
Beberapa jam sebelumnya, Pastu, Shekar dan para bawahannya mendatangi sebuah gedung kosong yang terletak di Kota Itaewon. Setelah sampai disana mereka langsung menyusuri tempat itu untuk memastikan keberadaan Dimas yang kabarnya didalam gedung itu dengan kondisi memperihatinkan.
Namun setelah lima menit berada disana mereka tidak menemukan sesuatu tentang Dimas, bahkan tidak ada secercah harapan sedikitpun.
Pastu : "Shekar, apa benar ini tempatnya? Dimas tidak berada disini, atau masih ada gedung lain selain ini?"
Shekar : "Benar Om, dan setahu aku disini hanya terdapat bangunan ini saja."
Pastu : "Kalian cepat segara susuri lokasi ini, periksa kembali setiap bangunan yang ada. Saya tidak ingin ada yang terlewat sedikitpun."
"Yes Sir!!" Jawab mereka kompak.
Disaat mereka masih sibuk dengan pencarian, Pastu dan Shekar dikagetkan dengan bunyi dentuman yang cukup besar.
BOOMMMMM!!!
Suara itu menggema disekitar mereka, bahkan Shekar dan anak buahnya langsung mengarah ketempat itu.
"Toloooooong!"
"Tolooong!"
Teriak seorang lelaki paruh baya dan beberapa pemuda yang berada disekitar mereka.
Shekar yang melihat itu langsung berjalan cepat, entah ada apa. Namun ia merasa tidak enak mendengar teriakan itu.
"Tu.tuan tolong, tolong bantu kami. Ada dua orang yang berada didalam sana." Ucap pria paruh baya itu.
"Benar Tuan, tolong bantu kami. Selamatkan mereka berdua." Ucap salah seorang pemuda.
"Yaa, tolong kami. Lelaki itu sungguh sangat baik pada kami. Dia selalu membantu kami." Lanjut pemuda lainnya.
Shekar : "Tunggu. Jelaskan dengan perlahan, agar kami bisa membantu kalian."
Pastu : "Segeralah bantu mereka dan lanjutkan pencarian kita Shekar." Perintah Pastu dingin.
Shekar : "Om, aku minta waktu untuk hal ini. Entah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak tenang." Jawabnya.
"Tolong katakan pada kami apa yang terjadi disini, dan kenapa kalian berada ditempat ini? Kalian terlihat begitu sehat juga segar."
__ADS_1
Pria paruh baya itu terdiam. Akan dimulai darimana cerita itu ia belum tahu.
"Sebenarnya dia seorang lelaki yang kami temui beberapa minggu lalu di Kota seberang. Dia lelaki yang baik, selalu membantu kami yang berada disini."
Shekar : "Bagaimana ciri-ciri orang itu?" Tanya Shekar menyelidik.
"Lelaki itu memiliki tinggi seperti Tuan, bahkan lebih tinggi sedikit. Lalu, dia memiliki mata biru hazel yang sangat tajam, birunya seperti orang Eropa, wajahnya juga terlihat campuran. Sungguh tampan Tuan. Badannya tegap, dia juga memiliki tubuh yang bidang. Berkulit putih seperti Eropa bercampuran Asia. Bahkan dia juga begitu dermawan pada siapapun." Jelas Pria itu.
Pastu yang sejak tadi terlihat tidak nyaman seketika membalikan tubuhnya dan menghadap lelaki itu. Terutama saat ia menjelaskan ciri-ciri orang yang membantunya, karena itu hampir sama dengan Dimas.
Shekar : "Apa lelaki itu memiliki wajah seperti pria dalam photo ini?" Tanya Shekar sambil menunjukkan gambar Dimas.
"Waaah benar! Daebak. Darimana Anda mendapat photo Ditya? Wajahnya terlihat sangat tampan saat di photo." Ucap seseorang yang sejak tadi bersama Pak tua itu.
Shekar langsung menatap tajam terhadap lelaki itu. Seakan ia baru mendapat sasaran.
Pastu : "Dimana lelaki itu?" Tanyanya dingin.
"Saya sudah katakan, lelaki itu yang ada didalam gedung yang barusan terbakar." Pastu dan Shekar mendelik.
Pastu : "Kalian. Cepat padamkan gedung itu, dan segera cari keberadaan Dimas!" Mereka yang mendengar itu langsung berhambur sesuai dengan perintah.
