
Setelah kejadian hari ini, Arul mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Yaa dia masih ragu untuk menanyakan sesuatu pada sang Kakak, meski masih banyak pertanyaan ia memutuskan untuk diam dan membiarkan Adinda tenang terlebih dulu.
Sementara dikamar Adinda yang sudah mengganti seragam tengah duduk termenung diranjangnya, dengan bersandar dikepala ranjang ia memainkan ponselnya. Perlahan ia mengusap layar ponsel itu dan melihat benerapa pesan dari Dimas yang belum ia balas. Ketika ia akan membalas pesan itu, pesan baru muncul lagi, yang tak lain dari Dimas.
Raja Es❤
_Tidak perlu membalas semua pesanku jika kamu sedang sibuk, cukup kamu memberi kabar saja jika kamu sudah berada di Rumah.
Ting!!
_Untuk beberapa waktu, saya tidak akan mengganggumu. Fokuslah dengan ujianmu saja.
Ting!!
_Jangan mengkhawatirkan yang belum terjadi, tapi jika apa yang kau takutkan itu benar terjadi, katakan, maka aku akan segera mengambil keputusan.
Ketiga pesan itu masuk secara berurutan ketika Adinda ingin membalas pesan yang sebelumnya. Adinda menghela nafas dengan pelan, ia tahu saat ini hanya Dimas yang bisa mengerti dirinya namun disisi lain ia juga takut apa yang ia khawatirkan benar terjadi. Ia seakan belum sanggup melepas lelaki dingin itu, bahkan ia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.
Adinda kemudian mengetik pesan, tak berselang lama lalu ia mengirim pesan tersebut. Setelah itu barulah ia merebahkan tubuhnya untuk mengistirahatkan semua yang sudah membuatnya lelah.
"Apa yang Dinda khawatirkan mungkin Kakak juga mengkhawatirkan, hanya saja Dinda minta Kakak bisa memperjuangkan semuanya. Jangan mengambil keputusan yang membuat hubungan ini berakhir, Adinda mohon."
Seperti itulah balasan yang ia kirim untuk Raja Es yang tak lain adalah Dimas.
Sedangkan Dimas yang saat ini berada di Perusahaan tengah fokus pada layar laptopnya, ia langsung mengmbil benda pipih miliknya untuk melihat siapa yang mengirim pesan. Setelah melihat siapa, ia langsung membaca balasan pesan dari Adinda. Diam, itulah yang ia lakukan saat ini.
"Aku sudah mengatakan padamu, perjuangan tidak bisa dilakukan hanya dengan satu orang saja. Melainkan harus dilakukan bersama, aku akan memperjuangkannya jika itu yang kamu minta. Tapi apa aku bisa memperjuangkannya sendiri?" Gumamnya pelan.
Tanpa menjawab pesan itu, Dimas kembali memfokuskan matanya pada berkas yang menumpuk dan file proyek yang ada dihadapnnya.
* * *
Hari ini adalah hari terakhir pelaksanaan Ujian, masih dalam kondisi yang sama hanya saja Adinda sudah lebih baik dari hari pertama. Hingga saat ini mereka juga belum tahu ada apa dengan Adinda, bahkan Arul juga tidak tahu karena ia memilih diam untuk saat ini.
Amel : "Selamat pagi menjelang siang semuanyaaaa! Selamat hari ini hari terakhir Ujian kita." Teriaknya dengan ceria.
Amel yang mendapat perhatian dari siswa yang lain hanya nyengir kuda sambil memperlihatkan deretan giginya, tak lupa juga dua jarinya yang sudah diangkat. Peace✌
Adit : "Ampun deh, gue punya sahabat lima model loe gini langsung pingsan gue." Cibirnya.
"Gak kuaaaaatt!!!" Jawab Vania dan Geraldi dengan kompak. Sedangkan Amel langsung mendengus kesal dan menghampiri Adinda.
Vania : "Ngadu sama emak deh tuu." Ucapnya, Amel langsung menatapnya tajam.
Amel : "Dindaaaa! Lihat tuh sahabat loe ngeledek gue, loe enggak mau belain gue apa?!" Adinda hanya mengernyitkan dahinya. Sedangkan ketiga sahabatnya memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
Adinda : "Memang kenapa dengan mereka Memeel. Mereka seperti biasa kok." Jawabnya pura-pura tidak tahu.
Amel : "Loe sama mereka itu sama aja tahu gak. Iiih sebel gue." Adinda dan yang lain hanya tertawa saja.
Geraldi : "Kita itu memang sama Memeeel, jika Dinda sedang lembut padamu itu mungkin dia belum sadar sepenuhnya." Amel semakin mendengus kesal, tak lupa dengan bibirnya yanh sudah maju.
Restu : "Waaaah kalian ini yaa, kenapa akhir-akhir ini selalu ninggalin gue sendiri sih!" Ucapnya kesal.
Adit : "Lagian loe ya Res, setiap kita ajak jalan selalu saja kabur duluan. Bosen kita mah." Jawabnya.
Vania : "Iya ih loe itu selalu kabur setiap kita aja keluar, jadi mending kita berlima aja. Loe huss husss sanah." Ucapnya mengikuti salah satu Artis terkenal Indonesia.
