
"Heuft. Dengarkan aku baik-baik Mara, aku memang belum mendapat kabar secara pasti tapi Shekar baru menghubungiku kalau saat ini mereka masih kehilangan jejak Dimas. Tidak ada yang tahu penyebabnya, karena Shekar tidak memberitahu alasan pasti. Berdo'alah semoga dalam waktu dekat kita segera mendapat kabar, karena saat ini Andre juga Septian sudah berada disana." Jelas Firman.
Adinda : "Apakah dia akan segera kembali kesini? Kembali bersama kita? Aku tidak apa jika akhirnya tidak bersama dengannya, tapi bukan berarti dia harus hilang tanpa jejak seperti ini. Apa dia anggap dirinya itu petualang yang bisa pergi kemanapun menyusuri hutan? Apa dia tidak memikirkan orang lain yang mengkhawatirkannya?!" Ucapnya dengan suara tinggi, airmatanya sudah tak bisa dibendung lagi.
"Ke.kenapa semuanya harus terjadi seperti ini. Kenapa dia tidak bisa dihubungi sama sekali?! Sebenarnya ada apa? Hiks.. Kenapa dia menghilang dengan cara seperti ini?" Tangisnya sesenggukan.
"A.aku akan menahan perasaanku asalkan dia kembali. Aku akan menahan hatiku asal dia bisa aku lihat setiap hari. Hikss, jangan biarkan dia jauh. Ak.aku tidak ingin hal seperti ini Kak. Aku ingin dia segera kembali, aku akan melakukan apa saja asal dia kembali kesini. Hiks.. Hiks..."
Firman yang ada diseberang sana langsung tertegun. Adinda langsung mematikan panggilan itu secara sepihak, ia menangis dengan pilu sambil memukul dadanya yang terasa sangat sesak.
Arul yang memang sejak tadi mendengarkan langsung terkejut, ia bahkan sama sekali tidak tahu menahu tentang semua yang baru saja Adinda ucapkan.
Arul : "Siapa yang hilang? Siapa maksud mereka berdua? Apa mungkin orang itu menghilang tanpa kabar? Aku harus mencari tahu semua ini, aku harus menemui Kak Rangga besok untuk meminta penjelasan." Gumamnya dalam hati.
Kemudian ia tersadar karena suara tangis Adinda yang memilukan itu.
"Lebih baik Kakak segera istirahat, ini sudah semakin malam." Adinda tak bergeming, ia masih tetap disana.
Kemudian Adinda beranjak dari sana, melangkah dengan pelan. Tujuannya saat ini adalah kamarnya, memandang photo pengisi hatinya. Yaa hatinya masih terisi oleh orang yang sama dan tidak berubah. Namun tiba-tiba..
BRUK..
"Kakaaak?!" Teriak Arul ketika melihat tubuh Adinda terjatuh dengan lemas, matanya terpejam masih dengan sisa airmatanya.
Arul langsung mengangkat tubuh lemah Adinda, ia segera membawa masuk ke kamar.
Arul : "Bibi, Bi?!" Bi Narti lari tergopoh-gopoh ketika mendengar suara lantang Arul. "Bibi tolong siapkan bubur sama air hangat, aku bawa Kakak keatas dulu."
Bi Narti yang belum sempat bertanya langsung berlari kedapur setelah mendengar perintah majikan kecilnya itu.
"Kakaak, Kakak ayo bangun. Jangan buat Arul khawatir. Kakak bagun." Arul seketika langsung panik karena sang Kakak belum juga sadar. "Aku harus menghubungi Kak Rangga."
Arul mengambil ponsel milik Adinda, karena ponsel miliknya berada di kamar.
Firman : "Ya halo Mara, ada apalagi? Apa kau tida..."
Arul : "Kakak tolong ke Rumah, Kak Dinda baru saja pingsan." Arul langsung mematikan panggilan.
Sedangkan Firman yang baru saja mendengar itu langsung bergegas melangkah keluar. Mengendarai mobilnya membelah jalanan Kota Jakarta di malam hari.
Setibanya ia di kediaman Setiawan...
