Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 68


__ADS_3

Sementara di rumah keluarga Wijaya, mereka kini tengah menikmati makan malam dengan ceria memang setiap harinya mereka akan selalu hangat namun kali ini berbeda karena kedatang Arul membuat Randa menjadi semakin hangat karena ia ingin Arul selalu mendapatkan kehangatan seperti ini yang sudah lama tidak ia dapatkan.


Randa : "Sayang ayo dimakan yah, ini ada makanan kesukaan kamu loh. Tante masih ingat kamu suka soup daging, omelet juga makanan daerah saja. Pokoknya malam ini spesial makanan kesukaan kamu semuanya." Ucapnya dengan begitu semangat, Arul yang diperlakukan seperti ini sangat terharu, dan Rahmad ikut tersenyum melihat sang istri. Namun berbeda dengan Firman juga Vanya yang mendengus kesal.


"Sebenarnya yang anak Mama siapa sih?" Ucap keduanya dengan kompak, membuat ketiga orang dihadapannya tertawa.


Randa : "Kalian berdua memang anak kandung Mama, tapi untuk malam ini Arse yang akan jadi Pangeran Mama." Ucapannya kini membuat Vanya mendelik tidak percaya.


Rahmad : "Sayang jangan menggoda Putrimu, kamu tahu sendiri bagaimana Vava jika sudah marah." Ucapnya ikut menggoda sang anak.


Firman : "Yaa Papa benar, Putri Mama ini akan marah jika perhatian Mama terbagi dan dia pasti akan merengek padaku saat itu juga." Kini Firman juga mengikuti drama keluarganya. Vanya yang melihat keluarganya seperti itu semakin kesal dan langsung.


Plak! Sebuah pukulan melayang dilengan Firman. Sedangkan yang dipukul langsung mengaduh.


Firman : "Awww sakit tahu Dek." Ucapnya sambil mengusap lengannya itu.


Vanya : "Rasain tuh pukulan maut dari Vava, siapa suruh Kak Rangga ikut-ikutan." Ucapnya dengan perasaan senang.


Firman : "Tapi Papa juga kan, kenapa hanya Kakak yang kamu pukul. Seharusnya Papa juga donk, enggak adil itu namanya."


Rahmad : "Dasar tuman kamu ya, jangan buat adikmu jadi anak durhaka. Lagipula mana mungkin dia berani, kalau sampai itu terjadi maka uang jajannya akan Papa potong. Haha."


Vanya : "Hecmm Vava memang tidak berani dan tidak bisa, tapi..." Hening sebentar, mereka semakin penasaran. "Tapi Mamaku yang cantik ini bisa memberi hukuman untuk Papa, iya kan Ma?" Ucapnya penuh percaya diri. Kini tawa Pak Rahmad terhenti dan langsung menatap istrinya dengan bergidik ngeri, hanya hukuman dari sang istri yang membuatnya takut.


Firman : "Waaaah bener banget itu Dek. Sekarang Papa yang kalah, jadi selamat menikmati ya Pa." Ucapnya penuh kemenangan.


Firman dan Vanya langsung tertawa melihat wajah sang Papa yang menurutnya lucu. Sedangkan Randa hanya terkekeh dengan ketiga orang yang sangat dicintainya, ia sangat bahagia dan merasa beruntung mendapat suami juga kedua anak yang begitu saling mencintai.


Randa : "Sudah kalian ini selalu saja menggoda Papa, ayo sekarang kalian makan." Randa langsung menuangkan nasi untuk suami juga anaknya tak lupa untuk Arul juga.


Arul : "Eeh tidak usah Tante, Arul bisa sendiri kok lagipula meski Kak Dinda selalu manjain tapi Arul sudah biasa sendiri." Ucapnya merasa tidak enak hati.

__ADS_1


Randa : "Sayang kamu juga anak Tante, meski tidak lahir dalam rahim Tante tapi kamu tetap keluarga Tante jadi jangan melarang Tante untuk melayani keluarga Tante sendiri."


Rahmad : "Sudahlah, biarkan saja Mama mengambilkan makanan untukmu. Memang itulah kebiasan Mama yang akan selalu kami rindukan, jadi kamu cukup duduk dengan nyaman biarkan Mama mengambil makanan untukmu Arse." Ucap Rahmad dengan hangat.


Vanya : "Benar kata Papa, kita keluarga jadi sudah seharusnya kita saling memberi." Kini Vanya yang berbicara, setelah lama diam karena kedatangan Arul. Namun setelah mendengar cerita dari Firman, ia bertekad untuk dekat dengan adik sepupunya itu. Sedangkan Firman hanya tersenyum bangga pada adik perempuannya.


