Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 72


__ADS_3

Firman : "Apa kau tadi menemani Arse tidur, Mara?" Kini Firman yang bersuara. Adinda hanya mengangguk pertanda iya. "Oh Tuhan, apa dia seorang bayi yang harus ditemani tidur?" Kata itu terlontar dari mulutnya yang membuat Tuan dan Nyonya Wijaya terkekeh.


Kali ini mereka yang menonton drama dari keluarga mereka sendiri. Meski berbeda Marga namun kedua anak itu tetaplah memiliki ikatan darah yang kuat.


Adinda : "Yaa Kakak benar, Arul adalah bayi belum besar dari keluarga Setiawan." Jawabnya dengan sedikit menyombongkan Marga dari keluarganya.


Firman : "Heiiiii! Kau mulai menyombongkan kleuargamu itu? Sejak kapan kau mulai berani seperti ini, hem? Sedangkan di PPA kau terlihat begitu lembut pada siapapun tetapi saat ini kau berbeda." Jawabnya kesal, sedangkan kedua orangtua yang masih disana hanya menahan tawa karena sikap berani Adinda.


Adinda : "Sejak saat ini, ketika Kakak menyebut adikku sebagai bayi. Kata Kakak kita kan saudara, dan Mara ini adik Kakak juga jadi memang seharusnya sikap Kakak ber-adik harus selalu akur, ketika di PPA Mara akan lembut tapi ketika bersama seperti sekarang Mara akan berfikir dulu karena Kakak yang memulainya." Ucapnya tak ingin kalah sambil mengerlingkan kedua mata indahnya.


Firman : "Oh Tuhan, dirumah ini sudah ada dua wanita yang menindasku, jika harus bertambah lagi dengan wanita seperti dia, Sungguh! Aku tidak sanggup, saat ini saja dia sudah membuatku kesal." Adinda langsung terkekeh mendengar hal itu. "Hei jangan sekali-kali kau tertawa seperti itu, jika kamu seperti itu aku akan membuat seseorang disana pulang saat ini juga karena melihat kita berdua." Ancamnya, Adinda yang mengerti hal itu langsung menatapnya tajam.


Kemudian ia melanjutkan langkahnya kekamar yang ditempati sang adik, tanpa menjawab ancaman dari Kakak sepupunya itu karena ia tahu hal ini akan berlangsung lama. Sedangkan Firman langsung tertawa puas melihat wajah Adinda, setidaknya dia bisa menang menghadapi sang adik dan mengobati keterpurukannya dari sang Papa.


Rahmad : "Seseorang siapa maksud kamu Rangga?" Tanya Tuan Rahmad ketika melihat Adinda sudah tak terlihat, tak lupa dengan nadanya yang penuh menyelidik.


DEG. Firman seakan lupa dengan dua makhluk paruh baya yang berbeda usia itu.


Randa : "Apa Amara memiliki seorang kekasih nak?" Kini Mama Randa yang bertanya.


Firman : "Wahai Firman Rangga Wijaya, kenapa loe bisa lupa disini masih ada dua Singa yang siap menerkam kapan saja." Umpatnya sambil menekan dahinya. Kemudian ia menatap Tuan dan Nyonya Wijaya dengan seuntas cengiran yang mencurigakan, seketika dia langsung. . .


Wussssss. . . .!!! Yaa dia langsung mengambil langkah seribu, karena dalam hal ini ia sangat yakin kedua orangtuanya pasti akan mengeluarkan senjata ampuh untuk mendapat informasi darinya, terutama soal bulanan😆😆

__ADS_1


Randa : "Ranggaaaaaaaaa!!" Teriak Mama Randa pada sang anak yang sudah kabur. "Mas, kamu harus menyelidiki hal ini. Mama akan membuat Rangga mengaku dan mencari informasi dari Amara." Ucapnya dengan senyum misteri. "Aku tidak ingin Amara dipermainkan seperti sebelumnya." Lanjutnya lagi.


Rahmad : "Maksud kamu sebelumnya apa Ma?" Tanya Tuan Rahmad.


Randa : "Yaa seperti 5 tahun lalu karena perceraian Linda dan Rey." Jawabnya sambil mengingat suara tangis dan airmata dari kedua anak tak berdosa yang saat ini hidup bersama mereka.


Rahmad : "Hecmm baiklah. Sekarang sudah malam bagaimana jika kita tidur? Papa kangen dengan pijitan Mama." Ucapnya dengan puppyeyes dan suara manjanya. Sedangkan Mama Randa hanya tersenyum malu namun juga mengangguk.


Akhirnya keluarga itu istirahat, karena malam sudah semakin larut.


