedikit tumpah mengenai pakaian Yulia. Septian menahan tawanya karena ia tidak ingin Yulia malu. Hal itu membuat Yulia berteriak bahkan memaki Septian. . .
Yulia : "Aww! Apa kau tidak melihat aku berdiri disini, apa kau tidak punya mata?!" DEG seketika ia sadar dengan apa yang ia ucapkan. Septian yang mendengar terkejut karena wanita itu akhirnya mengeluarkan sifatnya yang asli. "Ma.maaf Pak, saya tidak bermaksud memaki adik Bapak." Dimas hanya diam dan berkata.
Dimas : "Keluar!." Jawabnya datar, namun Yulia tak bergeming. "Apa kau tidak dengar, saya bilang ke.lu.ar!" Menyadari hal itu Yulia langsung keluar dengan menunduk malu. Seketika mereka tertawa puas, kecuali Dimas yang menatap mereka datar. "Kalian puas?!" GLEK mereka menelan saliva mereka.
Septian : "Hehe tadi beneran enggak sengaja kok Bang, kan gue tadi kepeleset. Bener kan Ndre?!" Septian mencari dukungan dari Andre.
Andre : "Sory, gue enggak ikutan ya Sep." Mendengar itu, Septian langsung menendang kaki Andre namun Andre sudah terlebih dahulu menghindar.
Dimas : "Jangan mengajak orang lain. Kenapa dengan wanita itu? Apa kau punya masalah dengannya?" Tanya Dimas datar sambil sesekali membaca file yang sudah ada dimejanya.
Septian : "Hecmmm gue enggak suka liat dia deketin loe, gue enggak suka dengan cewek yang centil, apalagi cara berpakaian dia, apa loe lihat? Gue enggak suka, gue enggak suka loe diusik sama cewek matre kaya gitu."
__ADS_1
Andre : "Kenapa loe ngomong gitu?" Kini giliran Andre yang bertanya.
Septian : "Karena gue tahu dia itu mencoba cari perhatian dengan suara centil dan pakaian itu. Gue enggak suka dia deketin loe dan mencoba nempel terus sama loe. Jijik bener deh gue sama itu cewek uler keket." Cerocos Septian dengan gaya anehnya dan itu mengundang tawa dari bibir Andre sedangkan Dimas hanya menyunggingkan bibirnya keatas. Kemudian ia kembali fokus dengan semua file dan berkas yang ada dimejanya.