
Indra : "Sekali lagi, yang memutuskan ini adalah ketua. Jadi MBA yang berhak karena dialah ketua pelaksana dikegiatan kita sekarang ini. Kalian tidak perlu berdebat, jika memang ada yang tidak setuju mari kita bicarakan bersama dan cari solusi terbaik untuk semuanya." Agista dan Angek langsung diam mendengar suara serius dari Indra. "Satu hal lagi, jangan bangunkan singa yang saat ini sedang tidur jika kalian tidak ingin mendapat amukannya."
Yayak yang mengerti itu langsung menahan Angel yang ingin kembali membuka suara. Sedangkan yang ditahan langsung mengerucutkan bibirnya.
Yayak : "Hei jangan seperti itu bibirnya, ini masih ditempat umum jadi jangan menggodaku sayang." Ucapnya tak tahu malu.
BUAK!! Sebuah benda melayang mengenai kepala Yayak. Yayak langsung mencari siapa tersangka yang melakukannya.
Kini matanya tertuju pada tiga lelaki muda yang sialnya memang masih muda, trio kembar jumpling. Yayak menatap mereka dengan tajam, yang ditatap hanya bersikap acuh seolah tidak melihat.
Indra : "Sudah kalian ini selalu saja bermain-main. Jangan bercanda donk kalian, kita masih dilingkup kegiatan malam untuk rencana esok. Jadi stop jangan banyak bertingkah." Perintahnya dengan tegas yang langsung membuat keempatnya terdiam menunduk.
MBA : "Baiklah kita lanjutkan lagi rencana pembagian jadwalnya. Bagaimana jika jadwal kita serempak dilakukan secara bersamaan? Atau bisa juga diadakan shif pada setiap acaranya? Jadi bidang keamanan bisa lebih efektif lagi dalam bertugas." Tanyanya meminta saran pada setiap anggota.
Arul : "Maaf Kak bukannya tidak setuju, tapi jika harus diadakan pergantian itu akan memakan tenaga yang berlebihan. Karena bidang keamanan juga tetap harus bertugas dimalam hari meski tidak full 24 jam." Alvin dan Nauval mengangguk setuju karena mereka memang berada dibidang itu.
Yayak sebagai ketua dalam bidang itu masih diam. Dia ingin melihat anggotanya itu mengeluarkan segala uneg-uneg atau saran bahkan juga solusi.
Nauval : "Benar Bang, tenaga kami akan terforsir kesana." Ucapnya menambahi.
Alvin : "Bagaimana jika kita tetap adakan acaranya serentak Bang?"
Yang lain ikut diam sedangkan MBA dan Indra masih memikirkan ucapa dua pemuda dihadapannya itu.
Arul : "Maksud kami bertiga, jika diadakan secara serentak itu akan meminimalisir waktu. Lagipula dalam bidang kesehatan hanya hari itu saja, untuk seterusnya bidang lain yang ada kegiatan. Jadi anggota yang lain juga bisa membantu hari berikutnya dan bisa juga dibuat perputaran anggota, karena setiap anggota bisa saja bosan jika hanya bergerak ditempat." Jelasnya dengan panjang lebar.
Banyak yang setuju dengan usulan Arul tapi tak sedikit pula yang kurang setuju dengan alasan itu akan semakin menguras tenaga setiap anggota karena tugas mereka akan menjadi dua kali lipat dari biasanya.
Andreas : "Jadi bagaimana? Kita ambil jalan tengahnya saja, jangan banyak berdebat yang tidak ada ujungnya."
Raka : "Ambil jalan tengah yang memang menurut kita itu baik untuk acara nanti."
__ADS_1
Andre : "Ini sudah malam, apa kalian masih tetap ingin disini?" Tanyanya datar.
Andre yang memang sudah selesai bersih-bersih langsung ikut bergabung. Meski wajahnya terlihat datar dan tubuhnya terasa lelah tapi ia tetap datang dan mendengarkan.
MBA : "Iya, sebentar lagi sudah akan selesai. Tinggal persetujuan dari yang lain untuk hasil kegitan kita esok hari."
Indra : "Kita memang harus ambil jalan tengah sebagai solusi jadwal kita. Bagaimana jika kita tetap melaksanakan tugas dalam setiap bidang, tetapi untuk pihak keamanan kita bisa merekrut warga sekitar atau para pemuda yang memang sudah menjadi andalan disini."
MBA : "Jadi bagaimana? Apa kalian setuju Dengan begitu kita masih bisa meminimalisir tenaga, energi kita juga tidak begitu terkuras dalam satu hari itu saja."
Geraldi : "Kalau kami setuju saja Bang, karena dilain sisi kita terbantu disisi lain kita juga bisa semakin dekat dengan pemuda bahkan kita juga bisa bekerja sama dalam setiap kegiatan. Secara tidak langsung kita merekrut mereka menjadi bagian dari kita."
