
Andre : "Bukankah itu gadis yang berada dikelompok Anda?" Anda yang dimaksud adalah Dimas. Sedangkan Dimas yang mendengar kata terakhir yang terlontar dari mulut Andre, membuatnya geram dan menatap maniak Andre dengan tajam seperti elang. "Ada apa?"
Dimas : "Apa kau benar-benar sudah bosan untuk hidup?" Tanyanya dengan nada dingin, sedangkan Andre hanya bergidik mendengar hal itu.
Andre : "Maaf. Tapi benar bukan bahwa gadis itu yang ada di anggota humas?" Dimas mengangguk.
Entah apa yang membuat Adinda masih setia berdiam diri disana, bahkan Dimas juga penasaran akan hal itu. Namun mengingat perdebatan mereka saat dikelompok tadi membuatnya tetap diam hingga sekarang.
Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mencari keberadaan gadis itu, siapa lagi jika bukan Arul adik yang sangat dicintai oleh Adinda.
Arul : "Maaf Kak, apa di dalam masih ada orang?" Andre yang mendengar hanya mengangguk. "Apakah itu Kak Dinda?"
Dimas : "Iya, masuklah mungkin dia butuh kamu saat ini." Ucapnya spontan dan langsung pergi, sedangkan Andre dan Arul hanya diam karena bingung dengan reaksi datar Dimas. Menyadari ia hanya berjalan sendiri, dia langsung menoleh kebelakang. "Apa kau masih ingin tetap disitu, Andre?"
Andre : "Aah, tidak tuan saya juga akan pergi ikut bergabung dengan yang lain." Dimas langsung menatap tajam kearah Andre, karena dia berbicara formal sedangkan Andre hanya tersenyum kikuk untuk menghilangkan kegugupannya karena tatapan tajam Dimas.
Mereka berdua akhirnya pergi. Arul hanya melihat mereka dengan ekspresi bingung karena Andre memanggil Dimas dengan sebutan tuan. Kemudian terlihat seorang wanita keluar dari dalam masjid dan menghampiri Arul.
Adinda : "Dek? Kamu ngapain disini?" Arul yang mendengar suara lembut itu langsung menengok. "Ada apa?"
Arul : "Ehmm enggak kok, itu tadi ada Kak Dimas sama Kak Andre, tapi yang bikin Arul bingung kenapa Kak Andre manggil orang kutub itu tuan."
Adinda : "Hei siapa yang kamu sebut orang kutub? hum?"
Arul : "Hehee itu Kak Dimas, kan memang dia kutub Kak, lihat aja coba kalau dia lagi dingin terus datar gitu ngeri tau Kak."
Adinda : "Ssstt kamu jangan bilang gitu nanti kalau dia dengar, gimana?"
Arul : "Hehe maaf deh. Ohiyaa kita ke taman yuk, Arul udah laper nih." Ajaknya dengan suara manja. Adinda mengangguk dan segera membawa tasnya yang didalamnya juga berisi kotak bekal.
Sudah menjadi kebiasaan Adinda setiap pergi ke sekolah ia akan menyiapkan bekal untuk dirinya dan juga adiknya, semua itu ia lakukan agar mereka tidak sering makan dan jajan diluar mengingat banyak makanan yang mengandung pengawet dan semacamnya. Meski sering membawa bekal tetapi mereka terkadang juga makan diluar menghabiskan waktu bersama agar tidak bosan karena hanya hidup bertiga bersama dengan Bi Narti yang sejak dulu selalu bersama mereka.
Setelah Adinda mengambil kotak makan siangnya ia langsung menuju taman seperti permintaan adiknya itu. Sesampainya ia di taman ternyata sudah banyak yang berkumpul untuk menghabiskan waktu istirahat mereka ditempat yang teduh dan nyaman itu. Tidak terkecuali para anggota PPA yang lain termasuk Dimas dan yang lainnya.
Sesampainya mereka di taman, Adinda dan Arul sudah disambut oleh Amel dan juga teman sekelasnya...
Amel : "Naah ini dia nih yang ditunggu akhirnya datang juga."
Geraldi : "Kalian itu darimana sih? Kita udah laper nih nunggu kalian."
Alvin : "Iya, loe darimana sih Rul?"
Arul : "Hecmm tadi nyariin Kak Dinda, dicari kemana-mana eh taunya di masjid." Amel yang mendengar itu langsung menghampiri dan duduk disebelah sahabatnya.
Amel : "Adinda? Are you ok?" Adinda tersenyum mengangguk.
Restu : "Baiklaaah. Sekarang ayo kita makan, gue udah sangat laper." Mereka semua mengangguk.
Semua yang ada di taman tampak riang karena secara tidak langsung mereka seperti sedang mengadakan piknik bersama. Semua terasa membaur menjadi satu bahkan para senior PPA ada yang ikit bergabung dengan anggota baru mereka tak terkecuali Ilham dan Amar yang berkeliling kesetiap kelompok kecil yang sedang beristirahat.