Firman : "Amara! Arse!" Teriak Firman memanggil kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
Bi Narti : "Maaf Den, itu Aden kecil ada di kamarnya Nona, saya baru saja mengantar bubur kesana." Firman langsung berlari menaiki tangga menuju kamar Adinda.
Brak! Suara pintu terbuka.
Firman : "Bagaimana keadaan Amara? Apa dia sudah sadar? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini sih?" Tanya Firman bertubi-tubi.
Belum sempat Arul menjawab sudah ada suara menggelegar dilantai bawah.
"Amaraaa! Arsee! Kalian ada dimana?!" Siapa orang itu batin keduanya.
Firman : "Mamaa? Kenapa Mama ikut kesini? Sejak kapan Mama ngikutin Mobil Rangga?"
Mama Randa : "Dasar kamu anak kurang ajar, bisa-bisanya tidak nungguin Mama. Mama kesini sama Papa juga Vanya, mereka ada dibawah." Firman dan Arul mengangguk.
"Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi dengan Amara?" Ucapnya sendu. "Arse? Kenapa Kakak kamu seperti ini sayang? Apa sudah dipanggilkan dokter? Bagaimana hasilnya?" Tanyanya tak sabaran.
Arul : "Se.sebenarnya setelah Kakak dan Kak Rangga teleponan, beberapa menit setelah itu saat Kakak akan ke kamarnya ia langsung pingsan Tante." Mama Randa langsung menatap Firman tajam.
Firman : "Eiitss, Mama enggak bermaksud curiga ke Rangga kan? Rangga enggak tahu apa-apa tentang ini loh."
Mama Randa : "Kamu yaah, awas saja jika Mara kenapa-kenapa. Mama sunat lagi kamu." Fiman dan Arul bergidik.
Papa Rahmad : "Maa, bagaimana keadaan Amara?" Tanya Papa Rahmad yang baru masuk ke Kamar itu.
Mama Randa : "Papa, kok sendiri dimana Vanya? Oh iya Mama lupa soal itu. Jadi bagaimana Arse? Apa yang..." Kata-katanya terhenti karenan gumaman Adinda.
"Siapa Dimas?" Tanya kedua orangtua iu dengan kompak.
Arul : "Sejak tadi Kakak selalu mengigau memanggil nama dia." Ucapnya sendu lalu mendekati Adinda yang masih terpejam.
Firman : "Sejak tadi? Maksud loe, Amara panggil-panggil nama Dimas?" Arul mengangguk lemah.
Papa Rahmad : "Tunggu, sebenarnya siapa yang kalian maksud? Siapa Dimas?"
Firman : "Papa sangat mengenal orang itu, bahkan Papa dan Mama mengenal dekat keluarganya." Papa Rahmad dan Mama Randa mengernyit bingung.
"Dimas Surya Adhitama." Keduanya mendelik tak percaya.
"What?!!" Sahut mereka berdua dengan kompak, terkejut rasa tak percaya berkumpul menjadi satu.
Mama Randa : "Apa kau serius Rangga? Bagaimana mungkin bocah berhati dingin itu bisa menjalin hubungan dengan Amara?" Ia masih terkejut.
Papa Rahmad : "Hahaa Papa tidak menyangka bocah itu bisa memiliki kekasih, apalagi gadis itu Amara, hahaa. Tapi sejak kapan mereka menjalin hubungan Rangga? Apakah hubungan mereka baik-baik saja? Mengingat sikap Dimas yang lebih dingin dibanding Surya."
__ADS_1
Arul : "Mereka sudah tidak lagi bersama Om, mereka sudah putus beberapa bulan lalu." Kini kedua orangtua itu beralih menatap Arul. "Aku sama sekali tidak setuju Kakak bersama lelaki itu, aku ingin dia bersama Kak Akbar."
Mama Randa : "Akbar? Siapa lagi lelaki yang bernama Akbar sayang?"
Firman : "Maksud Arse itu MBA Ma, Pa. Muhammad Bayu Akbar." Jelas Firman.
Mama Randa : "Putra tertua Aslan Akbar?" Firman mengangguk. "Apa yang membuat kamu tidak setuju dengan hubungan mereka Arse?"
