Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 22


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu Adinda dan Dimas semakin dekat meskipun harus menjalin hubungan melalui benda pipih yang kini selalu mereka genggam. Meskipun masih dengan mode datar juga dinginnya tetapi Adinda menikmati hal itu, dan jangan lupakan hubungan yang tak diketahui orang lain membuat mereka harus selalu bersembunyi ketika ingin bertemu.


Hari ini tepat hari sabtu, dan hari ini pula acara pengukuhan anggota baru serta pembagian disetiap bidang akan dilaksanakan. Tepat pukul delapan pagi anggota baru berkumpul, hari ini anggota PPA yang datang terlihat banyak karena ini adalah acara rutin setiap tahun. Di Aula Ilham membacakan siapa saja anggota baru yang diikut sertakan sebagai anggota dalam struktur.


Arul dan kedua sahabatnya masuk dalam bidang keamanan, Amelia Putri berada dibidang kesehatan dan Adinda? Yayak yang ikut andil dalam pembagian itu meminta agar Adinda berada dihumas bersama dengan Dimas sebagai ketua. Banyak yang heran dan bertanya-tanya karena tidak seperti biasanya Yayak andil dalam anggota Dimas.


Amar : "Ini beneran ya Adinda dibidang yang sama dengan Dimas?" Yayak hanya mengangguk tanpa ada alasan. Sedangkan Firman yang mendengar itu langsung menoleh.


Firman : "Adinda? Nama panjangnya siapa Mar?" Selidik Firman yang penasaran.


Ilham : "Memangnya kenapa sih Fir? Loe ada masalah sama itu anak?" Firman hanya diam.


Yayak : "Nama panjangnya Adinda Amaralia S." Firman yang mendengar itu kaget.


Firman : "Jadi benar yang mereka bicarakan waktu itu Amara." Gumamnya dalam hati. "Bagaimana keadaannya sekarang, dan Arse?" Disaat Firman sedang asik dengan lamunannya, Ilham langsung menepuk pundak lelaki itu. "Apa?"


Ilham : "Loe yang kenapa. Loe kenal dia? Ada masalah ya loe sama gadis itu? setelah denger nama itu loe langsung diem." Namun Firman langsung menggelengkan kepalanya pertanda tidak mengenal.


Indra : "Sudah tidak perlu diperpanjang lagi, biarkan Yayak andil dalam hidup Dimas, dan biarkan Firman sibuk dengan pemikirannya." Mereka yang paham maksud Indra hanya diam. Acara dilanjutkan.


. . .


Amel : "Kyaaaaaa! Adinda Amaralia, loe satu bidang sama Kakak kutub loe itu, selamet yah!" Heboh Amel saat mengetahui sahabatnya satu bidang dengan Dimas, namun Adinda malah heran dengan ucapan sahabatnya.


Adinda : "Selamat untuk apa?" Tanya Adinda dengan wajah polosnya.


Amel : "Yaah selamet donk karena loe bisa lebih deket lagi sama dia, siapa tahu kan loe bisa pacaran sama dia." Mendengar itu Adinda hanya diam.


Adinda : "Andai kamu tahu jika kami sudah punya hubungan Mel, kamu pasti akan lebih heboh dari ini. Maaf aku belum bisa jujur." Gumamnya dalam hatu, lalu Adinda menunduk namun sebelum itu ia melihat Arul.


Amel : "Loe kenapa sih?!" Selidik Amel, karena ia melihat seperti ada yang mengganggu fikiran sahabatnya itu.


Adinda : "Enggak ada kok Mel, aku hanya lagi mikir bagaimana kabar Mama dan Papa disana, bahkan bulan ini mereka tidak menghubungi aku ataupun Arul." Amel yang dengar ikut merasa sedih. "Aku enggak nuntut banyak kok, tapi Arul masih butuh kasih sayang juga perhatian mereka, kenapa mereka harus berpisah dan melupakan anak-anaknya.?" Adinda menunduk sedih.


Tanpa mereka sadari Dimas yang berada disudut ruangan memperhatikan mereka dan melihat perubahan diwajah gadis kecilnya itu. Ingin rasanya menghampiri gadis itu dan memberikan energi untuknya bangkit, namun itu hanya angan saja karena ia hanya bisa diam tanpa bisa bertindak melihat kondisi yang ramai dan hubungan mereka yang tak diketahui oleh orang lain.


