Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 128 Absurd


__ADS_3

Firman : "Jangan pernah loe macam-macam sama adik gue Sep, loe akan tahu akibatnya kalau sampai itu terjadi." Jawab Firman dengan wajah serius.


Septian : "Cih, ternyata disini ada yang membela adiknya." Ucapnya sinis.


Firman : "Gue enggak ada maksud membela, karena bagaimanapun Arse itu tetap adik gue. Gue akan jaga dia juga Mara."


Septian : "Itu sama saja Fir. Kalau bukan karena Dimas, gue pasti udah balas bocah itu."


Yayak : "Meskipun loe balas, bukan Firman yang akan turun tangan Sep, tapi Dimas sendiri yang akan loe hadapin. Jangan berbuat sesuatu yang akan membuat Abang loe semakin dingin. Ingatlah bahwa sekarang dia sudah bertambah 10° celcius dinginnya " Ucapnya memperingati. Septian mendengus.


Pastu : "Jadi, bagaimana?" Setelah sejak tadi diam, kini Pastu bersuara. Mereka menoleh.


Indra : "Tidak ada yang tahu pasti dengan hubungan mereka Bang." Jawabnya.


Yayak : "Untuk lebih jelasnya, lebih baik Abang bertanya langsung dengan Dimas. Aku dan Firman mungkin saja tahu, tapi kami tidak berhak untuk menjelaskan karena yang kami ketahui belum tentu juga benar." Firman mengangguk.


Amar : "Sebenarnya tidak apa jika Dimas memiliki hubungan dengan gadis itu, selama itu baik untuknya."


Ilham : "Yaa, gue juga setuju. Karena dilihat dari kejadian kemarin Dimas bisa hangat dengan Dinda, meski hanya pada dia saja."


Septian : "Terus gue harus menerima bocah itu jadi adik gue?" Celetuknya sinis.


Indra : "Tidak ada yang salah jika Arul benar-benar menjadi adik Dimas, Sep. Selama itu menjadi hal baik, kenapa enggak? Kita hanya perlu mendukung Dimas."


Shekar : "Bagaimana dengan pendapat mu Tuan Muda Wijaya?" Firman menatap Shekar penuh arti.


Firman : "Gue sudah bilang, jangan panggil gue dengan sebutan itu selain di Kantor." Shekar mengedikan bahunya.


Ketika Firman akan melanjutkan ucapanya, ia terpaksa harus berhenti karena melihat Arya menuruni tangga.


Pastu : "Apa sudah selesai Ar?" Arya mengangguk.


Arya : "Maaf Bang, aku pamit pulang terlebih dahulu."


Ilham : "Apa loe enggak ikut menginap disini Ar? Ini sudah malam."


Arya : "Enggak. Lagipula belum terlalu malam, gue masih ada pekerjaan dari Boss. Kalau begitu gue pamit dulu."


Arya langsung melangkah keluar, meninggalkan mereka yang masih setia duduk disana.


Septian : "Hai Shekar?" Shekar menoleh santai. Seolah ia tak memiliki beban atau ingatan. "Bukankah loe tadi diminta ke ruang kerja Dimas?" Ucap Septian santai.


1 detik..


2 detik...

__ADS_1


3 detik....


Shekar langsung mendelik.


Shekar : "Oh shit! Gue lupa. Mampus gue ditebas." Shekar langsung bergegas lari, bahkan tanpa sadar dia masih memakai celana pendeknya.


Firman : "Bahkan loe sudah telat satu jam, jadi bersiaplah." Shekar menatap tajam Firman lalu langsung lari terbirit menaiki tangga.


Yayak : "Dasar, kaki kanan kok pelupa." Gerutu Yayak.


Amar : "Gue tebak itu orang pasti langsung kena amukkan dari Abang." Ilham dan Septian langsung mengangguk cepat.


Indra : "Kalian senang sekali melihat orang lain menderita."


Ilham : "Tentu kita bertiga senang, apalagi itu berhadapan dengan Dimas."


Septian : "Gue menantikan saat-saat perubahan wajah Shekar."


Firman : "Yak, gue perlu ngomong sesuatu sama loe." Yayak menoleh menghentikan kekehan trio jumpling. Yayak yang mengerti langsung mengangguk setuju.


Pastu : "Apa yang ingin kalian bicaran?" Tanyanya penuh selidik.


Yayak : "Hanya urusan kampus Om dan biasa, hehee urusan deketin si PJ." Candanya.


Amar : "Percuma punya wajah tampan, tapi deketin cewek enggak bisa." Amar dan Ilham bertos ria.


Pletak! Sebuah jitakan mendarat di kepala Amar.


Amar : "Firmaaaaan! Loe tega jitak kepala gue? Kepala gue sudah difitrahin ini."


Septian : "Tante itu khilaf doang fitrahin itu kepala." Amar menatap Septian tajam.


Amar : "Loe gue end!" Amar mencebik.


Pastu : "Kalian ingatlah umur. Aku keatas dulu, kalian lanjutkan saja." Mereka mengangguk.


Ilham : "Ndra, kita main catur deh di belakang." Indra mengangguk.


Keduanya melangkah ke teras belakang diikuti Amar dan Septian. Kini hanya ada Firman dan Yayak di ruang keluarga.


