
Hari ini tiba dimana siswa dari Mahakarya melaksanakan Ujian akhir untuk kelulusan. Tak beda jauh dari Sekolah Negeri pada umumnya, Mahakarya juga melaksankan Ujian namun karena merupakan suatu Yayasan, maka Ujian SMU, SMP dan SD diadakan secara serentak.
Hal itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun, dan Pemerintah tidak mempermasalahkan asal semua sesuai dengan peraturan dan tata tertib yang sudah ada.
Adinda dan keempat sahabatnya berbeda ruangan karena banya siswa yang protes dengan kepintaran mereka, dan jika berada dalam satu ruangan maka itu tidak adil menurut mereka serta jika terpisah siapa tahu mereka bisa mencontek hasil yang sudah dikerjakan.
Berbeda dengan SMU, berbeda pula dengan SMP. Karena keempat sahabat itu berada disatu ruangan yang sama, namun setiap siswa memiliki soal yang berbeda karena menggunakan paket dan tahun ini ada 6 paket soal yang beda yang harus mereka kerjakan.
Tepat pukul 10.30 Ujian selesai. Itu tandanya mereka telah melewati hari pertama, seperti biasa mereka menghabiskan waktu siang di taman batas. Keempat anak SMP itu langsung menuju kesana, karena bisa dipastika Adinda dan yang lainnya pasti sudah berkumpul.
Amel : "Huaaaaaa! Sumpah Ujian tahun ini beneran beda dari sebelumnya." Yang lain mengangguk setuju. "Kenapa juga itu anak-anak yang lain minta kita pisah kelas."
Adit : "Mungkin saja mereka kurang percaya diri jika kita semua satu ruangan."
Vania : "Atau bisa jadi karena kita ini memang pintar dan mereka ingin menguji kita."
Geraldi : "Menguji apa? Memang kita perlu diuji soal apa?"
Vania : "Yaa mungkin mereka berfikir kepintaran kita ini karena kita saling mencontek jadi jika kita pisah ruangan pemikiran mereka bisa terbukti." Jelasnya.
Amel : "Bener banget loe Van, gue juga sempat dengar mereka bicara seperti itu. Niat awal mau gue samperin itu anak, eeeh si Dinda malah ceramahin gue." Dengusnya kesal.
Geraldi : "Tapi gue berterima kasih karena Dinda bisa ngalangin loe." Amel mengernyit. "Karena jika tidak itu sifat bar-bar loe pasti langsung keluar saat itu juga." Mereka yang mendengar langsung tertawa.
Amel : "Kyaaaaa! Loe ya, awas aja loe gue aduin sama Mama Kia biar dihukum." Ancamnya.
Adit : "Disini yang jadi anaknya MamKi siapa sih? Kok jadi loe Mel yang ngancem."
Amel : "Asal kalian tahu yaa, MamKi itu lebih sayang sama gue ketimbang anaknya ini." Jawabnya sambil menunjuk Geraldi.
Vania : "Waah jangan-jangan kalian ini dijodohin dari bayi lagi, makanya MamKi sayang sama loe." Amel dan Geraldi menatap Vania tajam.
"Oogah!!!" Jawab mereka dengan kompak. Vania dan Adit mendengar itu langsung tertawa puas.
Adit : "Kalian sungguh kompak ternyata, enggak sia-sia jika kalian satu perumahan." Ucapnya sambil tertawa.
__ADS_1
Ketika mereka sedang tertawa, lebih tepatnya menertawakan Amel dan Geraldi. Datanglah keempat anak SMP menuju arah mereka. Sungguh pemandangan yang indah melihat keempat idola SMP itu dalam satu barisan.
Alvin : "Kalian sedang menertawakan apa?" Amel dan lainnya melihat kesumber suara.
Adit : "Kalian ingin tahu aja apa banget?" Sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Azriel : "Apa ada kabar baik antara kalian?" Celetuk Azriel.
Vania : "Yaa sebuah kabar gembira yang menggemparkan."
Adit : "Geraldi dan Amel dijodohin." Keempat anak itu langsung terkejut.
Azriel : "Sejak kapan? Kok Tante enggak bilang ke gue? Mel, loe serius?"
Amel : "Enak aja, kaya kurang stok cowok aja gue pake harus dijodohin sama dia segala."
Geraldi : "Stok banyak? Siapa yang mau sama cewek barbar kaya loe coba." Sarkas Geraldi pada teman masa kecilnya.
Azriel : "Tapi memang beneran kalian dijodohin? Waaah parah, gue enggak setuju. Ogah gue Bang Gerald jadi sepupu gue."
"Kenapa?" Tanya Vania dan Adit dengan kompak.
Nauval : "Tapi sepertinya kalian cocok deh." Seketika itu Nauval langsung mendapat tatapan tajam dari Amel. "Settdah itu mata dikondisikan kenapa sih Kak Meeeel."
Amel : "Loe ya Val, sekali lagi loe ngomong seperti itu. Hecmmm abiss loe." Nauval langsung bergidik.
