Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 152 Siapa Dia?


__ADS_3

Lelaki tampan itu langsung melangkah menuju taman yang berada ditengah gedung itu. Taman yang memang sudah ada sejak beberapa tahun lalu.


Sesaat matanya melirik keberbagai arah, melihat kesetiap sudut. Tidak ada yang berubah sedikitpun.


Dari balik kacamata hitam yang ia kenakan, siluet matanya menatap ke sudut taman yang terdapat pohon rindang yang dibawahnya terdapat pula sebuah bangku berwarna silver, tak lupa satu meja didepannya.


Ketika Lelaki tampan itu ingin mendekat, langkah kakinya terpaksa ia hentikan.


DEG..


. . .


Kedua mata tajamnya terpaku pada bangku yang ingin ia hampiri. Seorang gadis telah menduduki bangku itu, pipi yang chuby, mata yang indah, wajah yang ayu, berambut panjang sepinggang, bibir yang mungil.


Gadis itu mengenakan kacamata baca miliknya menambah kesan manis jika dipandang. Jika dilihat dari jauh gadis itu tengah serius membaca, namun siapa sangka jika sebenarnya gadis itu sama sekali tidak memandang buku yang tengah ia genggam.


Ia hanya menatap kosong buku tersebut, entah kemana fikirannya. Tidak ada yang baik-baik saja disana, tatapan matanya terlihat sendu.


Bagi mereka yang tidak tahu pasti melihat gadis itu tengah asik membaca buku yang ia genggam, namun untuk yang tahu pasti akan merasakan apa yang saat ini ia rasakan.


TES..


TES..


TES..


Entah disadari atau tidak, gadis itu kini meneteskan buliran mutiara yang keluar dari mata indahnya.


Perlahan namun pasti kaki Ditya melangkah mendekati gadis itu, entah ada apa dengannya. Fikirannya tidak ingin mendekat namun tubuhnya perlahan mendominasi untuk mendekati bangku itu.


"Hikss.. hikss.."


Terdengar suara isakan ketika Ditya hampir dekat dengannya.


"Ke.kenapa kamu pergi terlalu cepat? Bahkan aku belum sempat berbicara padamu, jangankan berbicara aku bahkan belum sempat mengirim pesan untukmu untuk sekedar meminta maaf. Hikss, apa ini karma untukku?" Celotehnya pelan sambil mengusap air matanya.


"Kak Dimmas." Ya gadis itu adalah Adinda yang saat ini tengah duduk dibangku favorit miliknya.


"Apa saat ini Kakak bahagia disana?" Ucapnya sambil menatap langit. "Apa kau saat ini sedang tersenyum diatas sana? Sudah beberapa bulan berlalu, tapi aku tetap seperti ini. Berharap, hikss.. sebuah keajaiban datang dihadapanku, apa aku salah jika aku tidak percaya kamu sudah pergi? Aku ingin percaya pada hatiku, tapi kenapa semua yang aku lihat membuat kepercayaanku pupus? Hingga akhirnya aku harus percaya jika orang yang aku cintai benar-benar pergi."


"Heuuffft." Adinda menghirup udara dengan bebas. "Apa kau tahu, beberapa waktu lalu kami semua mengadakan pengajian untuk kedua orangtuamu, dan... kamu." Senyumnya terbit.


"Hemmmch heuft. Kami datang dengan formasi lengkap terutama para sahabatmu. Aku baru sadar jika ada beberapa pigura besar disana, kau tampak gagah dpigura itu, terlihat auramu sama seperti orangtuamu juga."

__ADS_1


"Kami sungguh-sungguh berkumpul disana, seakan beban yang mereka pikul langsung runtuh saat itu juga. Namun Bang Septian menangis disana, dan apa kau tahu?"


Adinda kembali menghirup udara lalu menghembuskannya. Mencoba menata hati juga matanya yang mulai mengembun kembali.


"Apa kau tahu? Untuk pertama kalinya aku melihat Kak Andre menangis ketika memandang pigura saat itu. Padahal ketika di Pemakaman ia bahkan tidak menangis sedikitpun, bahkan ia sendiri yang masuk untuk mengangkat jenazahmu. Tetapi kemarin, sepertinya pertahanan yang ia miliki runtuh seketika."


.


.


Perih. Itu yang lelaki tampan ini rasakan sekarang, tiba-tiba dadanya terasa sesak disana.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikan Adinda.


Tap..


Tap..


Tap..


"Kak Adinda?" Panggil orang itu setelah berada didekat Adinda.


Baik Ditya maupun Adinda langsung menoleh kesumber suara.


Azriel : "Kakak sedang apa disini? Apa sedang nunggu Arul?"


Adinda : "Aah tidak ada." Jawabnya setelah menghapus air matanya. Namun tetap saja masih ada jejak disana. "Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini? Sedang janjian yah?"


Azriel : "Hahaa ya jelas enggak dong Kak, aku memang sering kesini. Kakak aja yang enggak tahu karena selalu serius disini sama Bang Dim.." Ucapannya terhenti. "Eeh, sory Kak. Aku enggak ada maksud buat bikin Kakak sedih."


Adinda hanya menjawab dengan senyum pada bocah manis itu yang tidak lain sahabat dari adiknya juga.