Seakan tidak mendengar, Pastu langsung saja tidak menghiraukan ucapannya. Yang ia fikirkan saat ini adalah menemukan keponakannya yang sudah lama menghilang.
Mereka masih saja berkutat dengan pencarian itu, gedung itu terlihat begitu menghitam setelah kebakaran karena ledakan yang baru saja mereka dengar. Bahkan sebagian gedung itu sudah tidak berbentuk lagi.
"Tuaaaann!" Teriak seorang pengawal yang bernama Gerry. "Tu.tuaaaan sa.sayaa."
Shekar : "Apa yang kau temukan Ger? Kau menemukan orang itu?"
Gerry : "Ehmmm, i.inniiii Tuan saya menemukan ini di sekitar sana."
Gerry menyerahkan sebuah sisa kartu nama yang hanya tinggal setengah. Hanya menyisakan satu nama disana "Adhitama"
DEG!!
Shekar langsung terkejut, kilatan matanya seakan tidak percaya dengan perkataan Gerry. Sedangkan Pastu langsung berjalan cepat setelah melihat kartu nama yang menyisakan perasaan tak menentu.
Gerry : "saya sudah meminta yang lain untuk menyisiri tempat ini."
__ADS_1
Selang beberapa jam...
Gerry : "Tu.tuaaan!" Teriak Gerry dengan suara gemetar.
Shekar dan Pastu langsung menatap Gerry, dengan mata tajam itu Gerry langsung berlari mendekat. Terdengar deru nafasnya yang begitu jelas.
Hosh... Hosh...
Heuuuffftt! Gerry menarik nafasnya dalam sebelum mengatakan sesuatu.
"Tu.tuann, sa.saya menemukan satu jenazah di dalam sana." Ucap Gerry dengan tergagap.
DEG!
Jantung kedua lelaki itu langsung berdetak dengan cepat. Shekar langsung menuju tempat dimana Gerry menemukannya.
Untuk kedua kalinya, jantungnya berpacu lebih cepat setelah melihat jenazah yang berwarna hitam tergeletak didekat tangga.
"Apa lelaki itu Ditya?" Ucap pria paruh baya yang sejak tadi mengikuti Shekar.
Shekar menoleh menatap pria itu.
Sedangkan Pastu, dia langsung mendekati jenazah itu, untuk mencari tahu apakah benar lelaki itu adalah keponakannya.
Pastu : "Dim.mass." Panggilnya lirih, namun tidak ada jawaban karena pria itu sudah tidak bernyawa. "A.apa yang harus Om katakan pada kedua adikmu? Pada Oma, Opa lalu apa yang harus Om katakan pada kedua orangtuamu?"
Terdengar isak tangis disana. Yaa, untuk kedua kalinya Pastu menangis. Pertama ketika Ivanka meninggal bersama Kakak iparnya dan ini kali kedua ia menangis.
Bahkan ketika Ayahnya dinyatakan meninggal, ia tidak seperti ini. Meski pada akhirnya sang Ayah tidak benar-benar meninggal.
Shekar : "Apa yang Om katakan?! Dia bukan Dimas, kita belum tahu identitas lelaki ini! Lagipula Tuan ini mengatakan disini ada dua orang, dan kita baru menemukan satu!" Teriak Shekar yang merasa tidak menerima takdir ini.
"Om kita harus mencari Dimas kembali, kita tidak boleh seperti ini!" Ucap Shekar keukeh.
Pastu : "Apa yang harus Om katakan pada Septian juga Andre, Shekar? Apa mereka berdua bisa menerima semua ini?" Sambil mengguncang kedua bahu Shekar.
Shekar terdiam, dia masih diam dengan pikirannya. Dia menolak untuk menerima semua ini, dia juga sedih namun dia masih percaya jika Dimas masih hidup. Jasad di depannya bukanlah Dimas sahabatnya, bukan!
Pastu dan Shekar langsung mengurus jenazah tersebut. Pastu segera menghubungi sang Ayah, lalu ia segera kembali ke Aparteman. Entah apa yang harus ia katakan pada kedua keponakannya.
__ADS_1
Sedangkan Shekar, meski ia ikut mengurus jasad itu. Ia tetap menyelidiki semua kejadian ini, ia merasa melupakan sesuatu. Namun apa, dia belum mengingatnya.