Terlihat dalam kelompok Geraldi semua tertawa riang saat menikmati hidangan mereka masing-masing, bahkan ada yang berebut makanan seperti camilan sehat yang dibuat dan dibawa oleh Adinda. Semua itu tak lepas dari penglihatan MBA yang terlihat penasaran dengan gadis yang sempat menjadi topik pembicaraan dalam kelompoknya tadi.
Dimas yang ikut memperhatikan tingkah teman Adinda pun juga ikut tersenyum, karena Adinda juga ikut senang dan tidak terlihat murung seperti pagi tadi. Namun saat ia menghadap kearah lain, tak sengaja ia melihat MBA sedang ikut memperhatikan kelompok itu, dan matanya tertuju pada seorang gadis cantik yang sudah mengisi hatinya, dia adalah Adinda. Ada perasaan marah, ia kesal karena ada lelaki lain yang sedang memperhatikan gadisnya, namun ia hanya bisa diam tanpa mampu menghalanginya. Yayak yang melihat hal itu hanya menghela nafas dengan berat, karena hal inilah yang ia takutkan jika hubungan mereka harus disembunyikan.
Nauval : "Kak Dinda hari ini bawa bekal apaan?"
Alvin : "Iya soalnya daritadi Arul nyariin terus katanya pengen masakan Kakak."
__ADS_1
Adinda : "Ini hanya masak omlet syur, sama tumis tahu tauge, cukup sederhana saja dan makan yang sehat buat tubuh." Kembali melahap makanan.
Amel : "Bawa camilan apa kamu Din?"
Arul : "Ada cookies dengan kombinasi baru kok Kak, ini cobain aja tapi nanti ya setelah makan." Amel mengangguk dan kembali melanjutkan makan.
Mereka kembali bercanda tawa dengan tingkah Amel dan Azriel kemudian ditambah dengan Ilham dan juga Amar yang ikut bergabung.
Ilham : "Wah camilan ini beli dimana nih? Enak banget." Katanya saat ikut menyantap camilan.
Amar : "Iya bener, bahkan Nyokap tiap beli rasanya beda dari ini."
Azriel : "Itu handmade tau Bang."
Amar : "Kau yakin, Ini handmade?" Azriel dan yang mengangguk dengan mantap. "Siapa yang bisa buat camilan enak seperti ini?" Amel melirik kearah Adinda. "Loe yang bikin?" Adinda mengangguk.
Ilham : "Apa kita berdua bisa membawa ini ke anak-anak yang lain?"
Vania : "Tidak bisa!" Tolak Vania dengan tegas.
Amel : "Kenapa?"
Vania : "Amel loe lupa ya ini camilan buat kita, enggak boleh donk mereka minta. Ini bagian kita tau. Apa kau lupa?!" Amel mencoba mengingat apa yang dibilang Vania.
Restu : "Gue inget tuh waktu Amel kehabisan cookies yang dibuat Adinda dan dia merengek ke loe, karena jengah loe cari deh tu disetiap toko tapi enggak ada rasa yang sama dan Ameeel. . . nangis didalam toko. Haha. Parahnya lagi Dia harus menahan keinginannya untuk makan cookies karena Adinda harus pergi kerumah Eyangnya." Amel langsung menatap tajam Restu, karena yang ia katakan tidaklah salah.
Geraldi : "Gue inget banget tuh waktu itu, Udah lama gue enggak lihat ini bocah enggak nangis lagi, tau gitu gue vidioin dah biar tambah rame." Mereka semua tertawa.
Amel : "Kaliaaaaan! Awas ya loe pada. Adindaaaaa! Loe harus belain gue, karena loe tadi enggak belain gue."
Ilham : "Kalian ini ternyata kocak juga ya, terutama loe, loe, loe, loe dan loe si cewek yang sedikit bar bar." Amar mengangguk, mendengar hal itu Amel langsung berteriak.
Amel : "Loe!! Gue itu bukan cewek bar bar gue cewek cantik Amelia Putri sahabatnya Adinda Amaralia, dan loe." Menunjuk Ilham dan Amar. "Siapa loe hah nilai gue? Emak-emak kompleks aja diem."
"Karena mereka udah bosen sama loe!" Jawab mereka kompak. Mereka kembali tertawa.
Disudut anggota PPA, seorang lelaki berdiri untuk keluar dari kelompoknya. Siapa lagi jika bukan Dimas. Ia beranjak pergi setelah menerima e-mail dari adik mamanya itu. Indra yang melihat hal itu langsung bertanya padanya.
Indra : "Loe mau kemana?" Dimas menoleh diikuti teman-temannya.
Dimas : "Gue ada urusan." Dengan nada datar dan dinginnya. Indra mengangguk. "Ndre ikut saya." Andre mengangguk. Kemudian mereka pergi.
