Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 48


__ADS_3

Arul : "Apa Kakak ada hubungan dengan Kak Akbar?" DEG! Adinda nampak terkejut.


Adinda : "Apa maksudnya? Kakak sama sekali enggak ada hubungan dengan dia. Kenapa Adik kesayangan Kakak ini berfikir seperti itu, hum?" Sambil mengusap kepala Arul.


Arul : "Aku hanya merasa kalau Kak Akbar selalu memperhatikan Kakak, Arul selalu memperhatikan tatapannya itu, meski awalnya Arul fikir itu bukan untuk kakak, tapi memang tatapan itu untuk kakak."


Adinda : "Kami sama sekali tidak ada hubungan Dek, jadi kamu enggak perlu khawatir." Arul mengangguk.


Arul : "Lalu tentang... Kak Dim.mas?" Pertanyaan itu langsung membuat Adinda menatapnya bahkan reaksinya terlihat berlebihan, reaksi itu membuat Arul sedikit penasaran. "Kenapa reaksi Kakak berbeda dari sebelumnya?" Ucapnya dalam hati.


Adinda : "Ma.maksud kamu apa? Ke.kenapa dengan Kak Dimas?" Ucapnya sedikit gugup, hal itu membuat Arul semakin penasaran.


Arul : "Apa kalian sedang... ehmm dekat? Apa itu benar?" Tanyanya dengan penuh selidik.


Adinda bahkan sudah terlihat gusar dan bingung harus menjawab apa. Namun saat ia hendak membuka mulutnya, Dimas yang memang menuju Masjid bertemu dengan keduanya mereka saling adu pandang hingga pandangan Adinda dan Dimas bertemu namun sedetik kemudian Dimas langsung mengalihan pandangannya, ia menundukkan kepala pertanda permisi lalu melanjutkan langkahnya. Hal itu membuat Adinda sedih dengan sikap Dimas bahkan ia tidak tahu apa yang membuatnya berubah. Tiba-tiba ponsel miliknya bergetar..


Drrttt.... drrrtttt....


Adinda segera mengambil benda pipih itu dan segera melihat siapa yang menghubunginya ditengah malam begini. Tertulis nama "Papa" dilayar ponselnya, Adinda menatap Arul kemudian kembali melihat benda itu. Arul yang penasaran siapa yang menghubungi sang kakak, ia langsung meraih ponsel itu dari genggaman Adinda dan segera melihatnya. Arul yang masih kecewa langsung menggeser tombol merah untuk menolak panggilan itu, kemudian sebuah pesan dari sang Papa masuk, pesan itu bertuliskan menanyakan keberadaan mereka dimana namun diabaikan oleh Arul.


Adinda : "Sayang kamu jangan begitu, bagaimanapun dia tetap Papa kita mereka orangtua kita."


Arul : "Arul sedang tidak ingin berdebat Kak, jadi jangan bahas hal ini. Arul capek, Arul ingin istirahat." Arul langsung berdiri dan menuju ke Aula untuk merebahkan tubuhnya.


Adinda hanya bisa melihat kepergian Adiknya itu, punggung yang terlihat kokoh jika dilihat dari luar namun akan terlihat rapuh didalamnya. Rasa kecewa yang membuat Arul berubah sedikit cuek juga dingin meski dengan sang Kakak dia akan bersikap seperti itu, Adinda yang paham dengan kondisi Adiknya hanya bisa memaklumi dan juga berharap semoga Adiknya tidak semakin jauh lagi.


Adinda kemudian berdiri dan melangkah menuju bestcamp untuk istirahat, ia berfikir akan berbicara pada Arul ketika sudah kembali kerumah dan memikirkan cara agar hubungannya dengan Dimas kembali membaik, meski ia tidak tahu apa yang terjadi.


. . .

__ADS_1


Sesampainya di Aula, Arul langsung menjatuhkan tubuhnya dengan berbantalkan sebuah tas ia mencoba menutup matanya tanpa menghiraukan teman-temannya. Namun ia tidak bisa tidur, dia semakin gusar hingga membuatnya duduk kembali, berulang kali ia mencoba tidur namun tetap sama. Arul melihat jam dipergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul 00.40 malam hingga akhirnya ia beranjak bangun dan melangkahkan kakinya menuju Masjid kampus.


Arul semakin mantap melangkah meski sudah tampak sepi. Malam tampak sunyi hanya terdengar suara hewan malam saja. Langit semakin terang dengan cahaya bintang dan bulan yang selalu setia disetiap malamnya. Sesampainya didepan Masjid ia segera melangkah menuju tempat wudhu, ia membasuh wajahnya hingga selesai sampai ujung kaki.


Arul melafalkan doa dan kemudian ia masuk kedalam berharap ia mendapat ketenangan setelah menghadap Sang Pencipta. Arul melaksanakan shalat dua rakaat, setelah selesai shalat ia berdoa memohon ampunan dan pasrah dengan hidup yang ia jalani saat ini.


