Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 95 Memilih dan Memberikan Tanaman


__ADS_3

Adinda dan Arul membeli tanaman hias yang akan ia bawa untuk Tante Randa, bahkan keduanya khusus mencari itu sendiri tanpa meminta bantuan pada orang lain.


Arul : "Kak lihat deh, disana tanamannya bagus-bagus semua. Kelihatan segar juga terawat." Ucapnya sambil menunjuk salah satu toko tanaman hias.


Adinda : "Iya juga, baiklah kita coba cari disana. Kalau memang cocok kita angkut." Arul mengangguk dengan antusias.


Kemudian kedua kakak beradik itu langsung turun dari mobil, dan memasuki toko tanaman hias yang ditunjuk oleh Arul.


Penjaga Toko : "Selamat datang di taman aglo kami, Mbak sama Mas ingin cari tanaman seperti apa, bisa kami bantu?" Adinda tersenyum mengangguk.


Arul : "Ehmm Kang, tanaman yang sekarang sedang booming apa saja yah? Saya ingin memberikan hadiah untuk Tante saya."


Penjaga Toko : "Waah kebetulan sekali, hari ini kami baru saja kedatangan tanaman baru. Mari saya tunjukkan tempatnya."


Arul langsung mengikuti penjaga toko itu, sedangkan Adinda melihat-lihat tanaman aglo yang lain.


Adinda : "Hecmm tanaman ini bagus juga, apa aku bawa ini juga ya untuk Vanya?🤔 Coba deh nanti tanya dulu sama Mas-nya yang jaga." Gumamnya, kemudian ia melihat-lihat lagi.


Penjaga Toko : "Ini Mas tanaman yang sekarang sedang booming, tanaman ini bernama Monstera Janda Bolong Mas. Tapi tenang saja harga disini sesuai dengan kantong kok."


Arul hanya tersenyum saja, tak lupa ia memandang tanaman hias yang saat ini ada dihadapannya.


Arul : "Ehmm, Mas yang ini harga berapa yah? Kalau boleh tahu?"


Penjaga Toko : "Kebetulan tanaman ini baru tiba kemarin Mas, dan Mas pembeli pertama jadi saya kasih harga kawan. Ini berkisar 280 ribu Mas, biasanya sampai 500 ribu. Kebetulan juga tanaman ini memang hasil dari kebun sendiri, jadi tidak terlalu mahal."


Mendengar itu, Arul hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Arul : "Oke, saya ambil ini satu ya Mas. Tapi tolong daunnya yang sudah rumpun."



Penjaga toko itu tersenyum mengangguk lalu menyiapkan yang baru saja diminta Arul. Seperti permintaannya, Arul meminta daun yang sudah rumpun. Kemudian Arul melihat tanaman yang lain.


Adinda : "Kamu sudah dapat yang kamu inginkan sayang?" Arul mengangguk. "Apa yang kamu pilih dek?"


Arul : "Tanaman Janbol Kak, sepertinya Tante akan suka tanaman itu. Apa Kakak masih ada lagi yang mau dipilih?"


Adinda : "Yaa Kakak ingin membeli untuk Vanya, sepertinya tanaman yang didepan tadi cocok untuk dia."


Arul : "Apa sudah Kakak pilih?" Adinda menggeleng. "Kenapa?"

__ADS_1


Adinda : "Kakak masih ingin melihat yang lain dulu, jika ada yang lebih cocok untuk dia akan Kakak ambil. Apa kamu hanya memilih satu saja?"


Arul : "Ehmm masih satu lagi Kak, jadi untuk Tante dua."


Adinda dan Arul langsung berpencar lagi untuk melihat tanaman yang mereka inginkan. Adinda melihat tanaman syngonium mini yang terlihat lucu menurutnya, dan akan cocok jika ditaruh diatas meja karena bentuknya yang mini.


Adinda : "Yaa sepertinya tanaman ini juga cocok untuk Tante Randa. Lalu tanaman apa untuk Vanya, apa aku harus mengambil ini dua?" Arul yang melihat Kakaknya bingung langsung menghampirinya.


Arul : "Kakak sudah dapat?"


Adinda : "Ehmm, sudah dan sepertinya ini juga cocok untuk Tante dan Om, lalu cocok juga untuk Vanya."




Arul : "Baiklah kita ambil empat jenis tanaman, aah apa Kakak memilih tanaman bonsai itu untuk Om Rahmad?" Adinda mengangguk. "Baiklah, oke kita langsung bayar dan berangkat kesana."


Keduanya langsung menuju kasir dan membayar tanaman yang sudah mereka ambil. Cukup banyak uang yang harus mereka keluarkan karena total hampir dua juta.



Setelah Arul dan Adinda membayar ke kasir, semua tanaman itu langsung dimasukkan kedalam mobil. Usai sudah pencarian mereka hari ini, Adinda langsung menancap gas dan mengendarai mobil itu menuju rumah Wijaya.


Om Rahmad : "Tapi Ma, siang nanti Papa ada meeting dengan client. Masa harus ditunda sih? Apa kata mereka jika Papa menundanya dengan tiba-tiba seperti ini?" Ucap Tuan Wijaya diseberang sana.


