Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 146 Kalian tidak tahu!


__ADS_3

MBA : "Sebenarnya gue sendiri juga bingung, disatu sisi gue senang Arul menyetujuinya tapi disisi lain. Dimas itu teman gue Fir, enggak mungkin gue merusak hubungan mereka. Apalagi hati keduanya masih terpaut."


Firman : "Tetapi saat ini bukankah Dimas sudah tidak ada Bay? Adinda sudah bebas dari lelaki dingin itu." Ucapnya tersengum getir. "Lelaki itu tidak akan kembali lagi sekarang. Kamu bisa menarik perhatiannya."


"Meski Amara dan Arse bukan adik kandung gue dan hanya adik sepupu gue, tapi tetap saja mereka itu adik gue. Darah kami saling terhubung."


"Beberapa hari yang lalu, Bokap Mara hubungi gue. Beliau ingin gue mengawasi dua remaja itu selama dia tidak di Indonesia, padahal pikir gue tumben sekali Om Reyhan nelpon ternyata karena hal ini. Tapi gue seneng paling tidak Mara dan Arse diperhatikan orang tuanya."


MBA : "Apa kedua orang tuanya sudah lama pisah?" Firman mengangguk sebagai jawaban.


Firman : "Keduanya pisah sudah sangat lama, sudah beberapa tahun lalu saat Amara masih SMP. Karena konflik yang tidak kunjung selesai, jadi perpisahan jalan yang mereka ambil."


MBA : "Bagaimana reaksi Adinda dan Arul? Gue yakin mereka pasti sangat terluka karena ini."


Firman : "Loe bener mereka begitu terluka, tapi perlahan keduanya mulai bisa berdamai dengan hal itu. Amara bilang, Dimas yang menguatkannya."


"Sekarang, lelaki dingin itu telah pergi. Selamanya. He's gone."


Hening. Keduanya hanyut dalam lamunan, mereka tidak sadar sejak tadi menjadi pusat perhatian teman-temannya.


Amar : "Kalian serius banget, sedang ngobrolin apa?"


Firman dan MBA terperanjat mendengar pertanyaan dari Amar.


MBA : "A.apa maksud kalian?" Amar langsung terkekeh.


Amar : "Ternyata seorang Pangeran Kedokteran bisa berwajah seperti itu juga ya. Sama kaya kita para jumpling." MBA mendelik mendengar itu.


Ilham : "Yee si ege. Ogah gue disamain sama loe Mar." Ucapnya tak terima.


Amar : "Ilhaaaaamm, gue aduin loe ke Andre. Sekarang dia Abang gue, loe syuh syuuh sanaaah."


Septian : "Laaah, emang Abang gue mau nerima loe jadi Adiknya?"


Pertanyaan polos Septian tersebut langsung membuat para temannya menertawakan Amar. Sedangkan Amar langsung mendelik kesal.


Amar : "Enggak temen gue sama loe. Gue temenan sama MBA aja."


MBA : "Masih punya muka loe mau temenan sama Pangeran Kedokteran?" Tanyanya dengan tertawa sinis.


Amar : "Kyaaaaa!! Loe tega sama gue Bay." Umpatnya kesal. "Apa kalian semua!! Gue enggak temen sama kalian, kalian gue end!"


Amar langsung beranjak dari sana dengan kekesalan.

__ADS_1


Angel : "Coba aja Dia ada disini, pasti akan lengkap." Mereka yang mendengar perkataan Angel langsung diam.


Bukannya tidak mengerti, bahkan mereka sangat mengerti. Tapi apa boleh buat, Dimas sudah tidak ada.


Yayak langsung mendekati sang kekasih. Mengusap punggungnya dengan lembut, menyalurkan kekuatan agar gadis itu tenang.


Yayak : "Sayang tenanglah, dia sudah tenang disana. Berdo'alah semoga ia bahagia disana dan bisa bersama dengan orangtuanya serta Bang Farhan." Angel tersenyum mengangguk meski masih sesenggukan.


Indra : "Kemarin Bang Pastu hubungi gue, dia bilang bakal diadain pengajian untuk mendo'akan Dimas. Kita harus datang kesana untuk ikut mendo'akan."


Septian : "Om Pastu belum kasih gue kabar soal itu. Apa acaranya dadakan lagi ya?" Gumamnya pelan tapi masih didengar oleh Amar.


Ilham : "Kita kesana bareng atau sendiri-sendiri? Gue sih pengennya bareng kesananya, paling enggak meski lelaki itu sudah tidak ada kita tetap kompak." Mereka mengangguk setuju.


drrtt... drrrtttt...


Ponsel yang berada disaku celana Septian bergetar.


Lelaki itu langsung mengambilnya, melihat nama siapa yang tertera dilayar itu. "Andre" Gumamnya pelan.


Septian : "Iya, halo. Ada apa?" Semua mata menoleh pada lelaki itu. Ia mengatakan nama Andre tanpa bersuara. "Iya, ada apa sih?!" Jawabnya kesal.


