Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 20


__ADS_3

Adinda : "Ehmm sendiri, Kakak sudah lama?" Dimas menggelengkan kepala. "Boleh bicara sebentar?"


Dimas langsung melangkah keluar menuju taman belakang toko tersebut. Selain penjualan buku Pemilik toko juga menyediakan taman baca untuk para pelanggannya yang memiliki hobi membaca dan di Taman tersebut juga menyediakan buku bacaan,,


Dimas : "Duduklah, kita bicara disini saja." Adinda mengangguk. "Apa yang ingin kamu bicarakan." Adinda yang mendengar langsung menghela nafas dengan kasar dan mengeluarkan benda pipih miliknya. "Apa maksudnya?"


Adinda : "Berhentilah bersikap dingin. Lalu ini maksudnya apa? Kenapa Kakak enggak bales chat Adinda, enggak hubungi Adinda, bahkan sudah tiga hari Kak Dimas diemin Adinda, Adinda salah apa, kenapa Kak Dimas jadi dingin lagi sama Adinda."


Dimas masih diam namun hatinya ikut tersenyum karena melihat sifat Adinda yang baru dia ketahui, dibalik sikap tegarnya Adinda sebenarnya memiliki sifat manja dan sifat itu akan keluar ketika ia sudah merasa nyaman dengan seseorang termasuk Dimas.


Dimas : "Kenapa kamu jadi bawel sekali sih sekarang." Adinda mendengus kesal. "Hei jangan berwajah seperti itu, dan jangan tunjukkan itu pada lelaki lain selain saya."


Adinda : "Lalu kenapa dan ada apa? Kakak mau ngindarin Adinda karena kita harus sem..." Kata-katanya terpotong.


Dimas : "Ssst, kamu itu ngomong apa sih dek? Dengerin, aku lagi banyak tugas kuliah karena udah ngurus skripsi juga banyak kerjaan di Kantor." Adinda tetap diam. "Heufft, bukan karena harus sembunyi tapi memang saat ini sedang banyak kerjaan. Kamu percaya kan?"


Adinda : "Ya Adinda percaya, tapi..." Dimas menautkan kedua alisnya. "Soal chat malam itu, maksudnya apa? bahkan setelah itu Kak Dimas hanya diam enggak hubungi Adinda."


Dimas : "Aah yang itu. Maaf aku salah faham waktu dengar anak-anak bicarain kamu yang deket sama Yayak."


Adinda : "Aah apa Kakak cemburu karena Adinda ngobrol berdua sama Kak Yayak?" Selidik Adinda dengan menatap mata Dimas.


Dimas : "Kata siapa saya cemburu." Memalingkan wajahnya kearah lain. Jawaban itu membuat Adinda mendengus. Masih tetap hening. Setelah beberapa menit...


Adinda : "Baiklah, kalau gitu Adinda pulang dulu." Mendengar perkataan Adinda, Dimas langsung menahan tangan kekasihnya itu agar tidak beranjak.


Dimas : "Kemana? Kembalilah duduk." Seketika Adinda menuruti perintah itu dengan wajah cemberut. "Hei jangan berwajah seperti itu."


Adinda : "Hecmmm."


Dimas : "Ck. Kembalikan senyummu itu padaku Din, jangan mengubah wajah cantikmu seperti itu." Adinda masih dengan wajah cemberut namun seketika tersenyum mendengar kalimat terakhir dari Dimas. "Itu baru gadis cerobohku yang cantik." Sambil mengacak puncak kepala Adinda. "Ingat jangan bersikap dan berwajah seperti itu di depan lelaki lain." Tegas Dimas.


Adinda : "Iyaa inget kok Kak. Makasih ya😄


Dimas : "Makasih? Untuk apa?"


Adinda : "Ya terima kasih karena sudah buat hidup Adinda berwarna selain dengan Arul ada Kakak yang juga ikut menggenggam Adinda."


Dimas : "Selama saya masih disini, saya akan terus menggenggam kamu dan selalu disisi kamu. Apapun yang terjadi. Ohya, kau sudah makan? Ini sudah sangat siang."


Adinda : "Aah iya ini sudah siang." Melihat jam ditangannya. "Apa Kakak sudah makan?" Dimas menggeleng. "Kenapa kau selalu mengesampingkan kesehatanmu? Apakah badanmu akan sehat jika tidak makan?!" Tanpa sadar Adinda mengomel dengan nada sedikit tinggi. "Oops, keceplosan. Dasar ceroboh." Gumam Adinda pelan namun masih dapat didengar.


Dimas : "Ayo kita pulang sekarang." Ajaknya, namun Adinda masih diam. "Kenapa? kamu belum makan kan, jadi ayo pulang." Adinda mengangguk. "Ayo." Mengulurkan tangannya.


