Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 61


__ADS_3

Adinda : "Apa Kak Dimas memiliki banyak waktu hari ini? Ehmm a.aku ingin punya sedikit waktu untuk bersama dengan Kak Dimas." Ucapnya sedikiy takut.


Dimas : "Ehmm saya hanya memiliki waktu sampai ashar tiba, karena setelah itu saya akan berangkat ke Singapore untuk kunjungan kerja selama dua hari, bari setelah itu harus ke London untuk tesisku." Hening sesaat. "Apa terjadi sesuatu di rumahmu?" Adinda tersentak, kemudian ia teringat ucapan Yayak yang mengatakan bahwa tanpa ia cerita, Dimas bisa tahu tentang keluarganya.


Adinda : "Apa aku harus cerita dengannya saat ini?" Ucapnya dalam hati, tanpa ia sadari air mata yang sudah ia simpan rapi kini kembali hadir, Dimas langsung mengusap ketika ia melihat itu.


Dimas : "Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, tapi aku harap kamu bisa jujur padaku Din. Karena dalam suatu hubungan kejujuran juga kepercayaan itu penting." Mendengar hal itu, Adinda langsung menangis.


Adinda : "Hiks, ma.maaf jika Adinda tidak pernah cerita pada Kak Dimas. Ma.maaf jika Dinda sudah membuat Kakak tidak nyaman."


Dimas : "Ya Allah kenapa sesakit ini melihatnya menangis." Gumamnya. "Baiklah sekarang coba tenangkan hati dan fikiran kamu, sebentar lagi aku akan pergi untuk beberapa hari atau bisa beberapa minggu jadi aku tidak bisa selalu ada didekatmu, maka dari itu katakan apa yang ingin kau katakan, aku siap mendengarkan. Meski tidak bisa sembuh tapi paling tidak itu bisa meringankan beban kamu." Ucapnya masih dengan mengusap pipi Adinda dengan lembut.


Kemudian Adinda mulai menceritakan semua tentang keluarganya, siapa Mama dan Papanya, tentang sikap Arul, tentang perspisahan juga tentang pertengkaran yang baru saja terjadi. Dimas menghela nafas dengan pelan.


Dimas : "Apa ini juga yang membuat Arul bersikap beda semalam?" Gumam Dimas dalam hati. "Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusan keluargamu, tapi ku mohon kamu jangan menangis seperti ini lagi dan jangan tunjukkan kelemahanmu pada orang lain. Ingat satu hal Dek, bagaimanapun juga mereka tetap kedua orangtuamu. Aku tidak menyalahkan atau membenarkan, aku juga tidak membela siapapun antara kalian termasuk sikap Arul. Karena wajar saja jika ia bersikap seperti itu, tapi percayalah Arul akan kembali tenang dan menerima yang sudah menjadi ketetapan Allah. Ah iya, jangan tunjukkan wajah gemasmu pada lelaki lain karena aku tidak suka. Ingat itu!"


Adinda : "Apa Kak Dimas cemburu?" Ucapnya terkekeh. Ya keputusannya tepat untuk menemui dan berterus terang dengan Dimas, karena hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia fikirkan.


Dimas : "Ten.tentu saja aku cemburu Dinda, aku tidak suka apa yang menjadi milikku diusik oleh orang lain, sekalipun itu temanku sendiri. Aku harap kamu tidak dekat dengan lelaki lain, siapapun itu." Pintanya dengan tegas dan juga sedikit dingin.


Adinda : "Hemmm mulai deh posesifnya. Kalau enggak dingin, ya seperti ini."


Dimas : "Hei, saya seperti ini juga untuk hubungan kita kedepannya. Jadi jangan melarangku untuk bersikap seperti ini."

__ADS_1


Adinda : "Apa dia pernah melihatku dekat dengan lelaki lain, kenapa dia berbicara seperti itu? Atau....." Lamunannya terhenti karena suara Dimas.


Dimas : "Sebentar lagi aku akan pergi, ingat jangan menangis lagi dan yah, katakan padaku apapun itu Dinda." Ucapnya kini melemah.


Adinda yang melihat itu langsung tertegun, pasalnya sangat jarang sekali Dimas bersikap seperti itu. Adinda langsung memeluk Dimas dengan erat, bahkan Dimas teperanjat saat mendapat perlakuan yang tidak biasa seperti itu. Pasalnya memang dia tidak dekat dengan wanita, dan yah mereka sangat jarang berkontak fisik seperti ini jikapun Dimas ingin memeluknya, ia harus izin terlebih dahulu.


Adinda : "Adinda sangat merindukan pelukan ini, sebentar lagi Kakak akan pergi dan aku akan disini sendiri. Izinkan aku memelukmu sedikit lebih lama untuk mengisi energiku." Dimas yang mendengar terkekeh.