Adit : "Yaa dengan begitu kita juga memiliki teman baru, tidak hanya sekedar kenal tapi juga mendapat ilmu baru. Karena kita mendapat ilmu tidak hanya dari Sekolah tapi juga dari lingkungan kita berada."
Amel : "Ya sekalian bisa cuci mata yah. Oke kalau itu semangat gue mah." Jawabnya dengan antusias.
Indra : "Jadi bagaimana?" Tanya Indra sekali lagi yang belum mendapat jawaban.
Arya : "Kami dari bidang humas setuju dengan usulan itu. Yang penting tidak memberatkan untuk setiap pihak yang masuk dalam kegiatan."
"Kami setuju!" Jawab perwakilan dari setiap bidang termasuk Bidang lainnya.
MBA : "Untuk konsumsi, bagaimana? Apakah ada usulan tentang makanan atau camilan yang harus disiapkan untuk esok?"
Hening . . .
Septian : "Apa Firman belum datang?" Septian menatap Andre. "Ndre, dimana Firman?"
Andre : "Masih di Villa, mungkin sebentar lagi juga tiba." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun karena sejak hadir ia fokus dengan ponsel miliknya itu.
Ilham : "Hecmm baiklah kita tunggu saja. Untuk sementara kita bisa membahas yang lain terlebih dahulu."
__ADS_1
Raka : "Untuk perlengkapan kami bisa siapkan paling lambat jam 8 pagi, karena sebagian perlengkapan yang lain sudah kami siapkan sore tadi selepas istirahat. Tetapi hanya perlengkapan yang umum digunakan saja, karena untuk perlengkapan pribadi ada pada setiap bidang itu sendiri." Mereka mengangguk.
MBA : "Untuk bidang kesehatan, meski saya dalam kegiatan ini berada diposisi ketua pelaksana, tetapi saya harap kalian bisa saling menjaga terutama menjaga kesehatan diri kalian sendiri." Ucapnya sambil menatap pada para anggota yang masuk dalam bidangnya.
Rapat itu masih berlanjut hingga Firman datang dan memberikan saran untuk konsumsu. Saat ini sudah pukul 10 malam, setelah selesai berdiskusi dan menyetujui jadwal esok akhirnya mereka membubarkan diri. Karena sudah cukup untuk diskusinya, diskusi akan dilanjutkan kembali sebelum dan sesudah kegiatan dilaksanakan.
Adinda : "Mel, Van, aku keluar sebentar yaa. Ingin menikmati angin malam, mumpung ada di Puncak."
Vania : "Baiklah, gue sama Amel ikut loe deh. Kita berdua tadi sudah janjian bakal ajakin loe lihat suasana malam."
Amel : "Iyaa, mumpung kita ada di Puncak. Kapan lagi kita bisa menikmati hari ini jika bukan sekarang?"
Adinda : "Uuuh sweet banget sih sahabat aku. Baiklah ayo kita keluar, sebelum tambah malam lagi." Amel dan Vania mengangguk dengan semangat.
Ketiga gadis SMU itu langsung keluar. Seperti yang mereka katakan, mereka ingin menikmati udara dan langit malam di Puncak. Karena sangat jarang mereka bisa bertiga dikegiatan seperti ini.
Disaat mereka sedang duduk di taman, tampak sepasang mata mengamati kegiatan mereka dari kejauhan. Entah apa yang ia lihat, namun satu hal yang pasti mata elang itu saat ini tengah memandang wajah gadis pujaan hatinya yang sudah ia rindukan sejak beberapa hari yang lalu.
Mata itu tengah memandang wajah ayu gadis cerobohnya yang saat ini tengah duduk, namun ia terjatuh karena ia sudah mendaratkan tubuhnya sebelum pada tempatnya.
"Dasar gadis ceroboh." Gumamnya pelan dengan senyumnya yang mengembang.
Lelaki itu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dia mengetikkan sesuatu disana lalu mengirim pesan itu. Tak lama wajah gadis itu berubah setelah melihat layar ponselnya, matanya mencari ke setiap sudut dengan harapan dapat melihat orang yang telah mengirim pesan itu.
Ponselnya berbunyi kembali. Gadis kecil itu kembali mencari sosok yang ia cari, dan hasilnya tetap sama. Nihil.
Entah pesan apa yang ia kirim untuk sang pujaan, karena setelah membaca pesan untuk yang ketiga kalinya, ketiga gadis itu langsung beranjak dari taman dan memasuki Villa khusus perempuan.
TINK!!! Sebuah pesan masuk.
Lelaki itu melihat layar ponselnya.
__ADS_1
"Apa Kakak masih mengawasiku? Yaa saat ini aku, Amel dan Vania sudah masuk ke Villa. Kami akan segera istirahat."
Bukannya menjawab, tetapi ia malah tersenyum membaca pesan itu. Seakan ia tahu jika gadis cerobohnya saat ini tengah kesal karena mendapat larangan untuk berada di taman terlalu lama karena hal itu tidak baik untuk kesehatan.