
Kedua kakak beradik itu langsung pergi kebelakang setelah peralatan sudah siap. Tak lupa bibit bunga dan buah-buahan yang sudah mereka siapkan sejak jauh-jauh hari.
Arul : "Apa Kakak yakin ingin menanam sayur ini?" Tanya Arul meyakinkan Adinda.
Adinda : "Yakin sayang. Karena sayuran itu sehat dan tubuh kita butuh itu. Apakah bibit buah sudah kamu bawa?" Arul mengangguk.
Arul : "Setelah menanam sayuran. Aku akan menanam buah Jeruk dan buah Apel disini." Adinda tersenyum mengangguk.
Mereka melanjutkan aktivitas itu untuk menghabiskan waktu senja ini dengan berkebun. Karena untuk menanamnya waktu yang bagus adalah pagi maupun sore hari. Hal ini bagus untuk pertumbuhan tanaman.
Arul : "Apakah mawar disana juga harus kembali ditanam dipot ini?"
Adinda : "Tentu saja. Mawar itu diberikan Tante Randa, jadi kita harus merawatnya. Nanti jika Tante datang dan tidak melihat mawar ini, Beliau pasti akan marah." Jelasnya.
Arul : "Hecmm betul juga. Aah bisakah kita datang kesana lagi dan membawakan beberapa tanaman hias lainnya?" Tanyanya penuh harap.
Adinda : "Tentu saja boleh sayang. Apapun yang membuat Tante senang." Arul semangat mendapat izin dari sang Kakak.
Arul : "Tanaman apa yang bagus untuk Tante?" Ucapnya sambil berfikir. "Bagaimana jika tanaman yang sekarang sedang booming?"
Adinda : "Tanaman yang saat ini sedang booming? Tanaman seperti apa sih Dek, jangan bilang tanaman Janbol?"
Arul : "Hecmmm itu boleh juga. Ya seperti itu Kak, atau macam aglo yang sedang diminati."
Adinda : "Hecmm boleh saja. Baiklah setelah selesai ujian kita langsung mencari hadiah untuk Tante." Arul mengangguk antusias.
Arul : "Ehmm apakah boleh jika Arul yang memilihnya?" Adinda mengangguk. "Yeii terimakasih ya Kak."
Mereka melanjutkan aktivitas itu hingga matahari hampir tak terlihat lagi. Selepas itu mereka langsung masuk ke Rumah untuk bersih-bersih dan bersiap karena sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib.
* * *
Adhitama Company. . .
Dimas : "Apa kau sudah melakukan apa yang saya suruh Andre?"
Andre : "Sudah semua Tuan, kita hanya tinggal menunggu kabar dari Shekar tentang keadaan dan kelanjutan cabang disana." Dimas mengangguk paham.
Dimas : "Bagaimana dengan Yosuung Grup? Apa ada pergerakan dari mereka?"
__ADS_1
Andre : "Saya akan segera memanggil Arya untuk datang kemari." Andre menunduk da keluar dari ruangan Dimas dengan sopan.
Dimas kembali fokus dengan laptop yang ada didepannya dengan sesekali ia melihat berkas yang ada dimeja. Tak berselang lama, Andre masuk bersama Arya.
Ya hari ini Arya sudah berada di Perusahaan Adhitama, karena ada hal yang akan ia sampaikan dan mengingat jadwal kerjanya hanya beberapa kali dalam satu minggu.
Arya : "Permisi Tuan Muda." Ucapnya dengan hormat.
Dimas : "Laporkan apa yang ingin kau laporkan Arya." Pintanya.
Arya : "Sore ini pihak Yosuung Grup kembali menghubungi untuk memastikan kehadiran Anda. Tetapi karena sebelumnya Tuan Andre sudah memberitahu, saya hanya menyampaikan apa yang sudah saya terima darinya."
Dimas : "Siapa yang menghubungimu? Hanya sebatas sekretarisnya saja atau..."
Arya : "Awalnya sang sekretaris yang menghubungi saya, tetapi sore ini Tuan Lee yang menghubungi secara langsung." Jelasnya.
Andre : "Bagaimana reaksinya setelah mendengar jawabanmu?"
Arya : "Dia tetap kekeuh ingin Tuan Muda langsung yang datang kesana. Kemudian dia berniat mengakhiri panggilan, tapi sebelum itu saya sempat mendengar bahwa ia tengah membicarakan tentang Anda dan putri sulungnya. Entah dengan siapa dia berbicara namun setelah sadar panggilan belum berakhir ia segera mematikannya." Dimas dan Andre langsung mengernyitkan dahinya.
Dimas : "Segera hubungi Shekar dan yang lainnya Andre." Andre mengangguk. "Arya segera kamu konfirmasi mata-mata kita yang berada di Yosuung, pastikan semuanya saya terima malam ini juga." Arya mengangguk paham dan pamit untuk keluar mengikuti Andre yang sebelumnya sudah keluar dari ruangan. "Kau berurusan dengan orang yang salah Tuan Lee." Gumamnya dengan sikap tenang.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya yang terletak disudut meja.
"Apa kau sudah pulang ke Rumah? Apa meetingmu berjalan lancar?" Seperti itu isi pesannya. Dimas yang membaca pesan itu langsung menghubungi si empunya.
TUT. . . TUUT. . .
? ? ? : "Hallo, Assalamu'alaikum." Ucap seseorang diseberang sana.
Dimas : "Wa'alaikumussalam... Apa kau sudah makan?" Seseorang diseberang sana hanya mengangguk saja. "Hei jangan mengangguk Dinda, karena saya tidak akan melihat itu." Ya orang yang sedang ia hubungi tak lain adalah Adinda.