Andre : "Malam ini pulang ke Mansion Utama, lusa kita ada jadwal." Septian mengernyitkan keningnya, jadwal apa?


Andre : "Bukankah beberapa hari lagi bulan Ramadhan? Kita harus ke Makam mereka, dan juga malam ini akan ada Pengajian.


Septian yang mendengar itu langsung berubah sendu. Ia belum lama ini berkunjung ke Makam orangtua kandungnya, ia fikir itu sudah selesai. Namun ia lupa jika masih ada Makam lain yang harus ia kunjungi. Seakan ia belum menerima kepergian Keluarga Adhitama dari hidupnya.


Septian : "Yaa, sepertinya gue melupakan hal itu. Gue rindu mereka, sudah lama kita tidak berkunjung." Kekehnya dengan suara parau. "Oke, sore ini gue pulang ke Mansion. Kali ini gue enggak akan kecewain loe lagi." Andre hanya menjawab dengan deheman saja.


Anggota lain terutama para sahabat yang melihat itu hanya menatap dengan tatapan sendu mereka.


Siapa yang tidak merasa kehilangan? Meski Dimas adalah lelaki dingin si Raja Es Kampus, namun kepintarannya di bidang Akademis tidak bisa diragukan lagi. Para Dosen yang memang mengenal dekat lelaki itu juga merasa kehilangan, Mahasiswa yang memiliki sopan santun yang tinggi pada Orang lain. Baik itu yang lebih tua darinya maupun lebih muda.


Setelah panggilan terputus hening, tidak ada yang bersuara lagi. Semua sibuk dengan fikiran mereka masing-masing.


Amar : "Yaaah jadi sore ini gagal ke Adi Resto?" Mereka mengedikan bahu sebagai jawaban.


Firman : "Mungkin saja makanan yang Ompas ambil dari Adi Resto. Jadi loe bisa kesana ambil makanan yang sudah dipesan." Menatap Amar.


Shinta : "Jadi, bagaimana perkembangan bisnis Dimas yang lain?" Semua menatap Shinta.


Karena para anggota di basecamp sudah banyak yang keluar jadi mereka leluasa membahas tentang Dimas. Termasuk MBA maupun Jumpling junior yang memang masih disana.

__ADS_1


Yayak : "Semua bisnis Dimas Aditya, gue dan Indra yang handle karena memang kami bertiga yang membangun kerajaan bisnis itu tapi untuk bisnis pribadi hanya Andre yang handle."


Indra : "Dia bahkan tidak mengizinkan siapapun untuk ikut meng-handle bisnis itu."


Firman : "Gue datang kesana sedikit terlambat." Mereka menatap penuh selidik. "Jangan menatap gue seperti itu, emang itu mata minta dicolok apa?" Ucapnya kesal.


Ilham : "Loe mau kemana? Biasanya loe itu paling depan sendiri." Mereka mengangguk setuju.


Firman : "Sore ini jadwal Amara untuk check up, jadi gue yang jadi wali. Bokap sama Nyokap masih di Luar Negeri."


Septian : "Kenapa? Kan masih ada bocah tengil itu." Menunjuk Arul. "Biar dia saja yang nemenin wanita itu ke Dokter."


Yayak : "Septian. Jaga bicara kamu, jangan bertingkah seperti itu."


Indra : "Yang lalu biarkan berlalu Sep, kita tatap masa depan. Jangan lagi ungkit sesuatu yang sudah lama terjadi." Septian hanya tersenyum kecut.


Septian : "Kalian tentu saja bisa ngomong kaya gitu, tapi kalian tidak ada yang tahu gimana perasaan Dimas."


Ucapnya sarkas, pelan namun penuh penekanan. Matanya menatap tajam kearah Arul, sedangkan yanh ditatap hanya diam.


"Lihatlah wajah bocah tengil itu, gue yakin sekarang dia itu bahagia karena Dimas sudah tidak ada lagi didepan kita dan enggak akan ganggu kehidupan Adinda."


"Andre mungkin bisa diam saja dan menerima, karena memang itulah sifatnya yang sudah menurun dari Dimas, tapi gue bukan mereka berdua yang hanya diam saja. Jika bukan karena Dimas, gue pasti sudah bikin perhitungan dengan bocah itu."


Firman : "Bocah yang ingin loe habisi itu adik gue, jika loe lupa." Ucap Firman dengan datar. Septian hanya menyunggingkan bibirnya.


Septian : "Yaa, gue ingat. Sangat tahu malahan, bahkan Abang gue juga membela dia dengan alasan rasa sayang dan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri." Septian tertawa penuh luka, ya terlihat dari wajahnya.


"Tapi yang sebenarnya kalian tidak ada yang tahu bagaimana perasaan Dimas. Kalian tidak tahu sama sekali penderitaan dia!."


Septian langsung beranjak setelah mengatakan hal itu. Ia memilih menghindari perdebatan itu, karena ia sendiri takut jika lepas kendali.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Selamat berbuka puasa untuk Kakak semuanya😄😄 Semoga puasa kita hari ini menjadi pahala. Aaamiin..


__ADS_2