
Karena trauma itu, Dimas menjadi sangat berubah. Selama satu minggu ia masih meratapu kepergian orang yang ia cintai, tidak hanya satu namun keduanya pergi sekaligus. Sikapnya ini membuatnya berhenti sementara dalam studinya selama kurang lebih 1 tahun. Selama itu pula sikapnya menjadi berubah, ia yang memang sudah dingin menjadi lebih dingin dan sangat datar, tatapan matanya berubah menjadi semakin tajam.
Para sahabat dan kedua adiknya hanya bisa menghela nafas mereka karena perubahan itu. Hingga selama itu ia kembali melanjutkan studi, banyak yang berfikir ia sudah kembali seperti dulu namun pemikiran itu salah, dia masih tetap sama datar, dingin, mata elang dan ya dia siap mencabik siapapun yang mengganggunya.
Akhirnya Dimas kembali melanjutkan studinya seperti keinginannya yaitu di Universitas Nusa Bangsa ia mengambil S1 di Jurusan IT dan kini ia sudah semester 5, sebentar lagi ia akan segera sidang karena skripsinya hampir selesai.
Dimas memang sedari kecil sudah pandai, semua pendidikan ia lalui dengan mudah. Bahkan meski kedua orangtuanya telah meninggal ia masih bisa mengejar ketertinggalannya dan melanjutkan S.2nya di London. Di usianya yang kini hampir 23 tahun, ia melanjutkan S.2 dan masih tetap membahas tentang bisnis hanya Fakultasnya yang berbeda karena di S2-nya ia masuk Fakultas Master Of Bussiness Administration (MBA), dan ditahun ini ia sudah menyelesaikan tesisnya.
Kini ia hanya akan fokus pada Perusahaan dan fokus pada skripsinya yang memang sebentar lagi akan selesai dalam hitungan minggu saja.
Sejak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu, secara otomatis posisi CEO langsung berpindah padanya hingga sekarang. Lalu sejak Dimas menjabat sebagai CEO, Perusahaan kini semakin berkembang pesat karena sudah mendirikan cabang dalam berbagai bidang dan semua itu tersebar di berbagai Negara lain.
Dimas menjadi seorang CEO dari sebuah Perusahaan yang terkenal dalam Bidang Properti sekaligus Arsitektur tidak hanya perhotelan maupun vila yang berada di Indonesia, kini Adhitama Company sudah merambah hingga Benua Biru. Aparteman dan hotel disana sudah berdiri sejak Dimas menjabat sebagai CEO muda.
Bukan hanya bisnis properti saja masih ada Bidang Pertambangan yang berada di Kalimantan, Bidang Pabrikasi terutama bagian otomotif yang langsung berpusat di Jerman. Bidang Konstruksi, dan kini merambah ke Bidang Kuliner dan Bidang Agraris terutama pertanian karena masih sangat banyak yang mengkonsumsi makanan dengan pupuk pestisida maka dari itu ia masuk dalam bidang ini, sebuah tanaman organik yang akan di ekspor ke berbagai Supermarket.
Khusus untuk bidang kuliner dan otomotif merupakan bisnis yang Dimas awali sebelum menjadi seorang CEO, jadi ia hanya meneruskan saja. Namun agar tidak membuat curiga para client maupun khalayak umum ia tetap mengikuti sebuah prosedur yaitu dengan melakukan kerjasama yang diawali dengan mengirimkan proposal kerjasama dengan begitu tidak ada yang mengetahui jika kedua usaha itu masih merupakan usaha yang dimiliki oleh Pimpinan Adhitama Company. Hanya orang tertentu yang mengetahuinya.
Dimas End. . .
Malam harinya, Dimas keluar dari Kantor yang diikuti oleh Andre juga Arya. Setelah mereka membicarakan tentang Yosuung Grup dan membuat rencana, akhirnya mereka memutuskan pulang.
Arya : "Apakah Anda akan langsung pulang Tuan Muda?" Tanya Arya ketika mereka sudah berada dilantai satu.
Dimas : "Ya, kami akan langsung pulang. Apa kau ada acara malam ini?" Arya menggeleng. "Ikutlah denganku, ini sudah malam dan anak-anak yang lain sudah berada di Rumah. Kau bisa istirahat bersama mereka disana." Dimas langsung memasuki Mobilnya setelah mengatakan itu, sedangkan Arya masih terdiam.
Arya : "Apakah boleh?" Ucapnya dengan wajah polos itu.
Andre : "Tentu saja boleh, ikutlah denganku sebelum dia berubah fikiran." Arya mengangguk dan mengikuti langkah Andre.
Kini Arya yang mengemudi, karena ia merasa bahwa sangat jarang kesempatan seperti ini. Sebelumnya Pak Anwar sudah diminta pulang oleh Dimas karena waktu yang sudah semakin malam dan itu tidak baik untuknya. Andre yang akan mengemudi dilarang oleh Arya, dan sekarang inilah akhirnya. Arya menjadi sopir, Andre duduk disebelahnya dan Dimas tetap berada dibangku belakang.
