Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 143 Apa Dia Bahagia Disana?


__ADS_3

Setelah kepergian Dimas, mereka kembali pada aktivitas mereka sebelumnya. PPA tetap melanjutkan jadwal kegiatan yang sudah direncanakan, termasuk kegiatan rutin untuk bersosial di daerah yang kurang mampu.


Berita yang mereka dengar tentang kepergian Dimas sungguh menggemparkan seluruh pihak Kampus. Raja Es yang terkenal di seantero Kampus itu pergi begitu cepat, meski para sahabat belum percaya dengan berita itu tapi tetap saja mereka harus percaya, ditambah setelah melihat makam Dimas.


Ya jenazah yang ditemukan di Korea itu, akhirnya dimakamkan atas nama Dimas. Keluarga sudah pasrah dengan semuanya karena bukti jika itu Dimas memang mengarah pada jenazah itu.


Namun bukan berarti Andre menerima hal ini. Meski diluar ia menerima, namun tanpa sepengetahuan orang lain ia kembali menyelidiki insiden pengeboman gedung itu, dengan dibantu orang kepercayaannya ia memulai semuanya.


.


.


.


.


.


.


.


# Lima Bulan kemudian...


Ya tidak terasa kini sudah berjalan lima bulan setelah kepergian lelaki dingin itu. Andre tetap berusaha menemukan titik terang tentang kejadian lalu, setelah lama ia cuti karena kepergian Dimas. Kini tinggal menunggu hari, Andre akan melakukan sidang Skripsinya.


Sedangkan Septian dan para sahabatnya tetap melakukan aktivitas seperti biasa, tidak memburu untuk cepat lulus dari Kampus itu.


Basecamp PPA, saat ini para anggota tengah berkumpul disana. Tidak ada yang berubah dari Organisasi itu, semua tetap sama. Hanya kehadiran Dimas saja yang membedakan.


Amar : "Wooooiiii, diem-diem baek sih. Pada ngobrol nape?" Teriak Amar dengan logat khas.


Amel : "Settdah, Bang Amar yang terhormat. Tolong ya itu dikondisikan mulutnya. Berisik banget sih, pengang tahu kuping gue." Gerutunya kesal.


Angel : "Kalian ini selalu saja bertengkar. Sejak awal masuk kesini, selalu seperti itu." Ucap Angel sambil menggelengkan kepalanya.


Ilham : "Gue bawa ke Penghulu juga kalian." Sergah Ilham.


Amel : "Eeeh, temuin dulu noh pawang gue di Rumah, baru ke Penghulu."


Septian : "Waaah, kode keras itu Mar. Sikat aja, daripada nanti keduluan lagi." Amar langsung mendelik tajam pada saabatnya itu.


MBA : "Waaah sepertinya akan ada yang married nih setelah lulus?" Celetuk MBA.


"Ogah!!" Jawab Amar dan Amel dengan kompak.


Septian : "Cieee langsung kompak." Hal itu membuat yang lain tertawa.


Arya : "Maaf, ada yang melihat Andre?" Mereka yang mendengar itu langsung mengarah kesumber suara. Hening.


Indra : "Andre tidak disini, sudah beberapa hari kami tidak melihatnya. Sep, loe lihat dia?" Septian hanya menggeleng.

__ADS_1


Yayak : "Bukankah kalian masih satu rumah, kenapa loe enggak lihat?" Septian menghela nafas kasar.


Septian : "Tanpa gue bilang, seharusnya loe sudah tahu Yak." Jawabnya dan berbalik menatap Arya. "Apa ada masalah Ar?"


Arya : "Aaah, er waren weinig probleemen bij het bedrijf. En...." Septian menganggkat sebelah dahinya menunggu.


Ketika Arya akan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba sebuah suara dingin menguar memanggil namanya.


"Arya?" Panggilnya dengan suara dingin. Septian, Arya dan yang lain langsung menatap orang tersebut.


"Andre" Gumam mereka.


Septian : "Abaaang, loe darimana saja? Dari kemarin gue nunggu loe balik." Septian mendekati Andre sambil merengkuh bahunya.


Andre : "Temui saya di tempat biasa." Bukannya menjawab pertanyaan Septian, Andre langsung berbicara pada Arya. "Saya akan pulang lusa, baik-baiklah selama saya tidak ada." Jawabnya pada Septian setelah melihat wajah manyun dari si bontot, tak lupa ia mengacak puncak rambut Septian.


Saat Andre akan berbalik badan, pernyataan Firman membuat hatinya tertohok.


Firman : "Ingatlah, Dimas sudah pergi." Ucapan Firman itu seketika membuat ruangan itu hening tidak ada yang bersuara.


Sudah lima bulan, tetapi kenangan tentang lelaki dingin itu masih tetap ada.


Andre : "Jangan terlalu banyak bicara, biarkan itu menjadi urusan saya. Anda tidak perlu tahu maupun ikut campur."


Kretek!!


Perkataan Andre itu membuat para sahabatnya kembali tertohok, menatap punggung kokoh lelaki dingin yang sudah melangkah jauh.


Firman : "Gue hanya tidak ingin dia semakin kecewa dan jauh dari kita." Ucapnya lemah.


Amar : "Huaaaaaaah!!! Ada kecoaaaaaaa!!" Mereka yang mendengar suara Amar langsung berhambur, terutama para cewek.


Amel : "Kyaaaaa! Mana, mana itu kecoanya?" Tanpa sadar Amel langsung berlari menuju Amar dan merangkul lengan lelaki itu.


