
Dengan langkah lebarnya, Firman beranjak dari sofa dan langsung menghampiri seseorang yang berada dibelakang Dimas. Namun dengan sekali hentakan Andre segera memutari meja Dimas ketika Firman sudah mendekat. Bisa dibayangkan saat ini mereka berdua bahkan sudah berlarian memutari meja besar milik Dimas. Dimas yang melihat mereka hanya memutar matanya dengan jengah, bahkan suara keduanya sungguh memekikan telinga miliknya.
Beberapa saat kemudian akhirnya keduanya berhenti berkejaran. Mereka lansung tergeletak di sofa dengan peluh yang sudah banyak.
Dimas : "Apakah kalian sudah selesai bermainnya?" Tanya Dimas yang sejak tadi hanya diam saja. Keduanya menoleh.
"Ya kami sudah selesai." Jawab keduanya bersamaan dengan suara yang terengah-engah. Dengan wajah penuh peluh, rambut yang semula rapi kini jadi berantakan. Mereka hanya nyengir kuda saja. Dimas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bocah dihadapannya, ya mereka memang seperti bocah baru masuk TK.
Dimas : "Baiklah, jika kalian sudah selesai silahkan keluar dari ruangan saya, sekarang." Perintahnya dingin.
Firman dan Andre yang mendengar hanya bergidik ngeri dengan perintah CEO Adhitama itu. Dalam hal ini mereka berfikir hal yang sama yaitu membutuhkan Adinda atau paling tidak Septian juga sudah cukup, karena bisa dipastikan si bontot akan langsung merengek. Akhirnya dia sendiri yang akan jadi korban bukan mereka, ini mah hanya jadi tumbal si bontot. Bisa-bisanya mereka memiliki pemikiran yang seperti itu, ckck.😂
Firman : "Loe tega usir gue dari sini Dim? Usir aja adik loe ini." Ucapnya berusaha tenang. "Lagian loe, sekali-kali kek loe main bareng kita jangan ajak si duplikat dingin kaya loe. Jadinya susah juga kalau loe ingin punya teman." Ucapnya spontan, Andre langsung memukul lengan Firman seakan tidak terima. "Kenapa loe mukul gue? Enggak terima loe?! Kalian itu memang kembar identik." Ucapnya sambil merubah posisi duduknya menjadi tegak.
Andre : "Apakah Anda akan datang dikegiatan nanti?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Maksud saya, Direktur meminta Anda datang jadi saya hanya memastikan saja. Agar kita bisa menjadwal ulang semua pertemuan." Jelasnya.
Dimas : "Sebelum kamu bertanya, seharusnya kamu sudah tahu jawabannya. Andre." Andre meneguk saliva dengan kasar.
Setelah pertemuan ketiga petinggi Perusahaan itu usai, kini mereka membubarkan diri karena hari sudah mulai malam. Firman memutuskan untuk langsung pulang, sedangkan Dimas dan Andre terlebih dahulu mampir ke Masjid karena waktu Isya sudah berkumandang.
Keluar dari Masjid, pandangan Dimas terlihat kosong entah apa yang sedang ia pikirkan. Andre yang menyadari hal itu langsung mengusap bahu sang Kakak dengan lembut. Hal itu membuat Dimas tersadar, dan ia menoleh kearah si empunya tangan.
Andre : "Are you oke Bang?" Dimas mengangguk samar. "Apa yang saat ini sedang kau fikirkan? Mengenai Yosuung atau gadis itu?" Hal itu membuat Dimas langsung menatapnya, namun wajahnya masih tenang. "Tidak biasanya Anda seperti ini, terutama untuk soal wanita. Terkadang saya penasaran apa yang membuat gadis itu istimewa."
Dimas menghela nafas. Dengan segera dia beranjak dari teras Masjid dan melangkah menuju Mobil diikuti Andre dibelakangnya. Andre segera melajukan Mobil itu setelah berhasil memutar kemudinya. Kini Mobil itu berjalan menyusuri keramaian Kota dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Dalam perjalanan, kedua makhluk di Mobil itu hanya diam dengan fikiran masing-masing. Sesekali Dimas melihat ponsel namun setelah itu memejamkan matanya.
Dimas : "Menurutmu, apakah Arul akan menerima hubungan kami?" Andre yang mendengar itu langsung menatap Dimas, lalu kembali fokus dengan jalanan didepannya. "Apa yang akan ia fikirkan jika Adinda membohonginya selama beberapa bulan ini."
Meski Dimas mengatakan pada Adinda untuk tidak khawatir dengan apa yang belum terjadi, tapi tetap saja semua itu berada dalam fikirannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga khawatir, hanya saja dia bisa bersikap tenang jadi tidak terlihat orang lain.
Andre : "Jika aku yang menjadi Arul, aku mungkin akan menerima hubungan kalian demi kebahagiaan Adinda. Tetapi jika harus berada diposisinya itu pasti akan membuat kecewa, karena ketidak jujurannya." Jawabnya spontan namun juga hati-hati.
