
Firman : "Jika ada anggota PPA yang bilang loe itu lembut juga kalem bakal gue laksban mereka." Adinda mengernyit. "Soalnya aslinya loe itu cerewet banget, didepan yang lain loe lembut tapi giliran sama gue loe persis kaya Vanya sama Mama." Adinda langsung mendelik mendengar hal itu, saat ingin melayangkan protes ia terdiam mendengar perkataan Firman. Sebuah ucapan yang membuat hidupnya mulai runtuh meski belum seluruhnya.
"Hari ini, dia akan pergi Mara."
Adinda yang mendengar itu langsung mengerti kemana tujuan mereka. Wajahnya yang tadi nampak cerewet kini berubah sendu.
"Gue enggak tahu gimana perasaan loe saat ini, karena gue sendiri juga bingung dengan hubungan kalian. Akan dibawa kemana? Tapi yang pasti gue akan dukung apapun yang buat loe senang, meski harus kembali dengan dia. Atau bahkan jika akhirnya nanti loe milih Akbar." Dinda menatap Firman tajam.
"Jangan menatap gue dengan mata tajam itu Mara, sekarang gue ajak loe nemuin dia. Semoga dengan ini hubungan kalian bisa lebih baik lagi nantinya. Satu hal yang harus loe pastiin, hati loe, hati Arse, juga persetujuan dari Arse." Adinda menunduk.
"Loe tahu Mara, Dimas itu bukan seseorang yang bisa dengan mudah dikalahkan oleh lawannya. Dia tidak akan menyerah ataupun berhenti sampai lawannya mundur dengan tangan terbuka terutama jika ada client mencoba berbuat curang, tapi ini masalah hati. Ini antara dia, loe, Arse juga Akbar. Satu hal yang bisa gue pastiin, dia akan menyerah dan mundur dari hubungan kalian berempat."
Tak terasa mereka sudah sampai diparkiran Bandara. Masih didalam mobil, Adinda melihat kearah depan pintu masuk Bandara.
"Kita sudah sampai, sekarang ayo turun jangan sampai kita ketinggalan." Firman turun terlebih dahulu, baru Adinda. Mereka masih terdiam terpaku disana, menghela nafas perlahan lalu melangkah masuk.
Flashback End. . .
Dimas : "Adinda..." Gumam Dimas dalam hati.
Shekar : "Siapa yang membawa dia kemari? Anda membawa gadis ini kemari Tuan Rangga?" Firman diam tidak menanggapi suara dingin dari lelaki disebelah Dimas.
Dimas : "Apa yang kalian lakukan disini? Firman, apa maksudnya?"
Shekar : "Ini yang kau sebut ada urusan? Makanya kau pulang cepat?"
Firman : "Sudahlah, kenapa kalian bersikap dingin seperti ini? Jangan bersikap formal, ini masih diluar Kantor."
__ADS_1
Mata elang Dimas kini beralih pada gadis didepannya, seorang gadis yang mengisi hatinya bahkan meski sudah berstatus mantan tetapi hatinya masih terpaut dengan gadis ini.
Dimas : "Pulanglah." Ucapnya, hal itu langsung membuat Dinda menatap Dimas. Firman langsung tersentak.
Firman : "Hai Tuan Shekar, lebih baik kita pergi sebentar. Biarkan mereka bicara berdua." Ucapnya setelah berada disamping Shekar. Keduanya meninggalkan dua sejoli itu.
Hening, tidak ada yang bersuara. Hanya suara bising yang berasal dari kumpulan orang yang akan melakukan perjalanan.
Dimas : "Duduklah, kita bisa bicara sebentar. Karena ini sudah mendekati waktunya." Ucapnya datar. Adinda langsung duduk disebelah Dimas.
Masih hening. Adinda mengatur laju nafasnya, mengatur matanya agar tidak menangis didepan lelaki yang ia cintai ini.
Adinda : "Apa, Kakak benar-benar akan pergi?" Dimas mengangguk tanpa melihat Adinda. "Beri Dinda waktu untuk membicarakan ini dengan Arul, beri Dinda kesempatan untuk membujuk Arul dan memperbaiki hubungan ini." Ucapnya melemah, mencoba membujuk Dimas untuk tetap bertahan. Meski sepertinya usahanya itu akan gagal.
Dimas : "Apa yang kamu katakan Dek? Jangan bahas hal yang sudah lalu. Lebih baik kamu lupakan hal kemarin, terutama tentang saya. Saya juga akan berusaha melakukannya." Adinda tersentak, bagaimana mungkin? "Jalanlah dengan masa depanmu nanti, aku tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan siapapun termasuk Akbar. Cobalah menjalin hubungan dengannya, karena sejatinya dialah yang sudah dipilih oleh Arul." Kini suara Dimas sudah tidak sedingin tadi.
"Buat saya, kebahagiaan saya itu adalah hal yang kesekian. Yang penting hati kamu maupun Arul nyaman, sekalipun saya harus keluar dari hidup kamu. Nikmati harimu saat ini Dek, jangan memikirkan sesuatu yang sudah berlalu seperti ini. Belajarlah untuk menerima Akbar, saya yakin dia lelaki yang baik juga bertanggung jawab karena selama ini saya tidak pernah melihat yang tidak baik dari dirinya."
