Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 121 Malam Puncak


__ADS_3

Dimas : "Saya sudah mengakhiri hubungan ini, bahkan sebelum Adinda pingsan saya sudah mengatakannya. Karena saya tahu, kamu tidak akan setuju dengan hubungan kami. Tolong kamu jaga Adinda dengan baik, siapapun lelaki yang akan kamu pilih nanti saya harap itu yang terbaik untuknya. Ehmm Akbar, tolong kamu jaga gadis ceroboh ini, karena dia akan bertingkah ceroboh jika tidak kamu perhatikan." Menepuk bahu MBA.


MBA yang sejak tadi diam terkesiap mendengar itu. Setelah mengatakan itu, Dimas langsung melangkah keluar dari kamar itu diikuti Andre, juga Septian. Meninggalkan Adinda yang menangis sesenggukjan disana. Sedangkan anggota yang lain hanya terdiam disana.


"Kyaaaaa!! Abang, a.apa yang terjadi dengan bibirmu?!" Orang itu teriak karena terkejut.


Dimas : "Saya baik-baik saja Angel, kamu tidak perlu khawatir seperti itu."


Angel : "Sayaaang, apa yang terjadi padanya? Kenapa bisa berdarah?" Tanyanya ketika melihat Yayak dibelakang Dimas.


Dimas : "Saya kembali ke Villa terlebih dahulu, kamu segeralah istirahat." Ucapnya sambil mengusap kepala Angel lalu melangkah pergi diikuti Andre.


Sepeninggal Dimas, mereka yang ada di kamar masih terdiam. Sedangkan Adinda masih dengan tangisannya.


MBA : "Dek, jangan keras dengan Kakakmu, ingat jaga emosi." Ucapnya menasehati Arul. "Lebih baik kamu istirahat sekarang karena ini sudah semakin malam. Jaga kesehatan kamu Din, kalian berdua juga sebaiknya istirahat saya tinggal dulu. Selamat malam." MBA melangkah pergi dari sana.


Amar, Ilham, Alvin juga Nauval ikut pergi tak berniat masuk lebih dalam. Geraldi, Adit dan Firman masuk ke kamar itu.


Geraldi : "Din, loe tenangin diri dulu ya. Kalian juga lebih baik istirahat sekarang."


Adit : "Sebaiknya itu yang kalian lakukan. Kita berdua keluar dulu, Arul kami keluar." Geraldi dan Adit melangkah keluar kamar.


Firman : "Haaah. Kakak tidak mengharapkan ini dari kalian berdua, apa yang akan Kakak katakan ke Mama jika kalian seperti ini?" Amel, Vania dan Azriel menatap tak mengerti dengan ucapan Firman. "Ketika disini, kalian berdua itu tanggung jawab Kakak jadi please Kakak mohon, Kakak harap kalian jangan bertengkar. Arse, Kakak tahu kamu kecewa tapi tolong bicarakan ini baik-baik." Firman melangkah mendekati Adinda. Cup. Firman mengecup kening Dinda membuat Amel, Vania juga Azriel terkejut. "Jaga kesehatan kamu Mara, percayalah semua akan baik-baik saja, hem?" Adinda langsung memeluk Firman. "Cup cup jangan menangis lagi, aku tahu ini berat tapi ini sudah menjadi keputusan lelaki dingin itu dan ini tidak bisa ditarik lagi olehnya kecuali adikmu itu berubah fikiran, heeh entah kenapa kau juga memiliki Pangeran Es yang sama seperti dia jadi keduanya sama-sama susah untuk mencair." Umpatnya kesal.


Arul : "Apa Kak Rangga tahu tentang hal ini?" Firman mengangguk.


Firman : "Iyaa, kenapa?" Jawabnya santai.


Azriel : "Sebenarnya seberapa banyak yang tahu hubungan ini?" Gumamnya pelan yang masih bisa didengar. Semua mata menatap Azriel. "A.apa? Kenapa kalian melihat ku seperti itu?" Tanyanya gugup.


Arul : "Kau juga tahu tentang ini Ziel?" Azriel menghela nafas.


Azriel : "Gue enggak sengaja tahu, tapi mana mungkin gue cerita ke loe jika Kak Dinda saja belum siap cerita! Yang ada nanti loe mukul gue kaya loe mukul Bang Dimas tadi."


Firman : "Kalian bicarakan ini baik-baik, jangan gunakan emosi kamu Arse. Semua sudah selesai bukan? Bahkan Tuan Muda Adhitama itu pasti akan menjauh dari Kakak kamu ini. Jadi lebih baik kalian jangan bertengkar lagi seperti ini. Amara?" Panggilnya sambil mengangkat dagu Adinda, jemari terulur mengusap airmata Dinda. "Sudah yaa, jangan menangis lagi seperti ini. Jika memang kalian berjodoh maka tidak akan kemana, kalian pasti akan kembali bersama." Firman langsung beranjak, dan melangkah keluar diikuti Azriel dibelakangnya.


Arul juga langsung pergi tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, bahkan ia tidak menatap wajah sang Kakak sedikitpun.


Adinda : "Hikss, maaf. Maaf." Ucapnya semakin terisak.


Vania : "Sudah Din, jangan nangis lagi kita berdua enggak tega lihat loe lemah seperti ini."