Arul : "Ada yang tahu dimana Kak Adinda?" Arul yang memang sejak tadi belum melihat Adinda langsung menanyakannya. Mereka langsung menghentikan tawa itu.
Alvin : "Eeh iya, Kak Adinda kemana? Apa jangan-jangan sudah pulang duluan?"
Amel : "Iya ih, kalian enggak tahu apa Adinda kemana? Kayanya dari kita selesai tadi sampai sekarang kita belum ketemu."
Nauval : "Memang kalian tidak satu ruangan Bang?"
Geraldi : "Enggak, semua karena anak yang lain komplen biar kita berlima beda ruangan."
__ADS_1
Azriel : "Kenapa bisa begitu? Biasanya kalian juga satu ruangan, kenapa tahun ini beda."
Vania : "Anak-anak pada komplein kalau kita satu ruangan, kita bakal contekan. Padahal kan tahun ini soal saja peketan, jadi setiap soal berbeda."
Arul : "Lalu kemana Kakak perginya, jika kalian tidak tahu." Gumamnya pelan.
Adit : "Coba loe hubungi dulu deh Rul, siapa tahu dia butuh bantuan." Arul mengangguk.
Berulang kali Arul menghubungi Adinda, namun tidak ada jawaban dari sang empunya. Bahkan mereka secara bergantian menghubungi, tapi hasilnya tetap sama.
Amel : "Loe dimana sih Din, kenapa nomor loe susah banget dihubungi." Mereka semakin khawatir karena nomor Dinda susah dihubungi dan hari sudah semakin siang.
Rencana awal ingin menghabiskan waktu bersama di taman batas, tapi semua hanya tinggal rencana karena Adinda yang begitu susah dihubungi dan membuat teman serta adiknya semakin khawatir.
Sementara itu dibangku sudut taman yang tidak jauh dari mereka, nampak seorang gadis yang duduk termenung. Gadis itu duduk disana, setelah keluar dari Masjid ia memutuskan untuk berada disana. Niat awal hanya sebentar namun ternyata hingga ba'da Dzuhur ia masih disana.
Hingga sebuah suara panggilan tegas nan lantang membuyarkan lamunannya. Lelaki itu nampak khawatir sejak tadi. Dengan langkah cepat ia berlari mengampiri Adinda dan langsung memeluknya.
Adinda : "Sayang, ada apa? Kenapa kamu memeluk Kakak seperti ini, hem?" Tanyanya seakan tak sadar bahwa sejak tadi ia tidak menghiraukan keberadaan ponselnya.
Orang itu tak lain adalah Arul. Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Kakaknya, membuat Arul mengurai pelukannya dan menatap mata Adinda.
Arul : "Kakak sejak tadi kemana aja? Arul dan yang lain menghubungi Kakak, tapi tidak juga diangkat. Bahkan selepas shalat Dzuhur nomor Kakak masih tetap sama, Kakak kenapa?" Tanyanya sambil menangkup wajah Adinda.
Mendengar itu Adinda langsung melihat ponsel yang berada didalam tas miliknya. Terdapat banyak panggilan tak terjawab dan banyak juga chat masuk disana, salah satunya chat dari Dimas yang jumlahnya tidak kalah banyak dengan yang lain. Adinda menghela nafas secara perlahan agar sedikit lebih tenang.
Adinda : "Maaf." Kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Adinda. Ketika Arul ingin membuka suara, yang lain datang mendekati kedua kakak beradik itu akhirnya Arul harus diam dan mencari tahu nanti ketika di Rumah.
Amel : "Din, loe kemana aja sih? Gue sama yang lain hubungi nomor loe tapi susah, enggak dijawab satupun. Cha**t juga enggak loe balas."
Geraldi : "Loe oke kan Din?" Tanya Geraldi yang melihat wajah Adinda berubah. Adinda tersenyum mengangguk.
Adit : "Baiklah, lebih baik kita balik sekarang. Adinda juga udah ketemu. Kita kumpul lagi nanti setelah Ujian selesai." Ucap Adit memecah suasana yang sedikit berubah.
Arul : "Baiklah, Arul duluan ya Kak. Sepertinya Kak Dinda kurang enak badan." Yang lain mengangguk. Arul langsung menggandeng sang Kakak menuju parkira. Setelah sampai... "Kakak duduk samping kemudi, biar Arul saja yang bawa mobilnya. Kakak istirahat aja." Putusnya tanpa ingin dibantah. Adinda hanya bisa menuruti perintah adiknya.
__ADS_1
Sebelum melajukan mobilnya, Arul melihat wajah Adinda sebentar. Wajah cantik nan teduh itu nampak lelah seperti banyak fikiran, bahkan ketika permasalahan dengan kedua orangtuanya saja tidak seperti ini. Sebenarnya ada apa? Fikir Arul.
Kemudian ia menjalankan mobilnya menjauhi halaman Sekolah. Sementara Amel dan yang lainnya juga ikut membubarkan diri.