Akhirnya Dimas menggenggam jari jemari Adinda untuk berjalan beriringan. Sebelum keluar Adinda mengambil buku pesanannya pada Teh Nana barulah mereka keluar bersama. Sesampainya diparkiran...


Adinda : "Loh kok Kakak ikut kesini? Kak Dimas enggak bawa mobil? Dimas hanya menggeleng. "Oke, kalau gitu Kakak yang bawa ya."


Setelah Dimas setuju, mereka segera masuk ke mobil dan Dimas melajukan mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Karena jalan ramai mengingat jam pulang sekolah. Setelah menempuh jarak tigapuluh menit Dimas membelokan mobil ke pelataran rumah bergaya klasik.


Adinda : "Ini kan rumah Kakak, kok belok kesini sih?"


Dimas : "Kamu tidak mau?!" Mode datar.


Adinda : "Bu.bukan begitu, tapi kan Kakak enggak bilang kalau kita kesini, Adinda kira ke Kafe jadi aku kaget saja." Melihat Dimas yang hanya diam dan langsung turun, Adinda mengejar Dimas yang sudah memasuki Rumah.


Saat Adinda melangkah masuk dia dikagetkan dengan kehadiran Bi Arum. Karena melihat adanya pertanyaan dari wajah wanita paruh baya itu, Adinda langsung memperkenalkan dirinya.


Adinda : "Perkenalkan saya Adinda Amaralia temannya Kak Dimas Bi.


Bi Arum : "Oh Non Adinda kekasihnya Mas Dimas ya?" Adinda yang mendengar itu langsung kaget, pasalnya tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka selain mereka sendiri. "Bibi tahu, karena waktu itu pernah kesini saat Mas Dimas sakit kena alergi, waktu itu Bibi memang keluar tapi karena ada yang tertinggal pulang lagi eh pas sampai ada wanita yang didapur buat bubur, itu pasti Non." Adinda hanya tersenyum kikuk.


Adinda : "I.iya waktu itu memang saya yang kemari." Bi Arum tersenyum. "Terciduk deh." Gumam Adinda dalam hati.


Bi Arum : "Yang sabar ya Non ngadepin Mas Dimas, Bibi doain semoga kalian langgeng." Adinda tersenyum. "Eeh sampai lupa, masuk Non saya panggilkan Mas Dimas dulu." Adinda mengangguk.


Adinda sudah berada disana selama limabelas menit namun Bi Arum juga belum turun dari lantai dua begitupun juga dengan Dimas yang belum ada tanda-tanda kehadirannya. Tak berselang lama Bi Arum turun dan menghampiri Adinda.


Adinda : "Bagaimana Bi? Kak Dimasnya masih lama ya?" Bi Arum hanya diam. "Bi..."

__ADS_1


Bi Arum : "Aah, i.itu Mas Dimas. Tolong buat Mas Dimas tenang Non." Ucap Bi Arum tiba-tiba.


Adinda : "Sebenarnya ada apa Bi? Apa yang terjadi dengan Kak Dimas? Apa dia sakit?!" Tanya Dinda dengan wajah yang sudah khawatir.


Bi Arum : "Se.sebenarnya hari ini hari pernikahan Tuan dan Nyonya dan tepat ditanggal ini kedua orangtua Mas Dimas meninggal beberapa tahun lalu. Setelah mereka meninggal tidak ada yang tahu kondisi Mas Dimas, yang mereka ketahui Mas Dimas baik tapi sebenarnya Mas Dimas sedikit trauma setelah kejadian itu."


Adinda : "Apakah tidak ada yang tahu tentang kondisinya?"


Bi Arum : "Hanya Tuan Pangestu tetapi beliau saat ini sibuk mengurus Perusahaan yang ditinggal Tuan Aditama, dan juga Mas Cahya."


Adinda : "Maksudnya Kak Yayak?" Bi Arum mengangguk.


Bi Arum : "Saya akan hubungi Mas Yayak, Nona tolong buatlah Mas Dimas tenang karena saat ini kondisinya tidak baik." Adinda mengangguk lalu berlari kelantai dua dengan wajah khawatir, sedangkan Bi Arum menghubungi Yayak.


Setelah sampai dilantai dua, Adinda mencoba mengetuk pintu kamar Dimas. Namun tidak ada jawaban sama sekali, kemudian dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu. Setelah terbuka, tanpa menunggu persetujuan Adinda langsung melangkah masuk.


Adinda : "Kak? Adinda masuk."


