
Setelah perdebatan kedua sahabat itu usai. Mereka memutuskan untuk istirahat saja, Yayak yang ikut bergabung dengan sahabat yang lain sedangkan Dimas masuk kedalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Dimas merebahkan tubuhnya keranjang kingsize miliknya.
Tubuh yang lelah membuatnya mengantuk dan harus segera istirahat, namun sebelum nantinya mata tertutup ia melaksanakan shalat Isya terlebih dahulu barulah ia kembali merebahkan tubuhnya keranjang.
"Semoga esok menjadi hari yang lebih baik Ya Rabb." Ucap Dimas sebelum akhirnya terlelap. Dengan perlahan Dimas mulai terlelap, bahkan dengkuran nafas halus sudah terdengar darinya. Kini Dimas benar-benar terlelap, meninggalkan rasa lelahnya dan berusaha untuk tenang dengan ranjang kingsize mililnya.
Ketika semua penghuni telah terlelap dan sudah memasuki alam mimpi, berbeda dengan Andre yang masih setia berdiri di balkon kamarnya. Ia memandang langit malam yang terasa begitu dingin bahkan bintang tak sebanyak seperti malam sebelumnya, seakan memang hanya ada kehampaan saja disana.
Andre menghela nafas dengan pelan, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terkecoh dengan pembicaraan yang ia dengar sebelumnya. Ada sesuatu yang berdenyut dalam hatinya jika mengenai tentang Dimas, sebuah denyutan yang memang membuat ia merasa perih.
Andre yakin bukan hanya dirinya yang merasakan itu, melainkan Septian pasti juga merasakannya. Meski mereka bukan saudara kandung tapi mereka memanglah perasa terlebih lagi jika menyangkut tentang Dimas yang notabennya kini bersatus sebagai Kakak.
"Apa yang bisa gue bantu untuk loe saat ini Dim? Loe terlihat biasa saja, terlihat tenang tapi dalam hati loe, gue tahu sedikit ada luka disana." Gumamnya pelan dan masih menatap langit malam.
"Ma, Pa. Apa kalian lihat? Saat ini Dimas sedang tidak baik-baik saja, apa kalian sudah mengatakan pada Tuhan agar selalu menjaga Dimas? Agar hatinya selalu diberi ketenangan, juga agar gadis itu bisa menjaga hati Dimas? Andre dan Septian hanya ingin ia bahagia." Ucapnya dalam hati, seolah sedang berbicara dengan kedua orangtua angkatnya.
Andre hanya menghela nafas setelah mengucapkan hal itu. Kemudian ia kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya, sepertinya tubuhnya ini sudah sangat lelah dan butuh istirahat.
Kini seluruh penghuni rumah itu benar-benar sudah terlelap, hanya penjaga yang memang mendapat tugas malam saat ini.
Keesokkan harinya, mereka kembali pada aktivitas masing-masing. Namun sebelum membubarkan diri mereka harus sarapan terlebih dahulu, karena itu perintah dari pemilik Rumah.
Dimas : "Makanlah sekarang, jika sudah selesai dan ingin pulang silahkan. Karena saya tahu kalian masih mengantuk."
Amar : "Yaa saat ini kami sepertinya memang butuh istirahat dengan full karena loe dengan teganya memaksa kita bangun sebelum subuh datang." Jawabnya mendengus kesal.
Yayak : "Waaah ketahuan loe sering bangun kesiangan yaa?" Amar hanya mesem. "Dasar dari dulu masih saja tidak berubah."
Ilham : "Halah Yak, bilang aja loe juga terpaksa bangun pagi karena ada Dimas kan?" Selidik Ilham.
Sedangkan Yayak hanya terkekeh, ia tidak mengelak tapi juga tidak membenarkan.
Septian : "Kalian itu sama saja, hanya terlahir dari Ibu yang beda. Aslinya maah sama."
Firman : "Waaah, memang ya kadang suka bener tuh mulut." Firman kini berucap. Septian langsung mendengus kesal.
Sedangkan yang melihat keduanya hanya menggelengkan kepala saja.
Dimas : "Lanjutkan sarapan kalian, saya akan berangkat duluan."
__ADS_1
Dimas langsung berdiri, dengan setelan jas kantornya ia kemudian melangkah menuju garasi. Tujuannya kali ini adalah Adhitama Company dan AO (Aditto), salah satu bisnis bidang otomotif yang dimilikinya.
Andre : "Arya, kamu bisa menyusul nanti. Saya akan menemani Dimas ke AO terlebih dahulu." Arya menangguk mengerti. "Untuk kalian, saya permisi terlebih dahulu."
Andre langsung beranjak dan melangkah menyusul Dimas yang sudah berada didalam mobilnya. Sesampainya disana, Andre langsung memasuki mobil dan mobil itu segera melesat perlahan semakin menjauh meninggalkan mansion besar bergaya klasik tersebut.
Sedangkan mereka yang masih setia dimeja makan hanya saling melirik satu sama lain. Seperti sedang berbicara hanya melalui tatapan mata mereka saja.
Septian : "Apa kalian lihat-lihat seperti itu?!" Sarkas Septian pada para sahabatnya. "Tau gue, kalau gue ini tampan." Lanjutnya dan langsung mendapat pukulan dari para sahabatnya. "Kyaaaaa! Sakit woy, gue aduin kalian sama Abang gue." Ucapnya sinis.
Firman : "Mana ada, Abang loe aja sudah berangkat semua termasuk si duplikat."
Yayak : "Jadi loe enggak akan bisa ngadu sama mereka berdua."