Agista : "Ada apa dengan mereka? Yak! apa ada masalah sama mereka berdua?"
Ilham : "Mereka mau kemana? Belum juga selesai, kenapa Abang gue itu malah cabut?"
Amar : "Kerasa banget atmosfirnya enggak kaya biasanya." Yang lain ikut mengangguk.
Ilham : "Apa terjadi sesuatu Ndra?" Indra mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu.
Indra : "Gue enggak tahu sama sekali. Loe tahu Yak?" Selidiknya pada Yayak.
Yayak : "Gue enggak tahu, mungkin masalah kantor."
Agista : "Maksud loe kantor apa? Emang dia punya perusahaan?" Tanya Agista yang begitu penasaran. Agista memang penasaran dengan sosok Dimas Aditya, kenapa lelaki yang datar dan dingin itu selalu bersama Andre, dan gayanya yang biasa kenapa kendaraannya begitu mahal meski terlihat sederhana.
Banyak yang tidak tahu siapa Dimas sebenarnya, hanya sahabat dan orang yang dekat dengannya yang mengetahui jati dirinya.
__ADS_1
Septian : "Apa loe enggak tahu kalau dia itu pengusaha kuliner?" Ceplos Septian dengan nada datar dan juga dinginnya.
Banyak yang tidak tahu jika Septian sebenarnya juga memiliki sifat yang sama dengan Dimas, hanya saja ia selalu menyembunyikannya. Ia akan kembali dingin ketika ia merasa tidak suka jika ada yang bertanya lebih jauh tentang keluarganya apalagi jika ada yang berusaha mengusiknya.
Ilham : "Wah ini nih, akhirnya ini bocah balik dingin juga setelah sekian lama." Gumam Ilham dalam hati. "Apa kau merasakannya Mar?" Amar mengangguk.
Yayak : "Dimas memang pengusaha kuliner bahkan cabangnya baru akan jalan untuk yang ketiga, jadi dia sibuk." Jawab Yayak yang merasa sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan Agista.
Agista : "Tapi kenapa dia selalu bareng Andre, kenapa bukan loe, loe kan adiknya Sep. Terus barang dia branded semua, nah loe?"
Septian : "Kenapa loe jadi penasaran dengan Abang gue? Loe mau deketin dia?" Jawabnya yang kini semakin datar. Bahkan atmosfirnya hampir sama dengan Dimas.
Agista : "Yaah gue penasaran aja, secara gitu dia kelihatan sederhana tapi mobilnya mahal, barang yang dipakai branded semua. Gimana gue enggak penasaran coba?!"
Septian : "Jangan coba-coba loe deketin Abang gue, apalagi berbuat macam-macam dengan dia. Jika itu terjadi loe akan tahu akibatnya." Septian langsung beranjak mengikuti Dimas.
"Atmosfir yang sangat beda." Celetuk Ilham dan Amar dengan kompak. Karena mereka tahu Septian paling tidak suka jika Dimas diusik.
Indra : "Loe lebih baik diem. Karena pertanyaan loe itu enggak penting." Kini Indra yang ikut menjawab dengan datar.
Agista : "Memang kenapa sih dengan kalian? Gue kan cuma penasaran sama dia, masalah buat kalian."
Yayak : "Ya itu masalah buat kami. Karena Bokap loe mencoba mengusik apa yang sedang dimiliki oleh Dimas." Gumam Yayak dalam hati.
MBA : "Sudah jangan bahas yang lain, sekarang kita kembali lagi keacara kita ini. Loe Gis, enggak usah bahas tentang cowok ketika diforum apalagi tentang Dimas, kita semua tahu dia pengusaha kuliner bahkan loe juga pernah ikut ke restoran miliknya. Jadi jangan diperpanjang lagi." Jawab MBA yang tidak ingin perang dingin semakin berlanjut.
Agista : "Iya deh iya." Jawabnya. "Tapi gue bakalan tetel cari tahu semuanya, gue yakin dia pasti punya rahasia. Gue bakal dapetin informasi tentang dia jika dia benar orang kaya gue bisa deketin dia." Gumamnya dalam hati namun kemudian tampak senyum disudut bibirnya. Senyum itu tak lepas dari penglihatan Yayak, Indra, Ilham, juga Amar.
Amar : "Apa lagi yang ia rencanakan?" Gumamnya pelan, dan hanya Ilham yang mendengar.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author mengucapka minalaidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin. Selamat menjalankan ibadah puasa untuk kakak semua yang Muslim, dan untuk yang tidak puasa beri kami semangat untuk menjalankan puasa yaa😄 mari junjung solidaritas kita tanpa membeda-bedakan sesama.
Sukses untuk kita semuanya.
Semoga kita bisa melewati pandemic covid-19 dengan segera.
Jangan lupa jaga kesehatan kakak.
Salam hangat dari Author Lampung, semoga kita semua selalu sehat selalu.
__ADS_1