Adinda masuk kekamar tersebut, kamar bernuansa putih dan tidak banyak barang maupun hiasan disana hanya ada ranjang ukuran king size, sofa panjang, lemari pakaian, terdapat pula photo Dimas yang berukuran besar didinding terasa aura yang kental dengan sifat dinginnya, lalu meja kerja yang terdapat sebuah figura photo keluarga diatasnya. Adinda melangkah masuk, mencari sosok lelaki yang dikasihinya itu, saat Adinda akan melangkah kearah kamar mandi ia melihat seorang lelaki yang duduk disebelah ranjang dengan memeluk kedua lututnya.


Dengan airmata yang ikut menetes, Adinda berjalan mendekat, ia berlutut didepan lelaki tersebut. Penampilan yang sudah berubah, rambut yang sudah acak-acakan, baju yang sudah lusuh wajah yang berubah sedikit pucat, keringat bercucuran. Melihat itu Adinda langsung memeluk Dimas erat dan mengusap punggung kokoh itu.


Dimas : "Jangan pergi, jangan pergi tinggalin aku. Hiks!" Gumam Dimas pelan namun masih dapat didengar.


Adinda : "Enggak, Adinda enggak akan pergi. Kakak tenanglah jangan seperti ini, Adinda mohon. Hiks" Adinda ikut menangis merasakan tubuh Dimas yang semakin bergetar dan dingin itu. "Kau terlihat tegar didepan kami semua, kau mencoba untuk bangkit dengan menunjukkan sifat dingin dan juga wajah datarmu. Jika orang yang tidak mengenalmu pasti akan mengatakan Kau itu manusia kutub yang sangat menyebalkan sepertiku dulu yang belum mengenalmu. Namun dibalik itu semua Kau menyimpan rasa sedihmu sendiri dan tidak membiarkan orang lain tahu. Kau mencoba untuk membangun tembok besar yang kokoh untuk membuat dirimu tegar dan bangkit. Teruslah melangkah maju dan bangkit, aku akan selalu mendampingimu." Gumam Adinda dalam hati.


Adinda masih setia memeluk tubuh Dimas. Semakin lama ia merasakan sebuah hembusan nafas yang sudah mulai teratur dari lelaki itu, namun masih menyisakan suara isakan.


Dimas : "Jangan pergi, aku mohon jangan pergi."


Adinda : "Kakak harus tenang, Adinda enggak akan pergi." Masih mengusap punggung Dimas dan sesekali mengusap lembut kepalanya untuk memberi ketenangan.


Tak berselang lama seseorang masuk kekamar itu dan terkejut melihat Adinda yang tengah memeluk Dimas dengan erat. Melihat itu orang tersebut tersenyum senang juga tenang karena Dimas bisa mendapatkan wanita yang tepat untuk kebahagiaannya. Adinda yang merasa seperti ada yang memperhatikannya langsung melihat kebelakang.


Adinda : "Kak Yayak!" Ya orang yang masuk ke kamar adalah Yayak. Ia segera datang setelah mendapat telepon dari Bi Arum.


Yayak yang memang akan keluar dari Kampus mendengar benda pipih miliknya berbunyi.


Yayak : "Siapa lagi yang nelepon gue." Yayak melihat ke benda itu. "Dari rumah Dimas, hallo Bi, ada apa?"


Bi Arum : "Maaf mengganggu Mas, Mas Dimas. . ."


Yayak : "Ada apa dengan Dimas Bi? Apa..." Yayak mengingat hari ini tanggal berapa, sesaat ia ingat dengan hari ini. "Dimas masih trauma Bi?"


Bi Arum : "I.iya benar Mas, saat ini Mas Dimas sedang di Kamar dan . . ." Mendengar itu Yayak langsung mematikan panggilan sepihak tanpa mendengar pembicaraan Bi Arum dan langsung melajukan mobilnya.


Flashback End. . .


Yayak : "Ssst." Yayak meletakan jarinya kearah bibir pertanda Adinda untuk tetap diam. Adinda langsung diam sedangkan Yayak melangkah keluar kamar. Diluar kamar Yayak bertemu Bi Arum. "Apa Adinda sudah lama disini Bi?"


Bi Arum : "Iya lumayan Mas, hampir setengah jam karena tadi Mas Dimas pulang bareng Non Dinda." Yayak mengangguk.


Yayak : "Apa Om Pastu sudah dihubungi?" Bi Arum mengangguk.


Bi Arum : "Sudah, dan Tuan bilang sore ini akan pulang untuk melihat keadaan Mas Dimas." Mendengar itu Yayak mengangguk paham dan langsung duduk diruang keluarga dan meneguk minum yang sudah disediakan oleh Bi Arum.


. . .


