Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 38


__ADS_3

Adinda : "Ehmm, itu sebenarnya. . . Aah Kakak baru coba rasa baru, karena bosan dengan kue yang biasanya, dan sebenarnya itu teman Kakak yang beli awalnya Kakak tidak mau tapi dia terus memaksa jadi Kakak terima." Arul mengangguk tanpa bertanya lebih jauh lagi. "Maaf jika Kakak harus berbohong." Gumamnya dalam hati dengan perasaan menyesal.


Arul : "Akhirnya Arul kenyang, makasih ya Kak kuenya bilangin ke teman Kakak kuenya lezat banget." Ucapnya dengan antusias.


Adinda : "Iyaa, apa kau suka?" Arul mengangguk dengan mantap. "Baiklah nanti akan Kakak bilangin ke teman kakak. Sekarang sudah Maghrib, ayo kita shalat dulu baru makan, Bi Narti sudah masak makanan kesukaan kamu."


Arul : "Siap Boss!" Jawabnya dengan memberi hormat. "Tapi Arul sudah kenyang jadi sudah tidak lapar lagi." Lanjutnya.


Adinda : "Kenapa? kamu hanya memakan kue itu Dek, bukan makan nasi. Jadi nanti harus makan nasi pokonya enggak ada penolakan." Jawab Adinda penuh ketegasan.


Arul : "Ayolah, Arul sudah kenyang." Rengeknya dengan manja. Bahkan ia menggunakan puppyeyes agar sang Kakak luluh saat melihatnya.


Adinda : "Hei jangan bersikap seperti itu, karena Kakak tidak akan menyetujui permintaan mu itu. Jadi nanti harus makan walau hanya sedikit." Arul hanya mengangguk dengan malas. "Sayang mukanya jangan ditekuk gitu donk! Nanti gantengnya hilang lho. Ayo tersenyum, please, special for me." Pintanya dengan memohon.


Arul : "Hemm oke deh, hiii." Jawabnya sambil nyengir kuda. Hal itu membuat Adinda menacak puncak kepala sang Adik. "Rambutnya jangan diacak donk Kak nanti enggak ganteng lagi donk." Protesnya.


Adinda : "Hecmmm kata siapa? Adik Kakak ini akan selalu tampan. Yaa meskipun sikapnya datar dan dingin."


Arul : "Arul enggak dingin, itu hanya digunakan sebagai penghalang biar enggak ada yang deketin." Adinda hanya tersenyum mendengar pembelaan dari Adiknya itu.


Adinda : "Oke kalau begitu, sekarang kita siap-siap yuk shalat jangan lupa ngaji lalu makan." Arul langsung mengangguk mendengar titah Adinda.


Setelah perdebatan panjang antara Arul dan Adinda. Akhirnya mereka segera beranjak dari tempatnya dan melangkah kekamar mereka masing-masing untuk melaksanakan Shalat lima waktu. Namun sebelum Arul masuk ke kamar yang tinggal satu langkah itu, ia berhenti sejenak, dan menatap Adinda. Adinda yang terheran langsung bertanya.


Adinda : "Ada apa lagi sayang? Segeralah masuk ke kamar." Namun Arul tak bergeming, Adinda segera melangkah tapi sedetik kemudian langkahnya terhenti karena ucapan Arul. . .


Arul : "Apa mereka masih tetap diam saja?" DEG! Mendengar hal itu dengan cepat Adinda langsung menoleh pada sang Adik. "Apa mereka benar-benar ingin melupakan kita sebagai anaknya? Apa mereka tidak pernah menganggap kita ada?! Kenapa mereka berdua selalu mengabaikan kita?!" Ucapnya lagi.


Adinda melihat manik mata sendu Arul yang sedikit berkaca-kaca karena menahan air matanya tumpah, ia langsung menghampiri sang adik dan memeluknya dengan erat. Seketika tangis Arul pecah saat itu juga.


Adinda : "Sabar sayang, mungkin mereka masih sibuk. Mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing Dek, biarkan mereka bahagia. Ingat, kita juga harus bahagia disini meski tanpa mereka. Jika mereka rindu pasti mereka akan segera menghubungi kita." Ucapnya berusaha tegar namun juga kecewa dengan sikap kedua orangtuanya yang tidak pernah mengerti perasaan anaknya.


Setegar apapun Adinda dia juga seorang wanita, dia seorang Kakak dan juga seorang anak. Ia dan adiknya masih membutuhkan perhatian kedua orangtuanya. Tangis Adinda pecah ketika merasakan tubuh Arul yang begitu dingin dan bergetar.


Arul : "Arul enggak butuh uang Kak, tapi yang Arul butuhin kasih sayang juga perhatian dari mereka. Apa itu sulit bagi mereka untuk memberikan pada kita? Apa yang mereka janjikan tidak pernah satupun dibuktikan, mereka hanya bisa janji. Janji kosong yang selalu mereka tebarkan! Semua yang mereka katakan itu bulshit! Enggak ada yang sayang dengan kita. Mereka egois, sejak awal mereka enggak sayang sma kita, jika mereka tidak siap mengurus anak kenapa mereka harus menikah dan harua melahirkan kita? Toh akhirnya kita tetap hidup berdua, dengan seenaknya mereka memutuskan untuk berpisah tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya, jika ingin kehidupan yang bebas kenapa harus melahirkan kita kenapa enggak bunuh kita sekalian! Arul benci mereka, Arul benci dengan mereka bersua!" Tangis Arul semakin pecah saat mengeluarkan semua emosinya yang tertahan karena menumpuk terlalu lama.

