
Septian terduduk lemas dilantai, air matanya mulai menganak pinak. Ia tidak bisa menahan laju air matanya, seketika ia ambruk mendengar cerita Shekar dan Pastu.
Dia serasa mendapat dentuman benda keras yang jatuh mengenai dadanya. Dadanya terasa begitu sesak hingga membuatnya sulit untuk bernafas seperti biasa.
Ia masih terguncang dengan berita ini, sama seperti Shekar. Septian menolak untuk percaya dengan semua ini. Pasti ada kesalahan dalam hal ini, tidak mungkin Dimas pergi meninggalkan dirinya bersama Andre.
Jika diminta untuk memilih, ia lebih memilih untuk menerima amukan Dimas daripada menerima berita ini. Ia tidak sanggup menopang semua ini, ia tidak bisa.
Sedangkan Andre, sejak mendengar berita itu. Ia menjadi lebih diam, ia tidak memberontak seperti adiknya. Andre memilih untuk diam, diam dan diam. Seakan diam adalah senjata yang ampuh untuk meredam emosinya.
Ia bersikeras untuk tidak menerima kabar itu, tapi kenapa keluarganya justru percaya jika jasad itu adalah Dimas? Padahal ia sangat yakin jika itu bukanlah sang Kakak, dia orang lain, orang baik yang rela menggantikan posisi Abangnya itu.
Andre memutuskan untuk kembali masuk ke kamar, meninggalkan Opa, Pastu, Shekar dan Septian.
Andre : "Saya permisi masuk ke kamar." Pamitnya dengan suara datar, bahkan wajahnya tidak memberikan ekspresi sedikitpun.
Ke empat lelaki beda generasi itu hanya menatap Andre sendu, mereka tahu pasti selama Dimas menjadi yatim piatu hanya Andre yang menemani Dimas kemanapun Dimas pergi.
Mereka masih berharap semua ini hanyalah sebuah mimpi saja, semoga keajaiban segera datang membawa kebahagiaan.
.
.
.
#Indonesia
Kabar kepergian Dimas sudah sampai ketelinga para sahabatnya.
Saat ini, Yayak dan yang lainnya berada di Mansion utama milik Adhitama. Mereka berkumpul disana, namun Firman masih belum datang karena ia harus mengurus sesuatu hal.
"Yayaaaaaaak?!" Teriak Amar dan Ilham saat memasuki Mansion.
Tidak ada jawaban sedikitpun, Yayak saat ini masih terdiam di sofa. Ditemani Indra, juga Shinta di hadapannya. Sedangkan disebelahnya ada Angel yang masih menangis sesenggukan, ia belum bisa menerima semua ini. Angel sudah kehilangan Kakaknya, ia masih beruntung karena setelah sang Kakak meninggal masih ada Dimas, tapi sekarang? Apa yang harus ia lakukan?
Amar : "Yayaaak! Katakan kalau berita itu tidak benar?! Jangan bercanda deh, kenapa kalian lakuin ini sih. Enggak lucu tahu gak!" Ucap Amar dengan suara meninggi.
Ilham : "Kalian kalau bercanda jangan kelewatan deh." Ilham terkekeh. "Jangan buat kita kesal, katakan jika itu bohong."
Sama seperti Septian, kedua jumpling itu pun juga menolak untuk percaya.
Yayak : "Apa kalian tidak membaca pesan dari Shekar di grub? Bahkan Om Pastu juga membenarkan itu bukan?"
Amar : "Enggak mungkin! Abang gue enggak mungkin meninggal Yak! Kalian pasti salah, Om Pastu juga pasti salah." Amar sesenggukan. "Ham, bilang ke mereka jika ini semua tidak benar, Dimas pasti masih hidup!"
Indra : "Amar tenanglah, kita sama-sama membaca dan menerima kabar itu. Arya bahkan juga membenarkan, bukan? Bukan hanya kamu dan Ilham yang terpukul, kami juga sama."
Ilham yang mendengar itu menunduk lesu, apa yang Indra katakan benar.
Angel : "Tapi kenapa secepat ini? Hikss, di.dia sudah berjanji untuk bersamaku, dia bilang dia a.akan selalu ada untukku. Lalu, kenapa dia pergi tanpa bilang apapun, hikss. Gue benci dia."