Amel : "Kita sayang sama loe Din, jangan seperti ini." Mereka berdua langsung memeluk Adinda hingga gadis itu tertidur karena lelah menangis


* * *


Sejak kejadian semalam, siang ini kedua Villa itu tampak lebih ramai dari sebelumnya. Bukan hanya karena banyak yang harus dikerjakan tapi juga karena malam ini merupakan malam puncak kegiatan PPA, jadi semua anggota bersama mempersiapkan untuk acara nanti malam. Para anggota juga mengundang pemuda dan warga di sekitar Villa.

__ADS_1


Sementara Dimas kini masih berdiam di kamarnya, memandang pigura kedua orangtuanya yang tergantung didinding namun sesekali juga ia melihat photo gadis cerobohnya yang tersimpan di ponsel. Setelah ia berkoordinasi dengan Arya, ia memutuskan masuk ke kamar untuk menyelesaikan berkasnya tanpa meminta Andre maupun Arya untuk mengurus hal ini karena mereka memiliki tugas sendiri di PPA.


Dimas : "Mungkin memang ini yang terbaik untuk kita Din, semoga kamu bisa bahagia dengan Akbar." Gumamnya pelan namun juga menyakitkan.


TOK . . . TOK . . .


Ceklek!


Shekar : "Are you oke Dim?" Dimas mengangguk lalu melangkah masuk. "Aku dengar kejadian kemarin malam, Direktur juga dengar bahkan penghuni Villa juga sudah dengar, apakah hatimu baik-baik saja setelah berpisah dari Kakak ipar?"


Dimas : "Ada urusan apa kamu kesini?" Tanyanya tak menanggapi.


Shekar : "Hei, jangan mengalihkan pembicaraan kau itu selalu seperti ini. Menyembunyikan luka seorang diri termasuk pada kami. Heuuft. Aku hanya ingin menyerahkan berkas ini. Ini hasil laporan yang kau minta beberapa hari yang lalu, disitu tertulis jika Tuan Lee dan istrinya terbukti melakukan penggelapan dana proyek yang baru kita jalankan. Makanya proyek itu terlambat dan tidak sesuai dengan jadwalnya. Wahai Investor Hitam, sekarang apa yang akan kau lakukan untuk semua ini?"


Dimas : "Keluarlah sekarang Shekar, aku akan mengurusnya."


Shekar : "Apa kau tidak ingin keluar? Aku lihat Kakak ipar tadi hanya diam saja diluar." Hening, Dimas langsung menatapnya tajam. "Baiklah baik, aku akan keluar sekarang. Kau it selalu saja seperti itu, tatapan tajam dan dinginmu selalu mendominasi." Gerutunya namun juga melangkah keluar meninggalkan Dimas sendiri di kamarnya dengan berbagai laporan.


*


Akhirnya malam puncak tiba, ba'da isya para anggota dan tamu undangan mulai berdatangan. Malam ini benar-benar ramai dan terasa hangat, seluruh penghuni malam tampak berbaur menjadi satu.


Indra : "Baiklah, karena sudah berkumpul semua maka kita langsung mulai saja acara malam ini. Untuk para lelaki, silahkan mulai menyiapkan alat pemanggang yang sebelumnya sudah disediakan. Mari kita mulai saja acaranya karena malam yanh sudah semakin malam."


Setelah mendapat instruksi itu, mereka langsung memulai acara. Tawa canda menjadi satu, terlihat kehangatan di Villa ini bahkan ini lebih kekeluargaan.


Azriel : "Baiklah, untuk menemani acara kita malam ini. Setelah saya dan kedua kakak saya ini selesai makan besar, kami bertiga memutuskan melakukan konser mini. Yang suka tolong dengarkan, yang tidak yaa sudahlah yaa. Oke kita mulai. Eitss, siapapun boleh request."


Amar : "Lagu ini kami dedikasikan untuk orang yang kami sayangi."


Ilham : "Untuk dia yang juga selalu menjaga kami, menganggap kami ada. Meski harus merasakan sakit."


Ilham dan Amar langsung memetik senar gitar. Azriel mulai bersuara.


🎵


🎶


Salahkah aku


Mencintaimu


Memilikimu


Menyayangimu


Jangan paksakan kita untuk.

__ADS_1


S'lalu bersama


Jangan paksakan kita untuk


S'lalu mencinta


Para anggota yang tahu lagu itu langsung menatap ketiganya.


🎵


Salahkah aku


Mencintaimu


Memilikimu


Menyayangimu


Bila kita harus berpisah, sudah


Biarkan ini semua berakhir, sudah


Cinta memang tak harus miliki


Adinda yang mendengar lagu ini, yang awalnya tersenyum kini tanpa sadar airmata keluar begiu saja. Dimas yang tidak keluar, ia langsung melihat dari arah balkon kamar, melihat orang yang ia cinta sedang menangis disana dan direngkuh oleh kedua sahabatnya.


🎵


Jangan paksakan kita untuk


S'lalu bersama


Jangan paksakan kita untuk


S'lalu mencinta


Bila kita harus berpisah, sudah


Biarkan ini semua berakhir, sudah


Cinta memang tak harus miliki…


Adinda terus menangis tanpa suara hingga lagu itu selesai didendangkan. Banyak mata yang melihat hal ini tak terkecuali Arul, MBA serta anggota lain yang mengetahuinya.


Amel dan Vania langsung merengkuh Adinda dan membawanya kembali masuk ke Villa. Dimas dan MBA, keduanya merasa sakit melihat tangis itu namun memilih untuk diam.


Sedangkan Arul dan Firman langsung mengikuti ketiga gadis itu ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2