Dimas : "Seharusnya sayang yang meminta hal itu. dan tanpa saya minta, kau bahkan sudah terlebih dulu memelukku. Bahkan kau baru meminta izin setelah memeluk." Mendengar itu, wajah Adinda langsung bersemu merah. "Hei kenapa wajahmu seperti tomat, hum? Ingatlah jangan seperti ini pada lelaki lain." Dimas membalas pelukan Adinda tak kalah erat.


Mereka sama-sama merindukan saat-saat seperti ini, meski hubungan yang belum go public tapi mereka tetap saling menjaga komunikasi dalam hal apapun walaupun harus didahului dengan selisih paham sekalipun.


* * *


Rahmad Wijaya adalah Kakak dari sang Mama, Melinda Anastasya Wijaya. Rahmad Wijaya memiliki seorang istri bernama Amaranda Putri Wijaya dan dua orang anak, si sulung bernama Firman Rangga Wijaya dan si bungsu bernama Vanya Putri Wijaya.


Firman yang tak lain kakak sepupunya adalah anggota PPA, namun diluar mereka tidak dekat dan Arul tidak begitu mengenalinya karena semenjak perpisahan sang Tante dengan suaminya Firman dan keluarganya pindah ke Semarang dan baru beberapa tahun ini ia kembali ke Jakarta. Namun Arul belum mengetahui jika Firman yang ada di PPA adalah kakaknya, karena yang ia tahu Firman tidak ikut ke Jakarta.


Oke skip. . . .


Arul kini sudah memasuki pelataran rumah yang cukup besar dengan halaman yang luas dan juga hamparan taman yang penuh dengan bunga serta air mancur disudut rumah.


Ting. . . Tong. . . Pintu terbuka, sebuah kepala menyembul keluar. Rambut sebahu yang acak-acakan khas bangun tidur itu seketika terkejut karena tamu itu adalah seorang lelaki tampan yang menurutnya baru ia lihat sekarang. Kemudian, Brak! Orang itu menutupnya kembali yang membuat Arul terheran, dan bertanya-tanya siapa wanita itu.

__ADS_1


Randa : "Loh, sayang kenapa kamu tutup lagi pintunya? Siapa tamu yang datang?" Tanya sang Mama.


Vanya : "Ya Allah... Ma siapa yang ijinin tamu tampan seperti itu masuk dan bertamu kesini?" Ucapnya heboh. Sangking hebohnya Firman dan Rahmad yang sudah di rumah keluar dari kamar.


Randa : "Maksud kamu apa sih Vanya? Bukannya jawab pertanyaan Mama malah ngaco gitu sih kamu. Cepat buka pintunya." Pintanya. Kemudian Vanya lari ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya...


Firman : "Ada apa sih Ma? Ribut banget, ada tukang pos antar undangan nikahan mantannya Vanya?"


Randa : "Husss kamu itu ya kalau ngomong, tuman kamu itu." Firman hanya terkekeh, kemudian memeluk sang Mama.


Rahmad : "Hei, Lepaskan pelukanmu dari Mama Rangga!." Sarkas Rahmad yang baru keluar dari kamarnya.


Vanya : "Iiih Papa kebiasaan deh, cemburu aja kalau Kakak meluk Mama." Ucap Vanya yang baru keluar dari kamar mandi. Kini wajahnya sudah segar, dan ia kembali kearah pintu untuk membukanya.


Firman : "Kenapa sih Papa selalu cemburu sama Rangga, ini kan juga Mama Rangga Pa."


Rahmad : "Sudah, pokoknya lepaskan tanganmu dari tubuh Mama." Ucapnya sambil melangkah dan melerai pelukan Firman, dan kini dia sendiri yang memeluk sang istri. Firman hanya mendengus kesal sedangkan Randa terkekeh.


Ya memang begitulah kebiasaan dari keluarga ini, Rahmad akan merasa cemburu jika orang lain memeluk istrinya, meski itu anaknya sendiri karena baginya sudah cukup dulu ketika waktu istrinya habis untuk anaknya ketika bayi dan sekarang semua waktu hanya miliknya saja. Vanya yang mendengar ikut terkekeh dan kemudian membuka pintu. CEKLEK. . .


Vanya : "Ehmm yah siapa ya? Ada perlu apa kesini?" Ucapnya mencoba menormalkan ekspresi wajahnya.


Arul : "Bo.boleh aku masuk? Aku ingin bertemu dengan Om Rahmad." Pintanya.

__ADS_1


Vanya : "Oh, o.oke. Mari masuk, kebetulan Papa sudah pulang dari Kantor." Vanya membuka pintu dengan lebar dan segera masuk diikuti oleh Arul. "Silahkan duduk dulu, itu kebetulan Papa sama Mama diruang keluarga. "Papa ini ada tamu yang cariin nih Pah." Teriaknya, kemudian Rahmad dan istrinya berjalan keruang tamu yang diikuti oleh Firman.


__ADS_2