Rara : "Sudah deeeh, jangan lebai gitu kenapa sih. Loe juga Mar." Semua mata mengarah tepat dimana Amar berdiri.


Geraldi : "Pantesan aja, Abang nih ambil kesempatan dalam kesempitan nih." Mereka lamgsunh memicing menatap Amar yang menggenggam tangan Amel dilengannya.


Amar dan Amel mengikuti arah mata mereka, dan... byarrrrr!


"Kyaaaaaaa!!!" Teriak dua sejoli itu bersamaan. Mereka langsung menjauh.


Amar : "Ngapain loe rangkul gue? Dasar si cewek bar-bar."


Amel : "Abang yang ngapain genggam tangan gue! Dasar jumpling!!" Balasnya kesal. "Adindaaa, tangan gue ternodai." Rengeknya ketika melihat Adinda baru datang.


Namun Adinda hanya diam dengan sebuah senyum yang menurut orang lain sedikit dipaksakan.


Firman maupun sahabat Dimas yang merasakan itu hanya melihatnya dengan sendu. Sejak kepergian Dimas, lebih tepatnya setelah jenazah yang disebut Dimas itu dimakamkan kondis Adinda mulai berubah.


Gadis yang biasanya akan tersnyum ceria, kini terlihat diam dan murung terlebih saat dia sedang sendiri. Amel dan juga para sahabatnya yang melihat itu hanya bisa berusaha untuk membuatnya kembali seperti semula. Padahal mereka sendiri frustasi karena tidak bisa membuat gadis itu kembali seperti sedia kala.

__ADS_1


Adinda : "Kak, ini laporan untuk bidang humas yang sudah selesai, kemarin aku buat dua rangkap." Ucapnya sambil menyerahkan beberapa laporan humas pada Arya dan Indra.


Arya : "Oke, aku terima. Thanks ya Din. Gue keluar duluan karena ada urusan." Pamitnya.


Indra : "Ini semua sama dengan yang dibawa Arya kan Dek?" Tanya Indra setelah melihat sekilas isi laporan. Adinda mengangguk. "Ini laporan selama lima bulan ini?" Adinda kembali mengangguk.


Adinda : "Semuanya sudah aku siapin, jadi Kak Indra tinggal periksa saja, sebelumnya juga Kak Arya sudah memeriksanya." Indra mengangguk-anggukkan kepalanya.


Amel : "Dindaaaa, loe kok cuekin gue sih." Rengeknya manja. Amar yang melihat sikap Amel itu hanya mengernyit. "Apa loe lihat-lihat?!" Ucapnya judes melihat Amar.


Amar : "Idiiiiiiih, sory yah. Emang yang ada di sini cuma loe doang apa."


Yayak : "Sudaaah, kalian ini. Gue bawa ke KUA baru tahu rasa loe."


Ilham : "Dimana-mana mah lamaran dulu baru bisa ke KUA. Lah iya kalau itu Amel mau, lah kalau enggak gimana?"


Septian : "Jomblo ngenesssss." Seketika yang lain langsung tertawa. Sedangkan Amel dan Amar langsung mendelik kesal.


Firman : "Amara, ikut Kakak keluar sebentar ya. Ada sesuatu yang harus gue bicarain." Adinda hanya mengangguk sebagai jawaban.


Adinda langsung mengikuti langkah Firman yang sudah melangkah terlebih dahulu.


Angel : "Apakah gadis itu belum bisa bangkit?" Gumamnya pelang ketika dekat dengan Amel.


Amel : "Belum Kak, gue, Gerry, Adit dan yang lainnya sudah berusaha untuk membuatnya kembali seperti sebelumnya. Tapi, semua itu tetap saja tidak mengubah apapun."


PJ : "Lalu bagaimana adiknya? Gue dengar Arul dulu enggak setuju dengan hubungan mereka."


Septian : "Untuk apa kalian membahas bocah tengil itu?" Sungutnya dengan kesal.


Yayak : "Apa kau belum bisa melupakan kejadian itu?" Septian meliriknya tajam. "Lupakan semua itu Sep, sekarang berusahalah untuk jadi lebih baik. Dia sudah tenang disana."


Septian : "Jangan mengajariku soal itu Yayak. Karena hanya gue dan Andre yang tahu rasanya." Septian langsung pergi setelah mengatakan semua itu. Sedangkan Yayak dan kedua jumpling hanya menghela nafas.


MBA : "Baiklah kita lupakan terlebih dahulu masalah yang ada. Kita fokus untuk kegiatan kita kedepannya." Ucap MBA menengahi perdebatan para sahabatnya.


#


Sementara ditaman Kampus, sepasang Kakak beradik tengah duduk berdua menatap hamparan tanaman yang ada didepannya.


Firman : "Are you oke, Mara?" Tanya Firman memecah keheningan.


Sedangkan Adinda masih tak bergeming, matanya masih menatap taman yang luas. Yang tidak hanya dipenuhi tanaman namun juga para manusia yang berlalu lalang disana.


"Kamu terlihat kurus setelah operasi beberapa bulan lalu. Jaga kesehatan Mara, karena kesehatanmu itu penting." Ucapnya lagi.


Adinda : "Apakah dia saat ini sudah bahagia disana?" Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan.


DEG!


Firman terasa dicubit dengan pertanyaan Adinda. Karena ia sendiri belum meyakini sahabatnya itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2