Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 142 Apa yang Kau Inginkan, Andre?


__ADS_3

dr. Reina : "Gadis itu mengalami Syok hypovolemik." Kedua lelaki beda usia yang mendengar itu langsung tersentak.


"Kalian pasti tahu syok hypovolemik itu apa. Syok hypovolemik adalah kondisi gawat darurat yang disebabkan oleh hilangnya darah atau cairan tubuh dalam jumlah yang besar, hal itu mengakibatkan jantungnya tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Hal ini berbahaya untuknya Mas. Syok hypovolemik harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan organ dan jaringan."


Firman : "Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Amara, Tante?"


dr. Reina : "Aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya meski harus dilakukan operasi agar tidak ada pembekuan darah. Kalian tetaplah berdo'a agar semua ini berjalan lancar."


Flashback End...


.


Yayak : "Lalu, bagaimana keadaan Adinda sekarang? Apakah operasinya berjalan baik?" Firman mengangguk lemah dan Mereka bernafas lega.


Firman : "Jika sampai terjadi sesuatu dengan Amara, gue enggak akan maafin Dimas."


Amar : "Terus loe bakal samperin dia kemana? ke liang lahat?" Ucapnya terkekeh sendu.


Indra : "Saat ini disana sudah pukul 13:25 siang, coba kamu hubungi Septian." Pintanya pada Amar dan Ilham.


Ilham : "Biar gue aja yang hubungi Septian." Jawabnya serius.


Triiiiiing...


Triiiiiiiing...


Tririiiiiiiing...


"Halo..." Terdengar suara parau diseberang sana. Orang itu langsung berdehem untuk menetralkan suaranya.


Ilham langsung mengeraskan suara ponsel miliknya agar para sahabat bisa mendengarkan.


Ilham : "Are you oke, Septian?" Tanya Ilham dengan hati-hati.


Hening, meski masih terhubung tapi tidak ada jawaban ataupun suara dari seberang sana.


"Ham..." Ilham berdehem sebagai jawaban. " Ini saya, bukan Septian." Jawab orang tersebut.


Yayak : "Shekar?" Ucapnya.


Shekar : "Ternyata kalian sedang berkumpul? Yaa ini saya, saat ini Septian masih tidak ingin menerima panggilan dari siapapun." Jawabnya.


Angel : "A.apa benar jika lelaki itu pergi?" Tanya Angel dengan terbata-bata.


Shekar : "Meskipun saya menolak untuk menerima, tapi memang itulah kondisinya saat ini. Berdoa saja semoga ada keajaiban."


Indra : "Bagaimana keadaan Bang Pastu dan Opa saat ini? Septian dan, Andre?"


Amar : "Yaa, bagaimana keadaan Septian sekarang? Apa dia langsung drop seperti Adiknya Firman?"


Firman : "Jangan bawa-bawa nama Adik gue Amar." Ucapnya penuh penekanan.


Shekar : "Maksud kalian siapa? Apa gadis itu baik-baik saja? Oh dan yaa, apa bocah itu sekarang merasa senang karena Dimas benar-benar sudah pergi dari hidup Kakaknya?"


Firman : "Amara baik, tapi dia baru saja melakukan operasi. Dia harus dirawat setelah drop karena mendengar berita itu." Shekar terkekeh sebagai jawaban. "Apa yang kau tertawakan Shekar?!"


Shekar : "Nothing. But, I feel like it's only temporary and won't be long. Karena memang Adiknya yang tidak merestui ini." Firman terdiam, mencerna setiap perkataan Shekar.


"Pastu dan Opa, mereka fine, mereka baik-baik saja meski merasa sedih. Saat ini kami sedang menunggu kedatangan Oma, sejak mendengar kabar ini Oma langsung memutuskan untuk terbang ke Korea Selatan. Itulah kenapa kedua lelaki itu ingin baik-baik saja, demi Oma. Septian baik, meski masih terguncang dan tidak terima tapi kami masih bisa membuatnya sedikit tenang." Shekar menghela nafas kasar.


"Untuk Andre.... dia masih saja diam sejak berita itu ia dengar, bahkan hingga sekarang. I don't know about him Bro. What do you know? he's the one I'm worried about. Kalian pasti tahu bagaimana Andre dan Dimas meski mereka sama-sama dingin."


Indra : "Yaa, itu yang saat ini kami fikirkan. Kepergian Dimas akan menjadi pukulan berat untuk dirinya sendiri."

__ADS_1


"Shekaaaaaaarrrr!!!" Terdengar suara teriakan diseberang sana.


Shekar : "Jangan berteriak seperti itu Septian! Apa yang kau inginkan? " Jawabnya dingin


Septian : "Kenapa handphone ku ada padamu?! Siapa yang menelponku?" Septian langsung melihat ponselnya. "Kau menghubungi mereka? Untuk apa?! Jangan bilang mereka semua sudah mendengar kabar itu?" Shekar hanya diam, dan diamnya itu sebagai jawaban iya.


"Jangan katakan apapun! Sampai kapanpun gue enggak akan menerima semua itu. Jangan berbicara yang tidak masuk akal lagi!"


Mereka yang mendengarkan hanya diam saja. Pertengkaran itu pasti selalu terjadi antara keduanya, namun mereka tidak menyangka jika Septian akan bersikap berlebihan seperti itu.