Mama Randa : "Pokoknya Mama tidak ingin tahu, Papa harus makan siang di rumah, dan nani malam juga makan di rumah. Jangan makan diluar, kalau tidak penuhi permintaan Mama lihat saja, Papa harus tidur diluar." Setelah mengucapkan itu Tante Randa langsung mematikan panggilan secara sepihak, tanpa ingin tahu bahwa suaminya disana tengah mengerang frustasi.


Begitu juga dengan Firman, yang sejak kemarin sudah mulai masuk ke Perusahaan. Setelah pulang dari Kampus ia langsung ke Kantor, ia juga mengerang frustasi dengan permintaan wanita tercintanya itu dan dengan terpaksa ia meng-iyakan permintaan sang Mama.


Sedangkan Vanya, hanya cemberut dengan permintaan Randa. Jika ia tidak setuju, makan uang jajan akan dipotong selama satu bulan apabila ia meminta pada kedua lelaki di rumah hasilnya akan tetap sama. Itulah jika kanjeng ratu sudah berkata, jadi semua harus dituruti.


Tepat pada siang hari keluarga Wijaya sudah berkumpul, meski dengan wajah ditekuk mereka tetap pulang menuruti titah Nyonya Wijaya.


Mama Randa : "Akhirnya kalian bertiga sampai juga, ayo kalian bersih-bersih dulu, shalat dzuhur lalu ke meja makan."


Firman : "Mama ini kebiasaan banget sih, Rangga tadi masih meeting Ma. Untung saja client Rangga mengerti jadi mereka langsung tanda tangan kontrak kerja." Meski kesal tapi ia senang karena teken kontrak sudah selesai. "Lalu bagaimana client Papa?"


Om Rahmad : "Terpaksa harus ditunda sampai jam 3 nanti." Ucapnya dengan wajah memelas.


Vanya : "Vava juga. Iih kesel, padahal Vava masih kerja kelompok. Terpaksa deh enggak ikut ngerjain." Ucapnya dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.

__ADS_1


Sedangkan yang menjadi topik pembicaraan hanya terkekeh melihat wajah ketiga orang tercintanya ini.


Firman : "Alaaah bilang aja kamu enggak bisa cari perhatian sama cowok itu kan dek?" Vanya mendengar itu langsung melotot.


"Kamu punya pacar sayang?" Tanya Tuan dan Nyonya Wijaya.


Vanya : "Iiih enggak. Kakak tuh yang asmong alias asal ngomong. Siapa juga yang punya pacar. Iiih dasar Kakak nyebelin." Gerutunya langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar kesayangannya.


Mama Randa : "Memang benar Vava punya pacar Kak? Terus kalau adikmu saja sudah punya pacar, kamu kapan kenalin calon menantu sama Mama?" Ucapnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Firman : "Aaah iya, Rangga masuk kamar dulu deh. Sudah bau asyemm nih, Ma Pa, Rangga ke kamar dulu ya." Ucapnya menalihkan pembicaraan.


Mama Randa : "Huuuch! Dasar anak tidak tahu diri, anakmu itu Pa." Ucapnya.


Papa Rahmad : "Loh, bukannya Mama yang melahirkan Rangga? Berarti anak Mama juga donk ya."🤔


Mendengar ucapan sang suami membuat, Randa mencebikkan bibirnya. Hal itu membuat Tuan Wijaya tertawa puas, bahkan ia sangat gemas melihat sang istri seperti itu.


Setelah drama itu, semua penghuni langsung membersihkan diri karena sudah waktunya makan siang. Ketika mereka sudah berkumpul, terdengat suara bel berbunyi. Bi Ani, langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Adinda masuk sesuai perintah Randa sebelumnya.


Bi Ani : "Maaf Bu, nona sudah datang." Lapor Bi Ani pada Nyonya Wijaya.


Mama Randa : "Baiklah Bi, minta mereka langsung kesini saja ya." Bi Ani mengangguk.


"Assalamu'alaikum Om Tante." Ucap Adinda dan Arul setelah sampai diruang keluarga.


"Wa'alaikumussalam." Jawab keluarga Wijaya dengan kompak.


Firman : "Jadi ini yang membuat Mama meminta kami pulang cepat?" Mama Randa langsung mengangguk dengan antusias.


Mama Randa : "Sini sayang, kita makan siang bersama. Tante sudah masak banyak untuk kita semua, kalian harus menghabiskan makanan ini."


Adinda dan Arul langsung duduk dikursi yang sudah disiapkan, tak lupa dengan peralatan makan yang memang sudah disediakan.


Papa Rahmad : "Kalian harus makan yang banyak, biarkan saja kalian gemuk. Karena itu Om menikahi Tante, supaya badan kita berisi semuanya." Mama Randa hanya tersenyum malu tak lupa pipinya yang sudah bersemu merah.


Vanya : "Iih Mama pake malu segala." Celetuk Vanya yang sejak tadi hanya diam.


Firman : "Iya, padahal mah biasanya enggak begitu." Mama Randa langsung menatap kedua anaknya dengan tajam. Sedangkan yang ditatap hanya terkekeh.


Papa Rahmad : "Sudah, ayo kita segera makan. Karena Papa jam 3 nanti akan ada meeting." Mereka mengangguk.

__ADS_1


Mama Randa langsung menyendokan makanan untuk sang suami dan dilanjutkan keempat anaknya termasuk Adinda dan Arul. Mereka makan dengan sangat lahap dan penuh canda tawa, keluarga itu terlihat harmonis dengan kehangatan mereka.


__ADS_2