Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 132 Apa Dia Bisa?


__ADS_3

Adinda : "Kami selalu menghabiskan waktu kami disini, meski taman ini ramai tapi untuk sudut ini Teh Nana tidak memperbolehkan orang lain menempatinya tapi para pekerja tetap menjaga tempat ini. Kak Dimas yang meminta langsung pada Pemilik untuk memberikan hak itu, katanya agar tempat ini steril dari orang lain." Ucapnya sambil terkekeh mengingat hal itu.


"Sejak saat itu, beberapa bulan lalu tempat ini tidak pernah digunakan oleh pengunjung lain. Buku-buku yang ada disudut ini juga semua buku yang aku suka, dia yang menyiapkan alasannya agar aku tidak terlalu jauh untuk mencari buku atau mengambilnya." Kekehnya lagi. Kemudian ia terdiam, mengingat hal apapun yang biasa ia lakukan bersama.


Firman yang mendengar cerita sang adik hanya termangu, ia diam tidak ingin menyela karena ia yakin adiknya ini butuh pelepasan setelah melepas kepergian Dimas.


"Dia juga bilang ingin membuat sedikit perubahan disudut ini, seperti menambah ayunan didekat pohon itu. Dia pernah bilang kalau ia tidak suka jika menambah pondok, alasannya karena jika ada pondok kecil disini ia tidak bisa melihat taman ini dengan leluasa. Dia juga tidak bisa melihat wajahku karena tertutup atap, jika tidak ada pondok maka dia bisa melihat wajahku lebih terang. Lucu bukan? Dia yang terkenal begitu dingin berubah hangat, bahkan dia berbicara selembut itu dengan wanita." Adinda menghela nafas.


"Kami selalu menghabiskan waktu disini, tidak sering hanya jika dia tidak sibuk saja dan aku pulang cepat. Ketika kami disini, Kak Andre dan Pak Anwar menunggu ditempat lain atau malah mereka masih berada di Kantor." Tanpa terasa ia menangis, air matanya tidak bisa ia tahan.


"Aa.aku pasti sudah membuat dia kecewa karena selama ini ia hanya berjuang sendiri, dia memikul semuanya sendiri. Karena rasa takutku untuk jujur pada Arul, aku mengorbankan perasaannya hingga akhirnya dia menyerah dan memutuskan untuk pergi dariku. Lelaki itu dengan seenaknya mengambil keputusan sendiri tanpa bertanya padaku, ia beralasan semua untuk Arul lalu bagaimana denganku? Apa dia tidak memikirkan perasaanku juga?" Dinda semakin terisak.


"Aku sudah terlalu menyakiti hatinya, apa aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami ini? Aku akui disini dia yang paling tersakiti, tapi a.apa yang harus aku lakukan untuk semuanya. Hikss." Ucapnya terisak.


Beruntung disana belum ramai, jika tidak maka banyak yang akan berfikir Firman telah tega membiarkan gadisnya menangis tanpa berniat menenangkannya.


Firman : "Jika dia meminta pendapatmu untuk masalah ini, apa yang akan kamu lakukan?" Kini Firman bersuara setelah sejak tadi hanya diam. "Apa kau akan berkata jujur pada Arse, dan sedikit demi sedikit mendekatkan adikmu pada Dimas? Atau malah kamu langsung memaksa Arse untuk menerima lelaki super dingin itu?" Adinda tak bergeming.


"Apa yang akan Dimas lakukan pasti sudah ia fikirkan Mara termasuk bagaimana kedepannya. Kebahagiaanmu adalah Arse, sedangkan Arse ingin kamu dengan MBA. Apakah Dimas tega merebut keinginan bocah kecil yang statusnya lebih berhak karena Arul seorang adik daripada dia yang merupakan orang baru dikehidupan kalian?" Firman menghela nafasnya.


"Tidak Mara, dia bukan lelaki seperti itu yang dengan teganya merebut kebahagian orang yang ia kasihi. Meski Arse bukan adik kandungnya dan hanya adik kamu, tapi percayalah bahwa Dimas sudah menganggap bocah sok tahu itu sebagai adiknya sendiri."

__ADS_1


"Siapa yang tidak akan menuruti bocah lelaki seperti itu, jika sebelumnya memang mereka pernah saling berbicara dan bertukar pendapat? Dia pasti menurutinya, termasuk Dimas sekalipun. Apa kamu tahu? Arse sempat mengajak Dimas maupun gue ngobrol, dan obrolan itu tidak jauh dari loe. Loe dan Akbar, memang kami bicara terpisah tapi bisa dipastikan Arse membicarakan Akbar didepan Dimas. Dimas bukan lelaki tega yang membiarkan adiknya bimbang seperti itu, meskipun dia lelaki dingin tapi hatinya lembut."


Adinda : "A.apa maksud Kakak? Arul berbicara tentang Kak Akbar?" Firman mengangguk.


Firman : "Ya, gue enggak tahu pasti apa saja yang Dimas dan Arse bicarakan tapi yang bisa gue pastiin adalah tentang Akbar, karena hanya hal itu yang akan jadi alasan utama Dimas mengambil keputusan ini."


