Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 126 Makan Bersama


__ADS_3

CKLEK!! Arul membuka pintu kamar Adinda, ia melihat sekeliling kamar itu tak ada hal sosok Adinda disana. Ia melangkah masuk secara perlahan, tepat didepan pintu kamar mandi ia mendengar suara gemericik air itu pertanda Adinda berada disana.


Sebelum Adinda keluar kamar mandi, Arul sudah terlebih dahulu keluar dari kamar.


Adinda perlahan melangkah keluar menuju ruang ganti dan tak lupa melaksanakan shalat dzuhur. Setelah selesai Adinda tak langsung keluar, ia merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang tak lupa ia membawa pigura photo yang ia cetak sebelum berangkat ke Puncak.


Adinda memandangi pigura itu, lalu beralih ke ponselnya melihat satu nama yang beberapa bulan ini telah mengisi hatinya. Perlahan ia menghembuskan nafasnya, mengatur detak jantungnya yang beberapa hari lalu terasa sulit untuk berdetak dengan normal.


Sedangkan dilantai bawah kedua orang beda usia tengah menunggu kedatangan Adinda. Arul setelah bersih-bersih langsung menuju meja makan untuk mengisi perutnya yang memang sudah mulai berdemo.


Bi Narti : "Non Adinda tidak ikut makan Den? Apa masih bersih-bersih?"


Arul : "Enggak tahu Bi, Arul tadi langsung kesini. Ehmm, coba Arul panggil dulu. Mungkin masih shalat."


Arul langsung beranjak dari bangkunya dan melangkah keatas menuju kamar Adinda.


TAP. . . TAP. . .


CKLEK! Arul membuka pintu kamar dihadapannya dan melangkah masuk.


Ia langsung melihat seseorang yang tengah berbaring diatas ranjang. Terlihat Adinda sedang memejamkan matanya, dengkuran halusnya menandakan bahwa kini ia sudah terlelap tidur.


Arul mendekati ranjang itu dan berdiri disamping Adinda, melihat Kakaknya yang memeluk sebuah pigura namun terbalik. Perlahan Arul memegang pigura itu, mengambilnya dengan pelan agar tidak mengganggu tidur Kakaknya dan langsung membalikkan bingkai yang ia pegang, sesudah terbalik nampak dengan jelas gambar siapa yang ada disana.


DEG...


Arul terkejut mendapati photo siapa yang ia peluk saat tidur. Tidak lain tidak bukan adalah photo Dimas yang memang sengaja Adinda pasang, photo yang menampakkan wajah Dimas juga sang Kakak yang tengah tersenyum lebar menghadap kamera, tak lupa tangan Dimas yang merangkul bahu Adinda dengan posesif.


Gambar kedua pasangan itu tampak serasi dan natural tanpa dibuat-buat. Ditambah latar yang ada dibelakang mereka menambah aura kebahagian terpancar, siapapun yang melihat itu pasti akan berfikir demikian.


"Apakah lelaki ini benar-benar pilihan Kakak? Apakah perasaan Kakak sungguh dalam hingga saat tidur seperti ini Kakak masih memeluk photonya? Seberharga itukah Kak Dimas? Aku tidak tahu akan jadi apa kedepannya setelah perpisahan ini, maaf karena Arul belum bisa menerima hubungan kalian. Arul harap Kak Akbar bisa menggantikan posisi Kak Dimas dihati Kakak meski aku belum tahu apakah dia bisa membuat Kakak melupakan Kak Dimas atau tidak. Saat ini hanya ini yang bisa Arul lakuin, maaf jika Arul masih kecewa dengan hubungan kalian. Arul akan lihat sejauh mana perpisahan ini, dan sejauh apa Kak Akbar mendekati Kakak." Gumam Arul dalam hati sambil melihat wajah sayu Kakaknya itu.


Gurat lelah bercampur sedih terpancar dari wajah tenangnya, meski Adinda tidur tapi wajahnya yang sayu bisa terlihat jelas.


Jauh didalam lubuk hatinya Arul tidak ingin egois pada sang Kakak, tapi rasa kecewanya saat ini masih mendominasi dan masih tinggi seakan tidak peduli apa yang telah terjadi maupun yang akan terjadi.

__ADS_1


Semoga tidak ada penyesalan setelahnya.


Bi Narti : "Loh kok Aden sendiri? Non Dinda mana?" Tanya Bi Narti setelah melihat Arul turus seorang diri.


Arul : Aah itu, Kakak tidur Bi. Mungkin karena lelah jadi tertidur, soalnya disana banya sekali kegiatan jadi seluruh tubuh seakan rontok." Candanya.


Bi Narti : "Aduuh si Aden, ada-ada saja. Masa iya badan bisa rontok." Bi Narti menggelengkan kepalanya tak berniat mencari tahu lebih jauh meski sebenarnya ia penasaran dengan kedua anak majikkannya. "Aden kalau ada masalah bisa cerita ke Bibi, jadi jangan sungkan." Ucapnya pelan penuh kasih sayang. Arul tersenyum mengangguk.


*


Malam pun tiba kondisi rumah Adinda masih tetap sama. Selepas shalat Maghrib Arul menunggu Kakaknya di meja makan, namun tak kunjung juga.