Yayak : "Hei, sayaang tenanglah. Kamu harus tenang, ikhlaskan semua ini. Biarkan Dimas tenang disana, ingat kita harus kuat demi Septian juga Andre. Aku yakin, Andre sangat terpukul dengan semua ini. Karena dari kita semua, hanya dia yang selalu bersama Dimas."
__ADS_1
Shinta : "Tenanglah Angel, apa yang dikatakan Yayak benar. Kita harus kuat untuk semuanya."
Indra : "Pantas saja Andre sempat melarang Dimas pergi dan memaksa ikut, apa mungkin ini sudah jadi firasatnya."
Yayak : "Gue sempat berfikir sama, tapi kembali lagi. Gue ingin berfikir positif dengan semua ini, meski kenyataannya tidak sama."
Ketika mereka sedang berbincang dan menunggu kembali kabar dari Shekar, seseorang datang dengan langkah cepat bahkan orang itu berlari dengan menggebrak pintu.
BRUAK!!!!
Seseorang membuka pinti itu dengan keras dan mengejutkan mereka semua.
"Apa yang sebenarnya terjadi?! Semua pasti salah!" Teriak orang itu.
"Firman." Gumam mereka pelan.
Firman : "Katakan jika berita itu tidak benar! Segera hubungi Andre untuk menyelidiki semuanya!
Amar, Ilham, Angel dan Shinta hanya diam saja. Mereka menunduk sendu.
Indra : "Tenanglah Firman, jangan seperti ini. Kita semua juga sedih."
Firman : "Bagaimana gue bisa tenang? Jika karena berita ini Adik gue harus masuk Rumah Sakit!"
Mereka menatap Firman lekat seakan bertanya, siapa yang ia maksud.
Angel : "Adik? Maksud loe siapa Fir?" Tanya Angel padanya.
Firman : "Amara langsung pingsan setelah mendengar berita tentang Dimas, dia syok dan kondisinya drop. Saat ini Mara sedang dirawat dan belum sadarkan diri." Ucapnya lemah.
Firman : "Dia enggak sengaja baca pesan di grub..."
Flashback On..
Drrrttt... Drrrrttttt....
Firman langsung mengambil handphone miliknya diatas meja makan. Saat ini ia berada di dapur untuk minum, sedangkan benda pipih itu ia letakan diatas meja.
Firman membuka pesan dilayar ponselnya, ia langsung terkejut ketika membaca pesan itu. Bahkan air minum yang sudah ia tenggak seketika muncrat, ia langsung membasuh wajahnya.
Namun sayang ponselnya masih terbuka, dan pesan itu masih terpampang disana. Adinda yang saat itu berada di Kediaman Firman tak sengaja membaca pesan itu saat akan melangkah mengambil air minum. Seketika wajahnya langsung pucat, gelas yang ia genggam langsung terjatuh.
Ctarrrrrr!!
Firman langsung lari saat mendengar itu, ia tersentak saat melihat pecahan gelas dibawah sana, kemudian matanya beralih pada seorang gadis yang menggenggam ponsel miliknya dengan tangan bergetar, matanya sudah berair, wajahnya kini berubah pucat.
Adinda : "A.apa ini benar?" Gumamnya pelan. "Apa lelaki itu benar-benar pergi?" Tanyanya sekali lagi. Matanya menatap Firman untuk mencari jawaban disana. Adinda terkekeh.
"Pasti ini hanya prank saja kan Kak? Ini hanya candaan kalian saja?" Firman diam sebagai jawaban. "Hikss.. ini enggak mungkin. Tidak mungkin dia pergi seperti ini!" Suaranya meninggi. "Enggaaaaaak! Kak Dimas enggak mungkin meninggal kan Kak? Kak Rangga harus jawab, jangan diam saja!"
Firman langsung merengkuh tubuh lemas Adinda. Ia merutuki dirinya sendiri, kenapa ia meninggalkan ponsel itu disana?!
Suara Adinda yang menggema langsung mengundang sang Tuan Rumah. Papa Rahmad, Tante Randa, Vanya dan Arul terkejut melihat kondisi ruang makan yang berantakan.
__ADS_1
Tante Randa : "Sayaaang, ada apa? Kamu kenapa Nak? Apa Rangga menyakitimu, hem?" Tanya Tante Randa lembut sambil berjalan mendekat.
