
Akhirnya hari yang telah direncanakan tiba, yaitu pelaksanaan kegiatan PPA untuk yang pertama dengan anggota baru mereka. Semua anggota baik anggota baru maupun lama datang dan berkumpul bersama, mereka menyesuaikan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Aula yang ditempati cukup luas mengingat Universitas ini adalah Universitas ternama, dan terkenal salah satunya karena bangunan yang megah dan tata letaknya berada di Pusat Kota.
Acara berlangsung di Markas Besar PPA dimana lagi jika bukan Di Universitas Nusa Bangsa sebuah Universitas yang terletak di pusat Kota J. Universitas yang luasnya lima kali dari lapangan golf itu cukup terkenal karena prestasinya bukan hanya prestasi bidang akademik saja melainkan berbagai kegiatan yang selalu mereka ikuti termasuk pecinta alam.
Banyak yang ingin menjadi anggota PPA, baik dari kalangan pelajar maupun mahasiswa diluar dari Kampus. Namun hanya Yayasan dari Mahakarya yang dipilih oleh pihak Kampus untuk kalangan pelajar, mengingat mayoritas pembentuk dan pengurus adalah alumni dari Mahakarya sedangkan jika dari Universitas lain mereka tidak bisa mengikuti karena peraturan Universitas itu sendiri yang melarang ikut andil dalam organisasi Kampus lain dengan alasan lebih baik memajukan Kampus sendiri daripada memajukan Kampus lain.
Jadi siapapun yang berminat harus dari Mahakarya, dan selain itu harus masuk terlebih dahulu di Universitas Nusa Bangsa.
Sekitar Lima belas menit mereka menunggu kelengkapan anggota tak terkecuali dari Humas, dimana Adinda dan kelompoknya sedang menunggu ketua mereka siapa lagi jika bukan Dimas Aditya lelaki dingin yang dijuluki Raja Es. Dengan gelar itu banyak yang tidak yakin jika anggotanya akan betah, mengingat sifat dingin Dimas yang tidak pernah cair sedikitpun.
Tepat pukul 09.00 pagi acara dimulai....
Indra : "Oke, apa sudah kumpul semua?!" Suara Indra menggelegar di setiap sudut Aula.
"Sudah Kaaaak!" Jawab mereka kompak. Namun ada yang mengacungkan jarinya keatas, dua orang laki-laki berperawakan tinggi dan berkacamata itu bernama Adit teman satu kelas Adinda dan salah satunya siswa dari kelompok lain lebih tepatnya dari bidang lainnya.
Yayak : "Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Yayak yang melihat kearah kelompok itu.
Adit : "Tidak ada masalah, tapi ketual kami belum datang. Apa kalian bisa menunggu sebentar?" Pinta Adit kepada para Seniornya.
Amar : "Siapa ketua kalian, dan kalian dari kelompok mana? Kenapa ketua kalian belum datang, apa kalian tidak menghubunginya?" Adit hanya menggeleng. Melihat hal itu Amar sedikit kesal karena tidak ada inisiatif dari anggota itu untuk menghubungi ketua mereka. Tiba-tiba....
BUAK. . . sebuah buku melayang mengenai kepala bagian belakang Amar.
Amar : "Awwww! Loe kenapa sih Ham?! Diem aja deh loe" Sahut Amar pada sahabatnya itu, lalu kembali melihat kelompok itu. "Lagian kenapa kalian tidak hubungi saja ketua kalian itu, ketua macam apa yang datang saja terlambat dasar tidak bertanggung jawab!" Ucapnya ketus, bahkan ia lupa siapa ketua dari bidang Humas.
Ilham : "Wah bener-bener cari mati itu bocah." Gumam Ilham merutuki kebod*han sahabatnya itu. Hingga akhirnya Indra membuka suara. . .
Indra : "Ketua kalian Dimas Aditya?" Mereka langsung mengangguk, sedangkan Amarj yang baru ingat langsung menatap kelompok itu.
Anggara : "Ketua kami Bang Andre Bang!" Seru salah satu anggota dari bidang lain-lain itu.
Amar : "Jadi, Abang gue yang jadi ketua kalian?" Jawabnya santai, namun kemudian ia tersadar siapa yang dimaksud. "Maksud kalian Dimas?! Dann Andre?!" Mereka mengangguk lagi. "Kenapa enggak bilang daritadi sih! Tau gitu gue enggak ngomong jelek tadi." Sergahnya dengan kesal. "Mana Andre juga lagi, bisa koit donk gue kalau dia denger gue ngatain Dimas." Gerutunya dengan kesal.
__ADS_1
Septian : "Waaahh berani loe sama Abang gue Mar? Awas aja ya loe gue bilangin ke Andre." Amar langsung menatapnya tajam, namun kemudian...
Amar : "Loe!! Jangan donk Sep, entar gue ditendang sama tuh orang." Yang lain hanya terkekeh melihat wajah Amar.
