
Indra : "Sudah cukup sampai disini, kita lanjutkan lain waktu. Saya minta segera siapkan semuanya, lengkapi apapun yang belum lengkap." Mereka mengangguk paham. "Satu lagi, untuk kalian bertiga ingat urusin urusan kalian sendiri, jangan ikut campur dengan hidup orang lain terutama kehidupan sahabat saya karena saya tidak akan jamin apa yang dikatakan Dimas akan terjadi atau tidak. Oke kita cukupkan, Go PPA!!!" Teriak Indra sambil mengepalkan tangannya didepan bahunya."
"Go PPA!!!" Jawab mereka bersamaan.
Setelah usai, mereka berhambur keluar namun masih ada juga yang tetap tinggal sekedar untuk bercanda dan membicarakan hal yang baru saja terjadi.
Sementara disisi lain Dimas benar-benar merasa amarahnya memuncak karena mendengar ada orang lain yang telah menghina keluarganya sekalipun Andre dan Septian adalah saudara angkat, tapi mereka tetap keluarga Dimas. Hal itu tidak dapat diubah oleh siapapun dan dengan cara apapun. Saat di taman. . .
Septian : "Bang?!" Panggil Septian, hal itu berhasil menghentikan langkah Dimas.
Dimas : "Ada apa?" Jawabnya sedikit dingin namun juga tersenyum tipis.
Septian dan Andre langsung menghambur untuk memeluk Dimas, hal itu membuat mahasiswa yang lain melihat kearah mereka bertiga. Bahkan itu menjadi pemandangan langka, karena jarang sekali mereka bertiga seperti ini, hal tersebut juga tak lepas dari Yayak, Angel, Amar, Ilham juga Indra begitupun anggota lain yang baru keluar dari bastcamp PPA. Dimas tak membalas pelukan itu.
"Terimakasih!" Ucap Septian juga Andre bersamaan.
Andre : "Terimakasih karena telah menganggap kami ada, terimakasih karena telah mendukung dan membela kami." Ucap Andre sedikit terisak.
Septian : "Terimakasih udah terima kami berdua Bang! Terimakasih untuk semua yang telah loe lakuin buat kita berdua. Maaf jika selama ini gue bandel dan enggak dengerin omongan loe. Maaf untuk semua sikap gue selama ini yang udah bikin loe kesel. Loe memang orangtua, kakak, sahabat, teman, kawan, partner yang sangat baik buat kita meskipun memang dingin." Septian menunjukan deretan giginya, bahkan suasana yang tadi haru kini berubah.
Andre : "Loe kenapa rusak suasana yang haru sih Sep!" Septian hanya cengengesan. "Ohiya, satu lagi Anda juga tuan yang baik untuk saya."
Dimas : "Apa kalian sudah selesai bicara?" Mereka terdiam dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Septian : "Aaah kenapa berubah jadi dingin lagi sih!" Mereka yang melihat hanya terkekeh mendengar ucapan Septian. Begitupun Dimas, ia juga ikut tersenyum meski tipis.
Dimas : "huh. Kalian saudara saya, kalian teman saya juga kawan saya, kalian sahabat saya, dan kalian juga keluarga saya, kalian. . . adik saya." Mendengar kata terakhir dari Dimas, sekali lagi mereka langsung memeluk Dimas dengan erat dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "mereka bisa mengatakan apapun tentang saya, tapi kalian akan tetap adik saya terlepas dari status kalian yang sebenarnya. Saya tidak ingin orang lain berkata buruk tentang keluarga saya. Tapi, tolong lepaskan pelukan kalian." Ucapnya kembali dingin, akhirnya mereka berdua melepaskan pelukan itu.
Septian : "Aah loe nih Bang ngancurin suasana yang lagi haru aja." Dengus Septian dengan kesal.
Andre : "Sudah Sep, hari ini mood Dimas sedang dalam mode naik, jangan sampai gue juga ikutan kena karena ucapan loe barusan."
Septian : "Ah loe juga ngikut aja, belain gue keh Ndre jangan belain Dimas terus." Dimas langsung pergi meninggalkan perdebatan antara Septian dan Andre. Sesaat mereka sadar jika mereka sudah ditinggalkan... "Dimaaaaass!" Teriak Septian namun langsung dibekap oleh Andre.