Hening, dua lelaki beda usia beberapa bulan itu masih terdiam. Hanya ada dentingan jam yang mendominasi diantara keduanya.


Firman : "Apa yang loe tahu dari hubungan mereka? Loe tahu sejak awal?"


Yayak melihat sahabatnya itu. Bukannya tidak mengerti, justru ia sangat mengerti kemana arah tujuan pertanyaan Firman.

__ADS_1


"Gue fikir baru gue yang tahu tentang hubungan mereka berdua, ternyata loe dan Andre juga tahu, bahkan Azriel orang yang berada diluar jangkauan bisa tahu juga." Ucapnya sambil menyenderkan kepala disofa. Yayak masih setia mendengarkan.


"Jujur saja gue enggak pernah lihat Amara seperti kemarin, sesedih itu bahkan ketika orangtuanya mutusin pisah dan pindah Negara. Dulu dia terlihat tegar tanpa ada wajah sendu, tapi kejadian kemarin itu buat gue terkejut sekaligus bingung dengan perubahannya. Apa itu yang dinamakan cinta?"


"Baik Mara maupun Dimas, mereka sama-sama berarti buat gue Yak. Gue enggak bisa milih jika ada yang minta gue milih, karena mereka keluarga gue terlepas dari hubungan bisnis antara Wijaya dan Adhitama. Loe lihat kekhawatiran Dimas waktu itu? Dia berubah jadi lebih hangat juga lembut meski hanya sama Mara, tapi gue lihat ketulusan dari mereka. Apa yang harus gue lakuin agar mereka tetap bersama, tanpa ada satupun yang tersakiti."


Yayak : "Bukan loe, tapi kita. Apa yang harus kita lakukan untuk mereka bertiga, Adik kecil loe itu pasti tetap tidak akan setuju. Gue bisa lihat rasa kecewanya yang masih mendominasi, dan Akbar yang memang sejak awal mulai mendekatinya ia jadika pengganti Dimas." Ucapnya yang sejak tadi diam.


"Gue enggak maksud buat nyalahin Dinda tapi memang sejak awal gue tahu, gue sudah katakan bahwa gue sama sekali enggak setuju jika Dimas harus jalani hubungan dengan syarat yang menurut gue itu enggak masuk akal. Namun reaksi Dimas tetap sama, dia tenang bahkan dia menerima syarat itu dengan lapang. Gue lihat semua itu tulus Fir, saat itu gue berharap jika hubungan mereka akan tetap baik-baik saja tetapi inilah jawabannya."


"Setelah kejadian ini, gue enggak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Hubungan kita, hubungan mereka, kita tidak tahu satupun semua masih menjadi rahasia Tuhan. Apa loe punya fikiran yang sama dengan gue? Yang berfikir bahwa kepergian Dimas kali ini akan sangat lama?"


Keduanya yang sejak tadi melihat langit rumah langsung bersitatap, seolah mereka memiliki firasat yang sama.


Firman : "Tidak dipungkiri bahwa gue juga berfikir demikian Yak. Haaah, mumettt gue kepala gue serasa mau pecah. Arse memang memiliki sifat keras seperti Mamanya, akan susah untuk membujuk dia."


"Siapa yang akan kalian buju?" Keduanya tersentak dan menoleh kesumber suara.


GLEK. Orang yang mereka bicarakan sejak tadi kini ada dihadapan mereka.


Yayak : "Loe sudah selesai?" Dimas mengangguk. "Dimana Shekar, apa sudah loe tebas karena telat datang?"


Dimas : "Shekar diatas." Jawabnya datar. "Apa yang kalian bicarakan."


Yayak : "Kami tidak membicarakan apapun, hanya obrolan kosong saja." Jawabnya. Dimas hanya diam namun matanya mengintimidasi sahabatnya. "Hei, hentikan mata elang itu Dim."


Firman : "Apa loe benar-benar akan menjauhi Amara, Dim?" Yayak langsung menatapnya.


Yayak : "Apa yang loe katakan Firman, jangan bahas itu sekarang." Ucapnya geram.


Firman : "Biarlah Yak, lagipula gue ingin tahu dan gue ingin memastikan saja. Jika memang iya, berarti gampang donk untuk MBA melakukan pendekatan ke Mara. Mungkin saja Mara langsung menerimanya." Candanya tanpa melihat mata Dimas yang sebenarnya.


Yayak yang merasa ini keterlaluan langsung melempar bantal sofa kearah Firman.


"Loe kenapa sih Yak, memang benar kan. Apalagi MBA memang suka sama Mara. Jadi enggak ada salahnya." Masih dengan candaannya.


Dimas : "Tidak masalah jika mereka dekat, saya akan mendukungnya." Ucapnya masih tenang dengan suara datar namun terasa dingin.


Firman dan Yayak dengan cepat menatap kearah Dimas. Keduanya sangat tahu wajah dingin itu.


Drrttt... Drrttt...


Dimas : "Ya halo?" Jawabnya datar.


Nona Wang : "Maaf mengganggu Tuan Muda, lusa Tuan Lee akan melakukan perjalanan ke Tingkok. Sepertinya beliau ingin melakukan pencairan dana yang sudah digelapkan." Wajah Dimas berubah semakin dingin, rahangnya yang kokoh langsung mengeras.

__ADS_1


__ADS_2