Tidak hanya Dimas, bahkan sepasang mata yang duduk yang menjadi ketua bidang pangan juga ikut memperhatikan gadis itu, dan sesekali melihat kearah Arul. Ada perasaan sedih ketika melihat mereka berdua, namun itu semua hanya bisa ia pendam saja tanpa ingin mengungkapkan.


Amar : "Tolong perhatikan sebentar, setelah ini yang sudah terbagi dalam setiap bidang harap membentuk sebuah kelompok. Karena kalian akan langsung menerima pembelajaran dari ketua bidang kalian itu."


Indra : "Kalian bisa sharing untuk berbagai kegiatan yang akan berlangsung dan menanyakan apa yang harus dilakukan bidang itu dalam setiap event."


Ilham : "Ok, sekarang kalian bentuklah kelompok kalian, karena sebentar lagi ketua dalam bidang kalian akan segera menuju kelompok itu."


Mereka yang mendengarkan itu, langsung membuat suatu kelompok kecil dan membuat lingkaran agar memudahkan anggota PPA untuk berkenalan maupun untuk memberi penjelasan.

__ADS_1


Terdapat enam kelompok bidang, 8 anggota baru masuk bidang kesehatan yang diketuai oleh MBA termasuk Amel sahabat Adinda, bidang keamanan diketuai oleh Yayak, terdapat 8 anggota baru termasuk Alvin, Naufal, Arul yang dipilih oleh Indra, bidang perlengkapan diketuai oleh Agista dan bertambah 8 anggota baru, bidang pangan diketuai oleh Firman bertambah 6 anggota baru, juga humas bertambah 8 siswa yang diketuai oleh Dimas yang didalamnya terdapat nama Adinda, serta bidang kebebasan bertambah 8 siswa atau lain-lain diketuai oleh Andre.


Sharing pun dimulai, dimana ketua dari semua bidang ikut bergabung dalam lingkaran kecil itu.


Kelompok 1 Bidang Kesehatan.


Amel : "Kyaaaa! Ada cowok ganteng jalan kemari, kalian lihat enggak? Mana dia liatin gue, haduuuuh gue harus gimana donk?!"


Geraldi : "Please ya Mel jangan lebay deh loe, kebiasaan dari orok loe ya ada cowok ganteng langsung jelalatan itu mata." Jawab teman Amel yang sudah lama menjadi tetangganya.


Restu : "Sini gue colok itu mata pake kanvas lukis gue yang di Rumah." Jawab Restu dengan tingkah konyolnya.


Amel : "Kalian berdua emang enggak ngerti gue banget sih, hiks hiks diantara temen gue yang ngerti perasaan gue itu cuma Adinda." Jawabnya sok melas.


"Karena dia TERPAKSA!!!" Jawab kompak kelima anak yang sedaritadi hanya diam. Hal itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Amel : "Waah udah berani loe semua sama gue, masih bocah juga berani sama cewek cantik kaya gue ini." Mereka yang dengar berakting seperti akan muntah.


Geraldi : "Ini masih siang, jadi jangan mimpi deh Mel." Celetuk Geraldi terkekeh, sedangkan Amel langsung mengerucutkan bibirnya.


Sedangkan MBA yang baru bergabung langsung tersenyum karena mendapatkan kelompok yang diluar dari ekspetasinya, karena anggota barunya sangat ramai biasanya anggota baru akan diam dengan menjaga image mereka namun ini berbanding terbalik.


Amel : "Eeh Kakak ganteng, lihat mereka bully gue barusan, belain doonk. Please??"


Azriel : "Bahkan dia juga terkenal dikalangan siswa SMP, siswa SMP aja digombalin sama dia." Celetuk anak lelaki yang berpakaian SMP itu.


Sedangkan Geraldi, Restu dan Vania yang notaben teman sekelas hanya tertawa. Amel yang mendengar langsung. . . PLETAK. . .


Azriel : "Aaww sakit Memeel!" Ketiga teman SMPnya ikut tertawa.


Amel : "Ngomong apa loe barusan? Awas aja loe ya minta jatah jajan lagi sama gue." Mendengar itu Azriel menatapnya tajam. Namun sedetik kemudian. . .


Azriel : "Jangan donk Meeel, nanti gue main game nya gimana, Mama enggak kasih gue duit tambahan. Ayolaaah..." Amel menatapnya dengan kesal, sedangkan MBA hanya menggelengkan kepala.