Arul : "Aku hanya kecewa karena mereka menjalin hubungan dibelakangku, aku tidak suka dibohongi Tante dan Kakak juga dia. Mereka berdua berbohong padaku, jadi aku tidak setuju mereka menjalin hubungan lagipula Kak Akbar juga tertarik dan terlihat tulus sama Kakak."
Papa Rahmad : "Ingatlah satu hal ini Arse." Arul menatap Papa Rahmad. "Tidak semua apa yang kita inginkan harus kita dapatkan, cobalah kamu menempatkan posisi kamu pada Amara maupun lelaki dingin itu. Apakah selama ini Amara melalaikan tugasnya menjadi Kakak?" Arul menggeleng cepat.
"Apakah kasih sayangnya berkurang? Termasuk perhatian dan pengertiannya?" Arul kembali menggelengkan kepalanya. "Cobalah untuk mengerti hubungan mereka berdua, ingat jangan gunakan emosi karena dalam hal ini hatilah yang merasakan, hem." Ucap Papa Rahmad dengan pelan.
Adinda : "Eugh, Kak Dimmass." Gumam Adinda untuk kesekian kalianya.
Mama Randa : "Rangga segera kamu panggil bocah dingin itu, bawa dia kemari. Mama tidak tega melihat kondisi Amara seperti ini." Ucap Mama Randa dengan sendu.
Firman : "Eh i.itu maaf Rangga belum bisa melakukan perintah Mama."
Mama Randa : "Apa maksud kamu sih, memangnya kenapa? Kamu tinggal membawa anak nakal itu kesini, apa susahnya sih!."
Papa Rahmad : "Apakah berita yang Papa dengar beberapa minggu terakhir ini adalah dia?" Firman mengangguk lemah. "Bagaimana mungkin lelaki dingin itu melakukan hal senekat ini, apa dia tidak memikirkan hal lain."
Arul : "Apa yang kalian bicarakan? Om, Kak. Kalian membicarakan apa?"
Firman : "Dimas sudah satu bulan terakhir ini tidak ada kabar Arse." Arul dan Mama Randa terkejut. "Kami tidak ada yang mengetahui posisi maupun keadaan dia saat ini. Gue, Yayak, Andre dan yang lainnya sedang mengusahakan untuk mencari titik lokasi keberadaan Dimas."
Mama Randa : "Apa karena hal ini kamu menurunkan anak buah Kakek?" Firman mengangguk.
Papa Rahmad : "Apa sampai sefatal ini? Anak itu selalu bekerja dengan tenang, bahkan semua musuh Adhitama raib ditangannya. Rangga segera cari Dimas, kerahkan anak buah Kakek mu untuk mencarinya." Firman mengangguk.
Firman : "Hari ini, Andre, Septian juga Om Pastu berangkat ke Korea. Shekar masih mengusahakan keberadaan Dimas saat ini."
Arul : "Apa karena hal ini, Kak Dinda pingsan?" Gumamnya pelan namun masih bisa didengar.
Tiba-tiba...
Adinda : "Kak Dimaaaaassss?!! Hosh.. hosh.." Teriak Adinda dalam baringnya lalu terbangun dengan mata sembab, keringat dingin bercucuran di dahinya.
"Kak Dimas?" Ia melihat kesekliling kamarnya. "Kak Rangga, to.tolong cari Kak Dimas segera bawa dia kembali, perasaanku enggak enak. Hikss... tu.tubuhnya terasa dingin, wajah, wa.wajahnya juga terlihat semakin pucat. Baw.wa dia pulang Kak. A.aku mohon, hiks.. hiks.. Bawa dia pullaaaang."
Mereka yang melihat itu tak bisa membendung airmatanya, Arul pun merasa tidak tega melihat Kakaknya yang berubah seperti ini.
__ADS_1
Firman : "Amara, tenangkan fikiranmu. Tenanglah, jangan berfikir macam-macam. Aku dan yang lain akan berusaha untuk mencari dia dan menemukan dia. Tenanglah, oke."
Adinda yang mendengar itu mulai sedikit tenang, nafasnya mulai teratur.