Dimas hanya tersenyum miris dengan jawaban yang dilontarkan oleh Asisten, sahabat dan juga adiknya itu. Ia masih memejamkan matanya, mencoba untuk mencari ketenangan meski hal itu tidak membuatnya tenang. Malah sebaliknya, keterdiaman Dimas membuat Andre sedikit khawatir karena takut jika sang Kakak dalam keadaan tidak baik seperti sebelumnya.
Merasa ada yang janggal dengan kediaman Dimas, Andre segera melihat Dimas dari kaca Mobil. Wajahnya sedikit pucat, terlihat sedikit tirus karena kurang istirahat. Andre langsung melajukan Mobil dengan kecepatan tinggi, ia seakan tidak peduli dengan penguasa jalan yang lain karena yang ada difikirannya hanya satu yaitu keadaan sang Kakak.
Dimas : "Kemudikan Mobil ini dengan biasa Andre, jangan membuat pengendara lain marah dan emosi karena sikapmu ini." Suara Dimas dingin karena menyadari Mobil melaju cepat.
Sedangkan Andre hanya menatapnya tajam melalui kaca Mobil, Dimas yang masih terpejam dan merasakan tatapan Andre seperti itu hanya mengedikan bahunya saja. Andre hanya mendengus kesal dengan sikap Dimas yang seakan tidak peduli dengan keadaan tubuhnya.
Andre : "Masuklah. Aku akan menghubungi Dokter keluarga." Perintahnya setelah membukakan pintu mobil untuk Dimas.
Dimas : "Aku tidak butuh Dokter. Jangan memanggilnya kemari." Ucapnya dingin.
Andre ingin membantah, namun Dimas sudah keburu memasuki Rumah. Hanya helaan nafas saja yang keluar dari Andre.
Andre : "Sampai kapan kamu akan seperti ini Dim, tidak peduli dengan keadaanmu sendiri. Bahkan Kau seakan memusuhi seorang Dokter." Gumamnya pelan.
Andre mengikuti langkah Dimas. Mansion terlihat sepi hanya ada Bi Arum, Pak Anwar dan para pekerja lainnya. Tidak ada suara berisik dari siapapun hal itu bisa dipastikan karena tidak ada sebuah teriakan dari Septian, dan hal itu membuat ia yakin jika sang bontot kini sudah kabur lagi. Ia langsung melangkah masuk ke kamar miliknya.
__ADS_1
Andre langsung mengambil ponsel dibalik saku jas miliknya setelah sampai di kamar. Ia mencari satu kontak nama disana, setelah menemukan yang dicari ia segera men-dial kontak tersebut.
? ? ? : "Ya hallo, ada apa loe hubungi gue?" Terdengar suara seorang lelaki diseberang sana, bahkan juga terdengar berisik karena suara teriakan.
Andre : "Segera pulang ke Mansion jika kamu masih ingin melihat Dimas." Andre langsung mengakhiri secara sepihak sebelum orang tersebut berteriak dan semakin bertanya.
Andre langsung memutuskan untuk segera membersihkan dirinya. Karena setelah ini ia harus masuk kedapur untuk berperang dengan alat dapur pilihan, membuatkan semangkuk bubur untuk Dimas.
Sedangkan diseberang sana, seorang lelaki mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan oleh si Penelepon yang tak lain adalah Andre. Setelah sadar ia langsung meraih kunci mobilnya, Yayak yang melihat itu hanya mengernyit bingung.
Yayak : "Loe mau kemana main pergi aja?" Pertanyaan Yayak menghentikan langkah orang itu yang tak lain Septian.
Septian : "Sory gue harus pulang sekarang Yak, Andre minta gue segera pulang sebelum Abang ngamuk." Jawab Septian namun wajahnya terlihat khawatir dan itu membuat Yayak menatapnya penuh selidik.
Yayak : "Apa terjadi sesuatu dengan Dimas?" Septian sedikit terkejut lalu menormalkan wajahnya kembali.
Indra : "Ada apa dengan Dimas?" Kini suara Indra yang keluar dan sarat dengan penekanan.
Saat ini mereka memang sedang berkumpul di bastcamp PPA karena harus mempersiapkan untuk kegiatan esok lusa.
Septian : "Gue enggak tahu, yang penting gue harus segera balik sekarang."
Setelah mengucapkan itu Septian segera berlari masuk kemobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kedua sahabatnya yang masih diam mematung. Setelah kepergian Septian, Yayak langsung merogoh ponsel dan menghubungi Dimas. Namun berulang kali dihubungi tidak ada jawaban sama sekali, bahkan pesan yang dikirim tak terlihat sudah dibaca.
Indra : "Bagaimana, apa sudah ada kabar atau sudah diangkat sama Dimas?" Yayak menggeleng lemah. "Baiklah gue intruksiin dulu ke yang lain untuk menyelesaikan ini semua." Ucap Indra dan berlalu dari hadapan Yayak.
__ADS_1
Yayak : "Sebenarnya apa yang terjadi?" Gumamnya pelan namun masih terdengar oleh telinga Indra.