"Jabatannya ketika menjadi ketua pelaksana dan menjaga kamu, itu sudah menjadi satu poin penting yang Arul nilai dari diri Akbar. Itu yang Arul butuhkan untuk kamu, demi kebaikkan kamu sebagai seorang adik pasti dia akan melakukan apapun."
Adinda : "Apa menurut Kakak segampang itu? Bagaimana mungkin aku menjalin hubungan dengan Kak Akbar, sedangkan hatiku masih terisi dengan Kakak?"
Dimas : "Maka lupakan saya, dan mulailah hidup yang baru dengan langkah dan orang baru." Jawabnya tetap tenang, meski sebenarnya berat untuk mengucapkan itu.
Adinda menatap Dimas tak percaya, bagaimana mungkin lelaki didepannya ini, lelaki yang begitu ia cintai memintanya untuk berhubungan dengan lelaki lain disaat dia sendiri masih begitu mencintainya? Apa dia itu tidak punya hati sedikitpun? Atau yang berada ditubuhnya itu bukan hati, melainkan batu?
"Bukan karena saya tidak memiliki rasa sayang, rasa saya, hati saya masih tetap sama Din. Masih diisi dengan orang yang sama, dan satu nama tidak berubah sedikitpun. Tetapi bagaimanapun juga kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Saya rasa kamu pasti paham dengan hal itu. Jadi tolong jangan menangis lagi karena saya."
__ADS_1
Ucapnya diakhir kalimat karena sudah mendengar isak tangis gadis disebelahnya. Dimas menatap Adinda penuh sayang, terasa sesak didadanya, seakan teriris perih ketika melihat wanita yang ia cintai menangis karena hubungan yang dilarang seperti ini.
"Please don't cry." Dimas mengusap wajah Dinda dengan sayang, menghapus air mata yang sudah telanjur memaksa keluar membasahu kedua mata indahnya. "Saya tidak bisa melihat kamu menangis seperti ini Din, jangan menangisi saya. Percayalah kamu akan bahagia meski tanpa saya nantinya."
Mendengar itu untuk kesekian kalinya, membuat Adinda semakin terisak. Sakit, itu yang ia rasakan. Sesak, sungguh sesak ketika ia mendengar kata itu dari orang yang ia cintai.
Apakah tidak ada kata lain selain itu? Kenapa untuk mencintai harus merasakan sakit seperti ini? Apa setiap orang yang jatuh cinta selalu merasakan sesak untuk mendapat kebahagiaan?
Adinda : "Ja.jangan katakan itu lagi. Hiks, hikss... Sakit, jangan katakan hal itu lagi Kak. Dinda mohon, jangan katakan itu." Tangisnya semakin terisak, ia meremas dadanya yang begitu terasa sesak dan susah untuk dihilangkan. Dimas langsung mendekap tubuh mungil gadisnya.
Yaa gadis yang berada didekapannya ini adalah gadisnya, karena gadis itu masih mengisi ruang hati Dimas sepenuhnya.
Dimas : "Hei, jangan menangis lagi. Saya tidak ingin kamu menangis seperti ini berjanjilah bahwa kamu akan bahagia, tidak menangis lagi." Masih dengan erat mendekap tubuh mungil itu mengecup puncak kepala Adinda, menyalurkan seluruh rasa rindu, sayang, cinta juga kehangatan.
"Aku mohon jangan menangis lagi, jangan seperti ini. Sungguh hatiku terasa sakit melihat kamu seperti ini." Ucapnya pelan. "Ya Allah kenapa sesakit ini melihat dia menangis" Gumamnya dalam hati.
Sementara itu, Firman yang duduk berdua dengan Shekar hanya melihat dua sejoli yang terpaksa berpisah dari kejauhan.
Shekar : "Apa kau ingin mereka berdua kembali bersatu?" Tanya Shekar masih menatap pasangan yang jauh dari hadapan.
Firman : "Gue ingin adik dan sahabat gue merasakan kebahagiaan. Rasa ingin menjaga melindungi masih mendominasi. Meski gue baru kenal loe tapi rasa untuk melindungi yang loe lakukan untuk Dimas itu sama dengan gue. Setelah Om dan Tante pergi, sifat dinginnya semakin menjadi hingga sekarang. Pada akhirnya ia mendapat obat itu tapi sekarang obat yang gue harap dapat merubah Dimas harus dipaksa untuk dilepeh dengan alasan yang menurut gue itu tidak mengenakkan."
Shekar : "Apa mungkin adik kamu itu akan setuju?" Firman menatap Shekar, lalu menghela nafas kasar.
Firman : "Haah, kalau soal itu malah belum gue fikirin. Gue kesini juga tidak menghiraukan dia hanya bilang pengen makan buryam sama Mara, bahkan gue enggak dengar dia jawab ap."
Shekar : "Mereka masih saling mencintai, apa kita tega memisahkan mereka hanya karena adik kamu yang masih kecewa?" Hening.
__ADS_1