
Papa Rahmad : "Kalian harus makan yang banyak, biarkan saja kalian gemuk. Karena itu Om menikahi Tante, supaya badan kita berisi semuanya." Mama Randa hanya tersenyum malu tak lupa pipinya yang sudah bersemu merah.
Vanya : "Iih Mama pake malu segala." Celetuk Vanya yang sejak tadi hanya diam.
Firman : "Iya, padahal mah biasanya enggak begitu." Mama Randa langsung menatap kedua anaknya dengan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh.
Papa Rahmad : "Sudah, ayo kita segera makan. Karena Papa jam 3 nanti akan ada meeting." Mereka mengangguk.
Mama Randa langsung menyendokan makanan untuk sang suami dan dilanjutkan keempat anaknya termasuk Adinda dan Arul. Mereka makan dengan sangat lahap dan penuh canda tawa, keluarga itu terlihat harmonis dengan kehangatan mereka.
Setelah makan siang usai, mereka berkumpul diruang keluarga. Sedangkan Adinda dan Arul mengambil hadiah untuk penghuni rumah itu.
Adinda : "Tante, ini Adinda dan Arul bawa tanaman hias untuk kalian. Lalu yang ini untuk Vanya, khusus untuk Vanya yang calathea black lipstik. Untuk Om Rahmad, ada tanaman bonsai dan untuk Tante ada Janbol dan alocasi silver."
Mama Randa dan Vanya yang melihat tanaman itu langsung terlihat senang, apalagi tanaman itu saat ini memang sedang booming dan sangat digandrungi masyarakat Indonesia.
Mama Randa : "Sayaaaaang, aah kalian ini kenapa sampai repot seperti ini sih. Terima kasih ya nak, kalian ini sungguh anak Mama yang sangat baik." Mama Randa langsung memeluk Adinda dan Arul.
Firman : "Seneng deh tuu punya koleksi tanaman lagi." Ledek Firman pada Mamanya, namun tidak dihiraukan.
Vanya : "Waaah, maksih ya Ra. Ini tanaman yang gue pengen dari kemarin, tapi belum sempat gue beli." Adinda tersenyum mengangguk.
Papa Rahmad : "Terima kasih ya sayang, Om akan bawa tanaman bonsai ini ke Kantor dan akan Om letakkan diruang Om sendiri. Supaya Om ingat kalau ini pemberian dari kedua keponakan Om yang baik ini."
Firman : "Oke, kalian sudah dapat tanaman. Lalu buat gue apa? Masa hanya Mama, Papa dan Vanya yang dapat dek. Kalian enggak kasih apa-apa ke gue?" Adinda dan Arul kompak menggelengkan kepalanya. Firman langsung berwajah cengo melihat itu.
Papa Rahmad : "Baiklah, Papa berangkat dulu. Sebentar lagi jam 3, Papa harus segera berangkat. Kalian berdua baik-baik disini, dan menginaplah." Pintanya pada Adinda dan Arul. "Maa, Papa berangkat dulu. Hati-hati ya di Rumah, jangan bertengkar."
Mama Randa : "Iya, Papa hati-hati di dijalan. Jangan pulang telat." Papa Rahmad tersenyum mengangguk dan memasuki mobilnya.
__ADS_1
Setelah mobil Tuan Wijaya tak terlihat lagi, Vanya dan Mama Randa melihat kearah Firman yang hanya duduk santai dengan memainkan ponsel miliknya.
Vanya : "Apa Kakak tidak berangkat ke Kantor lagi? Kenapa masih di rumah?"
Mama Randa : "Kamu sudah selesai pekerjannya Ngga? Kenapa duduk santai di Rumah?"
Firman : "Kenapa Mama dan Vanya tanya seperti itu? Kan Rangga tadi udah ketemu sama client Ma, juga di Kampus sudah kosong jadi Rangga di Rumah aja. Lagian dari Rumah juga masih bisa kerja." Ucapnya dan kembali pada ponsel ditangannya yang memang ada beberapa file masuk melalui email.
Sedangkan Adinda dan Arul memasuki kamar mereka yang sudah disediakan disana. Sesuai permintaan dari Om Rahmad, mereka menginap di Rumah Wijaya yang tak lain juga rumah Firman.
Adinda dan Arul keluar dari kamar. Vanya dan Mama Randa langsung mengajak Arul ke taman belakang untuk melihat tanaman yang ada disana, termasuk menyimpan tanaman yang baru aja didapat. Sedangkan Adinda, ia memutuskan untuk berada diruang keluarga ditemani benda pipih yang beberapa bulan ini bersama dengannya.
Firman : "Kamu tidak ikut Mama kebelakang Mara?" Adinda langsung terkejut mendengar suara itu, dan langsung menoleh.
Adinda : "Eeh enggak kak, sebenarnya pengen ikut tapi Tante enggak bolehin biar Arul saja yang ikut kebelakang." Firman mengangguk.
Firman : "Oh iya dek, sudah berapa lama hubungan kamu dengan dia?" Adinda tersentak.
Firman : "Tanya aja gue mah. Lagipula loe itukan adik gue, dan dia sahabat gue. Jadi wajar donk kalau gue tanya." Adinda mengangguk. "Apa MBA berusaha deketin loe?" Celetuknya.