Sedangkan Adinda masih tetap menangis, ia memeluk erat tubuh Firman. Sedangkan Firman hanya bisa mengusap kepala gadis itu dengan sayang.
Firman melihat sang Papa yang tengah mengambil ponselnya yang terjatuh, Papa Rahmad langsung melihat isi ponsel itu. Matanya membelalak membacanya seakan tidak percaya, ia melihat Firman tajam. Sedangkan yang ditatap hanya membalas dengan sendu.
Arul dan Vanya yang penasaran juga ikut melihat ponsel itu. Arul sungguh terkejut, suaranya tercekat. Bagaimana mungkin lelaki iti pergi secepat ini?
"Amaraaaaa?!" Teriakan Mama Randa dan Firman itu mengalihkan perhatian mereka kearahnya.
Tanpa pikir panjang Firman langsung membopong tubuh Adiknya. Ia segera membawa ke Rumah Sakit setelah meminta Vanya untuk menyiapkan mobilnya.
Arul hanya diam menyaksikan itu, ia hanya mengikuti saja kemana Firman akan membawa sang Kakak. Ia genggam tangan Adinda, begitu dingin, wajahnya yang ayu berseri tampak pucat kembali.
Sesampainya di Rumah Sakit...
"Dokteeeerrr!!" Teriak Firman tak sabaran. "Dimana Dokter Reina?!"
dr. Reina : "Rangga? Kamu sedang apa? Ya Allah, siapa gadis ini."
Firman : "Tolong segera periksa dia, saya mohon selamatkan Amara!" dr. Reina mengangguk.
dr. Reina : "Suster, tolong siapkan peralatannya." Suster itu mengangguk. "Bawa gadis ini masuk."
Adinda langsung dibawa ke IGD untuk penanganan lebih lanjut.
Mama Randa : "Rangga, gimana keadaan Mara? Apa dia sudah diperiksa? Bagaimana hasilnya?"
Papa Rahmad : "Mama tenanglah, Mara pasti baik-baik saja."
Mama Randa : "Bagaimana Mama bisa tenang jika keadaan Mara seperti ini Pa?! Sebenarnya ada apa dengan dia?" Ia beralih menatap Putranya. "Rangga?" Panggilnya.
Firman yang mengerti langsung menceritakan semuanya, terutama tentang isi pesan yang ia baca tadi. Mama Randa langsung terkejut mendengar itu semua. Disaat mereka sedang berbicara, dr. Reina keluar dari IGD.
Arul : "Bagaimana keadaan Kakak saya dokter? Apa dia baik-baik saja?" Arul bertanya ketika melihat dokter itu keluar.
"Reinnn?" Panggil Tuan dan Nyonya Wijaya. dr. Reina menatap mereka lalu menghela nafasnya kasar, entah bagaimana ia harus menjelaskan.
dr. Reina : "Rangga dan Mas Rahmad ikut aku ke ruanganku." dr. Reina langsung melangkah menuju ruangannya, diikuti Rangga dan Papanya.
Di dalam ruangan...
dr. Reina : "Aku tidak tahu harus menjelaskan darimana, tapi kenapa kalian membiarkan gadis itu seperti ini?"
Papa Rahmad : "Maksud kamu apa Rein? Apa yang terjadi pada Mara?"
dr. Reina : "Gadis itu mengalami Syok hypovolemik." Kedua lelaki beda usia yang mendengar itu langsung tersentak.
"Kalian pasti tahu syok hypovolemik itu apa. Syok hypovolemik adalah kondisi gawat darurat yang disebabkan oleh hilangnya darah atau cairan tubuh dalam jumlah yang besar, hal itu mengakibatkan jantungnya tidak dapat memompa cukup darah ke seluruh tubuh. Hal ini berbahaya untuknya Mas. Syok hypovolemik harus segera ditangani untuk mencegah kerusakan organ dan jaringan."
Firman : "Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Amara, Tante?"
dr. Reina : "Aku akan melakukan yang terbaik untuk semuanya meski harus dilakukan operasi agar tidak ada pembekuan darah. Kalian tetaplah berdo'a agar semua ini berjalan lancar."
__ADS_1
Flashback End...