"Apaa.. ehmm, Kakak habis menangis? Kakak sedang mikirin Bang Dimas?" Hening, tidak ada jawaban dari mulut Adinda.


Adinda : "Apa lelaki itu sudah bahagia disana, Ziel?" Azriel langsung menatap Adinda lalu kembali melihat sekitarnya.


Azriel : "Tidak." Jawabnya pendek yang membuat Adinda langsung menoleh. "Bang Dimas tidak akan bahagia jika dia tahu wanita yang dicintainya selalu menangis sendiri. Seperti sekarang ini."


Adinda langsung tersentak mendengar jawaban dari bocah itu.


"Cobalah untuk bahagia Kak, jika Kakak seperti ini bukan hanya Bang Dimas yang sedih. Tapi kami juga, terutama Arul. Apalagi setelah kata-kata Bang Septian yang menyalahkan Arul waktu itu, itu pasti juga berpengaruh untuk dia Kak. Aku tidak menyalahkan dan juga enggak membenarkan, karena memang pada dasarnya itulah sifat manusia." Azriel membuang nafasnya dengan kasar.


"Kakak punya kami, kami semua sayang Kak Dinda. Sahabat Kakak pasti ingin melihat Kakak kembali seperti dulu lagi. Meski berat, tapi kita harus belajar ikhlas menerimanya."

__ADS_1


Adinda termenung mendengar kata-kata dari Azriel. Kemudian ia langsung menatap Azriel dan terkekeh.


"Eeeh, kenapa Kakak tertawa seperti itu? Apa kata-kata ku itu aneh?"


Adinda : "Tidak ada ang aneh, hanya saja sejak kapan kamu menjadi sok bijak seperti itu, hem?"


Azriel : "Huahahaa, gue itu memag selalu bijak Kak. Siapa dulu donk, Azriel gitu loh. Hahaa."


Azrel tetaplah Azriel, dia memang bisa bersikap dewasa namun ia tetap saja seorang bocah yang memiliki tingkah selengekan yang tidak akan hilang dalam waktu sekejap.


Adinda dan Azriel langsung bercerita entah apa yang membuat bocah itu semakin tertawa, terkadang ekspresinya itu serius, kadang cengo, lalu tertawa lagi. Hingga matanya beralih pada sosok yang memang tidak jauh dari sana yang sejak tadi masih setia disana.


Ditya, lelaki itu sejak tadi masih setia berada disana bahkan ia tidak beranjak sedikitpun.


"Bang Dim.mas." Ucap Azriel pelan namun masih bisa didengar oleh Adinda.


Adinda langsung mengikuti arah pandang Azriel dan deg...


Suaranya tercekat melihat lelaki yang tak jauh darisana, tengah beranjak dari bangkunya tadi. Tubuh tegap terlihat kokoh, dengan tinggi yang sama dengan Dimas. Postur tubuh itu bahkan sama meski dilihat dari belakang.


Kaki jenjangnya melangkah menjauh dari tempat dimana Adinda dan Azriel berada.


Deg..


Deg..


Deg..


Jantung Adinda berdetak, ia begitu mengenal tubuh itu bahkan sangat mengenalnya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia langsung melangkah cepat, ia berlari mengejar pemilik hatinya itu.


Azriel yang melihat Adinda lari langsung mengejarnya, mengikuti langkah kaki wanita yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya itu.


"Apa itu benar-benar Bang Dimas? Bagaimana mungkin? Tapi, tubuh itu sama persis dengan lelaki dingin itu." Ucap Azriel dalam hati.


Berbagai pertanyaan langsung memenuhi isi kepalanya, bagaimana bisa? Apakah mungkin? Tiba-tiba...


Bruk!!!


Azriel : "Kak Dindaa!!" Teriaknya ketika melihat Adinda terjatuh karena mengejar lelaki yang menurutnya misterius itu. "Kakak baik-baik saja kan? Apakah ada yang parah? Ayo kita ke Rumah Sakit sekarang."


Adinda : "Di.dia... Lelaki itu Kak Dimas." Ucapnya dengan suara tercekat menahan tangis. "Ziel, itu Kak Dimas. Kamu harus mengejar dia, panggil taxi atau apapun untuk mengejar dia. Hikss, hikss..." Azriel melihat lelaki itu sudah melaju dengan Mobil mewahnya. Ia bahkan tidak menghiraukan Adinda. "Azriel, kejar dia. A.aku mohon kejar dia. Azriel!!" Teriaknya dengan air mata yang sudah menggenang.


Azriel : "Kak Dinda. Kakak harus tenang, aku akan mencari tahu siapa lelaki itu. Sekarang kita obati dulu luka Kakak, apa kita ke Rumah Sakit saja?" Adinda hanya menggelengkan kepala. "Baiklah, kita obati disini saja. Ayo kita kesana." Menunjuk bangku yang ada di tempat parkir.

__ADS_1


"Kakak disini dulu, aku akan ke Apotek sebentar." Tidak ada jawaban, Azriel langsung mencari Apotek terdekat. "Gue harus cari tahu siapa lelaki itu. Untung saja gue hafal itu plat Mobil. Tapi, siapa dia? Kenapa dia langsung pergi setelah kami melihatnya?" Ucap Azriel dalam hati.


__ADS_2