Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 97 Rencana Kegiatan


__ADS_3

Firman : "Melihat sifatmu yang memang hangat dan sifat Dimas yang seperti itu, aku tidak yakin Dimas bisa bersikap egois dan menganggap Arse tidak ada, dia pasti akan lebih memilih adikmu Mara. Kenapa hubungan kalian serumit ini sih!" Gerutunya dalam hati. "Apa yang akan kamu lakuin, jika Dia memutuskan untuk mempertahankan Arse ketimbang hubungan kalian?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Firman dan sukses membuat Adinda menoleh dengan cepat.


Adinda : "Kenapa Kakak bertanya seperti itu sih?" Ucapnya kesal.


Firman : "Kenapa wajahmu tegang seperti itu? Gue hanya sekedar bertanya saja. Anggap gue ini sahabatnya Dimas bukan Kakak loe. Apa jawaban kamu dari pertanyaanku tadi?"


Adinda hanya diam menunduk bahkan kedua tangannya sudah bertautan, jari jemarinya saling meremas tanda cemas. Bahkan pertanyaan yang Firman ajukan begitu susah untuk ia jawab. Keduanya langsung menghela nafas dengan berat.


Adinda : "A.apa Kak Dimas akan mengambil keputusan seperti itu?" Firman hanya mengedikan kedua bahunya tanda tidak tahu. "Heuuft, kenapa serumit ini." Ucapnya pelan.


Firman : "Baiklah, hari sudah mulai petang sebentar lagi Papa pasti akan pulang. Kita sudah terlalu lama mengobrol disini. Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi Mara, masuklah dan mandi. Tenangkan fikiran dan juga hatimu. Aku masuk dulu."


Firman meninggalkan Adinda seorang diri disana. Ia tidak berniat untuk masuk lebih jauh hubungan adik dan juga sahabatnya. Biarkan itu menjadi perjalanan mereka sendiri, dia akan mendukung jika memang itulah yang terbaik. Tak berselang lama, Adinda juga ikut masuk karena ia ingin bersih-bersih mengingat cahaya langit yang sudah mulai redup.


* * *


Kini waktu yang ditunggu akhirnya tiba, hari ini adalah hari Sabtu dimana pada hari ini seluruh anggota baru PPA akan berkumpul untuk membahas kegiatan selanjutnya.


Amel : "Huaaaa akhirnya kita bakalan ada acara lagi, iiiih senengnya gue."


Vania : "Meeel, loe sehatkan ya?" Tanya Vania yang tangannya sudah menyentuh kening Amel.


Amel : "Iss apaan sih loe Van, rese banget loe nih." Jawabnya sambil menepis tangan Vania.


Vania : "Lagian loe tuh senengnya enggak ketulungan tau, ada apa sih seneng banget? Bakal ketemu Bang Ammar yah?" Ucapnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Ada yang nama gue nih." Celetuk seseorang dibelakang mereka. Ibarat pepatah Pucuk dicinta ulampun tiba, yaah orang itu tak lain adalah Amar.


Vania : "Waaah kebetulang banget nih Abang disisni, ada yang kangen nih." Ucapnya terkekeh. Sedangkan Amel mendengus kesal.


Amar : "Enggak usah begitu mukanya, kalau kangen bilang aja ke gue." Ucapnya percaya dengan diri.

__ADS_1


Amel : "Idiiiiiih, kepedean banget loe Bang." Jawabnya cepat, ia langsung menarik tangan Vania dan pergi dari hadapan Amar.


Amar : "Dasar cewek bar-bar." Amel yang mendengar langsung menjulurkan lidahnya.


Ilham : "Ada apa loe senyum-senyum sendiri? Kesambet sama si bar-bar ya loe?" Amar langsung menoleh kesumber suara.


Amar : "Rese loe Ham." Dengusnya kesal. Amar langsung melanjutkan langkahnya ke Aula Maha Karya, karena disanalah tempat berkumpul. Ilham langsung mengikuti langkah Amar.


Mereka yang sudah berkumpul disana adalah Indra, Yayak, trio jumpling, MBA, Raka, Arya, Rara, Shinta, Angel, juga PJ. Sedangkan Firman masih ada meeting dengan para client.


Adinda dan Arul yang baru datang langsung memasuki Aula, karena mereka yakin para sahabatnya sudah menunggu disana.


Amel : "Dindaaaaaaa!" Teriaknya, tiba-tiba kemudian. Pletak!! "Loe! Kenapa loe menyentil dahi gue." Ucapnya kesal sambil mengusap dahinya yang sakit.


Geraldi : "Lagian loe ini ya kebiasaan, loe enggak lihat kita sekarang dimana, hem?" Amel langsung memandang sekelilingnya. Banyak para mata yang menatap kearahnya, Amel langsung menyengir. "Kebiasaan buruk loe ini harus segera diubah." Ucap Geraldi heram.


Amel : "Sory khilaf gue mah. Saking senengnya ketemu sama Dinda." Jawabnya tanpa dosa.


Azriel : "Dia mah memang kebiasaan dipasar induk tahu Kak." Celetuk Azriel yang memang baru tiba dan berada dibelakang Adinda. Amel menatap dia tajam.


Adinda : "Sudah, kalian ini selalu saja bertengkar. Coba sekali aja aku enggak dengar kalian seperti ini, bisa enggak?" Ucapnya penuh harap.