* * *


Nampak dua orang dewasa berbeda usia sedang merenung dikamar mereka masing-masih. Keduanya tak lain adalah Reyhan dan Melinda, mereka fokus dengan pikiran mereka sendiri tanpa sadar bahwa malam sudah semakin menggelap.


Reyhan memutuskan untuk keluar dari kamar, ia melangkah menuju teras rumah dan duduk disana dengan memandangi pelataran rumah yang sudah sangat lama ia tinggal setelah perceraiannya. Tempat favorit sang Putri ketika ia sedang merajuk sewaktu kecil adalah teras rumah, karena ia bisa melihat betapa luasnya rumah ini.


Kejadian dimana mereka selalu bertengkar memenuhi memori Reyhan, dimana pertengkaran itu pasti didengar oleh Adinda maupun Arul. Perpisahan yang menyakitkan dan hasil dari semua itu membuat anaknya trauma hingga sekarang. Tiba-tiba lamunannya itu terhenti karena ucapan Arya. . .


Arya : "Apa Mas sedang memikirkan mereka berdua?" Reyhan tersentak namun akhirnya juga mengangguk. "Apa yang Mas fikirkan?"


Reyhan : "Apa mereka sedikit trauma dengan kami?" Pertanyaan itu membuat Arya terkejut, pasalnya ia tidak pernah berfikir sejauh itu. "Aku merasa mereka berubah, dulu Arse begitu dekat denganku dan juga manja bahkan selalu menempel bak bocah yang tidak ingin jauh dari super heronya, Amara dia dulu gadis yang manis, bertutur kata sopan juga lembut bahkan jika terbentak sedikit saja ia akan menangis dan mengurung diri di kamar karena perasaannya yang lembut. Tapi sekarang semua berubah, mereka sudah jauh sangat jauh. Arse sekarang keras juga dingin dia mewarisi sifat keras Linda dan dingin sepertiku lalu Amara dia sekarang juga memiliki semua sifat kami bahkan lebih condong dengan sifat Kakeknya Kemal Setiawan, sungguh berbeda jauh dari yang dulu meski kelembutan hatinya masih ada namun tatapan matanya yang tajam membuat auranya berbeda." Jelasnya dengan mengingat sifat kedua anaknya.


Arya : "Apa yang Mas coba fahami dari mereka yang sekarang?" Pertanyaan Arya membuat Reyhan menatapnya. "Seperti yang sudah ku katakan sifat dan sikap mereka akan terbentuk dengan berjalannya waktu, semua itu akan tumbuh dari peristiwa yang mereka alami termasuk dengan perceraian kalian. Untuk pertama kalinya aku melihat mereka menangis, mendengar Arse yang selalu bertanya apakah kalian menghubungi meski hanya 1 menit, melihat dia yang merasa putus asa dengan sikap kalian sedangkan Adinda selalu berusaha membuat adiknya mengerti untuk tidak membenci kalian. Ya saat itulah aku sangat marah aku ingin sekali memaki kalian karena kalian terlalu sibuk dengan kehidupan kalian sendiri." Ucapnnya terhenti.

__ADS_1


Reyhan : "Tapi semua itu juga untuk mereka Arya, kami bekerja untuk masa depan mereka." Arya yang mendengar itu semakin muak hingga membuatnya tak bisa menahan emosi.


Arya : "Yang mereka butuhkan itu perhatian kalian, kasih sayang kalian. Apa sebegitu susahnya kalian untuk membagi waktu?!" Ucapnya dengan nada tinggi, bahkan seseorang yang berada dibalik pintu tersentak. "Apa gunanya banya harta tapi hasilnya anak kalian yang sekarang jadi korbannya? Sudah berapa lama kalian tidak pulang kesini? Janji-janji apa yang kalian ucapkan pada anak muda yang berbeda usia itu? Janji akan membawa mainan banyak? Membelikan mobil, motor, rumah? Semua itu tidak berguna jika kalian sendiri tidak memberikan kasih sayang mereka. Apa kalian sadar, mereka sangat tertekan dengan semua ini. Apa kalian juga pernah bertanya bagaimana perasaan mereka? Tidak bukan, bagaimana kalian akan bertanya tentang perasaan mereka, kaliam sendiri tidak bertanya pendapat mereka selama ini. Apa kemauan mereka kalian tidak tidak tahu sedikitpun." Reyhan tertegun dengan semua perkataan adiknya itu. "Aku sakit Mas melihat airmata mereka yang harus jatuh sia-sia karena keegoisan kalian berdua. Siapapun yang melihat mereka pasti ikut merasakan sakit."


Tak sadar ternyata orang dibalik itu meneteskan airmatanya, suaranya seakan tercekat tak berbunyi. Melinda semakin merasa bersalah dengan sikapnya selama ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Salam hangat dari Author untuk kakak semuanya.


__ADS_2