Andre : "Loe bisa diem enggak?! Jangan sampai dia emosi lagi dan marah lagi. Loe mau dia bunuh kita setelah aura membunuhnya keluar kaya tadi?" Septian meneguk salivanya sendiri kemudian dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.
Septian : "Enggak deh Ndre, belum siap gue mati sekarang apalgi gue masih muda, keren belum juga punya bini. Lah kalau jodoh gue nangis karena gue mati gimana coba?" Pertanyaan itu langsung membuat Andre meninggalkannya mengikuti Dimas. "Andre?! Loe kok ninggalin gue sih tungguin dooonk! Nanti gue diambil orang loe yang ribet enggak ada temen ribut di rumah." Andre tetap berjalan tanpa melihat kebelakang. "Aaah kalian berdua enggak asik aaah!" Rengekan Septian membuat Mahasiswa yang lain mengetawakan kelakuannya. "Apa kalian liat-liat! Gue colok itu mata tau rasa!" Septian langsung lari mengejar Andre juga Dimas tanpa mempedulikan orang lain yang sudah tertawa.
Yayak : "Sejak kapan loe disini? Loe tadi kan di dalem kenapa udah disini aja?"
Angel : "Iya ih, kalian juga kapan lagi nyampe sini."
Indra : "Kita disini dari saat kalian masih fokus liat Dimas, Andre juga Septian." Ilham dan Amar mengangguk.
Amar : "Yaa drama keluarga receh!" Ilham langsung tertawa diikuti Amar.
Ilham : "Gue kangen lihat mereka kaya gini, keharmonisan keluarga terlepas dari status mereka yang sebenarnya." Yang lain ikut mengangguk.
__ADS_1
Indra : "Semarah-marahnya Dimas tapi dia masih bisa mengontrol emosinya apalagi ini masih di kampus, tapi jika sudah berada dikantor. . ." Kata-katanya terhenti oleh Amar dan Ilham.
"Beuuuuuuh! Mengerikan sekali!" Jawab mereka kompak.
Yayak : "Ya mereka saling membutuhkan, mereka saling melindungi dan saling menjaga, saling mencintai. Terlepas dari status mereka yang sebenarnya. Mereka tetap akan seperti itu, semoga dengan begitu mereka bisa saling menguatkan dan kita juga bisa saling mendukung."
Angel : "Tapi. . ." Yang lain menoleh meninggu ucapan Angel. "Gue masih kesel sama itu wanita ayam, kenapa enggak loe skak aja sih Ndra dari ketua bidang perlengkapan?!" Dengus Angel dengan muka yang kembali merah padam, Yayak langsung menenangkan kekasihnya.
Indra : "Awalnya memang gue enggak ingin, tapu satu hal gue hanya berharap dia bisa merubah sikapnya menjadi lebih baik lagi. Bahkan keyakinan itu masih ada, meskipun dengan sikapnya tadi tapi semoga aja itu bisa jadi pelajaran biat dia dan kedua temannya."
Angel : "Inget yaa kalau sampai itu ayam kampus berani bikin ulah lagi, gue abisin itu orang sekaligus sama kedua pengawalnya itu." Ucap Angel dengan suara menggebu bahkan kedua tangannya mengepal dengan erat, Amar dan Ilham hanya bergidik ngeri melihatnya.
Yayak : "Sayaaang, sabarlah Dimas pasti bisa ngadepin wanita itu, kamu jangan ikutan ya aku enggak pengen kamu kenapa-kenapa." Ucapnya dengan lembut.
Angel : "Oooh so sweet, makasih sayang kuuu." Jawab Angel dengan nada yang taka kalah lembut. Sikap mereka berdua langsung membuat Ilham dan Amar bergidik dan berpura-pura seperti akan muntah.
Ilham : "Tolong yaa, ini masih wilayah kampus jadi jaga sikap kalian." Ucapnya dengan mada sedikit kesal.
Amar : "Kasihaaan mata suci dedek ternodai Ya Allah, tolong ampuni sahabat hamba ini."
Yayak : "Halaaaah bilang aja kalian iri kan, makanya jadi jomblo jangan kelamaan nanti karatan."
Amar : "Eeeeh itu mulut kadang memang bener deh!" Jawabnya dengan wajah polos. Sedangkan yang lain hanya tertawa, dengan jawaban polos dari Amar.
__ADS_1