"Apa kamu pernah bertanya padanya ketika dia sedikit berubah? Itupun jika memang dia ada perubahan. Dimas bukanlah lelaki yang dingin dan egois Mara, seperti yang gue bilang dia memiliki hati yang lembut tapi dia juga memiliki sisi kejamnya seperti manusia berdarah dingin. Namun hal itu berlaku untuk para cleint dan pesaingnya saja."


"Apa kau tahu ketika dia datang ke Perusahaan apa yang akan dia kenakan untuk wajahnya?" Firman terkekeh. "Dia akan memakai kacamata hitam juga masker, makanya banyak karyawan yang belum tahu wajah CEO mereka tapi tidak semua karena ada juga beberapa dari mereka yang tahu dan itu hanya orang kepercayaan Perusahaan saja. Hal itu ia lakukan untuk melindungi warisan orangtuanya."


Adinda : "Lalu apa hubungannya dengan aku? Kenapa Kakak menjelaskan hal itu?"


Firman : "Dimas itu anak tunggal, sudah dipastikan dia juga pewaris tunggal seluruh kekayaan Adhitama dan bisnis yang ada di Jerman juga Paris. Dengan semua itu akan banyak wanita yang berusaha untuk mengejarnya namun karena sifatnya yang dingin juga orangnya yang misterius dia tidak pernah mempedulikan itu, tetapi lihatlah saat bersamamu? Lelaki dingin itu bisa luluh hanya karena gadis SMU."


Adinda hanya mendengarkan berbagai ucapan yang keluar dari Firman. Fikirannya masih jauh entah kemana yang pasti ia masih meratapi kepergian Dimas juga putusnya hubungan ini.


Adinda : "Kak, tolong antar aku pulang sekarang." Ajaknya sambil mengusap air mata yang masih saja keluar.


Firman : "Hei, kau menangis lagi Mara? Jangan menangis lagi, bangkitlah meski hubungan kalian sudah tidak ada."


Adinda : "Aku hanya ingin dia kembali Kak, enggak lebih."

__ADS_1


Firman : "Apa sejak tadi gue ngomong panjang lebar enggak dia dengerin? Oh God, kenapa gue harus terjebak dengan keadaan seperti ini?!" Gerutunya kesal. "Oke, ayo gue antar loe pulang. Daripada Arse nanti cariin loe." Putusnya lalu melangkah lebih dulu dari Adinda.


Mereka berdua langsung meninggalkan tempat itu. Taman buku Mentari, tempat itu kini hanya menjadi kenangan antara dua sejoli yang terpaksa harus berpisah.


#


Arul : "Kakak sudah pulang? Kakak darimana? Kenapa pergi sampai sesiang ini? Kak Dinda belum mandi, kenapa Kakak langsung ajak pergi." Tanya Arul cepat setelah melihat Firman masuk ke Rumah, setelah melihat Adinda melangkah ke kamar.


Firman : "Apa kau baru saja makan tape Arse? Pertanyaanmu ini luruuus saja, licin enggak berjeda sedikitpun. Aslinya loe itu gini ya, cerewet sama seperti Mara. Didepan anak-anak aja kalian diam, sok kalem." Arul yang mendengar itu seketika mendelik.


"Itu mata dikondisikan, gue colok juga tuh. Ohiya, Bibi ada makanan enggak? Aku lapar belum sempat makan tadi."


Bi Narti : "Sebentar saya siapkan dulu Den, Aden tunggu sekedap nyak?" Bi Narti langsung melangkah ke dapur.


Arul : "Bukankah Kakak tadi pergi cari makanan? Kenapa sekarang ingin makan lagi?" Tanyanya penuh selidik.


Firman : "Firman kenapa ini mulut enggak punya rem sih." Gumamnya dalam hati. "Gue memang masih lapar, kenapa?" Arul diam. "Kau masih dipenuhi dengan egomu?" Tanyanya tiba-tiba membuat Arul menatapnya penuh arti. "Jangan menatapku seperti itu Arse."


Arul : "Aku sedang meredam emosiku Kak, sampai saat ini aku sudah sedikit demi sedikit mengeluarkan semuanya." Jawabnya sambil memalingkan wajahnya menatap figura besar berisi photo keluarganya. "Pagi ini aku mencoba masak makanan kesukaan Kak Dinda, dengan harapan ia segera melupakan semuanya. Tapi tiba-tiba Kakak datang dan langsung mengajaknya keluar. Sebenarnya kemana Kakak membawa dia pergi?"


Firman : "Apa maksud kamu dengan ucapan itu? Melupakan semuanya?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Arul. "Melupakan Dimas dan menerima MBA, itu maksud kamu?" Arul langsung menatap Firman.

__ADS_1


Arul : "Yaa mungkin itu juga salah satunya. Aku ingin dia melupakan masalah kemarin, dan memulai semuanya dari awal lagi dengan hal baru yang bisa membuatnya lebih bahagia."


Firman : "Apakah semudah itu melupakan orang yang kita cintai Arse? Tidak mudah melakukan semua yang kamu inginkan. Apa kamu melihat wajah sendunya tadi? Apa dengan wajah seperti itu dia bisa memulai hidupnya yang baru? Dengan suasana baru dan juga... kekasih yang baru? Apa dia bisa?"


__ADS_2