Adinda : "Maksud Kakak? Dinda enggak ngerti." Kilahnya.
Firman : "Loe itu sudah besar, jadi enggak mungkin kalau loe enggak ngerti maksud gue." Ucapnya tegas.
Adinda : "Ehmm i.ituu sebenarnya sempat beberapa kali Kak Akbar mengirim pesan, tapi hanya aku jawab seperlunya saja. Dia bilang untuk ajak ketemu juga enggak aku tanggapi kok, hanya ku jawab jika sedang sibuk." Firman mengangguk-angguk paham.
Firman : "Gue minta loe pertegas hati loe dulu dek, gue enggak mau diantara kalian ada yang terluka. Jika memang Arse belum ingin kamu jalin hubungan maka kamu fikirkan dulu dengan baik sebab dan akibatnya nanti." Ucapnya. "Aah iya gue hampir lupa. Sebentar lagi PPA akan ada acara di Puncak, gue harap hubungan loe, Arse dan Dimas akan baik-baik aja meski gue belum tahu dia datang apa enggak."
Adinda : "Maksud Kak Rangga apa? Acara nanti dia enggak datang, apa karena ada acara lain?"
__ADS_1
Firman : "Yaa bisa dibilang seperti itu, di Perusahaan sedang ada kendala dan karena gue sudah masuk ke Kantor jadi gue juga harus membantu dia jika ada yang perlu dibantu. Sedikit ada kecoa kecil yang ingin berusaha masuk, meski tidak begitu berbahaya tapi tetap saja kita harus waspada." Jawabnya. "Meski sendiri dia bisa membasmi, tapi tetap saja sebagai sahabat gue harus ada disana." Gumamnya dalam hati.
Adinda : "Jadi kalian tidak bisa datang di acara nanti?" Tanyanya untuk memperjelas. Firman terkekeh melihat wajah adiknya. "Kenapa?"
Firman : "Harusnya gue yang tanya, kamu kenapa bereaksi seperti itu? Apa kamu takut dia tidak datang?"
Adinda : "Eeh bu.bukan begitu. Aku kan hanya bertanya saja, enggak ada maksud apa-apa." Ucapnya berkilah.
Firman : "Seriously?" Adinda mengangguk dengan cepat. "Hahaa kamu ini, terlihat jelas dari wajahmu jika kamu mengharapkan dia datang. Haach, kamu tenang saja jika dia sudah menyelesaikan kecoa itu dia pasti akan datang."
Hening. . .
Hanya ada suara kicauan burung.
Adinda : "Kak... Apa aku salah jika mencoba untuk egois?" Firman mengernyit. "Apa aku salah jika egois untuk mengharapkan dia tetap berada dihidupku?"
Firman : "Amara, sebenarnya tidak salah jika kamu mencoba untuk egois karena kamu punya hak untuk itu. Tetapi cobalah lihat dibelakang dan sekeliling kamu, coba kamu lihat orang-orang disekitarmu. Bagaimana kamu ingin egois jika kamu juga masih tetap bertahan dengan prinsip kamu tentang Arse? Aku tidak mempermasalahkan jika kamu masih tetap bertahan dengan permintaan Arse, tapi cobalah lihat dari sisi Dia. Sebenarnya Dimas bukanlah seseorang yang bisa menjalin hubungan dengan makhluk yang bernama wanita, jangankan menjalin hubungan hanya dekat saja ia tidak pernah ingin. Mengingat sifatnya yang datar dan dingin seperti es itu, padahal banyak wanita yang menggoda dirinya baik dari kalangan menengah maupun atas tapi begitulah Dimas."
Firman menghela nafas. . .
"Dimas bisa dekat dan memiliki hubungan denganmu itu sudah membuatku senang, karena ini sesuatu hal yang langka menurut kami semua. Aku tidak mempermasalahkan hubungan kalian yang hanya bersembunyi seperti sekarang, jika kalian masih bisa bertahan aku sih oke saja tapi coba kamu fikirkan lagi." Jelasnya panjang lebar.
Adinda : "Aku ingin egois tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Arul merasa bahwa ia tidak lagi diinginkan. Bagaimanapun Arul adikku." Gumamnya pelan namun masih bisa didengar.
Firman : "Melihat sifatmu yang memang hangat dan sifat Dimas yang seperti itu, aku tidak yakin Dimas bisa bersikap egois dan menganggap Arse tidak ada. Kenapa hubungan kalian serumit ini sih." Gerutunya dalam hati. "Apa yang akan kamu lakuin, jika Dia memutuskan untuk mempertahankan Arse ketimbang hubungan kalian?" Pertanyaan itu sukses membuat Adinda menoleh dengan cepat.
Adinda : "Kenapa Kakak bertanya seperti itu sih?" Ucapnya kesal.
Firman : "Kenapa wajahmu tegang seperti itu? Gue hanya sekedar bertanya saja. Anggap gue ini sahabatnya Dimas bukan Kakak loe. Apa jawaban kamu dari pertanyaanku tadi?"
__ADS_1
Adinda hanya diam menunduk bahkan kedua tangannya sudah bertautan, jari jemarinya saling meremas tanda cemas. Bahkan pertanyaan yang Firman ajukan begitu susah untuk ia jawab.