"Enggak!!!" Jawab para sahabatnya dengan kompak, kecuali Amel yang hanya mendengus dengan kesal.


Amel : "Kaliaaaaan! Awas aja gue aduin loe orang sama Kagan gue, noh dia lagi didepan. Dia lagi mandangin gue yang cantik jelita." Ucapnya dengan centil.


Vania : "Coba saja Mel, gue jamin deh. Enggak berhasil!!." Ucapnya yang membuat Amel bertambah kesal.


Alvin : "Kak Memel, gue mohon jangan bar-bar donk. Nanti kalau ada cowok yang pengen deket loe terus dia ilfeel gimana?" Amel langsung memelototkan kedua matanya dengan tajam.


Nauval : "Jangan sampai deh Bang Gerald jadi cowok terakhir yang mau sama Kakak." Hal itu semakin membuat Amel kesal.

__ADS_1


Geraldi : "Gue?" Menunjuk dirinya sendiri. "Gue mah ogah sama dia, cukup satu perumahan aja sudah buat gue pusing apalagi hidup sama dia. Bisa remuk semua ini badan gue."


Amel : "Dindaaaa, loe enggak mau belain gue?" Rengeknya. "Awas loe Rul, jangan ikut-ikutan." Sedangkan Arul hanya menggelengkan kepala. Namun kemudian...


Arul : "Arul mah enggak mau Kak, semua itu rumit untuk difahami oleh anak sekecil Arul." Amel menatapnya tajam.


Amel : "Kenapa ucapan loe ini malah semakin buat gue terpuruk ya?" Semuanya terkekeh. Ketika Amel akan menjawab, suara Arya langsung mendominasi disana.


Arya : "Selamat datang semuanya, selamat pagi menjelang siang. Baiklah disini akan saya sebutkan terlebih dahulu siapa Senior PPA yang ikut datang kemari, ada saya Arya selaku Waka Humas disini, Ketua kita Bang Indra, Keamanan kita Bang Yayak, Perlengkapan Bang Raka, Kesehatan Bang MBA, untuk konsumsi dan lain-lainnya kebetulan masih ada kesibukan juga ada para anggota yang lain seperti Ilham, Amar, Septian juga ada para ledies disana kalian bisa melihatnya sendiri. Ah iya, disini Ka. Perlengkapan harua diganti mengikuti kebijakan para pembina karena suatu hal."


Indra : "Yaa jika ada yang bertanya kenapa dan ada apa, Bang Yayak akan menjelaskannya." Yayak yang mendengar itu langsung melotot dan menatap Indra.


Yayak : "Ettdaaah, ini orang mentang-mentang jadi ketua main tunjuk aja." Gumamnya kesal. "Hecmmm oke, kita langsung ke intinya saja karena tadi waka humas sudah memberi sambutan, hari ini kami memberitahukan bahwa ketika masa libur kalian nanti akan ada kegiatan sosial dimana sesuai kesepakatan acara itu akan diadakan di Puncak. Kita disana hanya tiga hari, karena mengingat dari kalian semua juga masih ada yang belum kelas tiga. Kenapa tidak share ke grub karena ya kita akan langsung membagi tugas, meski sebenarnya tugas kalian sesuai dengan posisi kalian dalam bidangnya tapi peralatan juga perlengkapan kita tetap siapkan bersama." Jelasnya panjang lebar tanpa jeda.


Arya : "Yaa disini perlengkapan baru kita yang akan memberikan daftar peralatan maupun perlengkapan yang harus kita siapkan disana."


Raka langsung mengambil alih pengeras suara dari Arya. Kemudian ia memperkenalkan diri sebagai perlengkapan yang baru dan dilanjutkan dengan pembahasan apa saja yang harua disiapkan mengingat kegiatan kali ini akan dilaksanakan di Puncak.


Disaat yang lain berdiskusi dan saling berbicara, Azriel tampak melihat Adinda yang sejak tadi memandang kearah pintu. Azriel yang paham akan hal itu langsung mengeluarkan suaranya.


Azriel : "Bang boleh tanya?" Ucap Azriel setelah mengangkat tangannya. Arya dan yang lainnya diam dan langsung mengangguk. "Apa Bang Raja hari ini akan datang?" Semua hanya orang mengernyit bingung. "Eeh maksud gue, Bang Dimas." Maksudnya sambil terkekeh.


Yayak : "Kenapa? Apa kamu ada sesuatu yang ingin disampaikan atau ada hal lain?" Tanya Yayak. Yayak tak sengaja melihat guratan penuh harap dari wajah Adinda. "Jadi bocah ini menanyakan Dimas karena Adinda. Tapi tunggu, berarti dia tahu tentang hubungan mereka? Bagaimana mungkin." Gumamnya pelan.


Azriel : "Enggak ada sih, aku hanya sekedar tanya saja. Soalnya kalian selalu bareng."


Indra : "Kebetulan Bang Dimas ada kesibukkan sendiri hari ini, jika ada yang bertanya kenapa weekend tetap sibuk? Ya karena memang itulah kegiatannya, karena menurutnya tidak ada hari untuk libur walau hanya sebentar. Tapi bukan berarti dia tidak beristirahat, karena kami yang disini akan memaksanya untuk ikut." Kali ini Indra yang menjawab.


"Betul bangeet, haha." Jawab ketiga jumpling dengan kompak.


Yayak : "Hei bocah, nanti temui saya. Ada hal yang ingin aku bicarakan."

__ADS_1


__ADS_2