Adinda : "Iya sudah, apa Kakak juga sudah makan? Bagaimana meeting hari ini? Apakah berjalan lancar? Apakah sekarang Kakak masih di Kantor?" Tanyanya tanpa jeda.
Dimas : "Ya semua berjalan dengan baik. Terimakasih karena sudah memberi semangat. Yaa sekarang saya masih di Kantor, karena masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan untuk besok."
Ketika sedang berbicara, Andre masuk kedalam ruangan. Melihat Dimas yang masih menelepon, Andre kembali keluar karena tak ingin mengganggu sang Kakak.
Adinda : "Hecmmm baiklah, tetap jaga kesehatan disana. Jangan terlalu diforsir, karena kesehatan juga penting."
__ADS_1
Dimas : "Baiklah, akan saya ingat pesan itu. Segeralah istirahat ketika sudah shalat Isya nanti. Saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dulu."
Adinda : "Baiklah. Tetap semangat. Assalamu'alaikum." Ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu.
Setelah panggilan berakhir, Dimas segera memanggil Andre untuk masuk ke ruangannya.
Dimas : "Bagaimana? Apakah ada hasilnya?" Tanyanya dengan datar.
Andre : "Saat ini Shekar telah berhasil membeli saham dari para investor. Namun hanya investor yang merasa telah dibodohi oleh Tuan Lee, dan yang memang tidak mendukung Tuan Lee. Semua ada 5 investor, total dari saham mereka sebesar 15% dan yang lain adalah yang memang sudah bersekutu dengan Tuan Lee."
Dimas : "Berapa saham yang saat ini mereka miliki?"
Andre : "Tuan Lee memilik 35% saham, Nyonya Lee hanya memiliki saham sebesar 5%. Namun istri keduanya tidak memiliki sedikitpun, karena Tuan Lee hanya memberikan nafkah setiap bulannya." Dimas mengangguk faham. "Dari saham yang mereka miliki dan yang kita miliki sungguh berbeda jauh. Sekarang kita sudah menambah saham sebesar 15% jadi total sebesar 55%. Sedangkan 10% saham lainnya tetap pada pemegang lainnya."
Dimas : "Apa mereka curiga kenapa Shekar berniat membeli saham yang sudah anjlok itu?"
Andre : "Mereka memang bertanya, tetapi dengan jawaban yang tegas dan cermat Shekar berhasil meyakinkan para investor itu." Dimas mengangguk. "Mengenai putri sulung Tuan Lee, dia berencana akan mengunjungi Indonesia setelah masa libur nanti tiba." Dimas mengernyitkan dahinya. Belum sempat Andre menjelaskan, terdengar suara ketukan pintu. "Masuk." Ucap Andre.
Arya : "Maaf Tuan, saya hanya ingin menyerahkan laporan saja." Ucap Arya menatap Andre dan Dimas.
Andre : "Apa yang sudah kau dapatkan."
Arya : "Masa libur Sekolah nanti, Nona Kim Nisha akan datang ke Indonesia. Dia berniat ingin mengetahui Anda lebih dekat dan ehemm berniat untuk menggoda Anda." Ucapnya dengan pelan dan penuh kehati-hatian, karena itu adalah hal sensitif dan Dimas tidak menyukai hal tersebut. "Untuk berjaga-jaga saya sudah mendapat photo dari Nona Kim yang dikirim oleh Nona Wang. Nona Wang mengatakan bahwa mereka akan menggunakan segala cara untuk menggoda Tuan Muda." Menyerahkan photo Kim Nisha.
Andre : "Bagaimana dengan suara yang ada ditelepon sore tadi."
Arya : "Untuk soal itu tidak jauh berbeda dengan rencana mereka yang ingin menggoda Tuan Muda. Mereka sudah merencanakan ini dengan matang, sampai beberapa hal sudah disiapkan selama di Indonesia. Terutama untuk penginapan Kim Nisha selama disini. Tuan Lee sudah mengatakan pada putrinya bahwa dia harus berhasil mendapatkan Tuan Muda bila perlu melalui jebakan atau semacam lainnya, karena dengan begitu Tuan Lee bisa dengan mudah mendapatkan apa yang ia mau."
Andre : "Apa kau tahu, apa yang mereka inginkan sebenarnya?"
Arya : "Tuan Lee berniat ingin merebut Perusahaan dan mengembangkan Yosuung Grup agar menjadi Perusahaan yang disegani di Asia ini, karena dengan begitu ia bisa memiliki Perusahaan yang lain dengan mudah ditambah Perusahaan kita yang saat ini memang merambah hingga Benua Biru." Jelasnya. "Tapi sepertinya apa yang mereka rencanakan tidak akan berjalan dengan mudah bahka bisa gagal semuanya." Gumamnya dalam hati.
Dimas hanya diam mendengar pembicaan keduanya. Dalam diamnya bukan karena dia takut kalah atau yang lainnya, tetapi saat ini ia hanya sedang berusaha untuk tetap tenang jangan sampai emosinya meluap sebelum saatnya. Karena pertempuran ini bukanlah yang pertama namun sudah yang kesekian kalinya.
Andre dan Arya masih diam setelah pembicaraan mereka yang serius itu. Mereka masih menunggu perintah yang harus mereka kerjakan.
Dimas : "Tidak perlu terpancing dengan rencana atau perbuatan mereka. Tetap tenang dan ikuti saja renana itu, tetaplah bersikap seolah kita tidak tahu. Karena sejujurnya mereka tidak tahu siapa investor gelap itu sebenarnya."
Ucapnya dengan seringai yang menyeramkan bahkan tatapan matanya tak kalah tajam dengan elang, tatapanya seolah ingin menghunus musuhnya saat itu juga. Bahkan Andre dan Arya hanya bisa bergidik ngeri melihat orang yang ada didepannya.
__ADS_1