__ADS_1


DEG! Suara lantang dan keras itu mencuat hingga keruang tamu. Bahkan tanpa mereka sadari ada seseorang yang mendengar ungkapan hati Arul. Orang itu merasa tersayat mendengar sesuatu yang tidak pernah ia dengar sebelumnya bahkan ia baru mendengar kata-kata kasar itu, bahkan hal itu keluar dari mulut Arul. Wajah Arul terlihat merah padam menahan sesak didada, matanya pun merah menahan semua emosi yang selama ini ia tahan sejak lama.


Orang tersebut memutuskan untuk menjauhi mereka dan melangkah keluar menuju halaman depan rumah. Orang itu tak lain adalah Arya Setiawan adik dari Reyhan Setiawan yang tak lain adalah Ayah dari Adinda juga Arul. Arya merogoh saku celananya mengambil benda pipih persegi panjang miliknya.


Arya : "Hallo? Apa kau sangat sibuk?" Tanyanya langsung ketika telepon sudah diangkat oleh orang diseberang sana.


"Kenapa? Aku sekarang masih sibuk, telepon saja nanti." Saat akan mematikan sambungan telepon, Arya langsung berkata. . .


Arya : "Apa kalian ingin mengabaikan kedua anak kalian lagi?!" Ucapnya dengan dingin. Seseorang diseberang sana langsung diam mendengar hal itu.


"Apa maksudmu Arya? Siapa yang kami abaikan?! Kami sedang bekerja, semua itu juga untuk kalian. Aku ini kakak mu jadi tidak seharusnya kamu bicara seperti itu!" Jawabnya tak kalah dingin. Ya orang yang Arya hubungi adalah Reyhan sang Kakak.


Arya : "Seharusnya kalian pikir sendiri siapa yang kalian abaikan!" Mendengar hal itu Reyhan langsung terdian tanpa menjawab, namun diamnya ia sedang berfikir dengan ucapan adiknya.


Reyhan : "Apa wanita itu tidak pernah menghubungi mu?"


Arya : "Tanyakan saja sendiri. Aku hanya ingin berpesan, jangan saling menyalahkan, intropeksi diri sendiri saja. Kalian tidak pernah tahu apa yang mereka rasakan, dan tidak akan pernah tahu karena kalian tidak pernah mau tahu! Mereka tidak butuh materi tapi kasih sayang juga perhatian." Arya langsung memutus panggilan secara sepihak dan memutuskan untuk pulang karena ia merasa tidak mampu menghadapi kedua ponakannya terutama Arul.


. . .


Sedangkan diseberang sana tepatnya di Belanda, Reyhan menghentikan pekerjaannya untuk sementara karena tidak fokus. Semua ucapan sang Adik berputar-putar diatas kepalanya. Kata-kata Arya seakan menjadi pukulan telak karena semua ucapan Arya tidaklah salah. Kemudian ia memutuskan untuk menghubungi Melinda mantan istrinya yang tidak lain adalah Ibu dari kedua anaknya.


"Hallo? Ada apa menghubungiku?" Jawab seorang wanita diseberang sana.


Reyhan : "Minggu depan kita pulang ke Indonesia. Ingat tidak ada bantahan Melinda." Ucapnya begitu dingin.


Melinda : "Apa maksudmu?! Enggak bisa gitu donk Rey! Aku harus menyesuaikan jadwalku, *Saat ini a*ku masih sangat sibuk dan tidak bisa pergi jauh!" Ucapnya sedikit kesal dengan ucapan mantan suaminya yang dirasa memaksa.


Reyhan : "Apa kau tidak rindu dengan anak-anak? Kita sudah lama tidak pulang. Sejak kita berpisah kita selalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Jadi mari kita luangkan waktu kita untuk mereka berdua." Ucapan Reyhan membuat Melinda tersentak, karena selama ini ia tidak pernah menghubungi kedua anaknya itu. Terakhir ia menghubungi anaknya satu setengah tahun yang lalu tepatnya pada saat acara pelepasan guru di sekolah Arul juga Adinda.


Melinda : "Baiklah Minggu depan kita balik ke Indonesia." Setelah membicarakan perihal kepulangan mereka. Sambungan pun terputus dan mereka diam dengan pemikiran mereka sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Minal aidzin wal fa idzin mohon maaf lahir dan batin untuk kakak semua..


Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, Alhamdulillah kita masih diberi kesehatan untuk bertemu kembali dihari yang Fitri ini..


Semoga saya dan juga kakak semua sehat selalu dan diberikan kelancaran juga kemudahan dalam menjalani apapun.


Jaga diri dan jaga kesehatan untuk kakak semua. . .


Salam hangat dari Author...

__ADS_1


Tapi tunggu dulu, jangan lupa like ya...


Terima kasih untuk kakak semuaaa😄😄😄


__ADS_2