Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 127 Obrolan di Meja Makan


__ADS_3

Flashback On...


Andre : "Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kau sedang ada masalah?" Tanya Andre saat melihat Septian sudah sampai di Mansion utama.


Septian hanya melihatnya sekilas, lalu menunduk kembali.


Pastu : "Apa yang terjadi padamu Septian? Apa kau tidak senang Om ada disini?" Kini Septian berhenti.


Septian : "Bukan begitu Om, aku hanya lelah saja. Tidak ada yang terjadi." Pastu mengangguk sebagai jawaban. "Segeralah bersiap, bersih-bersih lalu shalat. Kita akan makan bersama."


Septian : "Tapi aku tidak ingin makan Om." Jawabnya dengan wajah lelah.


Pasti : "Baiklah, tapi jangan salahkan Om jika Abang mu berubah pikiran lalu pergi sekarang juga." Mendengar itu Septian langsung mengangkat kepalanya melihat lelaki yang ia panggil dengan sebutan Om itu.


Septian : "Apa Abang tidak jadi pergi ke Korea?" Tanyanya antusias


"Hanya demi dirimu, dia menunda keberangkat nya." Celetuk seseorang yang baru terlihat yang tak lain adalah Shekar. Septian langsung mengarah kesumber suara.


Pastu : "Sudah, segeralah masuk dan bersih-bersih nanti waktu shalat mu habis." Septian mengangguk dengan semangat. Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepalanya.


Shekar : "Sejak kapan keponakan bontot itu jadi semanja ini?" Pastu mengedikan bahunya lalu pergi keruang keluarga.


Andre : "Hemm tepatnya kapan tidak ada yang tahu. Tetapi memang hal itu selalu dia lakukan jika sedang ingin sesuatu, seperti sekarang." Ucapnya menjawab pertanyaan Shekar. "Aku keatas terlebih dahulu ada yang harus di urus." Shekar mengangguk paham dan langsung ikut bergabung dengan Pastu.


Flashback End...


Septian : "Abaaaaaaang!" Teriak Septian ketika melihat Dimas ikut bergabung di meja makan. "Loe harus duduk didekat gue." Mereka yang melihat itu memutar mata jengah.


Angel : "Sep, loe sehat kan ya? Gue harap sih loe sehat, soalnya gue enggak bisa satu meja sama orang model loe gini." Celetuk Angel.


Septian : "Siapa sih yang ngundang ini Nini datang kesini. Pulang deh loe, cewek itu enggak baik pulang malam."


Dimas : "Sep..." Ucap Dimas dingin, dan hal itu langsung membuat Septian mengerucutkan bibirnya, Angel dan dua jumpling langsung terkekeh. "Bisa dimulai?" Tanyanya dingin, Angel langsung kicep.


Pastu : "Mari kita mulai, diawali dulu dengan do'a." Selesai berdo'a mereka langsung menyantap makanan yang telah dihidangkan.


"Waktunya makaaaaaan!!" Teriak Amar, Ilham yag juga diikuti oleh Firman. Sedangkan yang lain hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah ketiganya.


Mereka makan dengan gelak tawa yang dibuat oleh jumpling, apapun mereka jadikan candaan agar makan malam ini tidak monoton.


Septian : "Itu makanan gue, gue yang pertama lihat. Kenapa loe ambil duluan Ilhaaaam."


Ilham : "Yaaa gimana donk Sep, tangan gue enggak bisa gue kendaliin. Jadi langsung ambil aja deh, gue kira juga loe sudah bosan."


Septian : "Tapi itu kesukaan gue, sini balikin ke piring gue." Minta Septian.

__ADS_1


Kedua pemuda itu saat ini malah sibuk dengan makanan, bahkan mereka tidak sadar makanan yang mereka rebutkan kini sudah berpindah kepiring orang lain.


Ilham : "Enggak! Pokoknya ini punya gue, loe ambil yang lain aja." Saat Ilham akan menambah makanan, ia melihat piring miliknya sudah kosong. "Kemana makanan gue?!" Ilham langsung menatap satu persatu orang disana, kemudian mata tajamnya mengarah seseorang yang ada disebelahnya. "Amaaaaaar?!"


Amar tak menghiraukan, ia malah makan dengan sangat santai. tiba-tiba, Buak!! Kini Septian yang bereaksi.


Septian : "Loe berani ambil jatah makan kita, ha?" Amar diam.


Pastu : "Septian, sudahlah ambil saja yang lain dan segeralah makan."


Septian : "Tapi dia ambil makanan aku Om Pastuuu." Rengeknya.


Yayak : "Enggak usah kaya bocah deh loe Sep, kalau loe enggak mau gue habisin ini semua." Septian mendelik diijuti juga oleh Amar dan Ilham.


"Enak saja, ini jatah kita!" Jawab mereka kompak.


Firman : "Woooooooh, daebak! Kalian sungguh kompak soal makanan ternyata. Ckckk."


Dimas : "Arya apa kau sudah menyiapkan berkas yang akan dibawa?" Pertanyaan Dimas itu langsung menghentikan kegiatan mereka yang berebut makanan.


Bayangkan saja, mereka hanya memperebutkan ayam kryspi yang bahkan banyak dijual dikedai makanan bahkan diwarung pinggir jalan juga ada yang menjualnya.


