Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 90 Tentang Mereka dan Pengakuan MBA


__ADS_3

Tidak ada yang tahu memang dengan kedelapan lelaki tampan itu. Siapa mereka sebenarnya, dan apa hubungan mereka dengan dunia bisnis.


Pada dasarnya mereka hanyalah lelaki biasa yang dipersatukan dalam sebuah ikatan persahabatan yang sudah terjalin beberapa tahun lalu hingga sekarang. Namun semua itu akan berubah ketika sudah menyangkut tentang Perusahaan yang berencana untuk masuk dalam kehidupan mereka.


Dimas dan Andre sudah dipastikan bahwa keduanya adalah Pebisnis dari Adhitama Company, sekaligus pemilik Perusahaan. Firman seorang Wakil Direktur Wijaya Grub, sedangkan Yayak dan Indra mereka juga memiliki usaha sendiri yang bergerak dalam bidang otomotif bersama Dimas, ketiganya bekerja sama membangun kerajaan otomotif mereka sendiri.


Tak lupa trio jumpling, ketiga lelaki itu merupakan tim penyidik dalam kelompok mereka. Meski mereka selengekan tapi jika sudah berhadapan dengan pengganggu maupun Dimas maka mereka akan langsung menunjukkan sikap seriusnya. Dengan keahlian dalam teknologi seperti jurusan mereka saat ini, mereka bisa mempersulit pergerakan lawan.


Septian : "Apa kita bertiga tidak perlu turun tangan Ndre?"


Andre : "Tidak perlu, sudah ada Shekar yang meng-handle masalah ini."


Septian : "Shekar? Apakah dia akan kembali kesini dalam waktu dekat?"


Andre : "Semua itu bergantung pada Om Pastu. Jika masalah ini cepat selesai dan Om Pastu sudah senggang pasti mereka berdua akan pulang." Jelasnya pada Septian.


Amar : "Siapa Shekar? Apa dia juga anak buah Dimas?" Septian menggeleng.


Ilham : "Lalu siapa dia? Apa kalian bertiga juga tahu siapa Shekar? Loe Ar, tahu?"


Arya : "Gue enggak tahu banyak tentang dia, hanya sebatas dengar cerita tapi tidak pernah bertatap muka." Jawabnya.


Amar : "Lalu kaliam bertiga bagaimana?" Menatap Yayak, Firman juga Indra.


Yayak : "Gue memang kenal, karena sebelum kenal dengan kalian gue lebih dulu tahu tentang Shekar. Begitu juga dengan Indra."


Firman : "Kenapa kalian berdua lihat gue seperti itu? Suka loe ya sama gue?" Ucapnya dengan tingkah konyol.


Ilham : "Kita berdua serius ini Fir, tinggal loe yang belum jawab."


Firman : "Gue hanya sebatas tahu dalam dunia bisnis saja. Memang ada apa sih, hem? Kalian berdua iri karena belum kenal?"


"Idiiiiih, enggak!" Jawab keduanya dengan kompak.


Andre : "Jika gue tangan kanan Dimas, makan Shekar adalah kaki tangan Dimas. Dia lebih dari gue, terutama posisinya. Hanya saja ia memang bekerja di Luar Negeri sedangkan gue disini mendampingi Dimas."


Septian : "Kalian pasti akan terkejut jika melihat dia, apalagi jika Shekar berada diantara Dimas dan Andre."


Amar : "Memangnya kenapa? Ada yang beda dari mereka bertiga?"

__ADS_1


Septian : "Mereka bertiga itu kembar." Yang mendengar itu mengernyit bingung. "Iya kembar, karena sama dingin nya juga, bukan hanya Andre duplikat dari Dimas tapi Shekar pun sama." Jelasnya kembali.


Ilham : "Hohoo double duplikat ceritanya. Haah gue jadi enggak sabar lihat itu orang."


Yayak : "Gue berharap loe enggak ketemu sama dia. Gue aja ogah."


Amar : "Kenapa? Memang ada yang salah?"


Yayak : "Ya pokoknya gue enggak pengen ketemu sama Shekar."


Yayak langsung berlalu keruang keluarga, sedangkan Amar, Ilham dan Arya mengernyit bingung denan sikapnya itu.


Indra : "Kalian tidak perlu bingung seperti itu. Melihat sikap Yayak yang seperti itu, dia pasti akan cemburu jika Shekar sudah datang."


"Cemburu?!" Celetuk Amar, Ilham dan Arya denan kompak.


Indra : "Iya cem.bu.ru. Karena bisa dipastikan Dimas akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan Shekar ketimbang dirinya."


Septian : "Melihat Andre yang selalu disisi Dimas saja dia sudah cemburu, apalagi jika Shekar pulang. Tambah merah tuh muka." Ucapnya terkekeh.


Yayak : "Bontoooooooottt!!" Teriak Yayak yang mendengar kekehan dari Septian.


Andre : "Sudah, ini sudah malam lebih baik kalian segera istirahat. Ar, loe bisa pakai kamar tadi bareng Firman." Arya hanya mengangguk. "Gue keatas dulu keruang kerja Dimas." Saat ia akan melangkah, namun terhenti...


Arya : "Apa masih ada yang harus dikerjakan? Apa perlu ku bantu?"


Andre : "Tidak perlu, Dimas memintamu kesini agar kau tidak kemalaman pulangnya. Bukan untuk mendapat lemburan." Arya mengangguk paham. "Baiklah lebih baik kalian segera istirahat."


Andre melangkahkan kakinya menaiki tangga, tujuannya kali ini ruang kerja Dimas. Saat Andre akan membuka pintu, ia mendengar suara Yayak dari dalam.