Sedangkan di kamar, Adinda masih setia memeluk Dimas dengan erat. Sesekali Adinda melihat wajah Dimas yang memucat dan itu semakin membuat Adinda khawatir, hingga akhirnya ia memutuskan untuk membopong tubuh besar Dimas keranjang yang ada disebelahnya itu. Masih dengan isakan tangisnya Dimas mengingat kedua orangtuanya yang sudah meninggal suatu kebersamaan yang tidak akan terlupakan sampai kapanpun.


Setelah beberapa menit Dimas sudah tenang dan terdengar dengkuran nafas halus yang teratur. Beberapa kali Adinda menatap wajah tampan Dimas, wajah yang biasanya segar dengan aura yang terpancar kini terlihat pucat seperti menahan sakit yang tak bisa diartikan.


Seketika tangan halus Adinda memegang kening Dimas, suhu tubuh Dimas yang semakin dingin membuat Adinda khawatir ia langsung menaikan suhu AC yang ada di dalam kamar itu untuk menghangatkan tubuh Dimas. Saat hendak turun untuk menuju kedapur, Dimas menahan tangan Adinda...


Dimas : "Jangan per.gi." Dengan mata sayup dan suara yang bergetar Dimas memohon pada Adinda.


Adinda : "Tapi Adinda harus ambil kompres, badan Kakak semakin dingin. Kakak butuh air hangat." Dimas hanya menggelengkan kepala, hal itu membuat Adinda semakin khawatir. "Aku harus bilang ke Bi Arum untuk buatin bubur, tapi gimana caranya." Gumam Adinda pelan.


Terdengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke dalam kamar. Adinda menoleh kebelakang dan melihat Yayak di depan pintu.

__ADS_1


Yayak : "Kamu kenapa dek mukanya kaya gitu? Apa dia sudah baikan?"


Adinda : "Ehmm dia sudah lebih baik tapi badannya semakin dingin. Adinda mau ke dapur buatin bubur tapi Kak Dimas enggak bolehin Adinda turun." Yayak hanya mengangguk kemudian keluar kamar.


Kemudian ia masuk kembali dengan membawa nampan berisi satu gelas air minum dan juga mangkuk berisi bubur yang masih hangat.


Yayak : "Ini, suapi dia jika dia sudah bangun." Adinda yang mendengar hanya mengangguk.


Adinda : "Apa Kak Dimas selalu seperti ini?" Menoleh pada Yayak.


Yayak : "Dia memang akan seperti ini, bisa kamu lihat sendirikan wajah yang menggambarkan bagaimana rasa sakit yang ia rasakan"


Adinda : "Apakah tidak ada cara lain untuk membuat Kak Dimas tenang? Adinda enggak tega lihatnya."


Yayak : "Hecmm gue belum tahu, tapi baik gue maupun Om Pastu berusaha untuk cari jalan keluarnya. Gue harep ini enggak akan lama, semoga ia bisa melupakan rasa sakitnya dan tidak merasakan derita ini lagi. Ohya, apa kau sebegitu khawatirnya dengan Dimas?"


Adinda : "Eh maksud Kak Yayak apa?"


Yayak : "Gue hanya tanya, karena daritadi gue perhatiin itu muka enggak berubah. Masih dengan mode khawatir."


Adinda : "Ehmm i.ini aku hanya. . ."


Yayak : "Hanya apa Din? Lalu gimana bisa kamu ada disini? Apa tadi kalian punya janji ketemu diluar?" Selidik Yayak dengan penuh curiga.


Adinda : "Ehmm i.itu ta.tadi sebenernya kita..."


Yayak : "Ketemu diluar kan?" Adinda menunduk. "Gue udah tahu hubungan kalian, jadi enggak perlu ditutupi lagi."


Adinda : DEG. Adinda terkejut lalu mengangkat kepalanya melihat Yayak. "Kak Yayak. . ."


Yayak : "Kenapa? Kaget ya? Hehee enggak usah kagetlah, kita berdua itu sahabat dari jaman dulu, jadi gue pasti tahu. Aku hanya berharap dia bahagia, tolong loe jaga dia Din, tetaplah selalu ada disampingnya terlepas dari syarat yang kalian buat ataupun karena keadaan Dimas."


Adinda yang masih fokus dengan ucapan Yayak langsung menoleh ketika merasakan sentuhan di tangannya.


Adinda : "Kak Dimas sudah bangun?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Akhirnya bisa update lagi,, terima kasih untuk kakak semua,,


Jangan lupa like, vote dan comment karena Author butuh saran.


Jangan lupa jaga kesehatan untuk kakak semua,


ikuti aturan Pemerintah,,


Semoga kita semua terhindar dari segala macam sakit, Aaamiin.


Salam hangat dari Autho. . .

__ADS_1


__ADS_2