
Adinda : "Hiks, Tuhan kenapa sakit sekali. Terasa perih, terasa sesak disini." Ucapnya sambil memukul dadanya dengan pelan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, a.apa ucapan itu hanya sekedar ucapan biasa atau memang. . . Hiks hiks."
TOK. . . TOK. . .
"Adinda, tolong keluar sebentar yah. Humas dan senior lain ada kumpulan di Aula tengah." Teriak seseorang dari luar kamar.
Adinda : "Aah i.iiya Kak. Sebentar, aku siap-siap dulu." Ucapnya. Adinda langsung melangkah ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah selesai ia langsung keluar menuju Aula.
Sementara di Aula, anggota yang mendapat panggilan sudah hadir disana. Termasuk Dimas, Arul dan anggota Keamanan lainnya.
Indra : "Bagaimana Arya? Apa persiapan untuk esok sudah selesai? Maksudku tentang hubungan warga dan kegiatan kita."
Arya : "Ehmm, kita dari Humas tidak masalah. Ketua juga sudah setuju dengan saran dari Ketua Pelaksana soal acara esok. Namun tolong digaris bawahi jika lusa kita sudah harus persiapan karena pulang ke Jakarta, jadi aku harap tidak terlalu berlebihan."
Semua tampak menganggukkan kepalanya.
Raka : "Untuk perlengkapan barbeqeu kalian tenang saja, gue dan anak yang lain akan persiapin semua. Tetapi kalau untuk pengolahan kembali lagi ke Konsumsi."
"Setujuuuu!!" Jawab trio jumpling dengan kompak, bahkan suara mereka menggelegar.
Firman : "Settdah, kalian kalau soal makanan pasti suaranya paling keras." Gerutunya.
Amar : "Jangan salah Fir, Azriel juga pasti akan sama dengan kita."
Ilham : "Yaa, anak itu demen makan."
Septian : "Baiklah, kita lanjutkan lagi untuk acara besok. Yang jelas gue pengen makan enak." Firman langsung melempar kotak tisu yang ada didekatnya. "Kyaaaaa! Loe berani sama gue Fir, enggak sadar ya loe disini ada Abang gue." Camnya.
Firman : "Enggak ngaruh itu mah, Abang loe juga pasti belain gue. Iya kan Dim." Dimas hanya diam dengan wajah datar.
Yayak : "Beuuuh, kalian sudah dapat jawaban dari Dimas. Jadi hentikan." Ucapnya terkekeh yang membuat Firman dan Septian mencebik kesal.
MBA : "Baiklah untuk besok acara tetap berlanjut, hanya saja yang datang kesini hanyalah para pemuda dan warga yang memang berada disekitar Villa ini saja." Mereka yang mendengar itu mengangguk setuju.
"Sory kita baru datang, kita masih nunggu Adinda bersiap." Mereka yang ada disana menoleh kesumber suara.
Yayak : "Sayaaang, apa yang kau katakan barusan? Kenapa kalian menunggu Adinda?"
Shinta : "Karena ia sejak tadi berada di kamar untuk istirahat, lengannya tadi sedikit nyeri." Jelasnya.
PJ : "Yaa, jadi kami harus menunggu dia juga." Lanjut PJ yang dianggukki Angel.
Pastu : "Baiklah, kalian lanjutkan rapatnya. Saya dan Pak Septa akan kembali ke Villa." Pastu langsung beranjak dari sana diikuti oleh Septa Mauriya.
* * *
Indra : "Oke, langsung kita persiapkan segalanya karena jika besok pasti mendadak dan banyak yang belum siap.
Mereka langsung mempersiapkan segala keperluan untuk acara esok hari. Alat untuk memanggang serta keperluan lainnya. Untuk anggota yang tidak mendapat panggilan rapat, mereka sudah mendapat jadwal sendiri.
__ADS_1
Namun disaat mereka tengah menyiapkan peralatan, tiba-tiba. . .
"Aaww!" Sentak Adinda karena jemarinya tertusuk benda tajam yang entah apa.
Adit : "Din, loe baik-baik saja kan?" Adinda tersenyum mengangguk namun sedikit meringis.
Aruk : "Kakaaak? Kakak baik-baik saja, ada yang luka?"