Yayak : "Berhentilah bersikap seperti itu Septian, apa kau ingin membuat Dimas sedih dengan tingkahmu?" Sambung Yayak.


Septian : "Apa yang kau tahu soal ini Yayak?! Jangan menasehatiku dengan perkataanmu itu, gue yakin bahwa sebenarnya loe juga satu pemikiran dengan gue. Sama-sama tidak percaya jika Dimas sudah meninggal!


Skakmat!!!


Yayak yang mendengar penuturan Septian hanya diam. Dia tidak menyanggah atau menolak perkataan si Bontot itu.


Hal ini membuat Septian terkekeh geli dengan sikap sahabatnya itu.


"*Kenapa loe diam saja? Kenapa kalian hanya diam?! Yang gue bilang itu benar, bukan? Gue kasih tahu sekali lagi, Dimas never die!"


Prang*!!!!!!


Terdengar suara pecahan kaca disana, Shekar dan Septian langsung saling pandang.


"Andre!" Gumam mereka pelan.


Amar : "Ada apa disana? Apa ada sesuatu yang terjadi, kenapa kalian hanya diam?!"


Indra : "Shekar, Septian? Halo, kalian masih disana? Apa yang terjadi?"


.


.


Disaat para sahabat mereka di Indonesia sedang gelisah menanti jawaban mereka.


Berbeda dengan Shekar dan Septian, keduanya yang mendengar suara itu langsung melempar ponsel milik Septian ke sofa dan langsung menaiki tangga menuju kamar Andre.


"Andre?!!" Panggil keduanya tepat didepan pintu kamar Andre.


Dok... Dok... Dok...


Septian memukul pintu itu dengan keras.


Septian : "Ndre! Buka pintunya, loe jangan macam-macam ya didalam. Enggak lucu jika loe bunuh diri disini. Bayangkan jika Apartemen ini berhantu jika loe nekat."


Buak!! Sebuah tangan mendarat di kepala Septian.


"Ada apa sih loe?!" Sungut Septian ketika mendapati kepalanya dipukul oleh Shekar.


Shekar : "Jaga ucapanmu itu Septian. Apa kau ingin kehilangan seorang Kakak lagi?" Tanya Shekar dengan sarkas.


Disaat mereka sedang berdebat dengan hal ini, Pastu yang tadi ikut mendengar pecahan kaca baru sampai dilantai dua.


Pastu : "Apa yang kalian lakukan disini? Apa yang kakian debatkan?" Shekar dan Septian hanya diam tidak menjawab.


Septian : "Om baru pulang? Dimana Oma?"


Pastu : "Apa yang terjadi di dalam? Apa Andre baik-baik saja?"


Shekar : "Kami belum berhasil membujuknya untuk keluar. Bahkan tidak jawaban sama sekali." Pastu memijit keningnya pelan.

__ADS_1


Lelaki dewasa yang masih lajang itu melangkah kedepan pintu, mendekati kamar Andre.


Pastu : "Andre? Buka pintunya, biarkan kami masuk. Ada Oma dibawah, apa kau tidak merindukan Oma, hem? Jangan membuat saudaramu khawatir seperti ini."


Pastu menggenggam gagang pintu itu, sekali putar ke bawah.


Ceklek! Terbuka, Septian dan Shekar diam tak percaya jika pintu itu tidak terkunci.


Mereka hanya menghela nafas kasar jika ingat tingkah bod*h yang baru saja mereka lakukan.


Perlahan Pastu melangkah masuk, Septian dan Shekar tidak diperbolehkan masuk oleh Pastu, hal itu membuat Septian kesal pasalnya ia juga khawatir dengan keadaan si Abang kedua.


Pastu melihat sekeliling kamar itu, ia tidak melihat keberadaan Andre. Bahkan di ranjang pun ia juga tidak melihat. Langkahnya menuju kamar mandi, tidak ada orang yang ia cari, walk in closed juga tidak ada.


Hanya pecahan kaca yang berserakan disana, dan bercak darah yang masih tertempel diujung pecahan kaca itu.


Kemudian matanya menatap pintu balkon yang tirainya melambai disapu angin. Angin masuk melalui pintu itu, yaa pintu itu terbuka.


Pastu : "Apa yang sedang kau lakukan, Andre?" Andre menoleh pada lelaki itu. "Tanganmu berdarah, kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini? Jangan lakukan hal bod*h Andre." Perintahnya tegas.


Andre hanya menanggapi itu dengan tersenyum tipis namun tetap berwajah datar dan kembali menatap laptopnya. Matanya fokus hanya pada layar itu saja.


Sesekali Andre menghela nafas kasar, dan kembali berkutat dengan benda itu.


Andre : "Om, boleh saya meminta satu hal?" Andre mendongak menatap Pastu. Pastu mengangguk.


Pastu : "Apa yang kau inginkan, Andre?" Andre menghirup udara sabanyak mungkin seakan udara disana akan habis.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah bisa kembali lagi.😄


Maafkeun saya yang tidak pernah update hampir dua minggu ini😔😔


Dikarenakan kondisi tubuh yang kurang fit, dan keadaan enthor yang tidak memungkinkan hingga membuat kakak-kakak bosen.


Sekali lagi maafkeun enthor yah kak..😔

__ADS_1


__ADS_2