Restu : "Gue itu sibuk banget sekarang, gue harus nerusin usaha Bokap gue. Kalian kan tahu sendiri usaha Bokap gue sedikit menurun, jadi gue harus ikut turun tangan."
Amel : "Baiklah, bagaimana jika hari ini kita jalan ke Mall juga boleh."
Adit : "Boleh tuh, kebetulan gue juga bosen tapi masa kita ke Adi Resto lagi sih. Ganti tempat donk kemana gitu."
Vania : "Iya ih, kita pindah tempat yuk kemana gitu. Sebenarnya tidak apa jika kita kesana lagi karena tempatnya juga nyaman, menurut loe gimana Din?"
Adinda : "Soal itu, terserah kalian saja enaknya dimana dan kemana. Yang penting kalian nyaman, Arul juga nyaman."
Tak berselah lama, Arul dan ketiga sahabatnya datang dan langsung mengambil posisi untuk duduk.
Arul : "Kak, kita jadi kan ke Rumah Tante Randa?" Adinda tersenyum mengangguk.
Adinda : "Sory, keputusan ada sama Arul Memel, please." Ucapnya menyesal.
Azriel : "Udah deh loe Mel, sehari aja tanpa Kak Dinda kenapa sih." Celetuk Azriel yang jengah melihat sikap sepupunya itu.
Geraldi : "Sudah-sudah kalian ini, tapi sepertinya kita enggak asal kumpul deh nanti."
Alvin : "Kenapa memang Kak? Kan Ujian juga udah selesai, jadi hari ini kita bebas donk."
Nauval : "Iya Kak, yaah hitung-hitung untuk menyegarkan fikiran setelah Ujian."
Adit : "Ada apa sih Ger?" Tanya Adit yang melihat Geraldi diam.
Azriel : "Bentar gue lihat handphone dulu." Azriel langsung melihat ponselnya, terdapat pesan masuk. "Waaaah, benar deh kita harus jalan cari perlengkapan."
Adinda : "Ada apa Ziel? Ada masalah?" Kini Adinda yang bersuara.
Azriel : "Aaah bukan masalah Kak, tapi pemberitahuan untuk kumpul ke PPA."
Setelah mengatakan itu, mereka yang ada disana langsung mendapatkan pesan yang sama.
__ADS_1
_**Diberitahukan untuk seluruh anggota baru PPA, bahwa hari Sabtu akan diadakan rapat pada pukul 10:00 di Aula Mahakarya.
Hal ini untuk membahasa kegiatan selanjutnya yang akan segera diadakan selepas Ujian selesai.
Diharapkan, seluruh anggota baru bisa menghadiri rapat tersebut. Yang tidak hadir dianggap mengundurkan diri dari jabatan maupun anggota.
TTD
Waka Humas,
Arya Felistyawan**
Seluruh anggota baru mendapatkan pesan yang sama tanla ada yang berbeda sedikitpun. Berhubung sekarang hari Kamis, maka mereka masih memiliki waktu untuk istirahat.
Adinda : "Ya Allah, apakah ini jawaban yang Engkau berikan untuk hamba." Ucapnya dalam hati.
Keterdiaman Adinda membuat Arul mengalihkan pesan itu, dan menatap sang Kakak.
Arul : "Kakak baik? Apa ada masalah dengan pesan ini?" Adinda hanya tersenyum.
Adinda : "Tidak ada masalah sedikitpun sayang. Kakak hanya sedang berfikir, tanaman apa yang akan kita bawa untuk Tante Randa, Om dan Vanya."
Arul : "Tanaman yang sekarang masih booming Kak, janbol dan keladi, bagaimana?"
Adinda : "Baiklah kita akan membeli itu untuk Tante dan Om."
Vania : "Sepertinya kalian benar benar memiliki rencana sendiri yah."
Arul : "Maaf deh Kak, bukannya Arul enggak bolehin Kak Dinda tapi yaa ini sudah direncanain sebelum Ujian. Kan masih ada Kak Memel tuh."
Amel : "Apa nama gue disebut?"
Arul : "Waah Kak Amel sungguh peraya diri sekali sekarang." Ucapnya terkekeh.
Amel : "Kyaaaaa!! Din, bisa enggak sih itu adik loe dimasukin lagi ke perut Tante. Gedek banget gue sama dia." Adinda hanya terkekeh.
"Yang ada loe aja Mel." Jawab Azriel, Adit dan Geraldi dengan kompak."
Amel hanya mendengus kesal dan jangan lupakan bibirnya yang sudah maju.
Vania : "Itu bibir tolong dikondisikan yah Mel, mau gue kuncir itu bibir." Amel semakin mencebik.
Adinda : "Baiklah, aku sama Arul duluan yah. Kita ingin cari tanaman dulu. Ingat kalian hati-hati dan kalian para lelaki tolong jagain Amel dan Vania."
"So sweet!!" Ucap Vania dan Amel bersamaan, mereka berdua langsung berhambur memeluk Adinda. "Kita sayang loe Din." Bisik keduanya, dan pelukan itu semakin erat.
__ADS_1
Setelah drama itu, mereka langsung membubarkan diri. Geraldi dan yang lainnya pergi ke Mall sedangkan Adinda dan Arul mencari tanaman hias yang akan ia bawa ke Rumah Wijaya.