Adinda : "I'm oke, dont worry dear." Ucapnya lembut.
MBA : "Dinda, jari kamu berdarah. Aku obatin dulu yah, kebetulan aku bawa kotak p3k." Ucapnya dengan wajah sedikit khawatir.
Adinda : "Eeh, eng.ggak usah Kak. Ini hanya luka kecil kok, nanti juga sembuh sendiri." Tolaknya dengan suara pelan.
Adit : "Loe diem deh Din, nanti kalau infeksi gimana? Yang ada Vania sama Amel ngomelin gue lagi apalagi bodyguard loe itu."
Arul : "Kaak, biar diobatin dulu sama Kak Akbar. Arul enggak pengen luka itu infeksi." Mohon Arul dengan tatapan penuh harap.
Dengan pasrah Adinda mengikuti permintaan sang adik, ia tidak ingin membuat Arul lebih khawatir lagi.
MBA : "Sebaiknya kamu istirahat lagi dek jika lenganmu masih sakit, disini juga ada Humas yang lain kok ditambah luka yang barusan. Apapun luka yang kamu dapat harus segera diobatin, meski hanya luka sekecil ini karena dampaknya juga besar, jangan membuat orang lain khawatir. Karena bukan hanya Arul saja yang khawatir tapi aku, dan sahabat kamu juga ikut khawatir." Ucap MBA lembut pada Adinda.
Deg! Ucapan MBA membuat anggota lain terkejut dan juga heran. Pasalnya saat ini ia khawatir dengan gadis SMU yang jelas baru dikenal karena masuk PPA. Siapa yang tahu jika MBA memiliki rasa dengan gadis itu? Jika Adit yang khawatir itu wajar karena mereka satu bidang dan bersahabat sedangkan MBA? Apa hubungan mereka? Banya pertanyaan yang mereka fikirkan, namun hanya diam melihat interaksi tak biasa itu.
Arul yang ada disana diam meski ada rasa khawatir, namun matanya juga memperhatikan sikap MBA yang juga ikut panik pada sang Kakak, sedangkan Dimas bisa dipastikan ia hanya memendamnya saja.
Yayak : "Dim, apa yang saat ini kau rasakan? Bukankah hal ini terasa perih dihati?" Gumamnya dalam hati.
Firman : "Oh God!! Apa yang harus gue lakuin sekarang? Kenapa Dimas hanya terdiam saja disana, masa iya gue harus melarang MBA sedangkan mereka enggak tahu hubungan gue sama Amara. Maaaaa, Rangga ingin segera pulang!!" Rengeknya namun hanya dalam hati.
Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, entah apa yang saat ini Dimas fikirkan. Karena ia sejak tadi tidak bersuara sedikitpun.
Indra : "Baiklah, kita lanjutkan semuanya. Setelah selesai kita bisa langsung istirahat." Mereka mengangguk. "Adinda, tolong kamu istirahat saja ada seseorang yang khawatir dengan kondisi kamu. Jangan dibantah karena saya tidak ingin hal itu?!" Ucapnya tegas ketika Adinda ingin bersuara.
Akhirnya gadis itu mengangguk pasrah, ia diantar ke Villa oleh MBA yang memang sejak tadi masih disampingnya, Arul hanya melihat hal itu saja meski ingin mengantar Adinda tapi ia urungkan karena rasa penasaran pada MBA.
Sedangkan Dimas? Ia diam namun juga memperhatikan semuanya. Dia begitu khawatir, tetapi apa yang harus ia lakukan? Bukankah tidak ada yang mengetahui hubungannya? Apa yang akan mereka katakan jika mereka melihat seorang Raja Es dekat dengan makhluk bernama wanita?
Selang beberapa waktu. . .
Dimas : "Maaf, saya permisi terlebih dahulu. Sebentar lagi akan petang." Andre mengangguk mengikuti Dimas yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Agista : "Apa dia tidak bisa berada disini sebentar, heh!"
Raka : "Hentikan suaramu itu Gista, dan diamlah. Bicaralah nanti setelah ini selesai." Agista langsung mencebik kesal.
MBA : "Dimana Dimas? Bukankah tadi masih ada disini?"