Kali ini Bi Narti yang melangkah kelantai atas untuk memanggil Adinda.


TOK...


TOOK...


Cklek! Pintu dibuka dari dalam.


Bi Narti : "Ini sudah malam waktunya makan, Non Dinda siang tadi enggak makan. Sekarang lebih baik makan dulu, Aden sudah menunggu." Adinda tersenyum mengangguk.


Kedua wanita beda generasi itu turun bersama menuju meja makan.


Adinda duduk disebelah sang Adik, tanpa suara ataupun ekspresi lainnya.


Adinda : "Sini piringnya biar Kakak yang ambilkan." Adinda mengisi piring kosong Arul dengan nasi juga lauk tak lupa sayur juga, baru mengambil untuknya sendiri. "Makanlah yang banyak." Ucapnya dengan senyum.


Keduanya makan dengan tenang, hanya ada suara dentingan sedok dan garpu yang mendominasi. Tak berselang lama makan malam selesai, Adinda langsung memindahkan barang kotor ke bak cuci piring.


Bi Narti : "Biar Bibi saja yang cuci Non, lebih baik Non langsung istirahat saja." Ucap Bi Narti, begitu juga pada Arul.


Adinda : "Dek, setelah shalat isya langsung istirahat yaa jangan bergadang sama game." Setelah mengatakan itu Adinda segera melangkah menaikki tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Arul hanya diam melihat gerak gerik Kakaknya yang tidak seperti biasa. Sebelumnya setelah makam malam mereka akan menghabiskan waktu di ruang tv, tapi malam ini mereka terasa jauh. Bi Narti yang melihat itu hanya menatap sendu saja.

__ADS_1


* * *


Angel : "Abaaaaaaaang?!" Teriak Angel saat memasukki Mansion utama Adhitama.


Amar : "Itu mulut tolong dikondisikan bisa? Pengang banget kuping gue." Ucapnya sambil menggosok telinganya.


"Kalian ini, kenapa selalu bertengkar saat bersama?" Ucap seseorang dari dalam. "Angel, kamu perempuan jangan seperti itu, jaga bicara dan sikap kamu." Lanjut orang itu lagi. Angel langsung mencebikkan bibirnya.


Yayak : "Sudah, ayo sekarang kita masuk, nanti keburu malam." Ajaknya yang memang mereka sejak tadi masih berada diluar.


"Waktunya makaaaaan." Ucap Ilham, Amar, Firman dengan kompak yang membuat orang lain jengah.


"Apa saat ini kau sudah tertular virus dari mereka berdua, Tuan Muda Rangga?" Ucap seseorang yang baru keluar dengan sinis.


Firman : "Kau? Bukankah hari ini seharusnya loe dinas ke Korea Shekar? Kenapa masih berada disini."


Shekar : "Jika induk masih ingin mengasuh anaknya, apa yang bisa aku perbuat?" Jawabnya enteng lalu berlalu pergi.


Indra : "Bang? Apa Dimas tidak jadi berangkat sore ini?" Orang itu menggeleng.


Firman : "Bang Pastu yakin? Tidak biasanya Raja Es itu membatalkan perjalanan."


Pastu : "Bukan membatalkan, tapi menunda. Semua itu karena adiknya yang manja." Mereka yang ada disana langsung menatap Pastu tak percaya. "Yaa adiknya yang tak lain Septian."


Amar : "Apa maksud kalian? Kita saja baru ada kegiatan, mana mungkin si Abang jago akan langsung pergi." Mereka menggeleng mendengar perkataan Amar.


Ilham : "Apa kau ingin sekali lehermu ditebas oleh Raja Es itu Amar? Jaga ucapanmu sebelum Abang gue dengar." Ucapnya pelan memperingati.


Pastu : "Kalian berdua masih saja sama." Dua jumpling itu menoleh. "Sama-sama snewen. Ayo kalian segera masuk, Angel." Angel mengangguk lalu mengapit lengan Pastu untuk masuk meninggalkan sang kekasih dengan wajah cengonya karena tidak digandeng.


Ilham : "Om Pastu tadi bilang kita snewen?" Tanyanya polos dan Amar mengangguk. Sedangkan Yayak memutar matanya jengah.


Yayak : "Terserah kalian berdua deh, gue mau masuk dulu sebelum makanan habis." Amar dan Ilham yang mendengar kata makanan langsung berlari masuk mengikuti Yayak yang sudah bergabung dengan yang lain.


Mereka langsung makan bersama ketika Dimas sudah bergabung. Lelaki dingin yang baru saja berpisah dari kekasihnya itu sejak pulang dari Puncak hanya berdiam diri di kamarnya, sesekali ia juga ke kamar orangtuanya untuk melepas rindu juga penat.

__ADS_1


Tak ada yang membahas kisah asmaranya yang kandas, bukan karena tidak berani tapi mereka lebih menghargai perasaan Dimas. Dimas juga butuh waktu untuk sendiri tanpa gangguan dari siapapun, bagi mereka melihat Dimas tetap tenang itu sudah membuat sahabatnya senang.


__ADS_2