__ADS_1
Mereka berada dalam fikiran masing-masing, Arya fokus pada jalanan, Andre mengecek email dalam ponselnya sedangkan Dimas hanya memejamkan matanya. Sesekali Andre melirik Dimas melalui kaca dalam mobil.
Andre : "Apa kau baik-baik saja Bang?" Tanya Andre pada Dimas setelah melihat kerutan di dahinya.
Dimas membuka matanya, kemudian tanpa menjawab ia hanya melihat keluar jendela. Melihat cahaya malam disepanjang jalanan kota yang sudah mulai lengang.
Dimas : "Apakah mereka bahagia disana Andre?" Tanyanya tanpa menoleh sedikitpun. "Apa mereka benar-benar sudah bahagia?" Ucapnya lagi.
Sesaat Andre hanya diam mendengar pertanyaan itu. Kemudian ia berusaha menetralkan fikiran dan sikapnya karena masih ada Arya disana.
Andre : "Saya rasa mereka kini bahagia, karena Anda sudah membuat perusahaan menjadi semakin baik." Mendengar itu Dimas hanya diam namun tetap memandang langit malam.
Tak berselang lama mereka akhirnya tiba di mansion utama Adhitama. Dimana dalam mansion iti sudah ada satu kelompok lelaki yang bisa diperkirakan saat ini sedang heboh. Karena suara mereka begitu jelas hingga keluar, entah apa yang mereka lakukan saat ini.
Andre dan Dimas keluar terlebih dahulu kemudian disusul oleh Arya. Sejenak Arya berhenti melangkah.
Andre : "Ada apa? Kenapa kau berhenti Arya?" Tanya Andre yang melihat sikap Arya.
Dimas : "Tenanglah Arya, didalam hanya ada Yayak, Indra, Amar, Ilham, Septian dan Firman." Jelasnya. "Kau tidak perlu khawatir jika mereka mengetahui ini." Arya menangguk dan melanjutkan langkahnya mengikuti Dimas.
TING.... TONG....
Andre menekan bel yang berada disiai pintu.
Ceklek! Suara pintu terbuka. Nampaklah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Bi Arum. Dimas melangkah masuk.
Bi Arum : "Aden baru pulang?" Dimas mengangguk. "Aden ingin makan apa? Biar Bibi siapkan dulu."
Dimas : "Tidak perlu Bi, Bibi istirahat saja. Apa Septian dan yang lain ada didalam?"
Bi Arum : "Iya Mas, Mas Septian ada didalam bersama temannya."
__ADS_1
Dimas : "Tolong antar Arya kesana ya Bi, saya keatas dulu."
Bi Arum : Bi Arum mengangguk. "Mari saya antar kedalam." Arya mengikuti langkah Bi Arum. Sedangkan Andre memasuki kamarnya setelah Dimas melangkah.
Amar : "Waaaah ada tamu ternyata." Ucap Amar ketika melihat Bi Arum bersama Arya. Yang lain menoleh.
Ilham : "Kebetulan sekali, sini deh Ar. Kita lagi mau makan nih, tadi Firman kesini bawa makanan banyak." Arya mengangguk.
Septian : "Abang gue sudah pulang?" Arya mengangguk. "Apa di Kantor ada masalah." Tanyanya lagi.
Arya : "Ada sih, hanya sedikit. Loe tenang aja." Jawabnya. "Indra, Yayak sama Firman kemana?" Tanyanya yang tak melihat ketiga sejoli itu.
Septian : Ada kok masih di gazebo, tadi lagi bahas kegiatan pas liburan." Arya mengangguk sambil memakan pizza yang ada didepannya.
Amar : "Memang loe masih jadi sekretarisnya Dimas? Arya mengangguk. "Terus Bu Maya?"
Arya : "Oh kalau Bu Maya masih tetap sekretaris Dimas hanya saja dia dibagian Luar Negeri, jadi bisnis Luar dia yang mengurus. Gue cukup dalam saja, tapi terkadang juga ikut di Luar hanya yang tertentu saja." Jelasnya.
Firman : "Waaah lihat ada siapa nih? Arya Felistyawan si sekretaris Babang Dimas." Ucap Firman yang baru masuk diikuti Indra dan Yayak.
Yayak : "Sudah lama loe Ar?"
Arya : "Belum lama sih, mungkin baru 15 menit duduk disini."
Indra : "Mereka berdua ikut pulang, atau loe yang diajak kesini?"
Arya : "Gue yang diajak kesini, kebetulan tadi Pak Boss minta gue kesini karena ada kalian. Jadi gue ikut aja." Mereka mengangguk.
Andre : "Loe sudah makan Arya?" Tanya Andre yang baru saja turun dari lantai 2. Dia sudah berwajah segar terlihat dari rambutnya yang masih basah.
Arya : "Sudah, ini lihat banyak makanan sampai kenyang gue disini."
__ADS_1
Andre : "Hey bontot, ajak Arya ke kamar tamu. Biarkan dia bersih-bersih dulu." Septian yang masih menikmati potongan pizza mendengus kesal, saat ia akan membantah langsung diurungkan karena melihat sang pemilik mata elang sedang menuruni anak tangga.