Andreas : "Dia sudah kembali bersama Andre, apa kau ada sesuatu?"
__ADS_1
MBA : "Benarkah? Aku tidak melihatnya. Tidak ada, aku hanya bertanya."
Amar : "Bagaimana loe bisa lihat, loe sejak tadi ada di Villa wanita. Mana mungkin melihat Dimas." Ilham terkekeh. "Apa kau sungguh menyukai gadis itu, hem?" Sambil menaikturunkan alisnya.
Ilham : "Apa itu benar Bay? Loe itu Pangeran Kedokteran, ternyata tergoda juga dengan gadis SMU itu. Hahaa."
Yayak : "Hentikan ucapan kalian, apa kalian tidak melihat disini masih ada Arul."
Septian : "Loe kenapa sirik sih Yak, noh Nini loe sendiri. Kesana adj deh loe." Usirnya.
"Terserahh!!" Jawab Yayak yang diikuti juga oleh Firman.
Amar : "Lah itu anak ngikut adj. Kenapa sih mereka berdua. Dasar aneh." Gerutunya.
Indra : "Hentikan. Kalian selalu seperti itu saat bersama." Tegur Indra. "Baiklah, Bay tolong cukupkan sampai disini. Hari sudah akan petang." MBA mengangguk setuju.
Mereka yang ada disana langsung berhambur membubarkan diri.
Tepat pukul delapan malam, mereka kembali berkumpul untuk makan malam. Karena bahan makanan yang telat datang, akhirnya malam ini mereka juga ikut telat makan. Menu hari ini adalah soup ayam, ada capcai, ayam rica, tumis kacang juga ada tumis jamur tiram. Mereka makan dengan sangat lahap, bahkan tak tersisa sedikitpun disana.
Drrttt... drrtttt....
Hp Dimas bergetar.
"Bisakah kita bicara sebentar? Please?" Isi pesan itu. Tanpa menjawab pesan, Dimas langsung beranjak dari sana dan menuju ke taman keluarga.
Sang pengirim pesanpun juga ikut beranjak dari sana, entah apa yang ingin ia bicarakan.
*Taman Keluarga
Dimas : "Apa yang ingin kau katakan? Katakanlah karena ini sudah semakin malam dek, tidak baik untuk kesehatanmu ditambah cuaca yang dingin juga kesehatanmu yang menurun." Ucapnya pada seseorang yang baru saja datang.
"Kak Dimas jangan berfikir hal lain dulu, a.aku bisa jelasin semuanya." Jawabnya dengan gugup.
Dimas menghela nafas...
Dimas : "Aku tidak ingin penjelasan apapun Adinda, karena aku sudah memiliki keputusan sendiri bahkan sebelum kejadian sore tadi, saya hanya sedang memastikannya saja." Ya orang itu tak lain adaah Adinda.
Adinda : "Ma.maksud Kak Dimas apa? Keputusan apa yang ingin Kakak ambil?"
Hening, Dimas masih dengan keterdiamannya. Wajah Adinda yang semula sudah sedikit pucat kini semakin pucat. Keduanya menghela nafas bersamaan.
Dimas : "Mungkin, akan lebih baik jika kita tidak bersama. Kita sudahi saja hubungan ini." Ucapnya dengan tegas.
DEG!! dada Adinda berdetak dengan cepat, ucapan Dimas seakan menghantam jantungnya hingga tak tersisa.
"Bukan maksudku untuk tidak memperjuangkan hubungan ini, seperti yang aku katakan sebelumnya perjuangan harus dilakukan bersama bukan hanya satu pihak. Ik hou van je Din, tetapi akan ada hati yang terluka jika kita tetap melanjutkan semuanya. Saya tidak ingin Arul marah ataupun kecewa padamu, mungkin MBA lebih baik dari saya. Saya diam, bukan berarti tidak peduli atau perhatian justru kediaman saya itu memperhatikan hubungan kalian kedepannya. Maka dari itu, inilah keputusan yang harus saya ambil untuk kamu juga Arul. Saya harap kamu mengerti semua ini, jadi mari kita sudahi saja." Ucapnya panjang lebar, namun matanya tidak menatap Adinda.
Lalu bagaimana reaksi Adinda?
__ADS_1