Yaa, saat ini Yayak sudah berada diruang kerja Dimas. Setelah ia kesal dengan para sahabatnya ia memutuskan untuk menemui Dimas.


Dimas : "Jadi sekarang mau kamu apa Yak? Aku memang enggak pernah ingin mempermasalahkan hubunganku dengan Arul."


Mendengar itu. Andre yang semula akan pergi kini menghentikan langkahnya.


Yayak : "Tapi loe kan tahu Dim. Saat ini MBA berusaha mendekati Dinda. Gue sendiri yang lihat pandangan mata yang beda untuk gadis itu. Bahkan ia dengan terang merasa tertarik pada Dinda."


Dimas : "Semua itu, aku sudah menyerahkan padanya. Jika memang itu yang terbaik, kenapa tidak Yak. Ya meski aku enggak bilang secara langsung, tapi aku sudah katakan itu pada Tuhan."

__ADS_1


Yayak : "Apa loe hanya akan diam jika MBA bisa menarik hati Arul dan juga Adinda?" Hening, tidak ada jawaban dari Dimas.


Yayak tahu pasti bahwa saat ini kondisi hati Dimas sedang rumit, ditambah temannya sendiri juga menaruh hati pada gadis cerobohnya itu.


"Gue tahu pasti, saat ini hati loe juga merasa gundah Dim. Hanya saja loe mencoba untuk tetap tenang, kenapa loe selalu menyembunyikan semua perasaan loe ini?" Gumam Yayak yang melihat kediaman Dimas.


Dimas : Dimas menghela nafas. "Loe tahu apa yang gue rasain saat ini Yak. Jadi biarkan ini mengalir, jika memang takdir Tuhan harus berpisah maka aku tidak akan melarang itu."


Putus Dimas. Kemudian ia kembali berkutat dengan berkas yang ada dihadapannya. Meski tidak terlalu fokus, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menyelesaikan tugasnya.


Sedangkan diluar ruangan, Andre merasa sedikit tersentak dengan penjelasan dari Dimas. Bagaimana dia bisa setenang ini menyikapi gadis yang sudah jelas menjadi kekasihnya itu, fikirnya.


"Apa ini yang kau inginkan Dim? Tuhan kenapa Kau membuat Abangku seperti ini, Kau menguji jalan cintanya melalui gadia itu. Apakah tidak ada cara lain selain perpisahan? Aku tidak sanggup jika ia harus kembali merasakan sakit karena ditinggal orang yang dicintainya. Sudah cukup ia menjadi seperti ini setelah Mama dan Papa tiada, jangan lagi Ya Rabb. Jangan." Doa Andre dalam hati. Kemudian ia meninggalkan ruanh kerja Dimas, biarkan Yayak dan Dimas menyelesaikan pembicaraan mereka.


Flashback On. . .


Terdapat banyak meja dan kursi ditempat itu. Disana juga banyak sekali berbagai macam makanan, tempat itu selalu menjadi tempat favorit setiap Mahasiswa untuk sekedar melepas penat dan mengisi tenaga.


Disudut sana, ada dua makhluk ciptaan Tuhan yang sedang menikmati waktu berdua tanpa tambahan orang lain. Mereka hanya fokus berdua saja, sedangkan yang lain hanya dianggap ngontrak oleh mereka. Orang itu tak lain MBA dan Yayak.


MBA : "Yak, bagaimana pendapatmu tentang gadis itu?" Yayak mengernyit bingung.


Yayak : "Maksud loe gadis yang mana lagi Bar? Sepertinya akhir-akhir ini muka loe cerah tidak seperti sebelumnya. Loe naksir cewek?" MBA hanya diam, tapi melihat wajahnya yang terlihat senang bisa dipastikan ucapan Yayak itu benar adanya. "Siapa gadis itu?" Tanya Yayak seolah tidak tahu.


MBA : "Adinda Amaralia." Ucapnya dengan tegas, bahka matanya nampak berbinar. "Gue rasa hati gue tertarik sama tuh cewek." MBA langsung memangku tangannya diatas meja. Yaa saat ini mereka sedang berada di Kantin kampus, tepat setelah beberapa hari Dimas berangkat ke London.


Yayak : "A.apa loe yakin suka sama tuh cewek Bar? Ehmm dia sudah punya pacar belum?" Selidiknya yang ingin tahu.


MBA : "Yang gue dengar dari temannya dia belum ingin memiliki kekasih karena adiknya belum memberikan izin itu." Yayak hanya manggut-manggut saja.


Yayak : "Itu sebabnya loe memberi perhatian pada Arul saat acara kemarin?" MBA mengangguk dengan cepat. "Benar dia mendekati gadis itu Arul." Gumamnya dalam hati. "Ya berdoa saja Bar."


Setelah mengucapkan itu Yayak melanjutkan makannya sebelum trio jumpling datang, karena bisa dipastikan jika mereka datang maka Yayak tidak akan bisa makan dengan tenang karena tingkah ketiga adik Dimas itu terutama bontot.


Sedangkan MBA masih tetap dengan wajahnya yang berbinar. Namun ia juga melanjutkan makannya.


Flashback Off. . .


Yayak kembali mengingat semua pembicaraannya denan MBA saat berada di Kantin Kampus, dan hal itu sedikit mengganggu fikirannya mengenai hubungan Dimas dan Dinda. Namun mendengar ucapan Dimas barusan, membuatnya hanya menghela nafas dengan berat. Dia merasa perjalanan cinta sang sahabat tidak akan berjalan dengan mulus nantinya.

__ADS_1


__ADS_2