Arya : "Semuanya sudah saya siapkan termasuk berkas untuk memutus pihak Yoosung." Dimas mengangguk.


Indra : "Kau akan berangkat Dim?" Dimas mengangguk. "Kapan rencana keberangkatan?"


Firman : "Kita bicarakan itu nanti, sekarang kita nikmati dulu makan malam ini."


Tak berselang lama, Dimas beranjak meski masih ada makanan dipiringnya.


Pastu : "Kau tidak menghabiskan makanan mu Dim?" Ucap Pastu setelah melihat piring Dimas.


Dimas : "Dimas sudah kenyang Om." Jawabnya datar. "Jika sudah selesai masuk ke ruang kerjaku Shekar." Shekar menoleh lalu mengangguk.


Angel : "Dim, gue masih disini dan mumpung masih disini jangan masuk dululah."


Dimas : "Saya masih banyak pekerjaan." Jawabnya. "Habiskan makanan mu sebelum pulang." Angel mengangguk lemah. Dimas langsung melangkah menuju ruang kerjanya.


Setelah Dimas hilang dari pandangan, mereka saling memandang satu sama lain.


Yayak : "Kenapa saling pandang? Gue masih normal." Seketika Yayak langsung mendapatan pukulan telak dari sahabatnya. "Yang, kamu enggak belain aku?" Angel melengos.


Firman : "Gue saranin kalau loe jangan manja ketika masih ada Dimas. Karena perhatian Nini loe ini pasti ke dia." Yayak mencebik.


Pastu : "Ada yang bisa katakan tentang hubungan Dimas dan gadis itu?" Mereka langsung menatap kearah Pastu. "Maksud saya hubungan mereka sejak awal hingga kejadian kemarin." Lanjutnya lagi.

__ADS_1


Hening, mereka masih saling diam. Apa yang harus mereka katakan jika mereka sendiri saja tidak tahu pasti hubungan itu, kecuali Yayak, Andre dan Firman.


Pastu : "Kenapa kalian diam?" Ucapnya. "Yak, Ndre?" Panggilnya tepat sasaran. Yayak menghela nafasnya, sedangkan Andre masih berwajah datar.


Septian : "Gue malah baru tahu kalau mereka punya hubungan, itupun karena kejadian waktu itu."


"Sama, kita juga." Jawab Amar dan Ilham kompak.


Indra : "Aku malah tidak terfikir Bang, apalagi memang kita jarang membicarakan hal pribadi."


Angel : "Gue sebenarnya juga terkejut secara, Dimas itu selalu dingin tapi buktinya dia berubah dengan gadis itu."


Pastu : "Andre, Yayak, Firman?"


Ketiga lelaki itu menatap Pastu tapi masih diam belum ada jawaban sedikitpun.


Shekar : "Apa kalian tahu sesuatu?"Kini suara Shekar yang mewakili Pastu. Ketiganya menggeleng sempurna.


Pastu : "Andre? Om tahu kamu tidak bisa berbohong." Ucapnya.


Andre menghela nafas, memang ia tidak bisa berbohong tapi perlu diketahui hal itu berlaku untuk Dimas. Namun jika dengan orang lain bisa saja malah kebalikannya.


Andre : "Anda pasti lebih tahu tentang saya. Saya keatas terlebih dahulu menemui Dimas. Arya tolong nanti kamu temui saya sebentar." Ucapnya formal. Arya mengangguk, ia lalu beranjak dari mereka.


Septian : "Loe beneran tahu tentang mereka, Andre?" Andre berhenti, menatap Septian tajam lalu melanjutkan langkahnya.


Firman : "Kenapa kalian jadi bahas hubungan mereka sih? Bang, jangan bahas adik gue dulu. Gue mau kenyangin perut gue sebelum balik." Ucapnya menengahi.


Pastu : "Apa maksud ucapan kamu itu Rangga?"


Angel : "Asal Om tahu saja, cewek itu adik sepupunya Firman Om."


Firman : "Yaa dia adik sepupu gue, lalu masalahnya dimana?"


Indra : "Sudah jangan bahas itu dulu, enggak baik berdebat di depan makanan."


Untuk kesekian kalinya, mereka melanjutkan makan malam setelah sejak tadi sibuk dengan berbagai perdebatan.


Kini mereka berada di ruang keluarga, hanya ada Pastu, Firman, Shekar, Indra, trio jumpling dan Yayak. Sedangkan Angel, ia sudah pulang terlebih dahulu setelah diantar oleh kekasihnya. Bukan tidak ingin tinggal, tapi ia tidak mau mendapat tatapan elang dari Dimas.


Septian : "Jadi, siapa yang akan menjelaskan semuanya?" Tanyanya tak sabar.


Ilham : "Kenapa loe bicara tanpa beban sepeeti itu? Sabar donk."


Amar : "Ada sesuatu hal apa yang buat loe enggak sabar, hem?

__ADS_1


Septian : "Gue masih enggak terima Abang gue dipukul sama bocah itu." Ucapnya geram.


Firman : "Jangan pernah loe macam-macam sama adik gue Sep, loe akan tahu akibatnya kalau sampai itu terjadi." Jawab Firman dengan wajah serius.


__ADS_2