Randa : "Nak, jangan menganggap kami ini orang lain ya. Kami semua keluarga kamu, jadi jangan sungkan dam mereka berdua kakak sepupu kamu dan kamu juga bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama seperti Vanya juga Rangga. Tante akan sangat senang." Ucapnya dengan penuh harap.


Arul : "Apa Arul bisa seperti itu Tante? Selama ini aku dan Kakak hanya tinggal berdua saja, dan kami tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Jadi kami pasti akan terlihat canggung. Maaf, bukan maksud Arul untuk menolak tapi memang inilah kami." Ucapnya lalu menunduk sendu. Randa yang merasa sakit melihat Arul langsung berdiri dan memeluk lelaki tampan itu.


Randa : "Sayang... Arse lihat Tante nak." Arul langsung menatap Randa. "Apapun yang terjadi dengan kamu maupun Amara biarkan saja, anggap semua itu hanya angin berlalu, semua itu hanya batu loncatan agar kalian menjadi lebih baik lagi. Ingatlah satu hal, rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian kami sangat menyayangimu, Tante tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi lagi dengan kalian. Cukup lima tahun lalu kalian merasakan kesepian tapi tidak untuk sekarang." Arul yang mendengar itu langsung membalas pelukan Randa dengan erat. Ketiga makhluk Tuhan yang masih ditempatnya itu menatap dengan haru.


Vanya : "Oke kita cukupkan drama keluarga ini, sekarang lebih baik kita makan. Karena Vava sudah sangat lapar sekali." Rengeknya dengan manja.


Firman : "Huuh dasar kamu nih ya, enggak bisa lihat makanan enak. Setiap lihat makanan enak langsung tidak sabar untuk memakannya."


Vanya : "Kyaaa! Kak Rangga ini itu masakan Mama, Jadi jelas saja Vava enggak sabar." Dengusnya dengan kesal.


Firman : "Hecmmm ngeles aja terus." Jawabnya dengan cepat. Ketika Vanya akan menjawab, ia langsung dihentikan oleh Randa.


Mendengar itu, semuanya langsung melanjutkan makan yang sempat tertunda sebelumnya. Disaat mereka tengah senang menikmati makan malam, berbeda lagi dengan Adinda yang tengah khawatir mencari keberadaan adiknya.


* * *


Adinda : "Ya Allah dimana adik hamba, kemana dia pergi." Gumamnya pelan yang sudah merasa lelah karena tak kunjung menemukan Arul.


Hampir menjelang Maghrib, Adinda sudah keluar dari rumah untuk mencari keberadaan adiknya namun lihatlah, sudah lewat waktu Maghrib adiknya itu belum ketemu juga. Sudah berbagai tempat ia kunjungi dari danau didekat taman pinggiran kota hingga taman pusat kota namun hasilnya tetap sama. Hingga akhirnya kini ia memasrahkan segalanya kepada Sang Pencipta. Ya saat ini Adinda berada dibangunan megah dengan lima menara yang menjulang tinggi berwarna kuning keemasan.


Adinda kini tengah berkeluh kesah dengan berbagai keadaan yang terjadi hari ini terutama keberadaan sang adik yang belum tahu dimana. Adinda memanjatkan doa kepada Tuhan-nya berharap mendapatkan jawaban atas segala yang ia pasrahkan. Tak berselang lama, sebuah getaran yang cukup keras muncul dari tas yang ia taruh didepannya. Sebuah nama muncul dari layar ponsel yang baru saja ia ambil dari dalam tas. Adinda langsung menekan tombol hijau disana.


Adinda : "Hallo Assalamu'alaikum, sayang kamu kemana saja?" Ya orang dibalik telepon itu adalah Arul.

__ADS_1


Ketika keluarga Wijaya tengaj asik menyantap makan malam, Arul yang teringat dengan sang kakak langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Adinda.


Arul : "Maaf Kak, Arul baru pegang HP soalnya tadi sempat habis baterai." Ucapnya dengan menyesal.


Adinda : "Ya Allah, sekarang kamu dimana? Kakak akan segera kesana, kamu kirim alamatnya." Lanjut Adinda dan langsung mematikan secara sepihak, bahkan dia tidak memberikan celah kepada Arul untuk menjawab.


Setelah mendapat kirimin alamat dari Arul, Adinda langsung bergegas keluar dari Masjid setelah merapikan mukena kedalam lemari penyimpanan. Namun sebelum itu tak lupa ia ucapkan rasa syukurnya karena Allah telah menunjukkan keberadaan adiknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf up sedikit ya kak, karena kondisi badan yang belum memungkinkan,,


Jangan lupa like, vote and comment yah,

__ADS_1


Jaga kesehatan untuk kakak semua, dan


salam hangat dari Author😊😊


__ADS_2