Septian : "Mana ada, lihat saja nanti saat dia balik gue aduin kalian semua. Terutama kalian berdua." Menunjuk Yayak dan Firman. "Karena kalian yang paling kenceng, dan kalian berdua." Kini dia menunjuk Amar dan Ilham. "Karena kalian berdua yang paling seneng kalau lihat gue tersiksa." Mereka langsung tertawa.
Indra : "Loe yakin Dimas akan percaya?" Ucap Indra yang sejak tadi diam.
Ilham : "Waaah si Indra, Babang kalem sekarang sepertinya mulai bisa menindas si bontot." Ucapan Ilham itu langsung mendapat tatapan tajam dari Septian.
Amar : "Kalian ini selalu saja menindas Septian, kasihan dia sudah sering tertindas." Septian langsung meneebitkan senyuman. "Jangan selalu menindas, karena gue juga pengen nindas dia mumpung si Abang berangkat." Septian yang sebelumnya merasa senang kini langsung menatap nyalang sahabat jumplingnya.
Yayak : "Bukannya siang ini loe ada jadwal?" Tanya Yayak sebelum Arya melangkah.
Arya : "Emang iya ya?" Jawabnya sambil mengingat jadwal. Kemudian ia menunjukkan deretan giginya.
Firman : "Hooo ini nih kelamaan loe hidup bareng Dimas jadi begini deh, lupa jadwal Kampus, ckck."
Arya : "Yaelaaaah baru sekali ini gue enggak ingat, bukan lupa."
"Sama saja!!!" Jawab mereka semua dengan kompak.
Arya : "Masya Allah. Suara kalian ini sungguh ya mending masuk paduan suara deh."
Amar : "Betul tuh, biar kita punya suara seperti Dimas. Sumpah gue kaget lihat dia bernyanyi saat acara waktu itu."
Yayak : "Itu juga karena Nini gue yang minta sambil mohon, coba saja jika bukan karena dia pasti Dimas enggak mungkin mau."
Ilham : "Tapi sepertinya Dimas cocok deh sama cewek itu, siapa itu namanya yang kemarin bareng makam sama kita? Aah Adinda, iya."
__ADS_1
Arya : "Bukannya MBA juga suka sama Dinda?" Mereka menatap Arya. "Kenapa? Bukannya memang benar?"
Yayak dan Firman yang mendengar itu langsung diam dengan fikiran masing-masing. Terutama ketika mendengar perihal ketertarikan MBA terhadap gadis itu.
Indra : "Darimana loe tahu soal itu Ar? Apa MBA sendiri yang bilang?"
Arya : "Gue hanya dengar saat dia dan Yayak ngobrol di Kantin setelah acara itu, waktu Dimas masih di Luar Negeri. Benar kan Yak?" Yayak masih sibuk dengan fikirannya.
Ilham : "Woy Yak, loe ngelamunin apa sih?" Yayak mengernyitkan dahinya. "Bener MBA suka sama Dinda?"
Yayak : "Kenapa tanya ke gue?" Menunjuk dirinya sendiri.
Septian : "Karena Arya bilang, dia dengar sendiri waktu loe sama MBA di Kantin." Firman yang sudah sadar dari lamunan langsung menatap Yayak, seakan mencari jawaban.
Yayak : "Yaa me.mmang sih dia bilang ke gue, tapi yaa begitulah. Dia ingin mengejar gadis itu, mengingat Arul itu belum memberi izin kakaknya punya kekasih jadi yaa dia ingin mendekati Arul terlebih dahulu." Jawabnya. "Terhitung sudah hampir 3 bulan hubungan loe Dim, apa yang akan loe lakuin jika MBA memang berhasil mendapat kepercayaan Arul?" Gumam Yayak dalam hati.
Firman : "Apa Mara, eh maksud gue apa Dinda mengetahui soal itu?"
Indra : "Diantara kita mana ada yang tahu Fir, hanya mereka berdua saja yang tahu." Firman mengangguk mendengar itu.
Septian : "Tapi memang itu cewek cantik sih, wajar saja jika Pangeran Kedokteran menaruh hati sama dia. Gue saja dulu sempat naksir tuh cewek, tapi balik lagi gue inget Rara."
*Pangeran Kedokteran ditujukan pada MBA karena dia merupakan Mahasiswa Fakultas Kedokteran.
"Hooooo!!!" Sorak para sahabatnya yang mendengar ucapan Septian.
Indra : "Sudah lebih baik kita berangkat ke Kampus sekarang, kelas bisnis 1 jam lagi akan mulai."
Ilham : "Itukan kelas loe sama Firman, jadi sok atuh berangkat duluan." Ucap Ilham mempersilahkan.
Yayak : "Lah ini anak, memang loe masuk fakultas mana? Hah?"
Ilham : "Oh iya juga ya, kita memang fakultas bisnis, hehe." Ucapnya cengengesan. "Tapi kan beda prodi Yak." Lanjutnya.
Yayak : "Sama saja Fakultas Bisnis juga." Ucapnya jengah. "Ar kelas loe siangkan?" Arya mengangguk. "Loe ke bestcamp aja deh."
Arya : "Lihat nanti deh Yak, soalnya gue mau ke Kantor dulu sebentar. Setor laporan ke Pak Boss dulu, takut nanti ditungguin." Mereka mengangguk. "Oke gue duluan, bye."
Setelah kepergian Arya, mereka langsung membubarkan diri untuk segera berangkat ke Kampus. Karena jika terlalu lama berada di mansion utama Adhitama ketika masih jam kuliah, Bi Arum akan melaporkannya pada Dimas dan mereka tidak ingin membangunkan Singa yang bersemayam dalam dirinya.
__ADS_1