Ilham : "Makanya loe itu mesti tanya dulu sebelum ngebut tuh mulut." Jawab Ilham dengan wajah sedikit khawatir karena bisa dipastikan jika Amar terkena masalah oleh Dimas dan Andre mendengarkan, maka Ilham juga akan ikut terkena imbasnya.
Amel : "Loe aja Bang yang daritadi ngomong enggak pake jeda, lagian sama temen sendiri masa lupa. Katanya sahabat." Celetuk Amel sekenanya, hal itu sukses membuat Amar mengedarkan matanya untuk mencari sumber suara yang ia kenal akhir-akhir ini.
Amar : "Ketemu! Loe ya bisa sopan sedikit enggak sama senior? Namanya juga lupa, wajar donk Mel." Sahutnya sambil menunjuk Amel dengan jari telunjuknya.
Amel : "Lahhh katanya sahabat, gimana bisa lupa sih Bang, enggak setia kawan ini mah." Jawabnya lagi. Saat Amar ingin menjawab, ucapannya terhenti dengan suara Indra...
Indra : "Cukup hentikan perdebatan kalian. Enggak diluar enggak didalam kalian selalu saja ribut." Sedangkan Amar dan Amel hanya cengengesan saja. " Yaa, sepertinya Dimas sedikit telat karena masih ada urusan. Jadi kalian akan bersama wakil humas, begitu juga dengan Andre jadi untuk bidang lain bisa diwakilkan pada Anggara." Arya dan Anggara yang menjadi wakil langsung mengangguk. "Baiklah kita langsung mulai saja acara hari ini, acara pertama kita dengan anggota baru." Semua serentak bertepuk tangan.
Di sudut lain seseorang tengah memperhatikan Adinda sejak ia masuk ke Aula, orang itu tidak lain adalah MBA yang memang terlihat tertarik dengan gadis SMU itu. Yayak yang sejak awal melihat, ia langsung memperhatikan MBA yang selalu mencuri pandang pada Adinda.
Berbagai acara mereka lewati dengan penuh suka cita, bahkan games yang mereka buat sukses membuat yang lain tertawa, ditambah dengan sikap Amar, Ilham juga Septian tak lupa dengan gadis bawel yang selalu mengganggu mereka siapa lagi jika bukan Amelia Putri.
Hingga suara adzan dzuhur menghentikan kegiatan mereka.
. . .
Amel : "Aaaaah! Akhirnya kita bisa lewatin setengah hari kegiatan ini." Ucapnya dengan suara yang lumayan tinggi. Hal itu sukses membuat anggota lain menatapnya. "Oops sory." Ucapnya dengan terkikik.
Adinda : "Kamu ya Mel, jaga sikap donk. Enggak malu dilihatin sama orang banyak?"
Amel : "Kenapa mesti malu sih Adinda Amaralia. Ini kan tempat umum jadi sah aja donk." Belanya.
Azriel : "Ini masih di Masjid bukan dihutan!" Ucap Azriel yang berada dibelakang mereka berdua.
Amel : "Loe! Kenapa hidup gue selalu susah setiap kali ada loe dideket gue sih!"
Azriel : "Biar ganteng gini, gue tetep sepupu loe! Jadi loe harus baik sama gue dan traktir gue."
__ADS_1
Amel : "What!!!!" Teriaknya, namun setelah sadar banyak mata yang melihatnya ia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apa loe bilang?! Enak banget loe yaa kaya enggak dikasih makan sama Tante Maya."
Azriel : "Dikasih makan itu pasti. Tapi kalau dtraktir loe itu belum pasti Memeeeell." Saat Amel ingin menjawab, Adinda sudah mendahuluinya.
Adinda : "Ssstt sudah, kalian selalu saja bertengkar sekali-kali yang akur donk."
Geraldi : "Bener banget tuh yang dibilang Adinda." Ucapnya yang baru bergabung. "Kalian itu selalu saja seperti ini, kapan akurnya sih! Pusing kepala gue dengar suara kalian." Azriel dan Amel langsung menatap tajam Geraldi. "Oopps ada macan betina ngamuk nih, kabuuuuuuuurrrr......."
Amel : "Woy! Jangan kabur loe yaaa." Akhirnya Amel dan Geraldi kejar-kejaran hinggan membuat Adinda dan yang lainnya tertawa.
Akhirnya setelah mereka melaksanakan ibadah shalat dzuhur, mereka kembali masuk ke Aula untuk makan siang bersama.
Firman : "Baiklah saya disini dari bidang konsumsi, siang ini kita akan makan bersama jadi mari kita persiapkan semuanya." Mereka segera mengambil makanan yang telah disediakan oleh pihak catering.
Rara : "Oke setelah siap, kita bentuk kelompok kecil dan berdoa." Mereka segera membentuk kelompok kecil tak lupa Adinda duduk bersama adik dan juga para teman dan sahabatnya termasuk teman Arul.
Firman : "Doa, mulai." Mereka menundukkan kepala. "Selesai. Selamat makan."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Salamm hangat dari Author...