MBA : "Kalian ini pacaran, atau saudaraan?"


Amel : "What! Gue sama ini bocah, jelas enggak donk Kagan, dia ini sepupu gue yang paling ngeselin." MBA Mengangguk sambil tersenyum.


MBA : "Kamu manggil saya kagan, maksudnya?


Amel : "Kakak Ganteeeng!" Ketiga teman langsung memberikan toyoran pada Amel. Kemudian. . . "Adindaaaaaa!" Teriaknya yang membuat semua orang menoleh termasuk nama yang dipanggil. Amel langsung berlari menuju bidang humas.


Adinda : "Ada apa sih Mel?"


Amel : "Lihat mereka?" Menunjuk pada bidangnya terutama Geraldi, Restu dan Vania.

__ADS_1


Adinda : "Kenapa dengan mereka? Mereka baik-baik kok."


Amel : "Gue disiksa sama mereka, lihat rambut halus gue jadi berantakan nih." Hal itu membuat Adinda melongo dan tak habis fikir dengan sahabatnya itu. "Loe, harus belain gue dan marahin mereka bertiga, loe kan sahabat terbaik gue. Ya ya ya."


Adinda : "Hei, kita beda kelompok dan kamu selesaikan sendiri jangan teriak lagi, lihatlah kita jadi pusat perhatian." Amel tidak peduli dan semakin merengek. "Kembalilah."


Amel : "Kyaaaaa! Jadi loe belain mereka ketimbang gue? Sahabat loe sendiri? Hecmmm oke, kita enggak kawan." Amel kembali dengan menghentakan kedua kakinya kelantai, dan Adinda hanya menggelengkan kepala namun juga tersenyum. Jangan lupakan ketiga temannya yang tertawa puas karena merasa menang. "Kalian! Awas adja gue hukum setelah semua ini selesai. Heh!." Semakin membuat temanya tertawa tak terkecuali MBA dan diikuti anggota yang lainnya.


MBA : "Oke sudah kita lanjutkan, kita memulai dari perkenalan terlebih dahulu. Dimulai dari kamu." Menunjuk Geraldi.


Geraldi : "Perkenalkan nama saya Geraldi Raharja, saya dikelas IPA dan sebentar lagi ujian."


MBA : "Kamu dari keluarga Raharja?" Geraldi mengangguk. "Lalu kamu?"


Vania : "Saya Vania Mahardika satu kelas dengan Geraldi, Restu dan juga ituu sih Amel." Amel yang mendengar langsung mencebik kesal.


Restu : "Saya Restu Ramadhan sama dengan mereka.


Azriel : "Saya Azriel Hermansyah kelas 9 dan sepupu Amel yang paling tampaan." Katanya dengan penuh percaya diri sambil bergaya sok cool dan langsung mendapat toyoran dikepala oleh Amel. Sedangkan yang lain langsung tertawa. "Apaan sih loe Mel?!"


Amel : "Loe yang apaan. Sumpah jijik gue punya sepupu kaya loe." Yang lain langsung tertawa.


Amanda : "Nama saya Amanda Rizkiah dari kelas 8.


Alan : "Saya Alan Aldiansyah dari kelas 8.


Deril : "Saya Deril Agustin dari kelas 9 teman satu kelas Azriel.


MBA : "Lalu kamu, nama kamu siapa?" Menunjuk Amel.


Amel : "Saya Amelia Putri kelas IPA satu kelas dengan Geraldi dan mereka berdua. Yang jelas diantara mereka bertiga enggak ada yang jadi sahabat baik gue. . ."


MBA : "Memang siapa sahabat kamu?"


Amel : "Sahabat gue itu yang ada dibidang humas tadi, Adinda Amaralia. Dia sahabat terbaik gue dari dulu sampai sekarang."


Geraldi : "Memang dia masih jadi sahabat loe?" Amel langsung menatap tajam. "Bener kan? Ya nggak Van, Res." Mereka mengangguk.


Amel : "Maksud loe apa?"


Restu : "Buktinya tadi waktu loe nyamperin dia, dia marahin loe kan?"


Azriel : "Kelakuan loe tadi itu malu-maluin gue yang jadi sepupu loe tau gak..."


Amel : "Rese loe Zil, gue aduin loe sama Mama, dan gue pastiin duit jajan loe bakalan di.po.tong." Azriel yang mendengar langsung menatapnya tajam namun kemudian ia merengek pada Amel dan Amel hanya tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2