Setelah selesai, ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan Masjid itu. Pandangannya tertuju pada dua makhluk Tuhan yang sedang berkutat dengan benda yang berada didepannya. Satunya nampak sudah menguap tanda ia mengantuk sedangkan orang disebelahnya masih tetap setia, hingga ia berbicara entah apa pada temannya namun dari sikap keduanya ia tahu bahwa lelaki itu meminta temannya untuk istirahat. Karena temannya tersebut langsung merebahkan tubuhnya dengan nyaman disana.


Orang tersebut tak sengaja melihat Arul yang sedang menatap kearahnya hingga pandangan mereka bertemu, namun kemudian Arul langsung mengalihkan matanya kearah lain dengan melihat setiap sudut Masjid itu. Hal itu membuat Orang yang tadi ia pandang tersenyum tipis, ia bangun mengambil wudhu setelah usai ia masuk dan melaksanakan shalat sunnah. Tak berselang lama orang itu menghampiri Arul dengan tenang tanpa takut ia akan curiga atau tidak.


"Kau sedang apa disini?" Ucapnya sambil menatap Arul yang masih setia disana. Arul langsung menatapnya dengan wajah terkejut karena ia baru sadar orang itu berada disebelahnya.


Arul : "Ka.kak Dimas?" Ya orang itu adalah Dimas. "Aku hanya ingin disini sebentar." Jawabnya mencoba tenang, hal itu membuat Dimas mengangkat alisnya.


Dimas : "Kau tahu namaku? Padahal aku jarang sekali datang kemari." Arul mengangguk tanda bahwa ia mengetahui siapa nama orang yang ada didepannya.


Arul : "Siapapun pasti tahu siapa Kak Dimas, orang yang terkenal dingin dan dijuluki Raja Es, bahkan juga sangat datar." Jawabnya sedikit tersenyum. "Beberapa minggu lalu kita juga sempat beberapa kali bertemu dan makan bersama ketika Kak Dimas mengalami alergi dengan seafood lalu saat di Adhi Resto" Penjelasan itu membuat Dimas tersenyum tipis.


Arul : "Iya dia Kakak ku Kak, dan namaku Arul. Ehmm Arul Setiawan." Dimas mengangguk.


Dimas : "Apa kau sedang ada masalah?"


Arul : "Eh. enggak ada kok Kak."


Dimas : "Apa kau yakin?" Arul mengangguk. "Baiklah, kau tidak perlu bercerita jika tidak ingin. Tapi ingatlah ada saatnya kita harus berbagi keluh kesah kita pada orang lain, tapi jika kita tidak percaya dengan seseorang, berkeluh kesahlah pada Penciptamu, karena hanya Dia yang bisa membuat hati kita tenang. Tetaplah dekat dengan Dia dan jangan pernah menjauh sedikitpun." Kata-kata itu membuat Arul tertegun, karena ia tidak pernah mendapat kata-kata seperti itu sebelumnya kecuali dari Adinda yang selalu menguatkannya.


Arul : "Apa Kak Dimas juga pernah jauh?" Dimas menatap Arul kemudian ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya.


Dimas : "Setiap orang pasti pernah menjauh, ada yang sebentar lalu kembali, ada yang lama kemudian tetap kembali, bahkan ada pula yang sama sekali tidak kembali hingga malaikatpun tidak bisa lagi menunda untuk menjemputnya." Hening. "Saya pernah merasakan hal itu, disaat kehilangan kedua orangtua saya, saya merasa Tuhan tidak adil karena memisahkan kami disaat hari kebahagiaan kami. Saya sempat menjauh karena rasa kecewa saya, tapi semua tidak berlangsung lama karena saya kembali ingat siapa saya sebenarnya."

__ADS_1


Arul : "Ma.maksud Kak Dimas apa?" Ucapnya bingung. Dimas hanya tersenyum, senyum yang tidak pernah ia tampakkan pada siapapun kecuali pada keluarganya dan juga gadis kecilnya siapa lagi jika bukan adinda.


Dimas : "Kita hanya manusia biasa yang tak luput dari salah maupun dosa baik itu disengaja ataupun tidak. Ingat satu hal, apapun yang kita lakukan dan apapun yang kita dapatkan semua akan kembali pada pemilik-Nya, semua hanya titipan yang Tuhan berikan pada kita termasuk orang yang kita cintai sekalipun. Hal itu yang membuat saya sadar bahwa kita tetap akan kembali ke tanah karena kita hanya hidup sementara semua yang ada disini tidaklah kekal dan juga hanya sebuah titipan termasuk harta maupun nyawa. Jadi tetaplah pada jalurnya, jangan menjauh sedikitpun apapun yang terjadi, karena apa yang kita lakukan pasti ada balasannya."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Alhamdulillah malam ini bisa update lagi,,


Sehat selalu untuk kakak semua.

__ADS_1


Salam hangat dari Author.


__ADS_2